Learn to Be A True Muslimah

Kulihat Cita-citaku Begitu Tinggi Adanya..

Posted on: 8 Mei 2011

Bismillah..

Salah satu buku favoritku ketika kuliah dulu adalah buku berjudul “Manajemen Tawazun dalam Kehidupan Muslim”. Buku ini dapat dibaca di perpustakaan ‘Azzam Mushola FMIPA UNS, salah satu tempat favoritku ketika sore hari.

Salah satu yang menarik perhatianku adalah ucapan Imam Ibnul Qayyim AL-Jauzi. Beliau adalah ulama ahli pemberi nasihat. Untaian kata yang diucapkannya penuh hikmah danmengandung pelajaran berharga. Di buku ini, ucapannya ini menunjukan keinginannya yang tinggi dalam hal cita-cita. Dan akupun, merasakan hal itu pula ketika membaca buku ini. Berikut ini kutipannya..

= = = =

“Aku lihat cita-citaku begitu tinggi adanya, yaitu keinginanku (dalam hal ilmu) untuk mencapai sesuatu yang tidak mungkin, sebab cita-citaku adalah pencapaian (penguasaan) seluruh cabang ilmu secara maksimal dan detail. Hal itu merupakan cita-cita yang menghabiskan umur. Menurutku, rela berbekal (berhias) diri dengan sedikit ilmu adalah termasuk orang yang lemah cita-cita. Kemudian, aku juga mencita-citakan dapat mengamalkan seluruh ilmu yang berhasil aku capai tadi dengan sempurna. Di samping itu, aku rindu untuk menjadi seorang wira’i seperti Bisyr Al-Qafie (tokoh orang wara’) dan juga zuhud seperti zuhudnya Ma’ruf Al-Kurkhy. Dalam benakku berkeinginan pula mempelajari banyak karya-karya ilmiah sambil juga mengajar dan bergaul dengan manusia.

Aku bermaksud tidak banyak bergantung kepada orang lain (dalam hal harta). Bahkan, jika mampu aku berupaya untuk selalu memberinya, sebab kesibukanku dengn ilmu menghalangiku jika untuk mencari kasab ‘kerja mencari rezeki’. Salah satu persoalan yang ditolak oleh jiwaku yang tinggi adalah menerima hadiah dan pemberian pihak lain.

Di samping semua yang telah disebut, aku juga menginginkan kenikmatan dan kebaikan duniawi. Namun, hal itu terhalang oleh sedikitnya harta yang aku miliki. Jika hal itu terjadi, maka akan melemahkan cita-cita.

Betapa sulitnya melanggengkan qiyamul lail sambil mewujudkan pula sifat wara’ dan tetap menggeluti dunia ilmu dengan mengarang, menulis dan mencipta. Betapa menyesalnya ketika aku tidak mampu menyempatkan diri ‘berkhalwat‘ ‘menyendiri bermunajat kepada Allah’ karena disibukkan oleh urusan mengajar dan berbaur dengan manusia. Betapa lemahnya nilai wara’ ketika dicampuri dengan mencari nafkah untuk keluarga. Padahal aku telah merelakan diriku tersiksa karenanya. Semoga proses pendidikan jiwaku terletak pada penyiksaan itu. Oleh karena itu, biarlah cita-citaku tercapai. Kalaupun tidak, maka niat seorang mukmin adalah lebih baik dari amalnya..

= = = =

Kulihat cita-citaku begitu tinggi.. tinggii sekali..

Ya Allah, cita-citaku ini berasal dari lubuk hatiku yang amat dalam..

dan hamba menjaganya hingga kini..

sampai mati..

(hanya dengan pertolongan-Mu, ya Allah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,007 hits
%d blogger menyukai ini: