Learn to Be A True Muslimah

Terjemah Harfiyah – Terjemah Tafsiriyah

Posted on: 15 April 2012

Bismillah..

Suatu hari sebelum setoran hafalan,

“Biasanya kalau kalian menghafal, membutuhkan waktu berapa lama agar dapat hafalan 1 lembar?”, tanya ustadzah lalu beliau menunjuk kami satu2 untuk memberikan jawaban.

Jawabannya ternyata macam2,

“Tidak tentu ust, tergantung lagi mood apa enggak. Kalau lagi mood ya bisa cepat, kalau nggak ya ngafalnya lama.”

“Sekitar setengah jam, ust.”

“Mmm, kalau setengah jam itu terlalu lama ust. Mungkin sekitar 10-15 menit.”

Lalu tibalah giliranku ditunjuk, “Kalau ana juga biasanya setengah jam ust.. tapi saya merasa tidak puas dengan hafalan ana kalau cuma setengah jam, trus saya tambah lagi menjadi satu jam biar lebih mantap.”

“Oh, jadi biar lebih melekat ya?”, tanya ustadzah.

“Iya.”, jawabku. Lalu aku menambahkan, “Oh ya, ust. Biasanya ana bisa lebih lama dari itu, karena biasanya saya terjemahkan dulu, lalu baca tafsirnya, setelah itu baru dihafal, setelah itu baca tafsirnya lagi. Soalnya hati ana melarang kalau hafal tapi tidak tahu maknanya.”

“Oh, bagus itu. Memang biasanya kalau waktu menghafalnya lama, maka akan sulit hilangnya. Kalau menghafalnya cepat, mungkin lancar2 saja ketika baru saja dihafal lalu disetorkan, tapi besoknya kalau diminta lagi hafalannya, sudah berbeda lagi kekuatan hafalannya.”, begitulah kira2 penjelasan ustadzah.

= = =

Pengalaman ana dulu ketika menghafal, ana menggunakan terjemah depag juga, agar mengerti maksud yang dihafal. Tapi biasanya ana masih kesulitan untuk menentukan mana subjek dan objeknya, siapa yang berkata, siapakah di balik dhomir/kata ganti yang dimaksud (misal: kata hum, kum, hu, itu kembali ke siapa). Selain itu, ada kata2 yang belum ana kenal karena jarang dipakai dalam pelajaran bahasa arab di sekolah.

Untuk mengatasinya, maka biasanya ana membuka buku2 tafsir yang ada di rumah atau pinjam ke seorang ustadzah. Ternyata rasanya benar2 berbeda, dengan membaca tafsir maka lebih paham lagi dan lebih sejuk. Tapi awal2nya dulu pernah keasyikan baca buku tafsir lalu lupa ngafalnya. Akhirnya ana harus membagi waktu dengan adil antara ngafal, baca terjemah dan tafsir, muraja’ah, dan tilawah. Selain membaca tafsir, ternyata untuk memahami al-Qur’an, akan sangat terbantu jika kita juga membaca Sirah Nabawiyah (karena ada ayat yang berisi kisah, misal: kisah perang Badar dan perang Uhud) dan ‘Ulumul Qur’an (untuk mengetahui ayat Makkiyah-Madiyah, Nasikh-Mansukh, ‘Am-Khosh dalam lafadz atau hukum). Jadi, kalau membaca terjemah saja tidak cukup.

Ternyata, terjemah depag itu ada kesalahannya, ditemukan oleh salah seorang ulama ahli tafsir sekaligus penulis buku2 Islami yang berjumlah ratusan, sekitar 500an buku. Beliau adalah Ustadz Muhammad Thalib. Ana salah seorang pembaca yang sangat suka dengan tulisan2 dan buku2 beliau.

Kesalahan itu terjadi karena al-qur’an diterjemahkan per kata/ secara harfiyah. Sedangkan penerjemahan yang diperbolehkan para ulama di 7 negara adalah terjemah tafsiriyah/ maknawiyah. Ana jadi ingat pas dulu belajar ‘Ulumul Qur’an di ma’had ‘aly dengan salah seorang doktor ahli tafsir, saat itu kami membahas “Macam2 Tafsir.” Yang ana ingat, beliau pernah mengatakan, kalau penerjemahan al-qur’an per kata/harfiyah itu tidak diperkenankan. Lalu ana bertanya2, kalau qur’an depag itu.. terjemah per kata atau bukan ya??

Oh iya, terjemah tafsiriyahnya sudah dicetak. Bagi para muhsinin dan aghniya’, bisa menyumbangkan sebagian dana untuk membuat mushaf ini dalam bentuk wakaf agar bisa dibaca oleh masyarakat secara gratis.

= = =

hidayatullah.com – Terjemah al-Qur`an Kementerian Agama (Kemenag) digugat. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menilai terjemah al-Qur`an berusia 46 tahun itu telah menimbulkan banyak masalah di negeri ini. Kesalahan terjemah Kemenag diklaim telah memicu aksi terorisme, liberalisme, aliran sesat, hingga kerusakan moral di masyarakat.

MMI menuntut Kemenag menarik seluruh terjemahannya dan menggantinya dengan terjemah tafsiriyah seperti yang dibuat MMI.

Namun, Kemenag menilai hal itu perbedaan pandangan semata, dan mempersilahkan MMI menerbitkan sendiri versi terjemahannya.

31 Oktober lalu, MMI meluncurkan Al-Qur`an Tarjamah Tafsiriyah, karya Amirul Mujahidin, Dr Muhammad Thalib. Sebuah terjemah al-Qur`an 30 juz yang berbeda sama sekali dengan terjemah versi Kemenag.

Thalib mengaku menemukan 3.229 kesalahan pada terjemah versi Kemenag. Kesalahan bertambah menjadi 3.400 pada edisi revisi tahun 2010. Dari 114 surat al-Qur`an yang diterjemah oleh Kemenag, hanya 6 surat yang lolos tashih ala MMI.

= = = =

Jakarta (voa-islam) – Menurut Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Muhammad Thalib, bagi bangsa Arab yang setiap harinya akrab dengan bahasa Al-Qur’an, mereka tidak mengalami kesulitan untuk memahaminya secara tepat. Namun bagi bangsa lain di dunia ini yang tidak memahami bahasa Arab, mereka memerlukan pengalihan bahasa yang tepat ke dalam bahasa mereka.

Pengalihan bahasa Al-Qur’an ke dalam bahasa lain disebut tarjamah. Dalam prakteknya, tarjamah Al Qur’an tidak dapat dilakukan secara harfiyah. Karena itu, pengalihan bahasa Al Qur’an ke dalam bahasa Indonesia hanya dapat dilakukan secara tafsiriyah. Untuk menerjemahkan secara tafsiriyah wajib memperhatikan kaidah-kaidah baku dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Berdasarkan pemikiran inilah, kami mengusahakan terwujudnya tarjamah tafsiriyah Al Qur’an. Kami berharap, tarjamah tafsiriyah Al Quran ini dapat membantu para pembaca untuk memahami makna ayat-ayat Al Qur’an secara lebih mudah da lebih cepat sesuai maksud kalimat Arabnya. Terutama bagi yang tidak memahami seluk-beluk bahasa Arab.

“Kami menyadari kemungkinan adaya kekurangan dan kelemahan dalam tarjamah tafsiriyah Al-Qur’an ini. Karena itu kami mengharapkan saran, kritik dan koreksi dari semua pihak, terutama pakar bidang bahasa Arab dan ilmu Al-Qur’an. Semoga Allah menjadikan tarjamah tafsiriyah Al Qur’an ini sebagai amal shalih bagi penerjemah, dan bagi semua pihak yang membantu terwujudnya tarjamah tafsiriyah Al Quran ini,” akunya.

Menurut Ustadz Muhammad Thalib, kesalahan terjemah Al Qur’an versi Kemenag RI, terutama disebabkan oleh kesalahan memilih metode terjemah. Metode terjemah Al-Qur’an yang dikenal selama ini ada dua macam, yaitu: terjemah harfiyah dan terjemah tafsiriyah.

Fatwa Ulama Timur Tengah

Dalam pengantar cetakan pertama Al-Qur’an dan Terjemahnya, 17 Agustus 1965, Dewam Penerjemah Depag RI menyatakan, bahwa terjemah dilakukan secara harfiyah (leterliyk).

Merujuk Fatwa Ulama Jami’ah Al-Azhar Mesir, yang dikeluarkan tahun 1936 dan diperbarui lagi tahun 1960. Terjemah Al-Qur’an secara harfiyah, hukumnya haram. Demikian pula yang difatwakan oleh Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi No. 63947 tanggal 26 Juni 2005.

Dalam fatwa tersebut juga ditegaskan, bahwa terjemah Al-Qur’an yang dibenarkan adalah terjemah tafsiriyah. Dinyatakan haram, karena bobot kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syar’iyah maupun ilmiah, sehingga dikhawatirkan menyesatkan serta mengambangkan akidah kaum muslimin.

Fatwa haram terjemah harfiyah Al-Qur’an ke dalam bahasa ‘Ajam (non Arab), juga dikeluarkan oleh Dewan Ulama 7 negara di Timur Tengah, yaitu Jami’ah Al-Azhar, Kairo, Dewan Fatwa Ulama Saudi Arabaia, Universitas Rabat Maroko, Jam’ah Jordania, Jami’ah Palestina, Dr. Muhammad Husein Adz-Dzahabi dan Syeikh Ali Ash-Shabuni. Kesemuanya sepakat menyatakan, bahwa “terjemahan Al-Qur’an yang dibenarkan adalah tarjamah tafsiriyah, sedangkan tarjamah harfiyah terlarang atau tidak sah.”

Lalu apa perbedaan antara tafsir dan tarjamah tafsiriyah? Adapun tafsir adalah menjelaskan Al-Qur’an yang berbahasa Arab dengan bahasa Arab juga. Dalam menafsirkan Al-Qur’an perlu memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku, yang dikenal dengan istilah tafsir bil ma’tsur sebagaimana dikemukakan oleh Abu Hayyan dalam tafsir Al-Bahru Al-Muhith.

Sedangkan tarjamah tafsiriyah, maksudnya menerjemahkan makna ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam bahasa lain dengan menggunakan pola-pola bahasa terjemahan. Sehingga, penting memperhatikan semua kaidah menafsirkan Al Qur’an, dan mengetahui perbedaan pola kalimat bahasa Arab dengan bahasa terjemahannya. Dalam menyusun Tarjamah Tafsiriyah ini, sekurang-kurang menggunakan 16 rujukan kitab-kitab tafsir salaf.

Saat kunjungan ke  kantor Lembaga Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd di Madinah (5 Agustus 2011); yang mencetak Al-Qur’an dan Terjemahnya, yang dibagikan secara gratis kepada para jamaah haji Indonesia dan kaum Muslimin di Indonesia, Majelis Mujahidin menyampaikan bahwa Tarjamah Harfiyah Al-Quran Kemenag RI yang dicetak Lemabaga Percetakan Al Quran Raja Fahd itu mengandung kesalahan sebanyak 3.229 ayat.

Dalam kata sambutan Al-Qur’an dan Terjemahnya, Menteri Agama, Wakaf, Da’wah dan Bimbingan islam, serta Panaung Umum Al-Mujamma, Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad al-Syeikh menyatakan: “Kami mengharapkan dari setiap pembaca Al-Qur’an dan Terjemahnya ini untuk berkenan menyampaikan segala bentuk kesalahan, kekurangan ataupun tambahan yang didapatinya, kepada pihak Mujamma’ al Malik Fahd di Madinag an Nabawiyah, guna perbaikan dalam cetakan-cetakan berikutnya, Insya Allah.”

“Alhamdulillah, pihak Mujamma’ menyambut positif misi Majelis Mujahidin, dan mengusulkan dibentuknya Tim Peneliti untuk mempelajari koreksi terjemah Al Qur’an versi Kemenag RI,” kata Ustadz Thalib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Statistik Blog

  • 513,205 hits
%d blogger menyukai ini: