Learn to Be A True Muslimah

Menikah?

Posted on: 2 Juli 2009

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Hari ini setelah ta’lim pagi, aku ditemui seorang ummahat, ia menanyakan kepadaku – apakah aku siap nikah? Oh, rasanya hati ini campur aduk. Rasa, keinginan, kewajiban, dan cita-citaku seolah-olah mengelilingi hatiku. Ya Allah, tunjukilah hati ini ya Allah…

Ummahat itu berkata, “Dia sudah bekerja, lulusan UNS juga,”. Aku hanya menjawab, “Saya pikirkan dahulu…”, karena belum berani memberikan jawaban tegas.

Sebenarnya, sekitar 3 pekan yang lalu juga ada temanku yang sudah menikah, menanyakan hal yang sama. Dia berkata, “Ukhti, ustadz fulan menanyakanmu lho, dah siap nikah?” Saat itu hatiku pun bergejolak, belum tahu harus menjawab bagaimana. Aku juga belum tahu, ustadz itu yang mana, yang ternyata adalah ustadz yang mengajarku pelajaran aqidah. Eit, tapi bukan beliau yang mau nikah, tapi mungkin muridnya di ma’had. Aku menjawab, “Ukhti, ana mau sekolah lagi ukh, mau melanjutkan ke ma’had Abu Bakar.”

Setelah dari ta’lim tafsir qur’an, aku menuju ta’lim faraidh (ilmu waris) yang berlangsung pukul 06.00 hingga 07.00. Jujur saja, aku tidak bisa berkonsentrasi penuh, meski telah kuusahakan semaksimal mungkin untuk bisa tenang. Alhamdulllah, meski demikian, insya Allah masih cukup paham dengan yang diajarkan ustadz karena materi ini adalah salah satu pelajaran favoritku di SMA dulu, yaitu saat aku duduk di kelas ‘Aliyah 3 IPA 1 – SMA AL-ISLAM 1 Surakarta.

Seusai dari ta’lim, aku mau pergi ke kampus. Sebelum berangkat ke sana, ada nenek yang menanyakan umurku. Huaa…. Takut ditanyai macem-macem lagi, aku pun segera pamit. Di sana ada sahabatku akhwat lain yang mungkin “ditanya-tanya macem-macem lagi – tentang siap nikah atau yang semacamnya”. Hampir sampai di gerbang kampus, aku mampir ke warnet dulu untuk menuliskan hal ini.

= = = = = =

Pernikahan, adalah salah satu ayat dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Ia adalah sesuatu yang sakral, suci, dan usaha seorang muslim untuk menyempurnakan separuh diennya.

Salah satu cita-citaku adalah membentuk keluarga penghafal Al-Qur’an. (saat menuliskan kalimat ini, tidak terasa air mataku menetes). Untuk itu, aku berharap pendampingku kelak adalah seseorang yang sudah hafal Qur’an atau memiliki cita-cita yang sama, yaitu mau mengkhatamkan hafalan Qur’an dan menjaganya bersama-sama hingga akhir hayat. Meski aku sadar, hafalanku sekarang tidaklah seberapa, tapi cita-citaku yang mendalam dari lubuk hati ini ingin kujaga dan jangan sampai padam.

Awalnya, cita-cita ini tumbuh ketika aku bertemu dengan seorang hafidzah yang bertanya kepadaku, “apakah engkau punya cita-cita?” Maka saat itupun aku paham bahwa yang dimaksud adalah : “cita-cita menghafal Al-Qur’an”. Hanya saja saat itu aku sedang mendaftar tahsinul qur’an. Sebelum menghafal Qur’an dengan serius, aku harus melalui pelajaran dua marhalah dulu : makharijul huruf dan tajwid qur’an. Di marhalah satu pernah mendapatkan peringkat dua di tengah semester sehingga mendapat beasiswa 75% bebas biaya pendidikan. Alhamdulillah, di akhir semester, ternyata aku mendapat peringkat pertama, nilai tahfidz A dan makhrajnya B. Saat itu tidak ada santri yang dapat nilai A di pelajaran makhraj karena ustadzah memiliki standart penilaian yang tinggi. Hanya santri yang menguasai makhraj 100% (tanpa kesalahan) yang mendapatkan nilai A. Sedangkan aku baru 90% lebih sedikit dan ustadzah mengatakan aku masih kurang….masih kurang…, harus belajar lagi… latihan lagi…

Ketika akan memasuki marhalah dua, aku dan beberapa temanku diminta ustadzah mengikuti program khusus – bebas biaya pendidikan. Pelajaran dimualia jam 8-11 malam. Setelah itu dilanjutkan pagi hari jam 06.30 – 08.00. Alhamdulillah, aku bisa melaluinya dengan tuntas meski tidak mendapatkan ijazah resmi karena diminta untuk membantu mengurus ma’had dan akan diminta mengajar. Saat itu aku masih semester 3 di kuliah fisika.

Wah, ana jadi lupa dengan masalah utama tulisan ini, yaitu pernikahan. Kembali ke tema utama, aku berniat untuk menjadi penghafal qur’an sekaligus menghafal sejunlah hadits. Di Timur Tengah, seorang yang hafal qur’an belum diakui sebagai seorang hafidz jika belum hafal 1000 hadits (ana pernah dengar hal ini). Semoga ini bisa jadi cambuk bagiku.

Oleh karena itu, aku ingin pendampingku nanti adalah selain seorang yang memiliki hafalan qur’an dan bercita-cita mengkhatamkannya, rajin mempelajari AL-QUR’AN dan mengajarkannya, juga seorang yang rajin mempelajari HADITS, dan mengajarkannya… serta mendakwahkan keduanya. Aku menyukai seseorang yang tersimpan dalam hatinya ayat-ayat Allah…dan hadits-hadits Rasulullah.. Shallallahu ‘alaihi wa Sallam..

 


6 Tanggapan to "Menikah?"

Allahumma ya Allah…
ukhti…moga terkabul ya doanya…

ANE DOAKAN AJA MUDAH2 AN SEGALA YANG MENJADI CITA2 UKHTI TERCAPAI, AMIEN

amin…
cita2 yang agung, smngat
walaqod yassarnal qur’aana lidz-dzikri fahal min mudzdakkir…

sungguh cita-cita yang agung lagi mulia…
ukht…
yassarallohu umuuroki…. aamiin.

Ukhty,dulu anti daftar tahsinul qur’an nya dmana?
punya infonya? ana 24 Th sdh berkeluarga tp ingin skali hafal al qur’an. Tp bacaan ana rasanya ada yg kurang.
insyaAllah november ini pindah solo. Mohon infonya ya ukhty fillah..
Jazaakillahu khairan *senyum*

Aamiin.. Waiyyakum.. Wah, ternyata banyak ya, yang ingin belajar tahsin… Kalau ana dulu belajar tahsinnya langsung pada hafidzah yang punya sanad, di Ma’had Khoirotun Hisan.. Nanti kalau dah sampai Solo, hubungi saja ana.. lewat email. Allaahu yubaarik fiik..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,007 hits
%d blogger menyukai ini: