Learn to Be A True Muslimah

SENANG DAN IKHLAS BEKERJA

Posted on: 9 Juli 2008

Pekerjaan mencuci baju sendiri saya mulai sejak kelas 2 SD. Hal inilah yang mendorongku untuk ikut mengerjakannya, tanpa diminta. Dimulai dari mencuci bajuku seragam sekolah berwarna putih. Ibu pernah bilang, kalau mencuci baju itu harus dibilas dua kali (saya kira maksudnya diberi sabun dua kali). Akhirnya baju itu kusabun dua kali hingga kelihatan sangat putih dan bersih. Ibuku tertawa karena tingkahku ini. 🙂

Setelah itu saya dipercaya ibu untuk mencuci baju sendiri. “Asal bersih ya!”

Ibu menunjukkanku tempat jemur pakaian dari besi yang dilapisi nikel hampir setinggi bahuku. Saya menjemur pakaian di situ lalu mengangkatnya ke tempat yang mendapatkan sinar matahari (di depan rumah). Setelah kering, tempat jemur pakaian itu kuangkat ke rumah untuk dilipat.

Ayahku walaupun seorang laki-laki tapi beliau pintar memasak. Masakannya sungguh lezat, ini diakui oleh seluruh anggota keluarga, termasuk ibu. Ayah juga melakukan pekerjaan ini dengan senang hati (mungkin rasa senang di hati ini juga mempengaruhi rasa masakan). Ayah mengajariku cara memasak yang baik dan memberikan penjelasannya secara ilmiah. Misal, kalau mau masak oseng-oseng, baiknya sayurnya dulu yang dimasukkan, baru gula merah; tapi kalau mau masak tempe kering, gula merahnya dulu yang dimasukkan, baru tempenya. Alasannya sama, biar lebih meresap. Hal yang perlu diperhatikan saat memasak adalah macam bumbu, ukuran memotong bahan, urutan memasukkan bahan ke panci atau wajan, jumlah garam, kapan mengecilkan kompor, dan lain-lain.

Ayah pernah membuat keripik dari umbi-umbian yang beracun sehingga racunnya harus dihilangkan, yaitu gadung. Untuk menghilangkan racunnya, maka irisan gadung itu harus direndam selama tiga hari tiga malam, dan air rendamannya diganti tiap sehari sekali. Waktu itu, kebun ayah di desa sedang ada panen gadung, jadi ember untuk merendam gadung sampai 3 ember ukuran besar. Setelah itu, gadung itu direbus kemudian dijemur di atas tanah sampai kering. Saya ikut membantu ayah menjemur gadung itu di samping rumah. Wah, betapa berat !! Untuk mendapatkan keripik gadung harus mengalami proses panjang berhari-hari : mengupas, mengiris, merendam, mengganti air, merebus, menjemur, lalu menggorengnya. Saya bertanya ke ayah, “Ayah, kenapa ayah mau bersusah-susah seperti ini? Bukankah hal seperti ini berat?“ Ayah menjawab, “Lakukanlah segala sesuatu dengan ikhlas, maka sesuatu yang berat itu akan terasa ringan bagimu.” Aku balik menjawab, “Tapi ayah, ikhlas itu kan sulit sekali.” Ayahku berkata, “Iya, memang sulit. Tapi akan mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah.” Akupun akhirnya mengerti mengapa ayah merasa ringan ketika bekerja, yaitu mengusahakan hati agar ikhlas dalam melakukan amalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 821.173 hits
%d blogger menyukai ini: