Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘cita-cita’ Category

Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin..

Pada pagi hari yang indah, tanggal 8 Februari 2014, saya mendapatkan kabar yang amat menggembirakan dari salah seorang ustadzah di Al-Izzah. Kabar ini juga saya dapatkan dari salah seorang ibu yang menelpon saya.. Dengan hati berbunga-bunga, ibu tersebut memberitahukan kabar yang amat baik mengenai putrinya ini.

Kabar apakah itu? Alhamdulillah.., salah seorang santriwati yang dulu saya bimbing di Al-Izzah hingga khatam 15 juz, insya Allah malam hari itu akan menyelesaikan hafalannya hingga 30 juz.. Allaahu Akbar!!

Shafa Shafira Rabbani, nama santriwati itu. Padahal, teman2nya lebih dulu satu bulan menyetorkan hafalan.. dan ananda Shafa merupakan urutan ke-3 dalam menyelesaikan hafalan 15 juz.. tapi akhirnya dialah yang pertama kali menyelesaikan hafalan 30 juz dalam satu angkatannya.

Aku jadi teringat masa-masa manis bersama mereka. Pagi, sore, dan malam hari.. membaca, menghafal, dan murajaah Al-Qur’an. Dari buku monitoring hafalan, bisa kulihat beberapa santriwati yang memiliki keistiqomahan yang baik.. tidak terlalu mengejar kuantitas hafalan, tapi istiqomah selalu menyetorkan hafalan sesuai target minimal, yaitu satu halaman per hari..

Alhamdulillah, dengan sedikit motivasi akhirnya semua santriwati bisa menghafal minimal satu halaman per hari meski waktu untuk mencapainya berbeda-beda. Saya melihat sebenarnya sebagian dari mereka memiliki kemampuan yang lebih dari itu. Lalu saya memberi pengumuman, “Santriwati yang bisa menghafal 1 halaman/hari mendapatkan nilai A, sedangkan yang bisa menghafal 2 halaman/hari (=1 lembar/hari) maka mendapat nilai A+.”

Awalnya sebagian dari mereka tidak percaya, “Ustadzah, apa mungkin kami bisa menghafal 2 halaman per hari?” Akhirnya kukatakan bahwa itu mungkin saja terjadi.. tentu membutuhkan beberapa tahapan, misal:

-hari ke-1: setor 1 halaman 5 baris. ini berlangsung selama satu minggu

-hari ke-1 pekan 2: setor 1 halaman 10 baris, berlangsung selama 1 pekan

-hari ke-3 pekan 3: setor 1 halaman 15 baris = 2 halaman

Apalagi jika hari libur (Sabtu dan Ahad) mereka tetap menghafal meski beberapa baris, maka itu bisa menjadi tabungan hafalan untuk pekan berikutnya..

“Nah, kalau kalian sudah terbiasa menghafal 2 halaman per hari pada saat masih kelas 7, maka insya Allah nanti ketika sudah duduk di kelas 8.. untuk menghafal 3 halaman per hari itu juga mudah..

Kalau kalian bisa menghafal 2 halaman/hari (Senin-Jumat), maka dalam satu bulan bisa hafal 2 juz, artinya insya Allah ketika selesai kelas 1, sudah khatam 15 juz. Jika kebiasaan ini diteruskan insya Allah kelas 8 nanti kalian sudah khatam 30 juz. Aamiin..”

YA.. alhamdulillah, cita-cita mereka untuk menjadi hafidzah akhirnya terwujud juga. Dalam waktu kurang lebih 8 bulan, sudah ada santriwati yang khatam 15 juz. Dan pada tahun kedua ini, sudah ada satu santriwati yang selesai 30 juz dalam waktu kurang dari 1,5 tahun (-+17 bulan).. yang insya Allah dalam waktu dekat akan disusul oleh teman2nya yang lain. Ya… kuperkirakan setiap selisih satu pekan atau dua pekan ini sudah ada teman2nya yang akan khatam 30 juz.

Alhamdulillah, padahal lembaga menginginkan santriwatinya bisa hafal minimal 15 juz dalam waktu 2 tahun.. tapi akhirnya cukup banyak yang bisa melebihi harapan. Dalam waktu dua tahun (atau kurang) anak usia 13-14 tahun ini sudah bisa khatam 30 juz. Allaahu Akbar!!

= = =

Semoga tulisan ini bisa memotivasi kita semua untuk menghafal Al-Qur’an hingga khatam 30 juz. Aamiiin.. 🙂

http://alizzah-batu.sch.id/hafidzah-pertama-santri-smp-al-izzah/

Iklan

Bismillah..

Kemarin ketika aku naik tangga asrama menuju lantai dua, ada seorang santri yang menyapaku, “Ustadzah.. ustadzah mau nikah ya?”, tanya santri itu sambil meunggu jawabanku.

Saat itu aku sedang memikirkan hal lain, sampai2 aku lupa kalau seminggu lagi akan menikah. Akhirnya pertanyaan itu hanya kujawab dengan senyuman saja sambil berlalu.. karena aku sangat malu, meskipun pada murid2ku.

Aku merasa ini seperti bukan kenyataan, seperti mimpi saja. Masya Allah, aku mau menikah? Sepertinya aku tidak percaya dengan hal ini, dan terdengar agak asing di telingaku.

= = = = =

“Pokoknya Ustadzah gak boleh nikah!”, kata salah seorang muridku sambil agak merengek dan menangis. Dia berkata begitu karena tidak ingin ditinggal pergi oleh murabbiyahnya.. karena biasanya kalau sudah menikah itu ya sudah tidak tinggal bersama dengan para santriwati lagi.. lalu ikut suaminya.

Untuk memberikan ketenangan padanya, lalu kuberikan jawaban, “Setelah menikah ustadzah tetep di sini ko.. sampai Juni, insya Allah.”

Lalu santri kels 7 itu menjawab, “Jangan sampai Juni, Ustadzah.. Ustadzah perginya kalau kami sudah lulus kelas 9 saja, nunggu kami lulus. Masak Ustadzah tidak menyaksikan kami mengkhatamkan hafalan qur’an?”

Lalu kujawab, “Oh, iya ya.. ”

= = = = =

Suatu hari di masjid setelah adzan ketika menunggu waktu sholat maghrib, tiba2 seorang santri menjatuhkan kepalanya ke pangkuanku sambil memperlihatkan muka agak sedih, “Ustadzah mau nikah ya?”.

“Lho ko bisa tahu, dari mana? Apa sumber beritanya terpercaya?”, tanyaku untuk menyelidiki lebih jauh.

“Iya, ustadzah..bisa dipercaya.. yang bilang tadi ustadzah A yang ngajar di kelas.  Ustadzah jangan pergi..”, jawabnya dengan sendu.

Sambil berpikir agak lama, akhirnya aku pun menjawab, “Nak, tidak apa-apa. Insya Allah nanti pengganti ustadzah itu lebih baik dari ustadzah ko. Nggak usah khawatir..”

Setelah agak hening, aku pun melanjutkan. “Ustadzah ingin sekolah lagi, Nak.. Nanda punya cita-cita kan? Ustadzah juga punya cita-cita.. Ayo.. segera membuat shaf di depan”, jawabku. Mungkin jawaban ini bisa membuat dia mengerti.

= = = = =

Alhamdulillah, yang kusyukuri dari proses pernikahanku ini adalah tidak didahului dengan kemaksiatan seperti doa yang sering kumohon pada-Nya. Aku belum pernah bertemu dengan beliau sebelumnya baik di dunia maya ataupun nyata. Hari pertama kami ta’aruf, hari kedua beliau langsung mengkhitbahku.. 🙂

Yang membuatku tertarik pada beliau adalah karena beliau mirip denganku, memiliki sesuatu yang sama denganku, memiliki cita-cita yang sangat besar seperti cita-citaku. Dan yang paling berkesan adalah beliau telah berhasil mengamalkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang sudah kurenungi sejak bertahun-tahun yang lalu, “Laa taghdhob.. laa taghdhob.. – jangan marah.. jangan marah-.”

Ya Allah, jagalah pasangan hidupku di manapun ia berada. Ya Allah, jauhkanlah ia dari berbagai kemaksiatan, berilah ia karunia-Mu untuk merasakan manis dan lezatnya beribadah kepada-Mu.. dan masukkanlah ia ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih. Ya Allah, pertemukanlah aku dengannya tanpa didahului dengan kemaksiatan. Aamiin..

Alhamdulillah, setelah menunggu beberapa pekan di Kota Batu, akhirnya aku bisa bertemu dengan Ustadzah Kautsar, istri Ustadz Sufyan Nur. Beliau memiliki bacaan qur’an yang sangat bagus dan sangat fasih. Beliau juga berhasil mendidik anak2nya menjadi hafidz/hafidzah yang berperan dalam menjaga kemurnian al-Qur’an.

Meskipun sibuk dan sekarang memiliki 11 anak.. namun beliau tetap bersemangat dalam mengajar dan menyimak hafalan qur’an santri2nya. Awal pertama kali datang ke rumah beliau, mataku berkaca-kaca.. seolah-olah aku tidak percaya karena akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di rumah orang yang berilmu..

Rumah itu tampak sederhana. Awal masuk adalah sebuah ruang tamu kecil di lantai 2, dikelilingi oleh rak-rak yang berisi buku2 berbahasa Arab. Ada beberapa baris kitab yang ditunjuk oleh sahabatku. Ternyata itu adalah bebrapa kitab Al-Qur’an yang ditulis dengan 7 qiraat.

“Ukh, ini lho qur’an yang riwayatnya berbeda-beda itu, qiro’ah sab’ah.”, kata sahabat yang mengantarku.

“Oh ya?”, tanyaku heran. Aku teringat, ternyata bacaan Qur’an itu bukan hanya Hafsh, masih ada rwayat lain seperti Warsy.. Dan di situ aku bisa melihat qur’an dengan riwayat lain.

Sahabatku mengerti beberapa susunan buku di perpustakaan kecil itu karena dia sudah pernah mondok dan menghafal qur’an 10 juz di pondok Darus Salam An-Nashr.

Alhamdulillah, setelah bertemu dengan Ustadzah Kautsar, ada ilmu baru yang kuperoleh. Aku bisa mengetahui bagaimana cara mengucapkan huruf ra’ yang benar dan bagaimana 2 getaran yang dimiliki huruf ra’ itu. Selain itu aku juga bisa mengetahu bagaimana waqaf  yang benar jika huruf yang disukun itu adalah huruf hamzah dan sebelumnya terdapat mad jaiz muttashil.

Alhamdulillah, aku diizinkan untuk setor hafalan cukup banyak. Sekali setor langsung 1/2 juz, tapi bin nadhor dulu (membaca dengan melihat mushaf) baru hari berikutnya bil ghaib (membaca dengan hafalan – tanpa melihat mushaf). Karena memang niatku datang ke sana adalah untuk memperbaiki bacaan, terutama tahsin dan tajwidnya sesuai sanad qiraat yang shahih.

Jika selesai setor hafalan qur’an ke beliau rasanya hati ini seperti hp yang diisi baterainya full, aku merasa mendapatkan semangat baru dan seolah masalah yang kuhadapi menjadi lebih ringan. Alhamdulillaah..

= = = =

Perjalanan masih sangat berat dan panjang.. Butuh kesabaran dan pengorbanan.. Allahu Musta’an..

Oleh: Ummu Ayyub

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan

tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan….

Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita?

Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita bangga-banggakan itu,?”

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa

padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup,…!

siapakah yang mendoakan kita kalau bukan anak-anak kita?”

“Tunggu saja saatnya peristiwa dan kejandian itu pasti akan datang,…?? “

Ingatlah akan pesan Nabi. Saw..

Jika seorang manusia meninggal dunia, maka pahala amalnya terputus, kecuali tiga hal:

  shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.”

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut dinas keluar kota bahkan terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara:Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’?… dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a’lam

Bismillah..

Salah satu motto hidup saya ketika di SMA dulu adalah: Make Habits, so Habits Make You.. Buatlah kebiasaan, maka kebiasaan akan membentukmu..

Kebiasaan yang saya bentuk saat itu adalah tidur 3 jam sehari. Kenapa? karena waktu yang lainnya sebagian besar digunakan untuk belajar dan saya harus mengejar ketertinggalan saya dari teman2 yang merupakan lulusan sekolah Islam dan pondok pesantren. Sedangkan saya lulusan sekolah umum lalu ketika kenaikan kelas, saya meminta izin pada wali kelas dan guru BP untuk memindahkan saya dari kelas umum ke kelas Aliyah pada saat akan memasuki kelas dua.

Saya terinspirasi oleh ayah saya. Beliau seorang pekerja keras, sangat kutu buku, sangat suka membaca al-Qur’an, dan tidurnya dalam sehari hanya 3 jam saja. Saya melihat beliau seperti orang yang tidak pernah lelah dalam bekerja dan belajar. Kadang saya malu, karena beliau yang sudah tidak sekolah (formal) saja masih saja membaca buku setiap hari. Apalagi saya yang masih sekolah.. harusnya membaca lebih banyak lagi! Mungkin salah satu misi yang akan saya terapkan pada anak saya nanti adalah dia harus sangat suka baca buku dan menguasai ilmu dalam buku itu dengan sebaik-baiknya.

Alhamdulillah, buah dari kebiasaan saya itu adalah peningkatan pesat dalam hal kecintaan membaca buku dan mengkhatamkannya. Saat itu saya sangat suka Fisika, Kimia, dan Matematika. Target saya, harus mengkhatamkan dan mengerjakan seluruh soal di buku diktat lebih cepat daripada yang lain.. agar saya punya waktu lebih banyak untuk belajar pelajaran agama: Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Bahasa Arab, dan Sejarah Kebudayaan IsIam. Yang paling menyita waktu adalah pelajaran menghafal ayat dan hadits.

= = = =

Sedangkan setelah khatam hifdz nya nanti, saya juga akan membuat suatu kebiasaan, insya Allah.. karena kemungkinan orang yang sudah khatam hafalan itu ada 2: semakin dhobit (kuat hafalannya) karena memiliki kebiasaan yang terpelihara dengan baik (dengan pertolongan Allah).. ataukah semakin lemah hafalannya..

Apa kebiasaannya?

(insya Allah ana jawab beberapa pekan lagi)

= = = = =

Taburkanlah suatu PIKIRAN, maka engkau akan menuai Perbuatan..

TaburkanLah suatu PERBUATAN, maka engkau akan menuai Kebiasaan..

Taburkanlah suatu KEBIASAAN, maka engkau akan menuai KARAKTER..

= = = = =

Jadilah seseorang yang kakinya menghujam di bumi..

Sedangkan cita-citanya setinggi bintang-bintang di langit..

ALLAAHU AKBAR!!

Alhamdulillah.. hari ini ana bersujud syukur kepada Allah karena telah mengabulkan permohonanku. Sebelumnya, ana telah sholat istikhoroh beberapa kali dan Allah memberikan jawabannya hari ini.Ana telah lama memohon hal itu kepada-Nya. Hampir tiap selesai sholat ana memohon hal itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Apakah isi permohonan itu?

Ana ingin agar dimudahkan dan dilancarkan perjalanan menuju hafal qur’an hingga ujian niha-i. Ana sudah menyiapkan diri untuk mengorbankan seluruh waktuku untuknya. Ana rela menghibahkan waktuku tiap hari untuk menghafal dan mempelajari al-qur’an dari pagi hingga petang.

Meskipun konsekuensinya ana sudah tidak melakukan aktivitas yang lain. Meskipun ana tidak memperoleh seperti yang biasa kudapat sebelumnya. Namun ana rela.. karena hatiku bahagia bersama al-qur’an. Khoirukum man ta’allamal qur-aana wa ‘allamahu..

= = = = =

Ya Allah, izinkanlah hamba menjadi salah satu dari hamba2 pilihan-Mu.

Ya Allah, sampaikanlah hamba dan saudara2 seperjuangan hamba pada cita2 ini. Aamiin..

Mari kita raih cita-cita tertinggi di dunia.. 🙂

 

Bismillah..

Ana memiliki kunci yang sering kugunakan dan kusimpan di sisi kotak pensil bagian depan. Kunci itu berwarna putih perak dengan tulisan “Winner“, yang artinya Pemenang. Kunci itu kupasangi gantungan kunci dari karet berwarna merah dengan tulisan istimewa. Tulisan dalam gantungan kunci itu adalah anjuran agar kita tidak mudah menyerah ketika menemui kesulitan2 dan rintangan2 dalam hidup.. agar kita selalu termotivasi ketika meraih cita2 dan harapan.. agar kita mau bangkit setelah jatuh dalam menapaki jalan menuju kesuksesan.. Tulisan itu adalah: “Jangan Pernah Berhenti tuk Meraih Mimpi!

Apa saja mimpi Anda? Sebaiknya Anda menuliskannya di kertas . Ana telah melakukannya.. dan alhamdulillah sebagiannya sudah tercapai. Insya Allah yang lain akan ana capai juga, bi idznillaah.. Mari kita berlomba dalam kebaikan.. 🙂

= = = = =

Ana juga pernah punya kotak pensil warna hitam bertuliskan “NOBEL” saat ana kuliah di fisika. Hanya saja, sayang sekali kotak pensil itu hilang di laboratorium pusat MIPA UNS. Ya sudah, tidak apa hilang kotak pensilnya tapi semoga dapat nobelnya.. 🙂


Arsip

Statistik Blog

  • 616,336 hits