Learn to Be A True Muslimah

Latihan jadi Imam

Posted on: 7 Agustus 2011

Bismillah..

Suasana Ramadhan memang berbeda. Shaf sholat yang awalnya hanya ada beberapa baris sekarang membludak sampai di luar masjid. Tak ketinggalan juga di asrama tahfidz. Kalau biasanya shalat malam dilakukan sendiri2, sekarang shalat malamnya (=shalat tarawih+witir) dilakukan berjama’ah di asrama. Ada imam yang ditunjuk mengimami secara bergiliran dengan membaca surat atau juz yang sudah dihafal.

“Nis, ana ikut shalat tarawih di asrama ya. Untuk muraja’ah juga.”, kataku. Mendengarkan bacaan imam juga termasuk muraja’ah. Kalau shalat tarawih di masjid, ayat yang dibaca sedikit dan waktunya sebentar. Kalau penghafal qur’an butuh bacaan panjang dan waktu yang lama dalam shalat. karena dengan begitu, semakin banyak ayat yang diingat dan dimuraja’ah.

“Iya, mbak. Ikut aja!”, jawab temanku.

“Sekarang shalatnya dimulai jam berapa?”, tanyaku. Kalau Ramadhan tahun lalu, shalatnya dimulai pukul 2 pagi. Jadi kami tidur dulu baru nantinya bangun untuk shalat. Ana perlu tahu apakah waktunya sama atau berubah, agar ana bisa datang ke asrama tepat waktu dari kos ke asrama. Kos ana sangat dekat dengan asrama. Ana tidak asrama karena asrama sudah penuh dan ana juga ‘nyambi’ kerja membangun peradaban umat di sebuah sekolah Islam.

“Jam delapan malam. Datang aja mbak, nanti jadi imamnya ya.. “, jawabnya sambil tersenyum.

= = = =

Akhirnya ana datang, tiba-tiba langsung diminta jadi imam.

“Lho, kan biasanya sudah ada jadwal imam.”, jawabku penasaran.

“Iya, tapi imamnya lagi tidak ada di sakan (asrama).”, jawab sahabatku.

“Mmm, ok. Ana mau, tapi jangan sekarang ya soalnya ana lagi sakit kepala, nanti takut banyak salahnya.”, jawabku. Saat itu ana sedang memikirkan target besar pada bulan Ramadhan ini. Berpikir memang bisa mbuat pusing bahkan sakit. Dan ana sudah siap jika akhirnya nanti harus jatuh sakit dalam program besar bulan ini.

“Oh ya, target ngimami berapa juz?”, tanyaku.

“Setengah juz, ukh.”, jawabnya.

“Itu sedikit sekali, kenapa tidak satu juz sekalian? Biar nanti satu bulan khatam. Di ma’had lain itu malah ada yang dua juz lho!”, kataku untuk mengubah keputusan dan meyakinkan mereka.

“Ukh, setengah juz itu juga berat. Yang penting kan bisa dan terlaksana. Kalau anti satu juz aja gak papa.”, jawabnya.

“Ok, ana besok satu juz, tapi setelah ana nanti satu juz-satu juz  juga ya!”, pintaku.

Tapi akhirnya keputusan tetap setengah juz dan bagi yang menginginkan bisa lebih dari itu. Setelah itu akhirnya ada salah seorang sahabatku yang maju jadi imam. Ia membaca sebagian dari surat al-Baqarah.

= = = =

Hari berikutnya ana yang ditunjuk jadi imam. Ana melanjutkan bacaan imam yang kemarin, yaitu ayat tentang Nabi Sulaiman ‘alahis salam yang dituduh mengajarkan sihir. Targetnya ana membaca delapan lembar untuk shalat tarawihnya. Alhamdullillah sudah lunas, lalu dilanjutkan ayat di surat lain untuk shalat witirnya.

“ukh, tadi pas shalat witir ana mikir2: tadi yang dibaca mbak Niken apa ya? Tapi setelah sampai pada”wal ya’fuu wal yash-fahuu” ana jadi tahu, itu Surat An-Nuur.”, kata salah seorang temanku yang sudah hafal 30 juz padaku.

“Iya, benar, hihi..”, jawabku sambil senyum2. Memang waktu itu ana mengawali dengan ayat yang mirip dan banyak terdapat dalam al-Qur’an (termasuk ayat mutasyabihat), yaitu ayat ‘Yaa ayyuhal ladziina aamanuu laa tattabi’uu khuthuwaatisy-syaithoon…” pada ayat 21 Surat An-Nuur.

Jadi seorang penghafal al-Qur’an tidak bisa mengetahui itu surat apa kecuali setelah mendengar ayat selanjutnya yang menjadi pembeda dengan surat lain. Surat itu juga mudah dikenali jika ayat tersebut memiliki sababun nuzul. Ayat yang ana baca saat itu berkaitan dengan sahabat Abu Bakar ra. yang akhirnya memberi maaf pada Misthah (karena telah ikut menyebarkan isu bohong tentang putrinya, ‘Aisyah). Beliau memberikan maaf karena juga mengharap ampunan dari Allah seperti yang disebutkan dalam bagian akhir ayat ini, “Alaa tuhibbuuna an-yaghfirallaahu lakum. Wallaahu Ghafuurur-Rahiim” – Apakah engkau tidak suka jika Aku memberi ampunan padamu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang- (indah sekali ya.. ayat ini..🙂 )

Tidak semua ayat al-Qur’an ada sababun nuzulnya. Oleh karena itu, jika ayat itu ada sababun nuzulnya biasanya lebih mudah diingat. Inilah salah satu hikmah adanya asbabun nuzul dalam al-Qur’an (ini adalah salah satu soal ujian tulis pelajaran “Ulumul Qur’an” di mahad tahfidz almanar, akhir Juli ’11 kemarin..🙂 ).

= = = = =

“Ukh, tadi kok nggak ada yang mbenerin sih. Padahal tadi ana sudah berhenti dan mengulang lagi ayatnya, nunggu ada yang mbenerin.”, kataku dengan nada bersedih. Ana sadar ada kesalahan ketika membaca Surat An-Nuur ayat 31. Ayat itu berisi kewajiban menundukkan pandangan bagi perempuan dan macam2 mahramnya. Ayatnya cukup panjang dan berupa rincian2.

Akhirnya sahabatku menjawab, “Iya, tadi mau mbenerin tapi pas mau mbenerin dah telanjur kelewat.”

Lalu terdengar lagi jawaban, “Iya, tadi ana mau mbenerin tapi cuma tahu artinya saja.”

“Gimana mau mbenerin, ana aja ngafalnya belum sampai surat itu.”, jawb yang lain.

“Ukh, padahal tadi masih kurang satu kata.”, kataku bersedih. Seorang penghafal al-Qur’an tidak akan rela jika ada dalam hafalannya yang salah, meskipun itu satu kata, satu huruf, atau bahkan satu harakat!

“Pokoknya nanti tanggung jawab makmum sebelah kanan imam ya!”, kataku menegaskan untuk shalat selanjutnya. Biasanya orang yang dipilih untuk berdiri di dekat imam adalah orang yang sudah banyak hafalannya. Fungsinya adalah untuk membenarkan bacaan imam jika ada yang salah.

Memang jadi imam itu berat. Yang biasanya lancar bisa jadi ada yang tidak ingat. Indikator baiknya hafalan bisa diukur dari baiknya hafalan ketika sholat, lebih2 jika dibaca dalam shalat berjama’ah sebagai imam.

= = = =

“Ibadah sambil belajar. Belajar sambil ibadah”, kata sahabatku. Memang kita harus saling menyemangati dan memberi motivasi dalam menyelesaikan dan menjaga hafalan.

2 Tanggapan to "Latihan jadi Imam"

Subhanallah … begitu ya …

Di tempat saya yang jadi imam sholat juga hafidh (santri ma’had di dekat sini), makmum yang juga sesama rekan mereka sangat sigap membetulkan bacaan imam kalau terjadi kesalahan …

Btw, saat ini aktivitas menghafal di ma’had sudah selesai ya Mbak ? … Sambil bekerja kah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,007 hits
%d blogger menyukai ini: