Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘cita-cita’ Category

Bismillah..

Salah satu cita-citaku sejak kecil adalah masuk pondok pesantren. Limaadza? karena nilai tertinggi di sekolah ketika ujian akhir adalah pelajaran agama. Saat itu, ana tidak tahu kalau nilai 10 dan 9 itu lebih tinggi nilai 10.

“Bu, nilai 10 dan 9 itu lebih bagus yang mana?,” tanyaku lugu pada ibu sambil menunjukkan hasil tesku.

“Ya bagus nilai 10..”, jawab ibu dengan penuh perhatian.

“Jadi, nilai agamaku lebih bagus dari nilai IPA ya?”, tanyaku lebih lanjut.

“Iya..”, jawab ibu dengan senyuman..

Tiap tahun, nilai agamaku selalu lebih bagus dari nilai IPA (meskipun ana juga sangat menyukai IPA). Oleh karena itu, ana ingin sekali masuk pondok setelah lulus SD. Namun, orangtuaku bukanlah orang kaya, sehingga tidak punya cukup uang untuk menyekolahkanku di pondok pesantren. Meskipun demikian, ana berusaha setiap selesai dari suatu tingkat pendidikan, untuk bisa sekolah di pondok. Hanya saja ternyata ana ditakdirkan lain, sekolah di sekolah umum, kuliah pun di jurusan umum, Fisika MIPA. Meskipun demikian, dengan perenungan yang panjang, ana yakin inilah yang terbaik dari-Nya.. karena Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana dengan segala ketetapan-Nya kemudian ana juga sudah istikhoroh ketika menjatuhkan suatu pilihan.

Alhamdulillah, sepertinya doa dan harapanku sejak kecil dikabulkan ketika sudah dewasa. Meskipun tidak melewati proses pendidikan di pondok, tapi bisa ikut belajar di ma’had ‘aly. Kalau sekitar setahun yang lalu (akhir 2009) ana mendaftar di ma’had ‘aly al-islam, beberapa hari yang lalu (secara tidak sengaja) ana mendaftar jadi tholibah di ma’had ‘aly HQA (Hammalatul Qur’an wal Atsar). Meskipun orang mungkin menganggapnya biasa, tapi berbeda denganku. Aku menganggapnya suatu nikmat yang sangat besar dari Allah SWT. Karena ana bisa berada dalam majlis ilmu yang dihadiri oleh para ustadz-ustadzah yang sangat pandai dalam hal agama. Selain itu, pengajarnya adalah Syekh dari Yaman dan pelajarannya disampaikan dalam Bahasa Arab.. (saat menulis ini pun ana menangis karena sangat bahagia..).

Program ma’had ‘aly HQA yang pertama adalah MKFY. Apakah MKFY itu?

MKFY adalah Majelis Khatam Fiqih Yaman, maksudnya adalah mempelajari kitab Fiqih sampai khatam, dengan pengajar dari Yaman (ini definisi dari ana). Ada hadits shahih/muttafaq ‘alaih yang menganjurkan agar kita (umat Islam) belajar agama kepada orang-orang Yaman. Mengapa ya? Ana belum tahu jawabannya..

Kitab Fiqih yang digunakan adalah Kitab Fiqih Madzhab Imam Syafi’i, Matn Abi Syuja’. Di dalamnya ada beberapa judul utama (yang disebut kitab), yaitu tentang thoharoh, sholat, zakat, puasa, haji, jual beli, dan seterusnya. Pembahasan pertama di MKFY adalah kitab buyu’ (jual beli). Entah apa alasannya mengapa langsung kitabul buyu’ mungkin karena fiqih jual beli itu lebih rumit, makanya dibahas. Sedangkan kitab thoharoh, sholat, zakat, puasa, haji itu sudah sering dibahas atau sudah cukup dikuasai oleh para ustadz/ustadzah.

Pertemuan hari Kamis kemarin (16/06/11) adalah pertemuan pertama, baru membahas satu halaman saja, sudah menghabiskan waktu 1.25  jam. Sebelum datang ke majlis, ana mempelajari buku itu, agar nanti bisa paham. Jika ada kosakata yang tidak kupahami, kutanyakan pada sahabatku. Kunci dari memahami perkataan Syekh tadi (menurutku) adalah harus memiliki pengetahuan dasar tentang jual beli dalam Islam (ini sudah kudapatkan ketika sekolah di SMA Al-Islam I Surakarta sehingga bisa menangkap maksudnya). Selain itu, harus menguasai kosakata yang dipakai oleh syekh (kalau ini ana harus nambah banyak secara aktif dan mandiri). Kunci yang ketiga, konsentrasi penuh. Kunci keempat, muraja’ah di rumah dan bertanya kepada teman jika ada yang belum dipahami.

= = = = =

Sedikit mengulas pertemuan pertama kemarin..

Syekh Ahmad Syihaby menjelaskan tentang pengertian jual beli secara bahasa dan secara istilah. Setelah itu beliau menjelaskan tiga jenis jual beli seperti yang disebutkan dalam kitab. Lalu menjelaskan rukun dan syarat jual beli.

Pembahasan yang menurutku baru adalah istilah bai’un mu’awadhoh, bai’un mu’aththoh, dan rof’ul yad. Sebagai umat Islam kita tidak boleh melakukan jual beli barang najis, misalnya jual beli anjing. Bagaimana kalau ada orang yang butuh anjing untuk menjaga ternak? Berarti lafadznya tidak boleh dengan lafadz jual beli, tapi rof’ul yad.. dst.

Para peserta majlis ini cukup kritis! Banyak pertanyaan berkualitas yang diajukan pada syekh. Semoga suatu saat nanti ana juga menjadi peserta yang mengajukan pertanyaan2 bermutu, bukan hanya menjadi mustami’ / pendengar saja. Aamiin. Alhamdulillaah.. 🙂

= = = =

Man yuridillaahu bihi khoiron, yufaqqih-hu fid-diin..

Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan, maka Allah akan memberi kepadanya.. kefahaman akan agama..

Bismillah..

Apa yang dimaksud cita-cita yang tinggi?

Bercita-cita tinggi adalah ketika seseorang menganggap kecil atau sepele sesuatu yang dibawah sebuah cita-cita yang paling tinggi. Adapun dikatakan orang yang bercita-cita rendah adalah pada saat seseorang tidak berhasrat untuk sebuah prestasi yang tinggi dan ridha dengan sesuatu yang biasa-biasa saja. Syaikhul Islam berkata: “Orang awam sering mengatakan bahwa ‘Harga diri setiap orang tergantung pada apa yang menjadikan dia dilihat baik,’ adapun orang-orang tertentu (ulama) mengatakan ‘Harga diri seseorang sesuai dengan keinginannya.’”

Salafushshalih senantiasa menasehati: “Jagalah cita-citamu karena itu adalah permulaan dari amalmu, maka barang siapa benar cita-citanya dan jujur maka benarlah amal-amal setelahnya.” Ibnul Jauzi berkata: “Di antara tanda kesempurnaan akal adalah cita-cita yang tinggi.” Beliau juga mengatakan, “Saya tidak melihat aib seseorang sebagai aib layaknya seorang yang mampu mencapai derajat kesempurnaan kemudian dia tidak mewujudkannya.”

 

Cita-cita Tertinggi

Adapun cita-cita/obsesi tertinggi seorang mukmin secara mutlak tidaklah fokus kecuali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, tidaklah meminta selainnya, tidaklah berupaya kecuali untuk keridhaan-Nya, tidak pula menjual ketaatan kepada-Nya dengan gemerlapnya dunia ataupun dengan segala sesuatu yang sifatnya fana, karena Allahlah yang tertinggi dan tempat menggantungkan kecintaan yang tertinggi. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al Qoyyim: “Orang yang tertinggi himmah-nya adalah yang tertinggi merasakan nikmatnya mengenal Allah, mencintai-Nya, serta rindu akan perjumpaan-Nya.”

Sedangkan rendahnya obsesi seseorang merupakan sebab pertama seseorang itu akan sampai kepada kekerdilan, kenistaan, dan ketidakeksistensian. Seandainya umat ini sudah merasa cukup ridha dengan realita yang ada sekarang, serta penerus generasi mereka juga tidak memiliki obsesi untuk sebuah perubahan maka mereka akan tereliminasi dalam laju peradaban ini.

Adapun orang-orang yang senantiasa terpenuhi jiwanya dengan obsesi tinggi maka merekalah revolusioner yang akan senantiasa mengukir sejarah, sebagaimana kita telah melihat bagaimana sahabat-sahabat Rasulullah, mereka meruntuhkan imperium terbesar dan menaklukan dua Negara adikuasa ( Romawi dan Persia) dan dizaman mereka juga penaklukan-penaklukan yang lain seperti, India, Maroko, Spanyol dan lain-lain. Begitu juga saat kemulian dan tingginya semangat juang kaum muslimin seperti pada zaman Shalahuddin Al Ayyubi, mereka benar-benar menghinakan musuh-musuh Allah, mereka mengikat setiap sepuluh tawanan perang Nasrani dengan tali kemudian menukarnya dengan sandal. Pada saat mereka ditanya kenapa? Mereka menjawab: Kami akan mengabadikan kehinaan dan kenistaan mereka, yaitu kami jual pejuang-pejuang mereka dengan sandal. Maka benar-benar kehinaan mereka terabadikan.

Wahai saudaraku, sesungguhnya Anda sangat merindukan sesuatu yang kami juga merindukan. Kami senantiasa memimpikan sesuatu yang kami yakin anda juga mengimpikannya hal tersebut. Maka mulai detik ini pula, campakkanlah jauh-jauh himmah duniamu itu!! Ingatlah…himmah-mu yang membumbung tinggi adalah kontribusi yang sangat luar biasa harganya untuk kemuliaan Islam. Bolehlah kaki-kaki kita menapak dibumi ini, akan tetapi gantungkanlah erat-erat himmah-mu dilangit yang paling tinggi. Ingatlah kekerdilan, kehinaan, kenistaan umat sekarang ini tidak lepas dari kekerdilan obsesi kita.

 

Nasihat untuk Bercita-cita Tinggi

Umar ibn Al Khattab berkata: ”Janganlah engkau sekali-kali berobsesi rendah sesungguhnya saya belum pernah melihat orang yang paling kerdil dari orang yang berobsesi rendah.”

Ahli Balaghah mengatakan: “Uluwul Himmah merupakan nikmat yang tak ternilai.” Jika Jiwa seseorang itu besar maka akan dicapaikan dengan urusan-urusan besar pula.

Mu’awiyah pernah berkata: “Bercita-citalah kalian sesungguhnya saya mencita-citakan khilafah maka saya meraihnya padahal banyak sekali sahabat yang lebih berhak untuk meraihnya, barang siapa menginginkan kecuali dia akan meraihnya.”

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Sesungguhnya aku memiliki jiwa yang berkeinginan sangat kuat, aku bercita-cita untuk tegaknya khilafah maka saya memperolehnya, aku menginginkan menikahi putri seorang khalifah maka aku mendapatkannya, aku bercita-cita menjadi khalifah maka aku mendapatkannya, dan aku sekarang menginginkan surga maka aku berharap untuk mendapatkannya.”

 
Dalil-dalil yang memerintahkan kita bercita-cita tinggi

Dan orang orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’” [QS. Al Furqan: 74]

Jika engkau meminta surga, mintalah surga firdus karena firdaus adalah surga yang paling tinggi.” [Mutafaqqun ‘Alaih].

Sesungguhnya Allah menyukai permasalahn yang tinggi-tinggi dan mulia dan Allah membenci yang biasa-biasa.” [HR. Thabrani no 2894]

 

Apabila Jiwa Besar,Tubuh Akan Merasakan Kepayahan Menuruti Keinginan-keinginannya

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “ Orang pintar disetiap umat sepakat bahwa kenikmatan itu tidak bisa didapat dengan kenikmatan pula. Siapa saja yang mementingkan kesenangan ia akan kehilangan kesenangan. Siapa yang menentang badai dan menghadapi rintangan, ia akan memperoleh kegembiraan dan kenikmatan. Tidak ada kegembiraan sama sekali bagi orang yang tidak punya Hasrat dan Cita-cita. Tidak ada kesenangan sama sekali bagi orang yang tidak punya Kesabaran. Tidak ada kenikmatan sama sekali bagi orang yang tidak pernah mengalami penderitaan. Dan tidak ada kenyamanan sama sekali bagi orang yang tidak pernah mengalami Kesusahan. Bahkan hanya dengan mengalami kesusahan sebentar saja, seseorang dijanjikan akan mendapatkan kesenangan cukup lama.

Hanya dengan tabah menanggung beratnya kesabaran beberapa lama, ia akan mampu mengendalikan hidup ini untuk selamanya.
Orang-orang yang mendapatkan kenikmatan yang kekal adalah karena mereka mau bersabar beberapa lama. Di tangan Allah lah letak pertolongan. Dan tidak ada daya serta kekuatan sama sekali tanpa pertolongan NYA. Semua orang pintar sepakat bahwa kesenangan yang sempurna tergantung pada kadar kesusahan yang dialami, dan kenikmatan yang sempurna itu tergantung pada proses ketabahan dalam menanggung beban yang berat.

 
Mulia dengan Cita-cita
Semakin mulia jiwa dan semakin tingi cita-cita, maka semakin besar yang harus dirasakan oleh tubuh sehingga jarang sekali menikmati kesenangan, sebagaimana yang dituliskan oleh seorang penyair :

Kesenangan, kelezatan dan kenikmatan yang ada didunia ini hanya baru bersifat sementara. Sedangkan kesenangan, kelezatan dan kenikmatan yang sejati dan abadi itu ada di surga nanti.

= = = = =

http://kilasku.blogspot.com/2010/08/mulia-dengan-semangat-dan-cita-cita.html

http://muxlim.com/blogs/belajarislam/cita-cita-yang-tinggi-adalah-bendera-kesungguhan/

Bismillah..

Salah satu buku favoritku ketika kuliah dulu adalah buku berjudul “Manajemen Tawazun dalam Kehidupan Muslim”. Buku ini dapat dibaca di perpustakaan ‘Azzam Mushola FMIPA UNS, salah satu tempat favoritku ketika sore hari.

Salah satu yang menarik perhatianku adalah ucapan Imam Ibnul Qayyim AL-Jauzi. Beliau adalah ulama ahli pemberi nasihat. Untaian kata yang diucapkannya penuh hikmah danmengandung pelajaran berharga. Di buku ini, ucapannya ini menunjukan keinginannya yang tinggi dalam hal cita-cita. Dan akupun, merasakan hal itu pula ketika membaca buku ini. Berikut ini kutipannya..

= = = =

“Aku lihat cita-citaku begitu tinggi adanya, yaitu keinginanku (dalam hal ilmu) untuk mencapai sesuatu yang tidak mungkin, sebab cita-citaku adalah pencapaian (penguasaan) seluruh cabang ilmu secara maksimal dan detail. Hal itu merupakan cita-cita yang menghabiskan umur. Menurutku, rela berbekal (berhias) diri dengan sedikit ilmu adalah termasuk orang yang lemah cita-cita. Kemudian, aku juga mencita-citakan dapat mengamalkan seluruh ilmu yang berhasil aku capai tadi dengan sempurna. Di samping itu, aku rindu untuk menjadi seorang wira’i seperti Bisyr Al-Qafie (tokoh orang wara’) dan juga zuhud seperti zuhudnya Ma’ruf Al-Kurkhy. Dalam benakku berkeinginan pula mempelajari banyak karya-karya ilmiah sambil juga mengajar dan bergaul dengan manusia.

Aku bermaksud tidak banyak bergantung kepada orang lain (dalam hal harta). Bahkan, jika mampu aku berupaya untuk selalu memberinya, sebab kesibukanku dengn ilmu menghalangiku jika untuk mencari kasab ‘kerja mencari rezeki’. Salah satu persoalan yang ditolak oleh jiwaku yang tinggi adalah menerima hadiah dan pemberian pihak lain.

Di samping semua yang telah disebut, aku juga menginginkan kenikmatan dan kebaikan duniawi. Namun, hal itu terhalang oleh sedikitnya harta yang aku miliki. Jika hal itu terjadi, maka akan melemahkan cita-cita.

Betapa sulitnya melanggengkan qiyamul lail sambil mewujudkan pula sifat wara’ dan tetap menggeluti dunia ilmu dengan mengarang, menulis dan mencipta. Betapa menyesalnya ketika aku tidak mampu menyempatkan diri ‘berkhalwat‘ ‘menyendiri bermunajat kepada Allah’ karena disibukkan oleh urusan mengajar dan berbaur dengan manusia. Betapa lemahnya nilai wara’ ketika dicampuri dengan mencari nafkah untuk keluarga. Padahal aku telah merelakan diriku tersiksa karenanya. Semoga proses pendidikan jiwaku terletak pada penyiksaan itu. Oleh karena itu, biarlah cita-citaku tercapai. Kalaupun tidak, maka niat seorang mukmin adalah lebih baik dari amalnya..

= = = =

Kulihat cita-citaku begitu tinggi.. tinggii sekali..

Ya Allah, cita-citaku ini berasal dari lubuk hatiku yang amat dalam..

dan hamba menjaganya hingga kini..

sampai mati..

(hanya dengan pertolongan-Mu, ya Allah)

Bismillah..

Kita sering mendengar kata “Rumahku Surgaku” di pengajian yang membahas tema keluarga. Bahkan ini menjadi nama suatu program di sebuah radio. Ko bisa ya, rumah seperti surga? Kalau ana dengar sih, rumah seperti surga, salah satunya karena peranan si istri/ibu yang hmm.. shalihah.. 🙂

Bagaimana dengan “Rumahku Laboratoriumku”? Ini sebuah imajinasi kecil di dalam benak ana. Menciptakan sebuah lab mini di rumah dengan berbagai bidang sains dasar.

Apa saja isinya?

Isinya tumbuh-tumbuhan (karena ana dulu sukaa bangeet sama Biologi), peralatan2 sederhana, dan peralatan2 modern yang sebenarnya tidak terlalu mahal tapi cerdas.

Bagaimana imajinasinya?

Lho, ko imajinasi sih? Iya, biasanya seorang peneliti itu memiliki imajinasi yang tinggi sehingga terciptalah suatu penemuan baru yang bermanfaat bagi banyak orang. Lab mini ini dibuat tujuannya adalah untuk MENJAGA ILMU dan sarana MENGAMALKAN dan MENGAJARKAN ILMU, terutama pada anak2 yang sering berkunjung ke sana.

Ada seseorang berkata, “Komputer, menyala!”, maka menyalalah komputer secara otomatis karena mendengar suara itu. Ko bisa? Iya, karena komputer itu telah dilengkapi dengan suatu program kecerdasan buatan untuk mengenali suara (automatic speech recognition).

Lalu anak-anak disuruh memilih penelitian (kecil) yang akan mereka lakukan hari itu. Mereka bisa memilih apa yang disukainya, misalnya: membuat pelangi buatan, membuat mikroskop dan periskop sederhana, membuat listrik buatan dari buah lemon untuk menyalakan lampu, menggambar bagian dalam dari berbagai macam batang tanaman dengan melihat pada mikroskop, membuat kincir bergerak dengan memanfaatkan perbedaan suhu panas-dingin suatu benda (termolistrik), menguji buah mana yang kandungan vitamin C nya paling banyak, membuat alat elektronik yang bisa mengeluarkan suara yang disukai ikan & bikin ikan2 mendekat, melihat berbagai simulasi fisika dari gerak benda2 langit di alam semesta, mengamati efek elektrostatis dengan generator Van de Graff yang bikin rambut jadi tegak.. 🙂

= = = = =

Jangan takut bermimpi!

Bismillah..

Kata-kata hikmah di bawah ini ana tuliskan untuk memberi semangat baru dan berkobar-kobar terutama kepada para muslimah yang sedang mengejar cita-citanya..

1. Jadikan malam sebagai MOTORmu! Pasti TERCAPAI CITA-CITAMU!

2. Kalau betul memburu ILMU, tentu suka BEGADANG. Memburu INTAN, harus SELAMI LAUT ke dasaran!

3. Mulailah dengan LETIH dulu, tentu raih SENANG RIA di hari KEMUDIAN.

4.Cita-citamu teraih sesuai KADAR KELETIHANMU dalam memburunya (Jangan tidur mulu!)

5. Siapa mau NYAMAN di kemudian hari, tentu TINGGALKAN KATA SANTAI sekarang ini. BERKARYALAH untuk masa depan abadimu.

6. RANCANGlah lalu KERJA kan. PIKIRkan lalu KATAkan. (Ini watak para cerdas gesit tangkas).

Ukhti, manfaatkan waktu malammu ketika orang2 sedang tertidur. Malam itu bagaikan siang hari bagi para pemburu ilmu dan keutamaan.

Ada sebuah tips agar kata-kata di atas benar-benar mendarah daging dalam diri kita, yaitu:

1. Sebutlah berulang2 dengan suara yang keras sehingga terdengar telinga.

2. Seringlah mengulang-ulang kata itu dalam hati di manapun antum berada.

3. Tulislah dengan tulisan yang TEBAL dan BESAR di kamarmu sehingga bisa mengingatkanmu ketika agak terlena..

Ana pernah mempraktekkan hal ini (dengan kata-kata yang berbeda). Malam hari bagaikan siang hari!

Nikmati malam dengan ilmu dan ibadah.

JANGAN MENYERAH!! MAN JADDA WAJADA. ALLAAHU AKBAR!!

**) Terinspirasi dari Taushiyah HQA

Oleh: Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Abdul Karim

Kita lihat di antara barisan para penuntut ilmu ada orang-orang yang dianugerahi kemampuan yang agung, yang luar biasa, yang membuat mereka pantas mendapat kemuliaan ilmu. Hanya saja cita-cita mereka yang rendah menghancurkan anugerah tersebut, menghilangkan eloknya keunggulan mereka, sehingga engkau dapati mereka merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, mereka tidak suka membaca dan menelaah, mereka sering terlalaikan dari menuntut ilmu.

Betapa cepatnya mereka melepaskan potensi ini dan menghilangkan berkah waktu-waktu mereka. Hal itu terjadi karena kufur nikmat. Tentu saja ini menyebabkan nikmat tersebut pergi, sebagaimana syukur nikmat adalah penyeru untuk penambahan nikmat tersebut.
Al-Farra’ rahimahullah berkata,

“Tidaklah aku merasa kasihan pada seseorang seperti rasa kasihanku kepada dua orang: Seorang yang menuntut ilmu, namun dia tidak mempunyai pemahaman, dan seorang yang paham tetapi tidak mencarinya. Dan aku sungguh heran dengan orang yang lapang untuk menuntut ilmu tetapi dia tidak belajar.” (Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi, 1/103)

Ibnul Jauzi rahimahullah memberi keterangan perkataan Abith Thayyib Al-Mutanabbiy:

Aku tidak melihat aib-aib manusia sebagai aib
Seperti kekurangan orang-orang yang mampu untuk sempurna

Ibnul Jauzi berkata,
“Seharusnya seorang yang berakal berhenti pada puncak yang memungkinkan baginya. Apabila tergambar bagi anak Adam tingginya langit, sungguh aku memandang bahwa keridhaanya dengan bumi termasuk kekurangan yang paling buruk.

Kalau seandainya kenabian diperoleh dengan kesungguh-sungguhan, aku melihat orang yang merasa tidak butuh untuk memperolehnya berada dalam tempat yang rendah. Jalan hidup yang indah menurut ahli hikmah adalah keluarnya jiwa kepada puncak kesempurnaanya yang memungkinkan baginya dalam berilmu dan beramal.”

Beliau juga berkata,
“Secara global, dia tidak meninggalkan keutamaan yang mungkin ia peroleh kecuali dia berusaha memperolehnya. Sesungguhnya rasa puas adalah keadaan orang-orang rendahan.

Maka jadilah seorang lelaki yang kakinya menghujam di bumi
Sedangkan cita-citanya setinggi bintang Tsurayaa

Kalau memungkinkan bagimu untuk melampaui setiap ulama dan orang-orang yang zuhud, maka lakukanlah. Mereka itu laki-laki, engkau juga laki-laki. Dan tidaklah seseorang duduk kecuali karena rendahnya dan hinanya cita-citanya.

Ketahuilah bahwa kamu berada dalam ajang perlombaan, sedangkan waktu-waktu akan habis. Maka, janganlah engkau kekal menuju kemalasan. Tidaklah luput sesuatu kecuali dengan kemalasan. Dan tidaklah dicapai sesuatu kecuali dengan kesungguhan dan tekad.” (Shaidul Khatir hal. 159-161.)

Wahai orang yang melihat pada dirinya ada tanda-tanda keunggulan dan kecerdasan, janganlah engkau mengharapkan satu pengganti dari ilmu. Janganlah engkau tersibukkan dengan selainnya selamanya. Jika engkau enggan, maka semoga Allah memberikan kemuliaan pada dirimu, dan memperbesar pahala muslimin padamu. Betapa sangat kerugianmu dan betapa besar musibahmu.

Tinggalkan darimu mengingat hawa nafsu dan para pencintanya
Bangkitlah ke tempat yang tinggi, di sana ada mutiara
Yang menghibur dengan tempat dakiannya dari setiap yang berharga
Dan dari nikmat dunia, yang hakikat jernihnya adalah keruh
Dan dari teman di sana yang melalaikan teman-teman duduknya
Dan dari taman yang diselubungi cahaya dan bunga-bunga
Bangkitlah menuju ilmu dengan kesungguhan tanpa rasa malas
Seperti bangkitnya seorang hamba kepada kebaikan dengan segera
Bersabarlah dalam memperolehnya dengan kesabaran kemuliaan baginya
Tak akan mencapainya orang yang tidak bersabar

(Qasidah Asy-Syaikh As-Sa’di, sebagaimana dalam Al-Fatawa, 647)

Dan sesungguhnya, termasuk perkara-perkara yang bermanfaat yang dapat membantu tingginya cita-cita yaitu melihat jalan hidup para salaf radhiyallahu ‘anhum. Sesungguhnya keadaan mereka adalah puncak kesempurnaan secara ilmu dan amal. Jika seorang penuntut ilmu melihatnya dan menganggap rendah diri dan sedikit ilmu, maka dia akan berusaha untuk mengejar mereka dan meniru mereka. Dan barangsiapa meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.

Ibnul Jauzi berkata,
“Demi Allah, ingatlah wajib atas kalian untuk memperhatikan jalan hidup salaf serta menelaah tulisan-tulisan mereka dan kabar-kabar mereka. Sungguh memperbanyak dalam menelaah kitab-kitab mereka adalah seperti melihat mereka.”

Beliau juga berkata,
“Hendaklah dia memperbanyak menelaah (kehidupan salaf –ed.), sungguh ia akan melihat ilmu-ilmu salaf, dan tingginya cita-cita mereka yang menajamkan pikirannya, dan menggerakkan tekadnya untuk bersungguh-sungguh.” (Shayyidul Khatir, 440)

(Sumber: Awaiqut Thalab karya Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Abdul Karim, halaman 46-48).

Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com

Ini bukan cerita dongeng belaka, tanpa didahului pada suatu masa..

Ini terjadi dimasa kini, tentang seorang akhwat dan cita-citanya…

Mungkin bagimu tidak ada yg spesial pada tag tittle di atas…

Namun bagiku sebuah sensasi semangat yg menambah gairah…

Bukan gairah seronok semata, namun gairah yg membuncah…

Kagum sekaligus bangga…

Tersebutlah nama “MARYAM” ,nama yg bukan aslinya, untuk menghilangkan sum’ah bagi yg mengenalnya…

Tak ada yg spesial pada fisiknya kecuali wajahnya yg putih dan awet muda (*kata zaujaty)…

Bayangkan saja umurnya sudah 65 thn namun nampak 40an saja…

Apa yg tidak biasa padanya???

Kudengar cerita ini langsung dari zaujaty…

Dia mengenal akhwat yg satu ini…

Dengan cita-cita besarnya…

Dia sangat terkenal dikalangan para akhwat..

Karena dia memiliki keistimewaan yg tak biasa di kalangannya saat ini…

Dia seorang hafidzah…Yaa, seorang penghapal Al-qur’an…

Lengkap dengan 30 juz hapalannya…

Dengan itu saja, dia berbeda dengan akhwat yg lainnya…

Ditambah lagi dengan cita-cita luhurnya…

Sebuah ma’had lengkap dengan sarananya…

Ma’had yg diberi nama “Al-Qaanitaat” yg berarti wanita yg senantiasa taat…

Dia berjuang mencetak akhwat penghapal Qur’an…

Dan sempat ku kesana dan mendengar langsung para akhwat menghapal Qur’an dari kejauhan…

Seperti suara tawon yg sangat banyak, menggema di sebuah bangunan dengan 3 lantainya…

Decak kagumku dengan semua ini…

Seorang akhwat dengan cita-citanya…

Aku berandai, jika saja ada ma’had untuk ikhwan seperti ini…

Aku ingin menjadi seorang hafidz seperti mereka…

Target 4 juz setiap bulannya…

Yg disetor pada sang hafidzah.

Lain waktu, kudengar cerita lain dari zaujaty…

Bagaimana sang hafidzah ini menjaga hapalannya…

Setiap satu pekan, 30 juz diulang-ulang…

Sehari, mungkin 4-5 juz diingati…

Subhanallah…

Makin kagum ku dibuatnya…

Dia tidak biasa, dia sungguh luar biasa dimataku…

Tanpa ku pernah berjumpa dengannya…

Seperti cerita dongeng yg menyejukkan hatiku…

Masih ada penjaga Al-Qur’an dimasa ini….

Kisah nyata, seorang akhwat dengan cita-citanya

Dengan segenap tekad ku sampaikan ke jauzaty…

Tirulah dia…

Jadilah kau seorang penghapal Al-Qur’an…

Yg dengannya kau dapat memberi syafaat 70 orang dari keluargamu…

Di akhirt nanti…

Itulah balasan bagi para penghapal Qur’an…

Begitulah cerita tentang sang hafidzah…

Semoga Allah membalas kebaikannya..

Dan kita dapat mengambil pelajaran darinya…

Bahwa sekarang ini, kita masih dapat menghapal Kitabullah..

Bukan hanya cerita sirah dahulu saja..

Ini sebuah realita seorang akhwat dan cita-citanya…

Bagaimana dengan kita…

*** Kamus kata :

Akhwat = wanita

Jauzaty = istriku

Ma’had = sebuah pesantren kecil tempat menuntul ilmu syar’i

Sum’ah = berbangga diri

Hafidz/hafidzah = Penghapal Al-qur’an

Ikhwan = laki-laki

= = = = =

Subhanallah !!

http://umarvijay.multiply.com/journal/item/34


Arsip

Statistik Blog

  • 821.185 hits