Learn to Be A True Muslimah

Sitti Rabiah: Menjadi Hafidzah Setelah Punya 11 Anak

Posted on: 24 April 2011

Usia yang tak lagi muda bukanlah penghalang menjadi seorang hafidzah (penghafal al-Qur`an perempuan), sekalipun punya seabrek kesibukan sebagai ibu rumah tangga. Itulah yang dilakukan Sitti Rabiah (44) di pelosok Lappa`e, Kecamatan Tellu Limpoe, Sinjai, Sulawesi Selatan.

Ibu yang dikaruniai 11 anak ini berhasil menjadi hafidzah dalam waktu 2 tahun 18 hari. Menariknya, Rabiah memulai menghafal ketika si bungsu, (anak ke-11) sudah berumur 4 tahun (2004).

Sejak saat itu, istri M. Ahlisan (54) giat menghafal. Meski Rabiah pernah istirahat selama setahun karena terserang sakit maag, tapi hal itu tak mengendorkan semangat menghafalnya.

Kini, dengan segenap mujahadahnya, istri seorang dai dan guru agama di Pesantren Darul Istiqamah Lappa`e Bulukumba ini patut bersyukur. Selain dirinya yang telah khatam, 7 di antara 11 orang anaknya juga sudah menamatkan hafalan al-Qur`annya.

Bagaimana perjuangan Rabiah menghafal al-Qur`an di tengah kesibukannya mengurus keluarga? Apa motivasinya? Simak perbincangan Masykur dari Suara Hidayatullah dengan Rabiah. Berikut petikannya.

Apa yang melatarbelakangi Anda menghafal al-Qur’an?
Awalnya, sejak usia sekolah dulu, saya sudah punya hafalan al-Qur`an. Tapi masih sebatas surat-surat pendek saja. Misalnya, juz 30 dan surat-surat pilihan lainnya. Lama-kelamaan, akhirnya timbul keinginan menghafal al-Qur`an secara utuh.

Apa motivasi Anda?
Motivasi saya tak muluk-muluk. Hanya ingin mengejar kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Saya yakin itulah nikmat terbesar ketika seseorang bisa menjadi penghafal al-Qur`an.
Selain itu, saya ingin menjadi teladan bagi anak-anak dalam menghafal al-Qur`an.

Dengan berbagai kesibukan rumah tangga, bagaimana Anda membagi waktu untuk menghafal?
Hal terpenting adalah cara mengatur waktu. Tak jarang, ketika seluruh keluarga lagi istirahat, saya harus bangun “mencuri” waktu di malam hari. Biasanya, usai shalat Lail, saya tak langsung beranjak. Tapi duduk sejenak menghafal hingga adzan Subuh. Setelah itu lanjut menghafal sampai pukul 06.30. Kemudian menyiapkan sarapan keluarga, mencuci, membersihkan rumah, dan berbagai urusan dapur lainnya hingga shalat Dzuhur.

Usai shalat, saya istirahat sebentar. Lalu mengaji lagi selama satu jam hingga menjelang shalat Ashar. Saya juga biasa memperlancar hafalan antara maghrib dan isya.

Mana yang duluan menghafal, apakah Anda atau anak-anak?
Saya memulai hafalan sejak tahun 2004, ketika si bungsu berumur 4 tahun. Saat itu, empat orang anak saya sudah menamatkan hafalannya. Rata-rata mereka khatam al-Qur`an sebelum lulus tsanawiyah.

Bagaimana caranya memotivasi anak-anak?
Sejak awal, kemauan menghafal itu berasal dari mereka sendiri. Jadinya tak ada paksaan sama sekali dari kami. Faktor lingkungan dan rumah juga sangat mendukung. Setiap hari mereka melihat orangtua dan saudara-saudaranya mengaji di rumah. Sebelumnya tiga anak pertama kami sekolahkan ke Ma`had Tahfidz Darul Huffadh Tuju-Tuju Bone. Di sana mereka mondok sejak Tsanawiyah sampai tamat Aliyah. Sedangkan adik-adiknya yang lain sekolah di dekat rumah dan menghafal al-Qur`an di rumah saja.

Kalau lagi ada rezeki, kami juga tak segan memberi surprise buat anak-anak. Sebelumnya kami tanya dulu apa kesukaan atau kebutuhan mereka. Tapi kami tak beri tahu kapan waktunya. Biasanya mereka minta hadiah berupa baju atau mushaf al-Qur`an.

Bisa diceritakan pengalaman atau kejadian yang mengesankan selama menghafal al-Qur’an?
Alhamdulillah, dengan keluarga besar seperti ini, selalu saja ada rezeki buat keluarga. Bahkan seringkali datangnya dari arah yang tak disangka-sangka. Tak jarang, ada tetangga yang tiba-tiba datang bawa kiriman ke rumah misalnya.

Hal lain yang patut kami syukuri, anak-anak kami tak ada yang nakal. Meskipun jumlah mereka banyak, tapi hidupnya akur-akur saja. Jarang ada yang berkelahi di antara mereka.

Bagaimana cara memelihara hafalan?
Untuk memperkuat hafalan, saya mengulang bacaan yang mau dihafal sampai 20-30 kali bacaan. Namun, yang terpenting, bagaimana cara kita memanfaatkan waktu yang senggang. Selesai bekerja, biasanya saya berusaha langsung berwudhu dan mengambil mushaf. Tak peduli saya hanya mengaji beberapa menit, yang jelas ada komitmen yang harus terjaga.

Sekali sepekan, saya pergi menyetor hafalan kepada Ustadz Nasir, seorang hafidz di kampung kami. Sekali menghadap ustadz, biasanya saya mampu menyetor hingga 5 lembar atau setengah juz. Selain itu, saya muraja`ah (mengulang-ulang) hafalan setiap ada kesempatan.

Amalan apa saja yang disarankan dalam menghafal al-Qur’an?
Selain rajin berdoa, seorang penghafal al-Qur`an juga harus tekun menghafal. Jangan pernah bosan mengaji. Selama kita bersungguh-sunggguh, niscaya jalan kebaikan itu tetap terbuka. Hal lain yang patut dijaga, mendahulukan ketaatan kepada suami. Serta senantiasa berbuat baik terhadap tetangga. Sebab dalam Islam, keimanan itu bisa diukur dengan kebaikan seseorang terhadap tetangganya.

Alhamdulillah, dengan hidayah Allah SWT, kini beberapa anak tetangga dan ibu-ibu rumah tangga ikut menghafal al-Qur`an. Jumlah mereka sekitar 20-an orang. Namun, di antara ibu-ibu tadi, saya tetap yang paling tua (sambil tertawa).

Sebaliknya, amalan apa saja yang sebaiknya dihindari dalam menghafal al-Qur’an dan apa pengaruhnya?
Hindari marah atau merasa jengkel kepada anak-anak. Usahakan pula tak ada orang yang sakit hati gara-gara perbuatan kita. Karena hal itu berpengaruh kepada hafalan. Pikiran jadi tak fokus dan susah menghafal. Hati kita menjadi terbebani dan sulit konsentrasi.

Anda tidak repot punya anak banyak? Bagaimana pula cara mendidik anak yang banyak itu?
Alhamdulillah, selama ini kami tak merasa berat mengurus keluarga. Prinsip kami, anak-anak itu hanya mencontoh perilaku orangtuanya dalam keseharian. Jika orangtua memberi teladan yang baik, niscaya anak-anak akan ikut berbuat baik pula.

Hal inilah yang memotivasi kami dalam menghafal. Memberi tauladan secara nyata kepada anak-anak dalam menghafal. Alhasil, karena sehari-hari anak-anak “hanya” melihat orangtuanya mengaji di rumah, mereka akhirnya tertarik ingin menghafal al-Qur`an juga.*Suara Hidayatullah DESEMBER 2008

Mujahid, S2 di UIN Jakarta:
Saya Mencuri Malah Dikasih Uang

Siapa sih anak yang tak pernah berbuat salah? Suatu hari saya memecahkan gelas. Seorang ibu biasanya marah. Tapi ibu tidak. Beliau hanya bilang, ”Lain kali hati-hati, ya!”

Kesalahan lebih berat, pernah juga. Saya mencuri uang bapak di saku. Tak banyak, hanya untuk jajan. Saya dipanggil bapak, lalu dimarahi.

Selesai dimarahi, ibu kemudian datang. Saya pikir mau marah juga. Eh, saya malah dikasih uang. ”Nih, untuk jajan. Jangan diulang lagi, ya!” katanya, lalu merangkul saya. Saya jadi sadar, mengapa saya mesti mencuri, padahal kalau minta dikasih juga.

Sekalipun 11 bersaudara, di antara kami tak pernah bertengkar. Ada tetangga bilang, ”Bu, anaknya dikasih makan apa sih kok nurut-nurut semua.” Sambil guyon ibu menjawab, ”Dikasih makan bebek.” He..he…

Ibu dan Bapak tak pernah bertengkar. Setidaknya di depan anak-anaknya. Ibu sangat menghormati bapak. *Bambang S/Suara Hidayatullah
Boks 2:
Nama-nama anak Siti Rabiah:
1. Mujahid, S2 di UIN Jakarta: khatam
2. Mudzakkir, Syariah LIPIA Jakarta: khatam
3. Mukhlis, Takmili LIPIA Jakarta: khatam
4. Muthmainnah, Aliyah: khatam
5. Musfirah, I`dad Lughawi LIPIA: khatam
6. Mursyidah, kelas III MA: khatam
7. Muhsin, kelas I MA: 7 juz
8. Musyarrifah, kelas III MTs: khatam
9. Muhajir, kelas I MTs: 2 juz
10. Muflihatunnisa, kelas V SD
11. Mushaddiqul Haq, kelas II SD

Sumber: http://majalah.hidayatullah.com/?p=1679

= = = =

Ibu teladan ..🙂

1 Response to "Sitti Rabiah: Menjadi Hafidzah Setelah Punya 11 Anak"

Subhanalloh…, jadi malu ma diri sendiri…., semangat lagi nih untuk menjadi lebih baik…,aamiiin…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,001 hits
%d blogger menyukai ini: