Learn to Be A True Muslimah

Hafidz dan Hafidzah

Posted on: 17 April 2011

Bismillah..

Ana ditanya, apakah seorang penghafal qur’an itu, suami/istrinya juga harus penghafal qur’an juga?

Hal ini juga jadi perbincangan kami, para akhwat yang sedang menghafal qur’an ataupun beberapa sahabat ana yang punya keinginan untuk menghafal qur’an.

= = = =

“Pokoknya suamiku nanti harus hafidz!”, kata salah seorang sahabat karibku.

“Kenapa?”, tanyaku.

“Soalnya aku bercita-cita jadi hafidzah, jadi nanti kalau ana pas nyuci, bisa disimak hafalannya oleh suamiku. Dia nggak perlu mbuka qur’an dan bisa mbenerin”, jawabnya.

Saat ini ia belum memulai program tahfidz karena sedang sibuk dengan studinya di S2, tapi sudah punya keinginan kuat untuk menjadi hafidzah sejak beberapa tahun yang lalu.

Lalu ia menambahkan, “Kalau bisa ya lulusan S1 plus hafidz, atau nggak hafidz ndak apa tapi S2.. dan punya keinginan untuk menghafal qur’an.” Dia mengakui bahwa saat ini memang idealis.

= = = = =

Ada jawaban lain dari salah satu sahabat ana yang sudah menghafal qur’an.

Ana bertanya, “Ukhti, apakah salah satu kriteria suami anti nanti harus hafidz?”

Beliau menjawab “Tidak harus.”

Kenapa ya? Karena orang-orang yang sudah menghafal qur’an sudah mengetahui kondisi dunia tahfidz, baik atau buruknya. Setelah ana tanyakan alasannya, ia menjawab, “Karena tidak semua hafidz itu sholeh! Yang penting sholeh dulu, kalau bisa ya hafidz.”

“Trus kriteria sholeh itu gimana? Itu kan umum sekali”, tanyaku.

“Oh, itu sudah kutanyakan ke ustadzah. Ustadzah mengatakan kesholihan bisa dilihat dari ibadahnya.”, jawabnya

“Tapi kan kita belum kenal, gimana kita bisa tahu ibadahnya”, tanyaku.

“Dari orang2 terdekatnya,”, jawabnya.

“Wah, ukh. Makin nggak kenal dong! Trus ustadzah bilang apa lagi?”

“Oh iya, sholeh atau tidaknya seseorang bisa dilihat dari mu’amalah dia pada ibu dan saudara-saudara perempuannya.”

Ana pun ditanya, “Kalau ukhti gimana”. Ana pun menjawab, “Masalahnya kita kan nggak tahu, jodoh kita nanti hafidz atau bukan. ”

= = = =

Sedangkan dari guru-guru ana sendiri, ada contoh sbb.

1. Istri Hafidzah – Suami Hafidz

2. Istri Hafidzah – Suami Belum Hafidz

3. Istri Belum Hafidz – Suami Hafidz

3 Tanggapan to "Hafidz dan Hafidzah"

[…] Kami dulu sama2 pernah menjadi pembina asrama di sekolah. Kami tinggal satu atap sekitar 4 bulan. Beliau menyemangati ana untuk menyelesaikan hafalan, sedangkan ana menyemangati beliau untuk menyelesaikan S2. Beliau lah yang ana ceritakan dalam beberapa tulisan ana di sini dan di sini. […]

assalamu’alaikum ukhti… saya ibu dengan 2 anak laki2…saya selalu ingin belajar tapi saya tidak mudah untuk belajar qur’an, karna atmosfer lingkungan saya yang otodidak.

wa’alaikumus salam warohmatullohi wabarokatuh.. iya ibu.. lingkungan memang sangat berpengaruh.. sebaiknya ibu terus mencari majelis quran atau majelis tahfidzul quran..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,001 hits
%d blogger menyukai ini: