Learn to Be A True Muslimah

Kursi Merah Tahfidz

Posted on: 20 Maret 2011

Bismillah..

Salah satu keuntungan menghafal alqur’an di mahad tahfidz adalah adanya bimbingan dari guru dan adanya semangat kompetisi. Di sini sedikit ana kisahkan bagaimana para santri bersemangat menghafal dan muraja’ah.

= = = = =

Sebelum jam masuk, para santriwati sudah berada di mahad tahfidz. Mereka bersiap-siap menyiapkan hafalannya. Ada yang di dalam kelas, di mushola, atau di serambi dekat tanaman-tanaman kaktus dan sansiviera. Semuanya ada di lantai dua. Ada juga yang berada di masjid lantai satu. Kalau di masjid, tempatnya lebih luas dan lebih sedikit orang. Jadi, relatif lebih mudah untuk berkonsentrasi.

Bagi para santri yang memiliki semangat membara, mereka datang sejak ba’da shubuh. Sekitar pukul 5 pagi sampai sana, padahal masuknya jam 9 pagi. Semakin pagi maka persiapan makin matang dan bisa banyak juz yang nanti disetorkan ke ustadzah. Mandinya kapan? Ya sebelum shubuh.. Bagi yang kuat menahan lapar, makannya baru siang nanti atau sore sekalian..🙂. Atau mereka sudah menyiapkan makanan kecil, sudah cukup untuk mengganjal perut atau menegakkan tulang punggung. Kalau hari itu berpuasa, lebih enak, nggak mikirin makanan.

KURSI MERAH TAHFIDZ

Kursi merah adalah kursi lipat yang biasa kududuki ketika maju menyetorkan hafalan atau muraja’ah. Kursi itu berbeda dengan kursi murid lainnya, karena kursi lain berwarna biru dan lebih empuk. Meski kursi merah adalah kursi biasa dan sudah agak rusak dudukannya, tapi ia jadi rebutan para santri. Kenapa? Karena ia diletakkan di bagian kanan ustadzah dan dekat jendela.

“Pokoknya nanti aku yang duduk di kursi merah!!,” kata salah satu temanku..🙂 dalam suasana kompetisi maju paling awal.

“Ukh, kenapa sih ko suka sama kursi merah?”, tanyaku untuk meredakan persaingan..🙂.

“Karena kalau duduk di situ aku bisa konsentrasi, aku nggak mau di kursi tengah..”, temanku menjawab. Dia adalah salah satu temanku yang memiliki mujahadah lebih dibandingkan teman-temannya. Suka maju di awal dan maju berkali-kali.

Sedangkan temanku yang lain malah lebih suka duduk di kursi tengah (di depan ustadzah). Lalu aku bertanya, “Ukh, kenapa suka duduk di tengah?”

“Soalnya kan di langsung di depan ustadzah, jadi lebih enak kalau mau bicara (langsung berhadapan).

“Kalau ana sendiri sebenarnya tidak masalah, duduk di pinggir atau di tengah. Yang penting persiapan tahfidznya, udah matang atau belum?”, begitu tambahku, untuk menetralkan suasana. (tapi kami ga berantem lho!!)

Sudah jadi kebiasaan kalau kami mau maju, cepet-cepetan maju dan nyari kursi paling strategis menurut masing2. Akhirnya ustadzah membuat ketetapan tiga kelompok untuk tiga kursi. Dan aku berada di kelompok kursi merah… kursi yang strategis..🙂

Kenapa kursi merah ini disukai? Karena letaknya di pinggir, jadi bisa lebih konsentrasi karena tidak ‘terganggu’ dengan suara dari kanan dan kiri secara bersamaan. Lalu ada jendela di sampingnya, jadi suara bisa keluar ruangan, lebih tidak bercampur pantulan suaranya.

TIDAK ADA WAKTU NGANGGUR

Dengan metode yang terbaru ini, kami jadi harus mengatur waktu sebaik2nya. Hampir tidak ada waktu nganggur. Bahkan untuk antri ke kamar mandi saja, kami masih bawa qur’an (tempat mengantri adalah di pinggir2 ruang kelas) sambil muraja’ah, menyiapkan hafalan untuk maju nanti. Hm..

1 Response to "Kursi Merah Tahfidz"

Saya mau tanya ustadzah…
metode apa yang paling tepat digunakan mata pelajaran tahfidz dalam KBM kepada santri??????

Mohon segera dibalas….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,205 hits
%d blogger menyukai ini: