Learn to Be A True Muslimah

Keberkahan di Asrama Tahfidz Al-Manar

Posted on: 24 Juni 2011

Bismillah

Dulu ana pernah tinggal di asrama tahfidz al-manar sekitar 4 bulan ketika menjadi murid dari Ustadzah Tri Maryani. Ada kenangan indah di sana. Asrama itu terletak di tepi anak sungai Bengawan Solo. Asrama itu terdiri dari 7 kamar, bisa ditinggali sekitar 15 orang. Ada ruang tamu yang sederhana, ruang dapur, tempat jemuran, dan 2 kamar mandi. Tempat jemurannya unik, tanahnya lebih rendah dari lantai dan berbentuk kotak yang dikelilingi oleh tembok beratap. Oleh karena itu, kalau musim hujan dan hari itu hujan sangat deras, tanah itu seperti kolam ikan karena terisi air.. 🙂

Kenangan yang terekam di benakku ketika tinggal di sana adalah sistem asramanya yang unik, pengelolaan uang yang hmm.. sangat berkah, dan sahabat2ku yang pintar masak.. :). Saat pertama masuk, ana diminta untuk memilih salah satu kamar. Ada dua kamar yang kosong, lalu aku memilih kamar no-2 dari pojok pintu. Ruangannya lebih sempit sih dari kamar di rumahku, tapi cukup nyaman. Ada kamar tidur, lemari, dan meja belajar. Kita para santri tidak dipungut biaya untuk menempati tempat itu (biaya sewa tempat: gratis).

Sistem asramanya bagaimana?

Ada pengurus asrama dan tugas khusus bagi penghuni asramanya sesuai dengan ‘jabatan’ yang ia emban. Selain itu, juga ada tugas piket bersih-bersih dan memasak sesuai jadwal.  Saat rapat pembentukan pengurus, ana masih kuliah di UNS, jadi ikut hasil keputusan rapat. Salah satu hasilnya adalah ana menjadi Sie Keamanan.. (?!)

“Haa..? Sie Keamanan? Tugasnya ngapain? Apa njaga pintu asrama semalaman seperti tugas pak Satpam itu?”, tanyaku.

“Bukan.., tapi tugasnya membangunkan seluruh penghuni asrama untuk sholat tahajud di malam hari!”, jawab salah satu temanku.

Karena punya amanah sebagai sie kemanan, berarti setiap hari petugas itu harus bangun lebih pagi dari teman2nya. Apalagi kalau berbarengan piket masak dan itu hari Senin atau Kamis, harus bangun lebih pagi lagi. Why? Karena punya tugas menyiapkan sahur teman2 untuk shoum sunnah. Sebelum jam 2 pagi harus sudah bangun untuk memasak. Kalau ana dulu bangunnya jam 1 pagi untuk mencuci peralatan dapur, meyiapkan 15 porsi makan sahur, dan membangunkan teman2 untuk sholat. Langkah itu ana ambil agar setelah shubuh sudah tidak disibukkan lagi dengan urusan dapur, langsung konsentrasi dengan hafalan. Untuk makan siang dan makan malam bisa disiapkan agak nanti setelah ziyadah dan muraja’ah.

Petugas piket masak setiap hari ada dua orang sesuai dengan jumlah penghuni tiap kamar. Urutan jadwal piketnya bergilir dari satu kamar ke kamar yang lain. Hanya saja, saat itu ana di kamar sendirian, belum ada temannya. Jadi tanggung jawab masak dalam satu hari (45 porsi) itu harus ditanggung sendirian. Namun, sahabat2ku yang baik tidak akan tinggal diam, mereka akan membantuku meski itu bukan tugasnya. Terutama kalau bumbu harum masakan sudah tercium, mereka akan ke dapur untuk membantu beberapa pekerjaan yang belum selesai, seperti menggoreng lauk atau menghaluskan sambal.

Bagaimana pengelolaan keuangannya?

Setiap penghuni asrama mendapatkan beasiswa gratis tempat asrama selama 2 tahun. Untuk itu, biaya tiap bulan  yang perlu dikeluarkan tinggal biaya makan sehari-hari, biaya air, dan biaya listrik. Berapa biaya keseluruhannya? Alhamdulillah, biayanya saat itu sangat murah, hanya 60ribu rupiah per bulan untuk tiap orang. Setelah semua dikumpulkan, 60ribu untuk biaya listrik dan air.. selebihnya untuk biaya makan.

Pada awal bulan ada petugas piket yang membeli bumbu-bumbu dapur dan bahan makanan tahan lama di Pasar Kleco, seperti bawang merah, bawang putih, garam, merica, ketumbar, tepung, minyak goreng, telur, beras, dll. Setelah itu, petugas piket berikutnya hanya diberi jatah 15ribu/hari oleh bendahara. Lima belas ribu itu harus cukup untuk membeli bahan makanan yang akan dimasak hari itu untuk 1 hari. Satu hari kita mendapat jatah makan tiga kali (ko banyak banget ya, sebelum masuk asrama, makan ana hanya dua kali sehari). Satu kali makan harus ada komposisi: makanan pokok, lauk, dan sayur. Oleh karena itu, petugas piket masak harus pinter2 mengatur keuangan, bagaimana agar bisa masak 3 jenis sayur dan 3 jenis lauk untuk tiga kali makan (45 porsi). Kadang2 kami pakai strategi 2 jenis sayur dan 2 jenis lauk dalam tiga kali makan agar uangnya cukup.

Kalau ana hitung2, jika satu hari belanja 15 ribu untuk 15 orang.. berarti dalam satu hari penghuni asrama hanya membutuhkan biaya seribu rupiah. Seribu rupiah ini untuk tiga kali makan. Jadi satu kali makan hanya Rp 333,33. Ko murah banget ya? Dengan jumlah segitu (+belanja di awal bulan) bisa dapat nasi, lauk, dan sayur. Hmm .. alhamdulillah.. barangkali inilah salah satu keberkahan asrama tahfidz al-qur’an.. meski hanya memiliki sedikit harta, tapi cukup untuk kehidupan sehari-hari.. Karena seluruh hidup para penghafal al-qur’an adalah untuk al-qur’an.. menjaga al-qur’an, mempelajari, mengamalkan dan mengajarkan alqur’an.

Di asrama tahfidz masak apa saja?

Saat itu, semua sahabat2ku berasal dari luar kota Solo, misalnya dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Barat, Madura, Jepara, Wonogiri, Jogja, Malang, Kudus dsb. Yang dari Solo hanya ana semata. Oleh karena itu, keuntunganku bertemu dengan mereka bukan hanya kerjasama dalam hafalan al-qur’an, tapi juga bagaimana mengenal karakter dan masakan khas dari berbagai daerah. Mereka pun juga meminta ana untuk memasak makanan khas Solo.

= = =

Yang paling berkesan adalah masakan sahabatku dari Sumatera, dia memasak sayur terong pedas. Cabe merahnya banyak sekali!! Dan ada yang aneh dari racikan bumbunya..!!

“Haa..? Masak sayur tanpa bawang putih?”, tanyaku keheranan..

“Iya, tanpa bawang putih! Tapi bawang merahnya dibanyakin. Rasanya enak ko! Tenang aja..”, jawab sahabatku.

“Baru kali ini ana tahu, ada masakan sayur tidak dikasih bawang putih..”, jawabku sambil melihat sahabatku masih tenang dengan pendapatnya.

Ternyata benar.. sayur terong itu benar2 sangat lezatt.. Sebelumnya ana tidak begitu menyukai terong untuk sayur karena rasanya yang tawar. Namun, setelah merasakan terong pedas ala sumatera itu, hmm.. ana jadi suka terong, meskipun tanpa bawang putih. Rahasianya, terong itu digoreng dulu hingga kuning keemasan sebelum dibuat sayur.. 🙂

Masakan lain yang dibuat sahabatku adalah bubur kacang hijau yang unik dan aneh. Why? karena dikasih tepung. Tapi enak juga.. fungsinya agar bisa menjadi lebih banyak (bahasa jawanya: babar). Masakan yang lain adalah sayur yang campurannya dibuat dari tepung, bregedel tahu bentuk bulat, ikan pindang cabe hijau, bubur kacang hijau ‘isi salak’, dll.

= = =

Mereka pun juga merasa aneh ketika ana menggoreng telur.

“Ana baru tahu kalau nggoreng telur itu bumbunya pakai merica! Aneh…!!”, kata salah satu sahabatku.

“Lho, itu kan sudah biasa. Ini yang ngajari ayah ana. Rasanya kan bisa jadi agak pedas.. Yang aneh itu kalau nggoreng telur dikasih tomat! teman ana pas bina desa dulu masaknya gitu.”, jawabku membela diri… 🙂

Saat yang lain, ada juga yang merasa aneh dengan masakanku.

“Setahuku, kalau masak sayur bothok itu tidak ada kuahnya. Ko ini ada kuahnya?”,tanya sahabatku.

“Iya, ini jenis yang lain, ada yang berkuah dan ada yang tidak. Kalau ini yang ngajari ibu ana.”, jawabku dengan harapan teman2ku nanti juga doyan makan masakanku. Masakan berkuah ini rencananya adalah untuk dua kali makan,jadi bisa menghemat waktu dan energi.

“Tapi bau bumbunya harum.. hmm.. sepertinya enak deh..”, kata sahabatku sambil mencium uap masakan yang keluar dari panci.

“Ya, semoga saja.. “.

= = =

Sekarang asrama tahfidz almanar sudah pindah dekat masjid al-manar dan tidak ada tugas piket masak lagi karena target hafalan lebih tinggi dari sebelumnya. Kalau dulu 1 bulan hanya 1 juz, sekarang 1 bulan targetnya harus mendapat hafalan 2 juz. Meskipun demikian, keberkahan dari segi makanan insya Allah masih ada. Why? Karena di warung dekat asrama tahfidz, kita bisa membeli satu bungkus nasi plus sayur yang kita pilih seharga seribu rupiah saja. Sedangkan di warung yang jauh dari asrama, harganya lebih mahal, Rp 1500,- atau Rp 2000,- tiap bungkusnya.

Kalau keberkahan dari sisi lain apa ya?? Masih dipikirkan.. mungkin akan nampak setelah beberapa tahun lagi setelah murid2 tahfidznya menjadi seorang pengajar tahfidz dan/atau da’i di masyarakat.. Allahu Musta’an..

Wallahu a’lam..

Iklan

12 Tanggapan to "Keberkahan di Asrama Tahfidz Al-Manar"

Masjid al manar itu yg deket sma batik itukah ukhty?
Salam ukhuwah ya.. *senyum*

iya.. 🙂

jd rindu… sama mujahidah2 di asrama,
masihkah seperti dulu…

ini ukhti siapa ya? Ukhti Sari yang di Kudus itu kah?

Ni waktunya tidak ada batasanya?

waktu resmi menghafal dan murajaah di ma’had hanya 5 jam.. tapi kita sendiri murid2nya membuat hafalan dan muraja’ah di luar jatah 5 jam itu juga.. apalagi yang ingin setor hafalan pagi.. sebelum sampai mahad hafalannya harus sudha jadi.. 🙂

Itu peraturan ma’hadnya apa aja, boleh tau ndak?
Ana mau masukin temen ana

Peraturannya ya baiknya langsung tanya pas daftar.. krn bisa jadi ada perubahan tiap tahun.. yg penting kita di mahad itu mengerahkan semua kemampuan kita utk menghafal.. insya Allah semua peraturan itu bisa dilaksanakan..

Ukhty, al manar ini alamatnya mana? Minta alamat lengkapnya dong.. saya googling ngga dapet2

Alamatnya ada di postingan “Program Tahfidzul Qur’an untuk Putri” di blog ini.. ma’akin najah.. fashobrun jamiil.. 🙂

ukhty ,,apa ini ponpes almanaar itu yaa?

kalau ini almanar yang di sukoharjo.. almanar yang anti maksud di kota mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 574,775 hits
%d blogger menyukai ini: