Learn to Be A True Muslimah

Ustadzah Tahfidz

Posted on: 20 Maret 2011

Bismillah..

Ana memiliki beberapa ustadzah tahfidz. Di sini akan ana ceritakan satu per satu agar ana tetap ingat dengan mereka karena mereka sangat berharga di hati ana..๐Ÿ™‚ Ya Allah, jagalah mereka ya Allah… Amin..

– Ustadzah Romlah Nayla Hafadzah Fillah

Awal bertemu beliau, ana tidak tahu kalau beliau seorang hafidzah. Ana bertemu beliau saat masih kelas 3 SMA ketika mengikuti test membaca al-qur’an sebagai syarat pendaftaran kursus tahsin. Ana diminta membaca alqur’an, terserah yang mana. Ana membuka tengah al-qur’an, lalu membacanya. Alhamdulillah, nggak disalahkan..๐Ÿ™‚ Tapi begitu sampai akhir ayat, ada yang salah, yaitu bacaan madnya. Beliau membenarkanku tanpa melihat qur’an. Ana heran, apa ustadzah ini sudah hafal qur’an ya?? Ko bisa tahu kalau salah tanpa melihat qur’an..

Setelah belajar tahsin pada beliau, ana jadi tahu bahwa banyak huruf2 hijaiyah yang belum ana ucapkan dengan benar saat test dulu. Ada huruf2 yang mudah diucapkan, ada pula yang susah diucapkan. Beliau pernah bercerita, untuk bisa mengucapkan huruf shod sampai benar, beliau belajar satu tahun pada seorang syekh. Sedangkan untuk mengucapkan huruf dlod sampai benar, beliau belajar selama satu bulan pada syekh yang lain.

Ana begitu tersentuh dengan bacaan qur’annya ketika beliau menjadi imam shalat berjama’ah. Ana pernah mendengar beliau membaca surat al-zalzalah, sebagian dari surat ar-rum dan surat ath-thur. Beliau orangnya teliti dan sensitif terhadap makhraj yang salah. Kami para muridnya pernah membaca surat al-fatihah, lalu masing2 dari kami memberikan penilaian terhadap bacaan al-fatihah teman yang lain. Kadang kami bisa menemukan kesalahan, kadang tidak. Tapi ustadzah bisa tahu kesalahan masing-masing dari kami di mana.

– Ustadzah Tri Maryani

Beliau ana kenal sebagai ustadzah yang lembut, rapi, dan teliti dalam administrasi. Karena memang administrasi ma’had sebagian besar dipegang oleh beliau. Salah satu pesan beliau yang ana ingat dan terngiang-ngiang di telinga ana adalah kata: ISTIQOMAH. Bukan hanya lisan, tapi dari sikap beliau juga menunjukkan hal ini. Beliau termasuk ustadzah yang dikenal ketat peraturannya.

Ana pernah muraja’ah juz 1 hampir 1 bulan di hadapan beliau. Ana heran saja, “Ko ustadzah ini tidak bosen2 ya mendengarkan juz 1 dari mulutku”. Di akhir saat penutupan majelis, beliau sering berkata, “Hafalannya dijaga ya, hafalannya dipegang ya..”. Ana sampai berkata dalam hati, “Ustadzah ini ko nasihatnya mesti itu terus, ko nggak bosen2 ya??”. Namun, setelah beberapa waktu dan berulang-ulang nasihat itu masuk ke telingaku, aku baru paham benar maksud ustadzah. Ada makna yang tersembunyi dari nasihat ‘menjaga hafalan‘ itu, yaitu jika ada seseorang yang meminta kita untuk membacakan juz yang telah kita hafal, maka kita bisa langsung membacanya tanpa pikir panjang.

– Ustadzah Mukminah

Ana sangat kagum pada beliau. Dari beliaulah ana mengenal ayat-ayat mutasyabihat. Semakin menguasai ayat-ayat mutasyabihat, maka semakin akurat dan kuat hafalan seseorang. Beliau orangnya tegas, teliti dan disiplin ketika mengajar (menyimak hafalan). Tentu seseorang yang menguasai ayat2 mutasyabihat perlu memiliki sifat ini. Seorang penghafal quran sejati tidak akan rela jika ada satu kesalahan pun yang terekam dalam hafalan qur’annya.

Ana pernah ziyadah Surah Al-Hasyr di hadapan beliau. Baru membaca ayat pertama langsung ada kode dari beliau kalau bacaanku salah. Kemudian beliau berkomentar, “Itu Surat Al-Hadid..!”. Haa?? Padahal saat itu kan ana belum menghafal Surat Al-Hadid. Surat Al-Hasyr dan Surat Al-Hadid memang sangat mirip pada permulaan ayatnya. Bacaanku salah karena telah tersisipi kata maa fii. ย Surat Al-Hasyr, bunyinya: Sabbaha lillaahi maa fissamaawati wa maa fil ardl.., sedangkan Surat Al-Hadid: Sabbaha lillaahi maa fis-samaawati wal-ardl..

Salah satu contoh kekagumanku yang lain adalah beliau bisa mengetahui bahwa bacaan alquran muridnya salah meski tidak melihat mushaf alqur’an. Saat itu beliau menyimak tiga orang sekaligus: ada yang di kiri, di kanan, dan di depan beliau. Saat menyimak hafalan, beliau melihat mushaf masing2 muridnya secara bergantian, karena yang disetorkan santriwati ke ustadzah kan tidak sama. Suatu saat beliau menghadapkan wajah pada mushaf murid yang ada di kiri beliau, tetapi beliau bisa memberikan kode salah pada murid yang ada di kanan atau di depan beliau. Masya Allah.. Subhanallah..!! Memang semestinya penghafal alqur’an sejati memiliki kemampuan seperti ini, tetapi tetap saja ana kagum pada beliau.. dan kagumku tidak habis-habis juga.

Ko bisa ya beliau punya hafalan yang kuat dan akurat seperti itu? Setelah nanya2 ternyata beliau pernah menjadi juara tahfidz al-qur’an tingkat nasional. Wew! Beliau juga sering membaca al-Qur’an 30 juz dalam sehari disimak oleh orang-orang di desanya.

– Ustadzah Ufi

Beliau adalah sahabat dari Ustadzah Mukminah atau lebih tepatnya adik tingkat dari ustadzah Mukminah ketika di ma’had tahfidz dulu. Beliau mengajar ana kurang lebih satu bulan, menggantikan ustadzah Mukminah yang cuti melahirkan. Nasihat yang ana ingat2 dari beliau adalah: MURAJA’AH.. MURAJA’AH.. MURAJA’AH..!

Beliau memiliki kesamaan denganku, yaitu lebih suka membaca al-Qur’an dengan lambat/tartil. Tidak suka mbaca cepat2. Beliau pernah membenarkan bacaanku ketika salah satu harakat, aku membacanya ALLAHU, harusnya ALLAHA di Surat Muhammad. Ana pernah GR cz dilihat sama Ustadzah Ufi terus. Kenapa ya? Aku tidak berani melihat wajah guru ana ketika maju kecuali jika diperlukan. Karena pensaran, akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat beliau. Ternyata beliau bukan melihatku (tiwas GR..๐Ÿ™‚ ), tapi lebih pada melihat mulutku. Beliau adalah ustadzah yang memperhatikan makharijul huruf dan tajwid, jadi memperhatikan pula bagaimana gerakan dan perubahan mulut dari murid-muridnya.

Ada keistimewaan dari Ustadzah Ufi. Beliau ini telah khatam hafalan al-quran dan akan dinikahi oleh seseorang. Ternyata, beliau tidak diizinkan menikah oleh orang tuanya sampai beliau telah mengkhatamkan hafalan qur’annya (bil-ghoib = tanpa melihat mushaf) sampai 41 kali di pondok. Jadi, setelah ujian niha-i, beliau harus menghkhatamkan quran 40 kali lagi. Ana memperkirakan, jika beliau membaca 1 hari 5 juz, maka beliau akan mengkhatamkan 40 kali itu dalam waktu sepuluh bulan.. Ternyata, tidak demikian! Beliau mengkhatamkan alqur’an bilghoib 30 juz itu dalam SEHARI…40 kali… !!! Subhanallah! Berarti ya tidak sampai 10 bulan, mungkin kurang lebih dua bulan saja.


3 Tanggapan to "Ustadzah Tahfidz"

sekarang kita kebanyakan mosting,lupa ama alqur’an..oh.

Assalamu alaikum wr wb,
Terimakasih atas tulisan2nya yang sangat bagus dan bermanfaat. Teruslah menulis, karena tidak banyak hafidz atau hafidzah yang menuliskan hidupnya di sekitar Al Quran. Insya Allah sangat bermanfaat untuk para penghafal Qur’an..

Ummu Alya

Wa’alaikumus salam wr wb..
Waiyyakum.. Ana sendiri dulu belum terpikir untuk menulis karena ana orangnya agak tertutup..๐Ÿ™‚. Tapi setelah ada yang nanya2, ana jadi ingin nulis dan ternyata manfaat menulis itu lebih banyak yang ana duga. Semoga apa yang ana tulis dapat mendekatkan diri ana dan umat pada al-Qur’an.. meskipun ana sadar masih banyak kekurangannya.. Mohon saran dan kritik membangun dari pembaca..

Salam ukhuwah..๐Ÿ™‚
(by the way, arti nama ana adalah: menulis..๐Ÿ™‚ )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,205 hits
%d blogger menyukai ini: