Learn to Be A True Muslimah

Kisah Mengesankan di Surah Al-Qashash

Posted on: 7 Januari 2011

“Siapa yang datang?”, tanyaku memecah keheningan.

“Ayah.”, jawab ibuku.

“Bukan ibu, aku sedang berbicara dengan al-Qur’an.”, jawabku sambil penasaran dan menahan geli.

Ibuku mengira kalau aku bertanya pada beliau. siapa yang baru saja datang? Bertepatan saat itu ayah pulang dari pasar. Padahal saat itu aku sedang menghafal Surat Al-Qashas. Saat itu aku sudah selesai menghafal satu halaman. Agar hafalan makin mantap maka satu halaman itu diulang beberapa kali, baru berpindah ke halaman selanjutnya.

Di tengah-tengah mengulang dan ketika bibirku mengucap beberapa lafadz, tiba-tiba aku berhenti. Kenapa? Karena timbul pertanyaan, siapakah orang yang datang dalam kisah ini? Siapakah orang yang didatangi? Apa yang dilakukannya??

Menurutku, saat itu aku menghafal sambil berimajinasi dan membuat sebuah alur cerita, agar mendapatkan gambaran yang utuh. Jadi, salah satu kunci dalam menghafal adalah PAHAM ALUR CERITANYA, terutama yang berkaitan dengan KISAH.

Semangat.. Semangat!!

Oh ya, ada kesan menarik ketika saya menghafal surah ini, yaitu ketika Nabi Musa as. berdoa kepada Allah. Saat itu beliau lari dari kejaran pengikut Fir’aun menuju kota Madyan.. Di sana terlihat ada sekelompok orang memberi minum ternak, tapi di belakangnya ada dua perempuan yang tidak ikut meminumkan ternak. Kenapa? Karena mereka adalah perempuan, mereka tidak meminumkan ternaknya keculai mereka telah selesai meminumkan ternak mereka. Sedang orang tua dua gadis itu sudah lanjut usia.

Nabi Musa as kemudian membantu untuk meminumkan ternak dua gadis itu. Setelah selesai, beliau pergi ke sebuah pohon untuk tidur-tiduran dan beristiraha, seraya berdoa kepada Allah SWT, “Rabbi limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir – Ya Rabb, sesungguhnya aku benar-benar membutuhkan sesutau yang engkau turunkan kepadaku dari khazanah kemurahan dan kebaikan-Mu”.

Aku pun bergumam, “Masya Allah, doa yang sangat indah, dan sangat sopan!”. Kenapa? Karena saat itu Nabi Musa dalam keadaan sangat lapar setelah berjalan jauh dari kejaran musuh. Khair di sini diartikan oleh sebagian besar mufasir sebagai ‘barang sedikit makanan’. Mana yang indah? Insya Allah ana lanjutkan lain waktu ya..🙂 cz ana cuma sebentar di warnet….

(lanjutan)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Musa mengatakan demikian, padahal sebelumnya ia adalah makhluk Allah yang paling menahan diri untuk meminta hal itu. Dia benar-benar membutuhkan sebelahb iji kurma, sehingga karena sangat laparnya, perutnya menempel ke punggungnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,007 hits
%d blogger menyukai ini: