Learn to Be A True Muslimah

Mengapa Tidak Sekaligus? Untuk Memperkuat Hatimu

Posted on: 8 April 2012

Bismillah..

Kitab-kitab samawi seperti Zabur, Taurat, dan Injil diturunkan secara sekaligus pada para nabi yang dipilih-Nya. Bagaimana dengan kitab suci Al-Qur’an? Al-Qur’an berbeda karena diturunkan tidak sekaligus, tapi berangsur-angsur. Justru inilah salah satu keistimewaan Al-Qur’an.

Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan secara sekaligus?

Ada hikmah besar di baliknya. Sebenarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun mampu menurunkannya sekaligus, namun dengan kesempurnaan hikmah dan ilmu-Nya, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap dalam beberapa waktu, seperti kalam Allah:

“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Qs. Al-Isra’: 106)

Dengan diturunkan secara berangsur-angsur, maka akan memudahkan Al-Qur’an untuk dihafal, difahami, dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat2nya. Orang2 Arab zaman dulu umumnya tidak bisa membaca dan menulis, sehingga mereka menyimpan ilmu mereka dengan hafalan.

Ayat lain yang menjelaskan hal ini adalah di Surat Al-Furqon berikut ini:

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS. Al-Furqon: 32)

Dengan turun secara berangsur-angsur, maka dapat memperkuat/memperteguh hati Rasulullah karena dakwah itu berat dan penuh rintangan. Ada ayat yang isinya berisi hiburan untuk beliau sehingga menjadi lebih sabar dan teguh dalam berdakwah.. ada yang berisi berita gembira akan kemenangan yang akan peroleh meski keadaan saat itu sangat sulit.. ada yang berupa kisah2 para Nabi yang ternyata mendapatkan berbagai cobaan2 yang berat juga, sehingga beliau bisa mengambil ibrah dari kisah tersebut.. ada juga yang menjawab pertanyaan2 kaum musyikin Mekkah, kaum Yahudi maupun menjawab pertanyaan para muslimin tentang beberapa hukum saat di Madinah..

Jadi, betapa indahnya dan betapa besarnya hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur. Intinya, dalam Surat Al-Furqon di atas, tujuan diturunkan Al-Qur’an tidak sekaligus seperti kitab sebelumnya, tapi berangsur2 adalah untuk MEMPERKUAT/MEMPERTEGUH/ MEMPERKOKOH HATIMU..

Barangkali ini juga bisa menjawab pertanyaan salah satu saudari saya di Kalimantan,

Mengapa kita tidak bisa menguasai seluruh bidang yang kita inginkan sekaligus dalam satu waktu? Agar kita bisa menghafal ilmu itu, memahaminya, mempraktekannya.. dan agar ilmu itu benar2 kokoh dalam hati kita lebih dulu. Seperti ulama zaman dulu, tidak diperkenankan belajar hadits sebelum hafal/menguasai Al-Qur’an lebih dahulu. Jadi, kuasai dan tekuni dulu satu-satu..πŸ™‚

= = = =

Alhamdulillah, dalam perjalanan saya menghafal Al-Qur’an, banyak ayat Al-Qur’an yang saat saya hafal, saat itu pula saya mendapatkan kesan/hikmah/penjelasannya/mengingat masa lalu saya yang indah.. atau bahkan ujian bagi kehidupan saya. Misalnya,

-saat saya menghafal QS. Thaha, saat itu saya mendapat jatah dari ustadzah untuk mempresentasikan/menjelaskan pada teman2 di mahad tentang bagaimana proses Umar bin Khoththob masuk Islam. Padahal, Umar bin Khoththob masuk Islam setelah mendengar dan membaca QS. Thaha. Beliau kagum dan menangis karena merasakan keindahan Al-Qur’an. Hatinya luluh dan mengakui kebenaran karena tidak mungkin kata2 yang memiliki ketinggian satra itu itu adalah kata2 manusia lalu beliau masuk Islam.

-saat menghafal QS. Al-Ahqof, saya diuji untuk menuruti orang tua untuk bekerja dan tidak bisa masuk mahad lagi. Saat itu saya bertanya dalam hati, “Masya Allah, saya diuji dengan apa yang saya hafal.” Akhirnya saya mengambil cuti beberapa waktu dan terus memohon pada Allah agar bisa kembali lagi ke mahad untuk meneruskan hafalan.

-saat saya menghafal QS. Al-Hajj, saat itu adalah bulan Dzulhijah, di mana sebagian muslimin melaksanakan ibadah haji dan penyembelihan hewan qurban. Saya mendengar para penceramah di kajian membaca QS. Al-Hajj saat berkhutbah menjelang hari Idul Adha.

-suatu saat saya bertanya pada Allah, “Ya Allah, apakah yang paling berharga di dunia ini?” Setelah beberapa lama, hati saya menjawab : iman dan Islam. Lalu saya pun bertanya lagi, “Banyak orang yang mengaku orang Islam dan orang beriman, tapi ternyata mereka berbeda2. Ya Allah, bagaimanakah iman yang sesungguhnya itu?”.. Alhamdulillah, pagi harinya saya menghafal awal Qs. Al-Anfal yang menjawab pertanyaan saya. Alhamdulillah, saya sangat senang dan bersyukur sekali karena pertanyaan saya terjawab. Lalu saya menceritakan pada ayah, ayah menambahkan bahwa ciri iman yang sebebarnya itu diterangkan dalam Qs. Al-Hujurat.

-Suatu saya menghadiri majelis pengkhataman al-Qur’anyang diadakan besar2an di kota Solo, penceramah menjelaskan tentang kematian dan menyebutkan salah satu ayat di Surat Al-A’raf. “Masya Allah, ini adalah jatah hafalanku hari ini.”

-Saat saya menghafal salah satu ayat di Qs. Al-Qashash, saya teringat dulu pernah memohon pada Allah dengan doa yang mirip seperti yang diucapkan Nabi Musa ‘alaihissalam. Dan alhamdulillah, Allah mengabulkan doa itu dan memberikan kebaikan yang banyak.

-saat saya menghafal Qs. Maryam, saat itu saya sedang bersedih, lalu ada sebuah ayat yang benar2 menghibur dengan khitab yang tepat, “Alaa tahzanii..” Janganlah kamu besedih.. “. Kata kerja yang digunakan adalah kata kerja untuk perempuan tunggal, yaitu Maryam. Seolah-olah Al-Qur’an berkata padaku, “Janganlah engkau bersedih..” kemudian menceritakan bagaimana Allah memberi pertolongan dan kebar gembira pada Maryam. Setelah itu, saya tersenyum..πŸ™‚

Masih ada lagi yang belum bisa saya ceritakan, seperti kesan ketika menghafal QS. Az-Zukhruf, Al-Mukminun, Al’Ankabut, Al-Hijr, Al-Baqarah, Ali-Imran, Az-Zumar, Al-Isra’, Yunus, Yusuf, Muhammad, dst. Barangkali ini salah satu nikmatnya menghafal qur’an, untuk memperkuat hatimu.. karena memang menghafal qur’an itu banyak rintangan dan ujiannya.. saya akui.. berat.. Alhamdulillah, Allah memberi kabar gembira, menghibur kesedihan, dan menggantinya dengan kegembiraan.

 

 

 

2 Tanggapan to "Mengapa Tidak Sekaligus? Untuk Memperkuat Hatimu"

Ana Uhibbuki anti ya Ukhti..πŸ™‚

ahabbakalladzi ahbabtani lah..πŸ™‚
sama2 ukhti… moga suatu saat kita bisa bertemu..πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,001 hits
%d blogger menyukai ini: