Learn to Be A True Muslimah

Australian Mathematics Competition

Posted on: 7 Agustus 2011

Bismillah..

Hari Kamis yang lalu, 4 Agustus 2011, sekolah ana menjadi salah satu penyelenggara Olimpiade Matematika tingkat Internasional untuk anak2 SD dan SMP. Olimpiade ini dilaksanakan serentak di seluruh dunia dalam waktu yang bersamaan. Alhamdulillah, ada 212 peserta dari berbagai sekolah se-Solo Raya dan sekitarnya. Ana menjadi salah satu pengawas di salah satu ruang ujian, yaitu di ruang 2.

Registrasi dimulai pukul 13.00 dan peserta memasuki ruang ujian pukul 14.15. Pukul 14.45 pengawas masuk membagikan lembar jawab. Para peserta dibimbing bagaimana menuliskan identitas di lembar jawab komputer miliknya masing2. Setelah itu dibagikan soal olimpiade yang terdiri dari dua macam: soal asli dalam bahasa Inggris dan soal terjemahan oleh KPM (Klinik Pendidikan MIPA).

Waktu pengerjaan satu jam dari pukul 15.10 hingga pukul 14.10. Setelah terdengar bel yang kedua, mereka diperbolehkan mengerjakan soal2 lomba. Sebagai pengawas, ana masih punya tugas membagikan presensi untuk ditandatangani oleh para peserta.

Ada satu hal yang mengganjal hatiku, yaitu waktu pengerjaannya berbarengan dengan waktu ashar. Namun, sebagai pengawas ana harus menjalankan kewajiban. Ana berharap setelah satu jam ana bisa segera sholat ashar. Alhamdulillah, baru saja ana duduk dari berkeliling mengedarkan presensi, tiba2 ada seseorang yang mengetuk pintu. Setelah kubuka, ternyata beliau menawariku untuk shalat ashar dan beliau yang akan menggantikan tugasku sementara untuk mengawasi anak2. Tentu tawaran ini kusambut baik dan senang hati. Ana bisa shalat ashar lebih cepat setengah jam dari awal perkiraan.

Setelah selesai, anak2 tidak boleh keluar dulu. Ana harus mengecek jumlah lembar jawab yang dikumpulkan dan mengambil semua soal. Soal itu akan diberikan satu pekan setelah lomba, untuk meminimalkan kebocoran soal di negara lain. Ketat banget ya.. Bahkan jam pengerjaan pun tidak bisa diundur atau diajukan karena alasan ini pula..

Anak2 yang selesai mengerjakan pada berkomentar, “Ust, tadi sulit banget, banyak soal yang belum dikerjakan.” Ana hanya mengangguk dan tersenyum karena harus segera ke kantor untuk membawa berkas2 olimpiade yang sudah dimasukkan dalam map. Memang soal olimpiade itu soalnya lebih sulit dari soal2 yang biasa diajarkan di sekolah. Untuk bisa menang, harus banyak latihan dan sering mengasah otak. Latihannya pun harus mengarah ke soal2 olimpiade, sehingga perkiraan soal yang akan muncul tidak meleset jauh.

Di sekolah, alhamdulillah ana menemukan anak kelas satu SMP yang sangat berbakat dalam bidang matematika. Dia sangat cepat menyeleaikan soal, bahkan tidak perlu menggunakan oret2an untuk menghitungnya. Saat itu ana mengajarkan tentang konversi satuan di pelajaran fisika. Anak itu namanya Farrel, dan wajahnya sangat mirip dengan adik ana yang bernama Umar Said (kelas 4 SD). Umar Said juga pintar Matematika. Alhamdulillah…

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,205 hits
%d blogger menyukai ini: