Learn to Be A True Muslimah

Kunjungan Koordinator Tahfidz AMCF

Posted on: 23 November 2011

Bismillah..

Alhamdulillah, hari ini koordinator pusat AMCF -Ustadz Jamaluddin- mengunjungi ma’had kami. Beliau ditemani oleh Ustadz Syukur sebagai koordinator AMCF di Solo. Setelah majlis dibuka oleh Ustadz Syukur, Ustadz Jamaluddin memberikan informasi dan nasihat berharga untuk kami. Diawali dengan menerangkan apa itu AMCF, apa saja kegiatannya, apa saja outputnya sampai saat ini, hingga nasihat tentang menghafal qur’an.

AMCF singkatan dari Asia Muslim Charity Foundation, atau kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi Yayasan Muslim Asia. AMCF hingga saat tulisan ini ditulis sudah memiliki 15 mahad lughoh (bahasa arab) dan 35 mahad tahfidz. Memang sih, mahad tahfidz yang putri masih sedikit. Setahu ana, dulu baru ada 2 tempat, sekarang sudah ada 6 tempat mahad putri AMCF di Indonesia. Selain bergerak dalam bidang pendidikan (bahasa dan tahfidzul qur’an), AMCF juga memberikan bantuan dalam pembangunan masjid2 dan panti asuhan.

Jika kita ingin bisa menghafal qur’an sesuai target, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) niat ikhlas, (2) menjauhi sifat tercela, (3) mendapatkan izin ortu / suami, (4) istiqomah dan disiplin, (5) mengorbankan waktu untuk menghafal qur’an, (6) banyak muraja’ah. Itulah inti dari nasihat beliau tentang menghafal qur’an.

Yang terkesan bagi ana adalah point ke-5, yaitu mengorbankan waktu untuk menghafal al-qur’an. Menurut beliau, pengorbanan waktu itu adalah sebuah perjuangan. Betapa banyak orang yang di luar itu menghabiskan waktu untuk bersenang2, sedangkan para santri di mahad tahfidz berjuang keras untuk menghafal qur’an dan mengulang-ulangnya. Beliau juga berpesan agar kami harus pandai mengatur waktu karena di tengah2 menghafal qur’an, pasti ada kendala yang ditemui.

Awalnya ketika diamanahi sebagai koordinator beliau juga berpikir, apakah 2 tahun untuk menghafal qur’an itu bisa?? karena di pondok2 konvensional, menghafal qur’an itu bisa sampai 4 tahun, bahkan 9 tahun. Setelah beliau berkunjung ke Mahad Umar bin Khoththob Surabaya, akhirnya beliau yakin: Bisa!

Beliau bercerita, lokasi Ma’had Umar bin Khoththob dan fasilitasnya itu memang mendukung untuk menghafal, tempatnya juga asri. Ustadz yang mengajar di sana ada 3 orang dengan jumlah santri sekitar 60 orang. Salah satu pengajar tahfidznya adalah Ustadz Mudhawi.

Bagaimana metode tahfidz di sana?

Karena Ustadz Jamaludin ditanya, akhirnya beliau bercerita lebih banyak. Metode tahfidz di sana ok banget. Suasana menghafal benar2 terasa/ kelihatan. Bahkan, masjidnya saja, hidup 24 jam. Manajemen bagus, ketegasannya juga bagus.  Sejak awal masuk mahad tahfidz, calon santri benar2 ditanya: apakah benar2 mau menghafal? Kalau tidak, ya sebaiknya pulang saja.. 🙂 Lalu perkembangannya juga dipantau, kalau 2 tahun tidak ada hasil, ya sebaiknya pulang saja.. 🙂 (tegas banget ya..)

Proses hafalan dilaksanakan dengan intensif. Santri senior berkewajiban menyimak hafalan santri baru. Setelah itu hafalan tersebut disetorkan ke ustadz. Satu ustadz menyimak 3 orang.. Lho, padahal jam tahfidznya kan cuma 4 jam, apa cukup? (5 jam mengajar: 4 jam tahfidz, 1 jam durus idhofiyah). Kalau di mahad ana, kami benar2 kekurangan waktu. Makanya pada rebutan tempat duduk untuk setoran dan atau muraja’ah. Apalagi target muraja’ah di hadapan ustadzah adalah 2 juz, sedangkan di mahad lain biasanya 1/4 juz saja.

Ternyata, ustadznya berani mengorbankan waktu di luar jam mengajar. Apalagi ustadznya tinggal di asrama. Jadi, santri bisa janjian dengan ustadznya untuk setoran hafalan di masjid atau di tempat yang disepakati. (Ustadzah ana juga sering mengorbankan waktunya dengan tulus, meskipun waktu lemburnya tidak mendapat tambahan di dunia, tapi insya Allah mendapat pahala di sisi Allah. Aamiin.)

Dari segi ketelitian hafalan, insya Allah tidak diragukan karena ustadznya sendiri mempunyai kelebihan, memiliki sanad dan sudah dipercaya. Santri2 di sana (yang sudah hafal 30 juz) sering diminta untuk menjadi imam di masjid2. Bahkan pada bulan Ramadhan yang lalu, Ustadz Mudawi diminta untuk menjadi imam sholat di Belanda.

= = = = =

Ketika akan berakhir, ana memberanikan diri untuk bertanya, “Ustadz, misalnya kita sudah selesai menghafal, juga sudah selesai ujian, lalu bagaimana agar bisa mendapatkan sanad? Apalagi kami adalah akhwat.” Ana bertanya seperti itu, karena biasanya yang punya sanad itu adalah penghafal qur’an laki-laki. Untuk hal ilmu, kita para akhwat juga nggak mau kalah kan.. 🙂

Ustadz Jamaluddin menjawab, “AMCF tidak mewajibkan harus mengambil sanad setelah selesai menghafal.”. Beliau bercerita, Ustadz Mudhawi saja belum berani mengajarkan ilmu sanadnya pada muridnya. Karena orang yang diajari sanad itu adalah orang pilihan, hanya orang yang pantas yang akan mendapatkan ilmu itu. Ustadz Mudhawi belum menemukan orang itu.

Mendengar jawaban itu, ana jadi teringat ucapan ustadz ana yang mengajar pelajaran Aqidah Akhlak di SMA dulu,  ‘Seorang guru berhak untuk menerima atau menolak murid’. Seorang guru hebat, akan mencari murid hebat yang pantas memiliki ilmu itu. Masya Allah. Wew!

Iklan

3 Tanggapan to "Kunjungan Koordinator Tahfidz AMCF"

Subhanallaah… Ijin share ya ukhty?

assalamualaikum
Setau ana memang susah untuk mendapatkan sanad itu sndiri, sanad hanya bisa diberikan oleh seorang ahli sanad jika orang yang berusaha mnempuhnya memiliki kualitas bacaah yang sama dengan syeihnya,,karena sanad adalah amanah yang agung,, untuk ustad mudawi sendiri beliau memiliki sanad yang tinggi(dekat dgn Rasulullah) dan sekarang belum ada 1 muridnya pun yang sanggup menempuh sanad dari beliau, umumnya mereka tdak sabar menghadapi ksulitan.
jdi intinya untuk mendapatkan sanad dari ahli sanad sseorang minimal punya kualitas bacaan yang tidak jauh dari ahli sanad itu,,

Alhamdulillah, bisa membaca tulisan ini… mengingatkan memory di Ma’had Umar bin al-Khattab Surabaya.. Ustadz Mudawi al-Hafidz, semoga Allah mudahkan beliau utk menyelesaikan program doktornya di UIN Surabaya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 794.054 hits
Iklan
%d blogger menyukai ini: