Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘Al-Qur’an’ Category

Bismillah..

Suatu hari sebelum setoran hafalan,

“Biasanya kalau kalian menghafal, membutuhkan waktu berapa lama agar dapat hafalan 1 lembar?”, tanya ustadzah lalu beliau menunjuk kami satu2 untuk memberikan jawaban.

Jawabannya ternyata macam2,

“Tidak tentu ust, tergantung lagi mood apa enggak. Kalau lagi mood ya bisa cepat, kalau nggak ya ngafalnya lama.”

“Sekitar setengah jam, ust.”

“Mmm, kalau setengah jam itu terlalu lama ust. Mungkin sekitar 10-15 menit.”

Lalu tibalah giliranku ditunjuk, “Kalau ana juga biasanya setengah jam ust.. tapi saya merasa tidak puas dengan hafalan ana kalau cuma setengah jam, trus saya tambah lagi menjadi satu jam biar lebih mantap.”

“Oh, jadi biar lebih melekat ya?”, tanya ustadzah.

“Iya.”, jawabku. Lalu aku menambahkan, “Oh ya, ust. Biasanya ana bisa lebih lama dari itu, karena biasanya saya terjemahkan dulu, lalu baca tafsirnya, setelah itu baru dihafal, setelah itu baca tafsirnya lagi. Soalnya hati ana melarang kalau hafal tapi tidak tahu maknanya.”

“Oh, bagus itu. Memang biasanya kalau waktu menghafalnya lama, maka akan sulit hilangnya. Kalau menghafalnya cepat, mungkin lancar2 saja ketika baru saja dihafal lalu disetorkan, tapi besoknya kalau diminta lagi hafalannya, sudah berbeda lagi kekuatan hafalannya.”, begitulah kira2 penjelasan ustadzah.

= = =

Pengalaman ana dulu ketika menghafal, ana menggunakan terjemah depag juga, agar mengerti maksud yang dihafal. Tapi biasanya ana masih kesulitan untuk menentukan mana subjek dan objeknya, siapa yang berkata, siapakah di balik dhomir/kata ganti yang dimaksud (misal: kata hum, kum, hu, itu kembali ke siapa). Selain itu, ada kata2 yang belum ana kenal karena jarang dipakai dalam pelajaran bahasa arab di sekolah.

Untuk mengatasinya, maka biasanya ana membuka buku2 tafsir yang ada di rumah atau pinjam ke seorang ustadzah. Ternyata rasanya benar2 berbeda, dengan membaca tafsir maka lebih paham lagi dan lebih sejuk. Tapi awal2nya dulu pernah keasyikan baca buku tafsir lalu lupa ngafalnya. Akhirnya ana harus membagi waktu dengan adil antara ngafal, baca terjemah dan tafsir, muraja’ah, dan tilawah. Selain membaca tafsir, ternyata untuk memahami al-Qur’an, akan sangat terbantu jika kita juga membaca Sirah Nabawiyah (karena ada ayat yang berisi kisah, misal: kisah perang Badar dan perang Uhud) dan ‘Ulumul Qur’an (untuk mengetahui ayat Makkiyah-Madiyah, Nasikh-Mansukh, ‘Am-Khosh dalam lafadz atau hukum). Jadi, kalau membaca terjemah saja tidak cukup.

Ternyata, terjemah depag itu ada kesalahannya, ditemukan oleh salah seorang ulama ahli tafsir sekaligus penulis buku2 Islami yang berjumlah ratusan, sekitar 500an buku. Beliau adalah Ustadz Muhammad Thalib. Ana salah seorang pembaca yang sangat suka dengan tulisan2 dan buku2 beliau.

Kesalahan itu terjadi karena al-qur’an diterjemahkan per kata/ secara harfiyah. Sedangkan penerjemahan yang diperbolehkan para ulama di 7 negara adalah terjemah tafsiriyah/ maknawiyah. Ana jadi ingat pas dulu belajar ‘Ulumul Qur’an di ma’had ‘aly dengan salah seorang doktor ahli tafsir, saat itu kami membahas “Macam2 Tafsir.” Yang ana ingat, beliau pernah mengatakan, kalau penerjemahan al-qur’an per kata/harfiyah itu tidak diperkenankan. Lalu ana bertanya2, kalau qur’an depag itu.. terjemah per kata atau bukan ya??

Oh iya, terjemah tafsiriyahnya sudah dicetak. Bagi para muhsinin dan aghniya’, bisa menyumbangkan sebagian dana untuk membuat mushaf ini dalam bentuk wakaf agar bisa dibaca oleh masyarakat secara gratis.

= = =

hidayatullah.com – Terjemah al-Qur`an Kementerian Agama (Kemenag) digugat. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menilai terjemah al-Qur`an berusia 46 tahun itu telah menimbulkan banyak masalah di negeri ini. Kesalahan terjemah Kemenag diklaim telah memicu aksi terorisme, liberalisme, aliran sesat, hingga kerusakan moral di masyarakat.

MMI menuntut Kemenag menarik seluruh terjemahannya dan menggantinya dengan terjemah tafsiriyah seperti yang dibuat MMI.

Namun, Kemenag menilai hal itu perbedaan pandangan semata, dan mempersilahkan MMI menerbitkan sendiri versi terjemahannya.

31 Oktober lalu, MMI meluncurkan Al-Qur`an Tarjamah Tafsiriyah, karya Amirul Mujahidin, Dr Muhammad Thalib. Sebuah terjemah al-Qur`an 30 juz yang berbeda sama sekali dengan terjemah versi Kemenag.

Thalib mengaku menemukan 3.229 kesalahan pada terjemah versi Kemenag. Kesalahan bertambah menjadi 3.400 pada edisi revisi tahun 2010. Dari 114 surat al-Qur`an yang diterjemah oleh Kemenag, hanya 6 surat yang lolos tashih ala MMI.

= = = =

Jakarta (voa-islam) – Menurut Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Muhammad Thalib, bagi bangsa Arab yang setiap harinya akrab dengan bahasa Al-Qur’an, mereka tidak mengalami kesulitan untuk memahaminya secara tepat. Namun bagi bangsa lain di dunia ini yang tidak memahami bahasa Arab, mereka memerlukan pengalihan bahasa yang tepat ke dalam bahasa mereka.

Pengalihan bahasa Al-Qur’an ke dalam bahasa lain disebut tarjamah. Dalam prakteknya, tarjamah Al Qur’an tidak dapat dilakukan secara harfiyah. Karena itu, pengalihan bahasa Al Qur’an ke dalam bahasa Indonesia hanya dapat dilakukan secara tafsiriyah. Untuk menerjemahkan secara tafsiriyah wajib memperhatikan kaidah-kaidah baku dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Berdasarkan pemikiran inilah, kami mengusahakan terwujudnya tarjamah tafsiriyah Al Qur’an. Kami berharap, tarjamah tafsiriyah Al Quran ini dapat membantu para pembaca untuk memahami makna ayat-ayat Al Qur’an secara lebih mudah da lebih cepat sesuai maksud kalimat Arabnya. Terutama bagi yang tidak memahami seluk-beluk bahasa Arab.

“Kami menyadari kemungkinan adaya kekurangan dan kelemahan dalam tarjamah tafsiriyah Al-Qur’an ini. Karena itu kami mengharapkan saran, kritik dan koreksi dari semua pihak, terutama pakar bidang bahasa Arab dan ilmu Al-Qur’an. Semoga Allah menjadikan tarjamah tafsiriyah Al Qur’an ini sebagai amal shalih bagi penerjemah, dan bagi semua pihak yang membantu terwujudnya tarjamah tafsiriyah Al Quran ini,” akunya.

Menurut Ustadz Muhammad Thalib, kesalahan terjemah Al Qur’an versi Kemenag RI, terutama disebabkan oleh kesalahan memilih metode terjemah. Metode terjemah Al-Qur’an yang dikenal selama ini ada dua macam, yaitu: terjemah harfiyah dan terjemah tafsiriyah.

Fatwa Ulama Timur Tengah

Dalam pengantar cetakan pertama Al-Qur’an dan Terjemahnya, 17 Agustus 1965, Dewam Penerjemah Depag RI menyatakan, bahwa terjemah dilakukan secara harfiyah (leterliyk).

Merujuk Fatwa Ulama Jami’ah Al-Azhar Mesir, yang dikeluarkan tahun 1936 dan diperbarui lagi tahun 1960. Terjemah Al-Qur’an secara harfiyah, hukumnya haram. Demikian pula yang difatwakan oleh Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi No. 63947 tanggal 26 Juni 2005.

Dalam fatwa tersebut juga ditegaskan, bahwa terjemah Al-Qur’an yang dibenarkan adalah terjemah tafsiriyah. Dinyatakan haram, karena bobot kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syar’iyah maupun ilmiah, sehingga dikhawatirkan menyesatkan serta mengambangkan akidah kaum muslimin.

Fatwa haram terjemah harfiyah Al-Qur’an ke dalam bahasa ‘Ajam (non Arab), juga dikeluarkan oleh Dewan Ulama 7 negara di Timur Tengah, yaitu Jami’ah Al-Azhar, Kairo, Dewan Fatwa Ulama Saudi Arabaia, Universitas Rabat Maroko, Jam’ah Jordania, Jami’ah Palestina, Dr. Muhammad Husein Adz-Dzahabi dan Syeikh Ali Ash-Shabuni. Kesemuanya sepakat menyatakan, bahwa “terjemahan Al-Qur’an yang dibenarkan adalah tarjamah tafsiriyah, sedangkan tarjamah harfiyah terlarang atau tidak sah.”

Lalu apa perbedaan antara tafsir dan tarjamah tafsiriyah? Adapun tafsir adalah menjelaskan Al-Qur’an yang berbahasa Arab dengan bahasa Arab juga. Dalam menafsirkan Al-Qur’an perlu memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku, yang dikenal dengan istilah tafsir bil ma’tsur sebagaimana dikemukakan oleh Abu Hayyan dalam tafsir Al-Bahru Al-Muhith.

Sedangkan tarjamah tafsiriyah, maksudnya menerjemahkan makna ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam bahasa lain dengan menggunakan pola-pola bahasa terjemahan. Sehingga, penting memperhatikan semua kaidah menafsirkan Al Qur’an, dan mengetahui perbedaan pola kalimat bahasa Arab dengan bahasa terjemahannya. Dalam menyusun Tarjamah Tafsiriyah ini, sekurang-kurang menggunakan 16 rujukan kitab-kitab tafsir salaf.

Saat kunjungan ke  kantor Lembaga Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd di Madinah (5 Agustus 2011); yang mencetak Al-Qur’an dan Terjemahnya, yang dibagikan secara gratis kepada para jamaah haji Indonesia dan kaum Muslimin di Indonesia, Majelis Mujahidin menyampaikan bahwa Tarjamah Harfiyah Al-Quran Kemenag RI yang dicetak Lemabaga Percetakan Al Quran Raja Fahd itu mengandung kesalahan sebanyak 3.229 ayat.

Dalam kata sambutan Al-Qur’an dan Terjemahnya, Menteri Agama, Wakaf, Da’wah dan Bimbingan islam, serta Panaung Umum Al-Mujamma, Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad al-Syeikh menyatakan: “Kami mengharapkan dari setiap pembaca Al-Qur’an dan Terjemahnya ini untuk berkenan menyampaikan segala bentuk kesalahan, kekurangan ataupun tambahan yang didapatinya, kepada pihak Mujamma’ al Malik Fahd di Madinag an Nabawiyah, guna perbaikan dalam cetakan-cetakan berikutnya, Insya Allah.”

“Alhamdulillah, pihak Mujamma’ menyambut positif misi Majelis Mujahidin, dan mengusulkan dibentuknya Tim Peneliti untuk mempelajari koreksi terjemah Al Qur’an versi Kemenag RI,” kata Ustadz Thalib.

Bismillah..

Adakah kitab yang mengguncang dunia?

yang menyebabkan gunung-gunung terguncang..

bumi terbelah..

dan orang-orang mati bisa berbicara..

Hal ini diceritakan dalam Al-Qur’an. Allaahu Akbar!!

= = = =

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS. Ar-Ra’du ayat 31)

Seandainya Allah mengilhmkan akal pada gunung sehingga ia bisa memahami al-Qur’an dapat memikirkan isinya tentulah gunung akan tunduk patuh pada Allah karena takut kepada-Nya. Hal ini disebabkan tingginya urusan al-Qur’an dan pengaruh yang kuat karena di dalamnya ada perintah2 dan larangan2.

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. Al-Hasyr: 21)

Perumpamaan lain yang berkaitan dengan ayat di atas adalah:

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 74)

Batu yang memilki sifat keras saja rela memecahkan dirinya sehingga air bisa lewat hingga berkumpul menjadi mata air. Batu2 saja meluncur jatuh karena takut pada Allah.. Bagaimana dengan kita?

Bismillah..

Jika kita menjadikan motto dari ayat al-Qur’an, maka kita juga tahu teks arabnya.. karena rasa bahasa dari lafadz-lafadz al-qur’an dan terjemahnya itu berbeda. Selain itu, sebaiknya kita juga tidak hanya menganggapnya sebagai suatu ayat yang berdiri sendiri atau suatu penggalan ayat saja, tapi dilihat juga makna yang dimaksud dalam ayat, hikmah yang terkandung di dalamnya, hubungannya dengan ayat2 sebelum/sesudahnya ataupun ayat lain dalam al-Qur’an.

Berikut ini sebagian kecil dari ayat2 al-Qur’an yang barangkali bisa dijadikan motto hidup. Semoga bermanfaat.

 

A. TAQWA

1. Bertawakwalah pada Allah agar mendapat ilmu

“Wattaqullaah wa yu’allimukumullaah, wallaahu bikulli syai-in ‘aliim.”

“Bertakwalah pada Allah maka Allah akan mengajarimu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Ayat ini merupakan ujung dari ayat terpanjang di dalam al-Qur’an, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 282. Salah satu kunci mendapatkan ilmu adalah: TAQWA.

2. Allah cinta orang yang takwa

“Innallaaha yuhibbul muttaqiin.”

“Sesungguhnya Allah menyukai/mencintai orang-orang yang bertakwa”. Ayat ini terdapat dalam Surat At-Taubah ayat 4. Salah satu sifat orang takwa dalam ayat tersebut adalah memenuhi/menepati janji.

“Wattaqullaaha wa’lamuu annalllaaha yuhibbul muttaqiin”

“Bertakwalah pada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah menyukai/mencintai orang-orang yang bertakwa.”. Ayat ini terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 194. Salah satu sifat orang takwa yang disebutkan adalah membalas dengan seimbang dan tidak melampaui batas dalam berperang.

4. Bertakwalah dengan sebenar-benar takwa

“Yaa ayyuhal-ladziina aamanuut-taqullaaha haqqo tuqootihi”

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah pda Allah dengan sebenar-benar takwa.” ((QS. 3: 102). Kita diperintahkan untuk benar2 bertaqwa. Taqwa merupakan sumber dari segala kebaikan.

5. Orang takwa: diberi jalan keluar, diberi rizki yang tidak disangka-sangka, Allah mudahkan urusannya, dihapuskan dosa2nya, dan diberi pahala yang agung..

“Wa man yattaqilaaha yaj’al lahuu makhrojaa wa yarzuqhu min haisu laa yahtasib.. wa man yattaqillaaha yaj’al lahu min amrihi yusroo.. wa man yattaqillaaha yukaffir ‘anhu sayyi-aatihii wa yu’dhim lahuu ajroo..”

“Barangsiapa bertakwa pada Allah, maka Allah memberikan jalan keluar kepadanya dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.. Barangsiapa yang bertaqwa pada Allah, maka Allah jadikan urusannya menjadi mudah.. barangsiapa yang bertaqwa pada Allah akan dihapuskan dosa2nya dan mendapatkan pahala yang agung” (QS. Ath-Thalaq: 2, 3, 4). Hmm, indahnya.. 🙂

6. Paling taqwa, paling mulia

“Inna akromakum ‘indallaahi atqookum..”

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kalian..” (QS. Al-Hujurat: 13)

7. Orang yang selalu bertaqwa adalah kekasih Allah

“Alaa inna auliyaa-allaaahi laa khoufun ‘alihim wa laa hum yahzanuun.. alladziina aamanuu wa kaanuu yattaquun..”

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali (kekasih2) Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan mereka juga tidak sedih hati.. yaitu orang2 yang beriman dan selalu bertaqwa..: (Qs. Yunus: 62-63)

 

B. TAWAKKAL

1. Allah cinta orang yang bertawakkal

“Innallaha yuhibbul mutawakkiliin”

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. 3: 159).

2. Allah mencukupi orang yang bertawakkal

“Wa man yatawakkal ‘alallaaha fahuwa hasbuh, inallaaha baalighu amrih..”

“Barangsiapa bertawakkal pada Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan padanya, sesungguhnya Allah lah yang akan melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3).

3. Hanya orang beriman yang bertawakkal pada Allah

“wa ‘alallaahi falyatawakkalil mu’minuun”

“Dan hendaknya orang-orang beriman bertawakkal pada Allah.”

4. Jika sudah bulat tekad, bertawakkallah pada Allah

“fa idzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallaah..”

“Jika kamu sudah berazzam/bertekad bulat, maka bertawakkallah pda Allah..” (QS. 3: 159)

 

C. MUJAHADAH

1. Barangsiapa sungguh-sungguh, sesungguhnya kesungguhannya itu adalah untuk dirinya sendiri

“wa man jaahada fa-innamaa yujaahidu linafsihi.”

“Barangsiapa bersungguh-sungguh, sesungguhnya kesungguhannya itu adalah untuk dirinya sendiri.” (QS Al-Ankabut [29]: 6)

2. Barangsiapa sungguh-sungguh di jalan-Nya, Allah beri petunjuk pada jalan-Nya

“Walladziina jaahaduu fiinaa, lanahdiyannahum subulanaa..”

“Dan orang-orang yang berjihad di jalan kami/ bersungguh-sunnguh dalam mencari keridhaan Kami, sungguh Kami beri petunjuk mereka pada jalan Kami.”

3. Berangkatlah, baik merasa ringan atau berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu

“infiruu khifaafaw-watsiqoolaw-wajaahiduu bi amwaalikum wa anfusikum fii sabiilillaah..”

“Berangkatlah, baik kamu merasa ringan atau berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu..” (QS. At-Taubah: 41)

4. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan

“Inna ma’al ‘usri yusroo.”

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Ayat ini menghasung kita untuk tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan, karena Allah akan memberikan kemudahan setelahnya. So, bersungguh-sungguhlah.. semakin besar kesulitan maka makin besar kesungguhan.. makin besar kesungguhan makin besar pahalanya. Insya Allah..

5. Ibadahlah dengan tekun

“Wadzkurisma Rabbika wa tabattal ilaihi tabtiilaa..”

“Sebutlah nama Rabbmu dan beribadahlah kepadanya dengan penuh ketekunan..” (QS. Al-Muzzammil: 8

Motto dari bahasa arab: Man jadda wajada.. “Barangsiapa sungguh2, ia akan mendapatkan (yang ia inginkan/cita2kan).”

 

D. SABAR

1. Allah bersama orang sabar

“Wallahu ma’as shoobiriin.” 

“Dan Allah menyertai orang-orang yang sabar”. Ayat ini terdapat dalam Surat Al-Anfal ayat 66. Ayat ini menceritakan bahwa orang yang beriman yang sabar dapat mengalahkan musuh yang berjumlah dua kali lipat. Misalnya pasukan berjumlah 100 dapat mengalahkan 200 orang musuh, pasukan berjumlah 1000 dapat mengalahkan 2000 orang musuh.. Hebatnya lagi, pada ayat sebelumnya (QS. Al-Anfal ayat 65) diceritakan bahwa orang iman yang sabar dapat mengalahkan musuh yang berjumlah 10 kali lipat: 20 orang dapat mengalahkan 200 musuh, 100 orang dapat mengalahkan 1000 musuh. Inilah hebatnya orang beriman yang bersabar. Allaahu Akbar!!

2. Allah cinta orang sabar

“Wallaahu yuhibbush-shoobiriin.”

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. 3: 146)

3. Sabar adalah sebaik2 perkara

“Wa laman shobaro wa ghofara inna dzaalika min ‘azmil umuur.”

“Sungguh berbahagialah orang yang sabar dan mau memaafkan karena perbuatan semacam itu termasuk perbuatan yang sangat utama.”

4. Sesungguhnya jika kita bisa sabar, itu karena Allah yang memberinya

“washbir wa maa shobruka illa billah.”

“Dan bersabarlah, dan tidaklah ada kesabaranmu itu kecuali dari Allah.” (QS. An-Nahl: 128)

5. Bagi orang sabar, disempurnakan pahalanya tanpa batas

“Innamaa yuwaffash-shoobiruuna ajrohum bighoiri hisaab.”

“Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas.”

6. Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu

“Yaa ayyuhal-ladziina aamanushbiruu washoobiruu..”

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu..” (QS. Ali-Imron: 200)

7. Sifat yang baik itu hanya diberikan pada orang sabar dan yang punya keberuntungan besar

“Wa maa yulaqoohaa illalladziina shobaruu wa maa yulaqoohaa illaa dzuu hadz-dzin ‘adziim..

 

E. BERBUAT BAIK

1. Berlombalah dalam berbuat baik

“Fastabiqul khoiroot.. “

“Berlomba-lombalah dalam berbuat baik..” (QS. Al-Baqarah: 148 atau QS. Al-Maidah: 51). Ayat ini hebat sekali. Kita dihasung untuk menjadi orang pertama/terdepan yang berbuat baik. Contoh konkretnya adalah sahabat Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu. Dalam perang Tabuk, beliau menjadi orang pertama yang mensedekahkan hartanya untuk keperluan perang ini. Tidak tanggung-tanggung! Bahkan seluruh hartanya diserahkan kepada Rasulullah untuk infak fii sabilillaah..

2. Kebaikan menghapus/melenyapkan keburukan

“..innal hasanaati yudz-hibnas-sayyi-aat..”

“Sesungguhnya perbuatan baik itu dapat menghapus perbuatan buruk.”. Ayat ini terdapat dalam QS. Hud ayat 114. Sebelum ayat ini, ada perintah untuk mendirikan shalat di dua tepi siang (pagi dan sore) dan pada permulaan malam. Maksudnya ketika berbuat baik, kita juga harus mendirikan sholat. Jangan hanya berbuat baik tapi tidak sholat, meninggalkan beberapa sholat (wajib), atau bahkan tidak sholat sama sekali.. Astaghfirullah, kita harus segera taubat!

3. Balaslah kejahatan dengan kebaikan

“..wayadro-uuna bil hasanaatis-sayyi-aat..”

“Dan balaslah kejahatan itu dengan kebaikan..” Ayat ini terdapat dalam QS. Ar-Ra’du ayat 22. Ayat ini menghasung kita untuk membalas keburukan/kejahatan/kedholiman orang lain dengan kebaikan. Ini merupakan akhlak para Nabi, misalnya Nabi Yusuf yang membalas saudara2nya (yang telah memasukkan ke dalam sumur) dengan kebaikan yang banyak dan tanpa celaan sedikitpun. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk dakwah. Ayat ini merupakan satu rangkaian dengan dua ayat sebelumnya (Qs. Ar-Ra’du : 20 dan 21) yang menjelaskan ciri-ciri ulul albab (orang yang dapat mengambil pelajaran).

4. Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik

“Innallaaha laa yudlii’u ajrol muhsiniin.”

Ayat ini ada di banyak tempat dalam al-Qur’an, salah satunya di Surat At-Taubah ayat 120. Sebenarnya kalau kita menggali lebih jauh tentang arti “muhsiniin = orang yang berbuat baik”, maka tidak cukup hanya “berbuat baik” saja. Tapi, kebaikan itu dilaksanakan dengan “ihsan = merasakan pengawasan Allah, profesional”. Ihsan berarti beribadah seolah-olah kita melihat Allah, atau jika tidak bisa maka kita merasa bahwa Allah melihat kita. Ihsan dalam arti profesional, maksudnya dilakukan dengan sebaik2nya, tekun bekerja, efektif, efisien, memuaskan, dan sejenisnya.

5. Jika berbuat baik, sesungguhnya itu untuk dirimu sendiri

“In ahsantum ahsantum li-anfusikum, wa ina as’tum falaha..”

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri..” (QS. Al-Isra’: 7

6. Balasan kebaikan adalah kebaikan

“Hal jazaa-ul ihsaani illa ihsaan..”

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula..” (QS. Ar-Rahman: 60)

7. Bagi yang berbuat baik, surga untuknya

“Lilladziina ahsanul husnaa wa ziyaadah..”

“Bagi orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya..” (QS. Yunus: 26). Pahala yang terbaik = surga. Tambahannya = kenikmatan tertinggi di jannah = melihat Allah. Semoga kita mendapatkannya. Aamiin.. 🙂

F. TAUBAT

1. Taubatlah agar beruntung/ bahagia

“wa tuubuu ilallaahi jamii’an ayyuhal mu’minuuna la’allakum tuflihuun.”

“Dan bertaubatlah kamu sekalian, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” Ayat ini terdapat dalam Surat An-Nuur ayat 24. Ayat ini menceritakan tentang perintah untuk menahan/menundukkan pandangan dan menutup aurat bagi wanita-wanita yang beriman. Barangsiapa menundukkan pandangan karena Allah maka Allah berikan cahaya pada hatinya sehingga ia bisa melihat kebenaran yang tidak bisa dilihat orang lain. Sedangkan hukum menutup aurat itu adalah wajib sebagaimana kewajiban shalat. Jadi, bagi para muslimah yang belum berjilbab/berkerudung dengan sempurna, mari bertaubat pada Allah.. Semoga kita menjadi hamba2-Nya yang beruntung dan bahagia dunia akhirat. Aamiin.

2. Taubatlah dengan sebenar-benar taubat

“Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu tuubuu ilallaahi taubatan nashuuhaa..”

“Wahai orang-orang yang beriman, taubatlah pada Allah dengan sebenar-benar taubat / taubat nasuha .. ” Ayat ini terdapat dalam Surat At-Tahrim ayat 8. Keuntungan yang diperoleh bagi orang yang taubat dan diterima taubatnya oleh Allah adalah dihapuskan kesalahan2nya dan dimasukkan dalam jannah yang penuh kenikmatan. Agar taubat kita diterima maka bertaubatlah dengan taubat yang sesungguhnya..

Wallahu a’lam

Bismillah..

Jika kita mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan, ternyata terdapat perbedaan nyata bagi orang yang mendengarnya.. baik dari tingkat pemahamanan terhadap kata2 tersebut maupun sejauh mana ayat-ayat suci tersebut meresap dalam jiwanya..

Mari kita renungkan..

Kenapa sebagian orang ketika mendengar sebuah ayat dari Al-Qur’an bisa timbul rasa takut, sedih, gembira, semangat atau bahkan menimbulkan senyum di wajahnya sedangkan hal ini tidak terjadi pada orang yang duduk di sampingnya?

Kenapa sebagian orang ketika mendengar Al-Qur’an maka mengalirlah aliran listrik dalam tubuhnya karena terpengaruh dengan ayat-ayat ini dan menangis? sedangkan orang lain di sampingnya ketika mendengar ayat tersebut jiwanya tidak bergetar sedikit pun?

Ini adalah sebuah pertanyaan besar yang kita sedang mencari jawabannya.

= = = =

Sesungguhnya pada lafadz2 al-Qur’an yang kita dengar itu bisa terjadi hal berikut:

1. tasywih = pengkaburan, terjadi dengan merubah makna atau bermain-main dengan artinya.

2. tafriigh = pengosongan, lafadz yang kehilangan maknanya sehingga orang yang mendengarnya tidak mendapat manfaat sedikitpun.

Lafadz al-Qur’an adalah jembatan yang menghubungkan pada makna, sedangkan makna adalah ruh lafadz. Oleh karena itu, hubungan antara lafadz al-qur’an dengan maknanya diibaratkan seperti jasad dengan ruhnya.

Bagaimana kita memperoleh ruh al-Qur’an?

Bagaimana kita menghidupkan lafadz2 al-Qur’an dalam jiwa kita?

Sesungguhnya orang yang tidak memiliki sedikitpun ayat al-Qur’an di dalam hatinya ibarat rumah yang rusak/roboh. Na’udzu billah min dzalik. Betapa beruntung orang yang di dalam hatinya memiliki ruh al-Qur’an yang selalu hidup dan terjaga.

 

bismillah..

Suatu saat ana berdoa pada Allah, alhamdulillah siang hari Allah menunjukkan ayat itu padaku.. 🙂

Ana memohon kepada Allah agar Allah memasukkan rasa kasih sayang pada hamba-hamba-Nya dan agar Allah mengizinkanku untuk menjadi hamba-Nya. Lalu pada siang harinya, Allah menunjukannya padaku. Dan yang lebih membuat hatiku senang adalah, ayat itu adalah ayat yang kuhafal hari itu, atau ayat yang kuhafal di juz pekan itu.

Ayat itu adalah ayat di surat Maryam ayat 93 dan 96:

In kullu man fis samaawaati wal ardli illaa aatir Rohmaani an yattahida waladaa.. “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)

Innalladziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati sayaj’alu lahumur-Rohmaanu wuddaa..  “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)

Alhamdulillah, ana merasa ayat yang kubaca itu benar2 menghiburku karena telah menjawab apa yang kuinginkan dan kubutuhkan. Meskipun hanya sebuah jawaban atau berita gembira, meskipun berupa terjemah alqur’an yang barangkali ada makna lain jika dipelajari tafsirnya lebih dalam.

= = = =

Bagi penghafal qur’an, bagaimanapun kondisi hatinya, baik senang, sedih, bersemangat, jenuh, marah, menyesal, kecewa dst.. maka tetep saja harus muraja’ah agar terjaga hafalannya dan ternyata dari ayat2 itu nanti akan ada sesuatu yang menjawab problematika yang ia alami, menjadi obat bagi penyakit hatinya, menghibur hatinya sehingga menjadi gembira dan tersenyum.. 🙂 , atau menyadari kesalahan2nya. Orang yang menghafal qur’an itu manusia biasa juga. Tentu bisa juga berbuat salah (jadi teringat Surat Ali-Imron ayat 135.. ).

Sebenarnya ada cerita lain yang menarik tentang menghafal qur’an, khususnya ketika ana menghafal suatu ayat, maka ayat itu kutemukan/kualami secara langsung hari itu juga.

= = = = =

(lanjutan… )

Suatu hari ana ikut kajian khusus akhwat dan ibu2 di sebuah rumah besar yang sejuk. kajian dilaksanakan dua kali: kajian pertama adalah untuk umum sedangkan kajian kedua itu adalah kajian khusus untuk orang2 yang ikut kajian nisa’ secara rutin.

Di sela2 dua kajian itu, ada waktu istirahat sebentar. Sebagian pulang, sebagian membeli sarapan pagi.. Sedangkan ana, memanfaatkan waktu senggang itu untuk menghafal al-qur’an lembar ke-45. Tidak berapa lama kemudian, ustadz sudah datang, kami mempersiapkan diri untuk mendengarkan kajian. Beliau mengajarkan kami ushul fiqih. Ana suka sekali kajian ini karena ana belum pernah mendapatkan ushul fiqih di sekolah, biasanya yang diajarkan di sekolah itu baru fiqihnya saja.

Ana menyimak kajian beliau dengan antusias. Dan alhamdulillah, ternyata, salah satu ayat yang keluar dari mulut beliau adalah ayat yang baru saja ana hafal beberapa menit itu, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 268.. Allaahu Akbar.. !!

As-syaiithoonu ya’idukumul faqro wa ya’murukum bil fakhsyaa’.. Wallaahu ya’idukum maghfirotan minhu wa fadh-laa.. Wallaahu waasi’uun ‘aliim.. “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.”

= = = = =

Suatu hari pada pagi yang indah.. di tempat yang sama, ana mengikuti kajian Sirah Nabawiyah. Hari itu ana menghafal al-qur’an halaman ke 71. Alhamdulillah, ternyata hari itu pula ustadz tersebut menyampaikan tafsir Surat Ali-Imron ayat 159, dari sisi sejarahnya.

Hatiku pun berkata, “Masya Allah, ayat itu adalah ayat yang ana hafal hari ini.” Hatiku gembira bercampur haru. Ana merasakan nikmat yang luar biasa. Mengapa? karena ana menghafal suatu ayat, dan Allah memberikan bonus penjelasan tafsir ayatnya hari itu juga ketika ayat itu kuhafal.

Siang hari, setelah shalat dhuhur, ana mendapat tugas untuk presentasi durus idhofiyah Sirah Nabawiyah, yaitu tentang Perang Uhud. Masya Allah, padahal perang Uhud itu diceritakan dengan panjang lebar di juz 4. Juz yang sedang kuhafal pekan itu. Allaahu Akbar..!! Paginya ana mendapatkan tafsirnya, dhuha ana menyetorkan hafalan ayat itu pada ustadzah, dan siangnya ana menceritakan kejadian perang uhud yang dikisahkan dalam juz yang sudang kuhafal pekan itu..Allaahu Akbar.. !!

Masya Allah, sejuknyaa.. 🙂

(insya Allah tulisan ini ana lanjutkan pekan depan..)

Bismillah..

Surat Al-Hajj disebut sebagai surat yang ajaib. Mengapa? Al-‘Azizi mengatakan ia merupakan surat yang ajaib karena:

1. diturunkan pada waktu malam dan pada waktu siang

2. diturunkan saat perjalanan maupun saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam bermukim

3. sebagian surat ini adalah ayat Makkiyah, sebagian lainnya adalah ayat Madaniyah

4. diturunkan pada waktu damai dan pada waktu perang

5. mengandung ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat.

Surat Al-Hajj ini dimulai dengan ayat-ayat yang menceritakan tentang dahsyatnya hari kiamat. Jika surat ini dibaca dengan hati disertai tadabbur dan penghayatan, maka akan muncul rasa takut karena betapa mengerikannya hari kiamat itu. Makanya, suara Syeikh Abu Bakar Asy-Syatiri bergetar ketika membaca surat ini.

Manusia diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah Rabb semesta alam. Pada hari kiamat itu, terjadi kegoncangan, ketakutan, kebingungan, dan kelalaian yang mencapai puncaknya. Tidak ada seorang pun yang mengetahui ukurannya kecuali Allah Al-Kholiq yang dulu telah menciptakan alam semesta ini.

Karena dahsyatnya, seorang ibu yang menyusui anaknya lalai terhadap anak yang disusuinya padahal anak itu merupakan sesuatu yang paling berharga baginya.. Lalu setiap wanita yang sedang hamil keguguran, janin yang ada di dalam rahimnya jatuh sebelum sempurna waktunya, karena sangat takutnya.

Manusia sekan mabuk, padahal sesungguhnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi, keadaan itu terjadi karena adzab hari kiamat yang sangat dahsyat hingga akal mereka menjadi lalai dan tidak mampu membedakan perkara.

Meskipun surat ini sudah menyajikan dahsyatnya hari kiamat dan pemandangannya yang menakutkan, masih banyak manusia yang lalai darinya.

= = = = =

Ya Allah, jagalah kami para hamba-hamba-Mu. Ya Allah, anugerahkan ketaqwaan itu dalam hati kami. Aamiin..

Bismillah..

Alhamdulilah, kabar gembira bagi muslim dan muslimah Indonesia. Telah ditemukan metode untuk menerjemahkan al-Qur’an dan kitab kuning dalam waktu singkat.

Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat video di sini.


Arsip

Statistik Blog

  • 595,312 hits