Learn to Be A True Muslimah

Sholat Tarawih di Masjid Istiqlal

Posted on: 22 Agustus 2011

“Mantap! Dua rakaat 20 menit!”, kataku pada ayah yang membukakan pintu rumah sekitar pukul 01.15 dini hari (tentu sebelumnya ana sudah mengucapkan salam dan mengetuk pintu..๐Ÿ™‚ ). Lalu aku pun berbincang-bincang dengan ayah sejenak mengenai kegiatan yang baru saja kulakukan di sebuah masjid favoritku.

= = = = =

Alhamdulillah, pada malam hari bulan Ramadhan..ย  di Masjid Istiqlal Solo diadakan kegiatan shalat tarawih berjama’ah seperti tahun-tahun sebelumnya. Imamnya adalah para hafidz qur’an yang memiliki bacaan yang jernih, bagus, lembut, dan merdu..๐Ÿ™‚

Suatu malam ana diantar adik untuk shalat tarawih di sana. Para jama’ah datang ke masjid sekitar pukul 22.00 untuk mengikuti kajian terlebih dahulu. Pengisinya biasanya para ustadz kabir atau doktor2 yang sangat muslim. Biasanya mereka menggunakan slide presentasi untuk memberikan pemahaman yang lebih dengan bantuan audio-visual. Dengan mengikuti kajian itu, serasa otak kita bersinar dan volumenya bertambah karena isi kajiannya padat ilmu dan benar2 menggugah..๐Ÿ™‚

Setelah kajian selesai, dilanjutkan shalat tarawih berjama’ah. Semua lampu utama dimatikan, tinggal lampu samping berwarna kuning yang masih hidup. Suasana yang agak gelap itu membuat lebih nyaman dan menambah konsentrasi sholat. Sholat tarawihnya dilaksanakan dua rakaat-dua rakaat. Dua rakaat itu berlangsung selama kurang lebih dua puluh menit.

Sebenarnya ana tidak bermaksud menghitung lama waktunya, tapi kebetulan pada sholat yang pertama secara tidak sengaja ana melihat jam dinding yang terletak di sebelah atas imam. Untuk rakaat2 setelahnya, ana tidak tahu berapa menit lamanya karena tidak melihat jam. Hanya saja sempat terhitung olehku bahwa untuk keseluruhan sholatnya berlangsung sekitar 1,5 jam.

Alhamdulillah, ana mendapatkan tambahan ilmu di sana, termasuk ilmu tajwid yang ana cari selama ini. Ana teringat, ustadzah tahfidz di semester satu pernah mengatakan kalau bacaan tasydid dan idgham bi-gunnah itu berbeda.

Dalam sholat itu, bacaan tasydid dan idgham bi-gunnah yang dibaca imam BENAR-BENAR TERDENGAR JELAS di telingaku. Oh, jadi itu ya.. perbedaannya.

= = = =

“Ukh, ana ingin sekali belajar tahsin lagi. Tahu nggak, tasydid dan idgham bi-gunnah itu beda lho!”, kataku sambil berjalan ke masjid al-manar pada salah seorang sahabat.

“BEDA? Benarkah?”, tanyanya heran.

“Iya, beda!”, jawabku. Lalu aku menggambarkan perbedaan itu dengan isyarat telapak tangan (sesuai pemahamanku). Kalau tasydid itu suaranya seperti dua tangan yang ditumpuk atas bawah.. kalau idgham bi-ghunnah itu seperti dua telapak tangan yang berjajar.

“Bagaimana praktek membacanya?, tanyanya ingin tahu.

Ana sudah memberitahu praktek bacanya sesaat sebelum pembicaraan ini. Karena takut salah ngasih contoh dan mau berpisah, maka kujawab singkat saja, “Nanya ustadzah Mukminah aja! Biar lebih jelas!”. Lalu kami pun berpisah. Ia menuju masjid di lantai satu untuk mengajar ibu2 membaca al-Qur’an. Sedangkan ana menuju masjid di lantai dua menaiki tangga putri.

= = = = =

Kapan ya, belajar tahsin lebih dalam lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,007 hits
%d blogger menyukai ini: