Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘Hafal Quran’ Category

Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin..

Pada pagi hari yang indah, tanggal 8 Februari 2014, saya mendapatkan kabar yang amat menggembirakan dari salah seorang ustadzah di Al-Izzah. Kabar ini juga saya dapatkan dari salah seorang ibu yang menelpon saya.. Dengan hati berbunga-bunga, ibu tersebut memberitahukan kabar yang amat baik mengenai putrinya ini.

Kabar apakah itu? Alhamdulillah.., salah seorang santriwati yang dulu saya bimbing di Al-Izzah hingga khatam 15 juz, insya Allah malam hari itu akan menyelesaikan hafalannya hingga 30 juz.. Allaahu Akbar!!

Shafa Shafira Rabbani, nama santriwati itu. Padahal, teman2nya lebih dulu satu bulan menyetorkan hafalan.. dan ananda Shafa merupakan urutan ke-3 dalam menyelesaikan hafalan 15 juz.. tapi akhirnya dialah yang pertama kali menyelesaikan hafalan 30 juz dalam satu angkatannya.

Aku jadi teringat masa-masa manis bersama mereka. Pagi, sore, dan malam hari.. membaca, menghafal, dan murajaah Al-Qur’an. Dari buku monitoring hafalan, bisa kulihat beberapa santriwati yang memiliki keistiqomahan yang baik.. tidak terlalu mengejar kuantitas hafalan, tapi istiqomah selalu menyetorkan hafalan sesuai target minimal, yaitu satu halaman per hari..

Alhamdulillah, dengan sedikit motivasi akhirnya semua santriwati bisa menghafal minimal satu halaman per hari meski waktu untuk mencapainya berbeda-beda. Saya melihat sebenarnya sebagian dari mereka memiliki kemampuan yang lebih dari itu. Lalu saya memberi pengumuman, “Santriwati yang bisa menghafal 1 halaman/hari mendapatkan nilai A, sedangkan yang bisa menghafal 2 halaman/hari (=1 lembar/hari) maka mendapat nilai A+.”

Awalnya sebagian dari mereka tidak percaya, “Ustadzah, apa mungkin kami bisa menghafal 2 halaman per hari?” Akhirnya kukatakan bahwa itu mungkin saja terjadi.. tentu membutuhkan beberapa tahapan, misal:

-hari ke-1: setor 1 halaman 5 baris. ini berlangsung selama satu minggu

-hari ke-1 pekan 2: setor 1 halaman 10 baris, berlangsung selama 1 pekan

-hari ke-3 pekan 3: setor 1 halaman 15 baris = 2 halaman

Apalagi jika hari libur (Sabtu dan Ahad) mereka tetap menghafal meski beberapa baris, maka itu bisa menjadi tabungan hafalan untuk pekan berikutnya..

“Nah, kalau kalian sudah terbiasa menghafal 2 halaman per hari pada saat masih kelas 7, maka insya Allah nanti ketika sudah duduk di kelas 8.. untuk menghafal 3 halaman per hari itu juga mudah..

Kalau kalian bisa menghafal 2 halaman/hari (Senin-Jumat), maka dalam satu bulan bisa hafal 2 juz, artinya insya Allah ketika selesai kelas 1, sudah khatam 15 juz. Jika kebiasaan ini diteruskan insya Allah kelas 8 nanti kalian sudah khatam 30 juz. Aamiin..”

YA.. alhamdulillah, cita-cita mereka untuk menjadi hafidzah akhirnya terwujud juga. Dalam waktu kurang lebih 8 bulan, sudah ada santriwati yang khatam 15 juz. Dan pada tahun kedua ini, sudah ada satu santriwati yang selesai 30 juz dalam waktu kurang dari 1,5 tahun (-+17 bulan).. yang insya Allah dalam waktu dekat akan disusul oleh teman2nya yang lain. Ya… kuperkirakan setiap selisih satu pekan atau dua pekan ini sudah ada teman2nya yang akan khatam 30 juz.

Alhamdulillah, padahal lembaga menginginkan santriwatinya bisa hafal minimal 15 juz dalam waktu 2 tahun.. tapi akhirnya cukup banyak yang bisa melebihi harapan. Dalam waktu dua tahun (atau kurang) anak usia 13-14 tahun ini sudah bisa khatam 30 juz. Allaahu Akbar!!

= = =

Semoga tulisan ini bisa memotivasi kita semua untuk menghafal Al-Qur’an hingga khatam 30 juz. Aamiiin.. 🙂

http://alizzah-batu.sch.id/hafidzah-pertama-santri-smp-al-izzah/

bismillah..

ana menangis melihat video ini.. indah sekali..

anak-anak kecil yang hafal keseluruhan al-qur’an dengan mutqin dan fasih..

ya Allah, mudahkanlah.. Aamiin..

 

 

Bismillah..

“Ukh, kalau sudah khatam itu rasanya bagaimana?”, tanya seorang akhwat.

“Khatam itu bukan akhir, ukh.”, jawab sahabatnya.

“Oh ya, benar. Itu awal dari sebuah akhir.. Berarti antum minimal harus mbaca 5 juz/hari dong.. biar bisa mutqin.”, tambahnya.

“Iya, begitulah. Allahu Musta’an. Sebenarnya ana sudah tahu dari dulu sebelum masuk dunia tahfidz: kalau orang sudah khatam, tugasnya  itu belum selesai. Ia harus memantapkan hafalannya dulu. Hal ini bisa dilakukan dengan mempertahankan kebiasaan membaca 5 juz/hari selama -+5 tahun. Kalau ini sudah tercapai, insya Allah hafalannya lebih mutqin/dhobit dan akan lebih mudah utk tahun2 selanjutnya. ”

Bagaimana hafalan yang mutqin itu?

Hafalan mutqin adalah hafalan yang kuat:

(1)    terhadap lafadz-lafadz al-Qur’an dan

(2)    menghafal maknanya dengan kuat

(3)    sehingga mudah untuk menghadirkan ayat tersebut setiap kali menghadapi permasalahan kehidupan, yang mana al-Quran senantiasa hidup di dalam hati sepanjang waktu.. sehingga orang yang memiliki hafalan mutqin akan mudah untuk menerapkan dan mengamalkannya.

Hal yang tidak menyangkut definisi di atas:

  1. hafalan yang lemah terhadap lafadz al-Quran.
  2. Hafalan yang sekedar menghafal lafadz al-Qur’an saja meskipun sangat kuat hafalannya dan sangat akurat ketelitiannya. Penghafal ini hanya menghafal lafadz, meninggalkan menghafal makna dan amalan.
  3. Hanya sekedar menghafal lafazh dan makna, tanpa diiringi usaha serius untuk:
    1.  mengaitkan makna dengan kenyataan hidup
    2. Mengulang-ulang untuk membiasakan diri menerapkan ikatan kuat antara ilmu dan amal

Jika terjadi ikatan kuat antara ilmu dan amal:

Diperoleh maksud diturunkannya al-Qur’an –“untuk menguatkan hatimu”-

 

CATATAN: definisi ini tidak mensyaratkan harus hafal al-Qur’an 30 juz, tapi memungkinkan untuk mempraktekkan rukun-rukun program pendidikan menghafal quran (ia hafal lafadz, makna, dan amal) dan sarananya sesuai jumlah hafalan al-Qur’an yang dimiliki seseorang.

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Di sini ada sebuah kisah perjuangan beberapa mahasiswa dalam menghafal qur’an di sela-sela waktu kuliahnya. Selamat membaca, semoga terinspirasi..  🙂

= = = = =

Di sebuah kota besar di Indonesia, yang kehidupan metropolitan masih dapat dirasakan, di satu sisi kadangkala ditemukan hal hal yang sangat bersifat religius.

Di sana Penulis sempat menemukan sekelompok pemuda yang sangat akrab dengan Al Qur’an, seakan-akan Al-Quran adalah bagian dari dirinya. Di saku baju atau di tas mereka akan selalu ditemui sebuah Al-Quran kecil. Mereka juga adalah pemuda yang sangat akrab dengan Masjid. Pada saat shubuh mereka hadir di masjid dan di waktu petang mereka telah ada kembali di masjid, di samping kehidupan mereka sebagai mahasiswa.

Yang sangat berkesan bagi penulis adalah bagaimana mereka mencuri waktu untuk dapat menghafal Al Quran atau membaca Al Quran. Ada di antaranya yang mencuri waktu di sela sela waktu stop lampu merah (ampel/traffick light sedang merah ) membuka Al Quran di sakunya untuk sekedar melihat beberapa ayat Al Quran, ketika sedang mengendarai motor.

Ada juga yang mengambil waktu luang ketika mereka sedang berada di kendaraan umum untuk menghafal Al Quran. Agar tidak diketahui ia sedang membaca Al Quran oleh orang sekitarnya, Al Quran tersebut dibungkus dengan sampul buku biasa. Seakan akan orang mengira ia sedang membaca buku. Mereka lakukan untuk menjaga keikhlasannya.

Ada juga yang membawa kaset murrotal Al Quran mendengarkan di waktu luang/free, orang lain mengira ia sedang mendengarkan musik biasa. (Mungkin disaat sekarang dapat digunakan usb MP3 yang lebih praktis)

Dan yang lebih menarik ada yang memfotokopi Al Quran pada halaman tertentu, kemudian dibawa dan agar lebih praktis dengan mudah dihafal seperti note. Subhanallah…..

Adalah sesuatu yang sulit dibayangkan jika pada masa sekarang, di mana kehidupan semakin keras dirasakan, masih ada orang yang melakukan hal demikian, menghidupkan Al Quran. Setidaknya hal tersebut memberikan inspirasi bagi kita untuk lebih akrab dengan Al Quran.

Mimpi orang orang demikian untuk menjadi seorang hafidz Quran bukanlah omong kosong. Jika mereka adalah pemuda yang berumur 20 tahun, maka perlahan tapi istiqomah, ketika ia menjadi seorang ayah berumur 40 tahun, sangat mungkin baginya menjadi seorang penghafal Al Quran. Ia akan mendidik anaknya menjadi seorang hafidz Quran juga. Andaikan mereka adalah seorang yang berumur 40 tahun maka perlahan tapi tetap istiqomah, di waktu ia menjadi seorang tua  berumur 60 tahun ,dirinya sudah siap menghadap Alloh sebagai seorang hafidz Qur’an.Ia akan siap mendidik cucunya menjadi seorang Hafidz Quran.

Rasulullah bersabda bahwa pada hari akhir kelak, orang tua para penghafal Al Quran tersebut akan memperoleh penghargaan besar, yaitu akan mendapatkan sebuah mahkota cahaya.

”Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan mengamalkannya maka akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya mahkota yang sinarnya lebih terang daripada sinar matahari di dunia pada hari kiamat nanti, kalaulah sekiranya ada bersama kalian, maka apa perkiraan kalian tentang orang yang mengamalkannya (al-Qur’an)?”

(HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim)

Tentu kita juga tergiur untuk memberikan Hadiah bagi orang tua kita, sebuah hadiah berupa penghargaan dari Alloh SWT. Terlebih jika orang tua kita telah pergi,untuk mengobati kerinduan kita kepadanya kelak di hari Akhir akan kita berikan berita bahagia bagi mereka bahwa anaknya adalah seorang hafidz Quran. Memang benar pendapat bahwa menghafal Al-Qur’an tidak mudah, tapi setidaknya ada yang bisa kita persembahkan kelak, sesuatu yang berat dan diperlukan kesabaran, sesuatu yang indah sebelum Menghadap kepada Nya dan mempersiapkan mahkota cahaya untuk Bapak dan Ibu kita,….Menjadi Penghafal Al Quran, Hafidz Qur’an.

“Ya Alloh, tuntun diri kami ke jalan yang lurus sebagaimana jalan orang orang yang Engkau beri petunjuk ”

Aamiin..

= = = =

Mungkinkah kita menjadi penghafal al-Qur’an?

Insya Allah…

-Man jadda wajada.. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan.

-Where there is a will, there is a way..  Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

-Inna ma’al ‘usri yusroo.. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

-Walaqod yasssarnal qur’aana lidz-dzikri fahal min muddakkir.. Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dihafal, adakah yang mau menghafalnya?

-Dengan doa, keyakinan, kesungguhan, dan kesabaran, sesuatu yang nampaknya tidak mungkin bisa menjadi mungkin. bi idznillaah.. Allaahu Akbar!!

= = = =

NB:

Insya Allah blog ini akan ana off-kan beberapa waktu lagi karena akan memfokuskan diri pada bulan Ramadhan agar lebih baik dari Ramadhan tahun sebelumnya. Semoga masih ada umur bagi kita semua untuk menambah dan memanen kebaikan dan Ridho Allah di masa datang. Semoga dengan makin bertambah hari..  semakin baik ibadah kita kepada-Nya dan makin mendalam cinta kita kepada-Nya. Aamiin..

Bismillah..

Kitab-kitab samawi seperti Zabur, Taurat, dan Injil diturunkan secara sekaligus pada para nabi yang dipilih-Nya. Bagaimana dengan kitab suci Al-Qur’an? Al-Qur’an berbeda karena diturunkan tidak sekaligus, tapi berangsur-angsur. Justru inilah salah satu keistimewaan Al-Qur’an.

Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan secara sekaligus?

Ada hikmah besar di baliknya. Sebenarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun mampu menurunkannya sekaligus, namun dengan kesempurnaan hikmah dan ilmu-Nya, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap dalam beberapa waktu, seperti kalam Allah:

“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Qs. Al-Isra’: 106)

Dengan diturunkan secara berangsur-angsur, maka akan memudahkan Al-Qur’an untuk dihafal, difahami, dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat2nya. Orang2 Arab zaman dulu umumnya tidak bisa membaca dan menulis, sehingga mereka menyimpan ilmu mereka dengan hafalan.

Ayat lain yang menjelaskan hal ini adalah di Surat Al-Furqon berikut ini:

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS. Al-Furqon: 32)

Dengan turun secara berangsur-angsur, maka dapat memperkuat/memperteguh hati Rasulullah karena dakwah itu berat dan penuh rintangan. Ada ayat yang isinya berisi hiburan untuk beliau sehingga menjadi lebih sabar dan teguh dalam berdakwah.. ada yang berisi berita gembira akan kemenangan yang akan peroleh meski keadaan saat itu sangat sulit.. ada yang berupa kisah2 para Nabi yang ternyata mendapatkan berbagai cobaan2 yang berat juga, sehingga beliau bisa mengambil ibrah dari kisah tersebut.. ada juga yang menjawab pertanyaan2 kaum musyikin Mekkah, kaum Yahudi maupun menjawab pertanyaan para muslimin tentang beberapa hukum saat di Madinah..

Jadi, betapa indahnya dan betapa besarnya hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur. Intinya, dalam Surat Al-Furqon di atas, tujuan diturunkan Al-Qur’an tidak sekaligus seperti kitab sebelumnya, tapi berangsur2 adalah untuk MEMPERKUAT/MEMPERTEGUH/ MEMPERKOKOH HATIMU..

Barangkali ini juga bisa menjawab pertanyaan salah satu saudari saya di Kalimantan,

Mengapa kita tidak bisa menguasai seluruh bidang yang kita inginkan sekaligus dalam satu waktu? Agar kita bisa menghafal ilmu itu, memahaminya, mempraktekannya.. dan agar ilmu itu benar2 kokoh dalam hati kita lebih dulu. Seperti ulama zaman dulu, tidak diperkenankan belajar hadits sebelum hafal/menguasai Al-Qur’an lebih dahulu. Jadi, kuasai dan tekuni dulu satu-satu.. 🙂

= = = =

Alhamdulillah, dalam perjalanan saya menghafal Al-Qur’an, banyak ayat Al-Qur’an yang saat saya hafal, saat itu pula saya mendapatkan kesan/hikmah/penjelasannya/mengingat masa lalu saya yang indah.. atau bahkan ujian bagi kehidupan saya. Misalnya,

-saat saya menghafal QS. Thaha, saat itu saya mendapat jatah dari ustadzah untuk mempresentasikan/menjelaskan pada teman2 di mahad tentang bagaimana proses Umar bin Khoththob masuk Islam. Padahal, Umar bin Khoththob masuk Islam setelah mendengar dan membaca QS. Thaha. Beliau kagum dan menangis karena merasakan keindahan Al-Qur’an. Hatinya luluh dan mengakui kebenaran karena tidak mungkin kata2 yang memiliki ketinggian satra itu itu adalah kata2 manusia lalu beliau masuk Islam.

-saat menghafal QS. Al-Ahqof, saya diuji untuk menuruti orang tua untuk bekerja dan tidak bisa masuk mahad lagi. Saat itu saya bertanya dalam hati, “Masya Allah, saya diuji dengan apa yang saya hafal.” Akhirnya saya mengambil cuti beberapa waktu dan terus memohon pada Allah agar bisa kembali lagi ke mahad untuk meneruskan hafalan.

-saat saya menghafal QS. Al-Hajj, saat itu adalah bulan Dzulhijah, di mana sebagian muslimin melaksanakan ibadah haji dan penyembelihan hewan qurban. Saya mendengar para penceramah di kajian membaca QS. Al-Hajj saat berkhutbah menjelang hari Idul Adha.

-suatu saat saya bertanya pada Allah, “Ya Allah, apakah yang paling berharga di dunia ini?” Setelah beberapa lama, hati saya menjawab : iman dan Islam. Lalu saya pun bertanya lagi, “Banyak orang yang mengaku orang Islam dan orang beriman, tapi ternyata mereka berbeda2. Ya Allah, bagaimanakah iman yang sesungguhnya itu?”.. Alhamdulillah, pagi harinya saya menghafal awal Qs. Al-Anfal yang menjawab pertanyaan saya. Alhamdulillah, saya sangat senang dan bersyukur sekali karena pertanyaan saya terjawab. Lalu saya menceritakan pada ayah, ayah menambahkan bahwa ciri iman yang sebebarnya itu diterangkan dalam Qs. Al-Hujurat.

-Suatu saya menghadiri majelis pengkhataman al-Qur’anyang diadakan besar2an di kota Solo, penceramah menjelaskan tentang kematian dan menyebutkan salah satu ayat di Surat Al-A’raf. “Masya Allah, ini adalah jatah hafalanku hari ini.”

-Saat saya menghafal salah satu ayat di Qs. Al-Qashash, saya teringat dulu pernah memohon pada Allah dengan doa yang mirip seperti yang diucapkan Nabi Musa ‘alaihissalam. Dan alhamdulillah, Allah mengabulkan doa itu dan memberikan kebaikan yang banyak.

-saat saya menghafal Qs. Maryam, saat itu saya sedang bersedih, lalu ada sebuah ayat yang benar2 menghibur dengan khitab yang tepat, “Alaa tahzanii..” Janganlah kamu besedih.. “. Kata kerja yang digunakan adalah kata kerja untuk perempuan tunggal, yaitu Maryam. Seolah-olah Al-Qur’an berkata padaku, “Janganlah engkau bersedih..” kemudian menceritakan bagaimana Allah memberi pertolongan dan kebar gembira pada Maryam. Setelah itu, saya tersenyum.. 🙂

Masih ada lagi yang belum bisa saya ceritakan, seperti kesan ketika menghafal QS. Az-Zukhruf, Al-Mukminun, Al’Ankabut, Al-Hijr, Al-Baqarah, Ali-Imran, Az-Zumar, Al-Isra’, Yunus, Yusuf, Muhammad, dst. Barangkali ini salah satu nikmatnya menghafal qur’an, untuk memperkuat hatimu.. karena memang menghafal qur’an itu banyak rintangan dan ujiannya.. saya akui.. berat.. Alhamdulillah, Allah memberi kabar gembira, menghibur kesedihan, dan menggantinya dengan kegembiraan.

 

 

 

Bismillah..

Banyak orang menganggap kalau sudah khatam al-qur’an di mahad tahfidz itu, berarti kegiatan menghafal sudah selesai. Padahal tidaklah demikian. Masih ada tahap2 yang lain.

Apa saja tahapannya?

1. KHATAM AL-QUR’AN

Khatam Al-Qur’an sebenarnya adalah baru tahap pertama yang harus dicapai oleh santri di mahad tahfidzul qur’an. Untuk meraihnya, santri wajib ziyadah (menambah hafalan) dan muraja’ah di hadapan ustadz/ah pengajarnya.

2. UJIAN NIHA-I

Ujian akhir untuk dinilai hafalannya oleh pengajar tahfidz. Biasanya santri yang sudah sampai tahap ini, sudah lancar hafalannya dan jika diminta untuk membacakan hafalannya, ia hanya perlu membuka mushaf sebentar. Yang dinilai adalah dalam hafalannya itu ada yang salah atau tidak. KAlau ada yang salah berbati mengurangi nilainya. Oleh karena itu, nilai hafalan tiap juz bisa berbeda2.

3. TASMI’ AKBAR 30 JUZ

Membacakan hafalannya 15 juz selama dua hari, ada juga yang 30 juz dalam satu hari (tergantung peraturan di mahad). Pada saat ini, santri disimak oleh seluruh santri di mahad. Ada beberapa santri yang diberi tugas khusus untuk menyimaknya, fungsinya adalah untuk memberitahu kalau ada yang salah dan memberitahu yang benar kalau benar2 tidak tahu. Maklum, namanya juga santri baru saja hafal qur’an.. Masih ada yang salah di beberapa tempat.

Untuk mencapai derajat memiliki hafalan qur’an tanpa ada satu pun kesalahan, semua bacaannya sesuai kaidah tajwid dan dapat membacakan hafalan qur’an kapanpun diminta tanpa berpikir panjang, maka perlu belajar lagi mencari sanad al-qur’an dari ustadz/ah yang memiliki sanad quran terpercaya.

= = = =

Beberapa hari yang lalu, alhamdulillah saya bertemu dan mendapatkan info dari salah seorang sahabat. Bagi santriwati yang sudah khatam dan ingin mendapatkan sanad bisa belajar ke mahad tahfidz di Bogor dengan Ustadzah Ahlam (kalau tidak salah, beliau dari Yaman). Guru dan urutan sanadnya selisih satu tingkat dengan Syekh Ali Bashfar (yang bacaannya sangat fasih dan jelas makharijul hurufnya).

Syekh Ali Bashfar belajar mengambil sanad langsung dari Syaikh Ayman Rusydi. Ustadzah Ahlam belajar dan mengambil sanad dari Syaikhoh Rihab (istri dan murid Syaikh Ayman). Jadi, kalau dibuat silsilah atau urutannya dari 4 para hafidz pemegang sanad tersebut kurang lebih sbb:

sanad ke 28: Syaikh Ayman Rusydi

sanad ke 29: Syaikh Ali Bashfar dan Syaikhoh Rihab (murid Syaikh Ayman Rusydi)

sanad ke 30: Ustadzah Ahlam (murid Syaikhoh Rihab)

Wallahu A’lam

Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap)maka yang harus dilakukan adalah menjadikan Al-Quran sebagai wirid harian hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam semasa hidupnya, beliau membagi al qu an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.

Aus bin Huzaifah rahimahullah; aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: “Kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al Qur an)”. (HR. Ahmad).

Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:

  1. Hari pertama: membaca surat “Al-Fatihah” hingga akhir surat “An-Nisa’”,
  2. Hari kedua: dari surat “Al-Maidah” hingga akhir surat “At-Taubah”,
  3. Hari ketiga: dari surat “Yunus” hingga akhir surat “An-Nahl”,
  4. Hari keempat: dari surat “Al-Isra’” hingga akhir surat “Al-Furqon”,
  5. Hari kelima: dari surat “Asy Syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”,
  6. Hari keenam: dari surat “Ash-Saffatt” hingga akhir surat “Al-Hujurat”,
  7. Hari ketujuh: dari surat “Qaaff” hingga akhir surat “An-Naas”.

Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadi kata: ” Fami bisyauqin ( فم ي ب شوق ) “, dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya, maka:

  1. huruf “fa” symbol dari surat “Al-Fatihah”, sebagai awal wirid beliau hari pertama,
  2. huruf “mim” symbol dari surat “Al-Maidah”, sebagai awal wirid beliau hari kedua,
  3. huruf “ya” symbol dari surat “Yunus”, sebagai wirid beliau hari ketiga,
  4. huruf “ba” symbol dari surat “Bani Israil (nama lain dari surat al isra)”, sebagai wirid beliau harikeempat,
  5. huruf “syin” symbol dari surat “Asy Syu’ara”, sebagai awal wirid beliau hari kelima,
  6. huruf “wau” symbol dari surat “Wa Shaffat”, sebagai awal wirid beliau hari keenam,
  7. huruf “qaaf” symbol dari surat “Qaaf”, sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat “An-Naas”.

Ini tidak seperti pembagian hizb seperti sekarang ini dengan dengan membuat pemberhentian (waqaf) terhadap beberapa ayat yang bersambung dengan ayat sesudahnya, kemudian seorang qori membacanya lagi pada hari berikutnya dengan memulai bacaan yang diikutkan dengan bacaan sebelumnya.

Misalnya memulai dengan kalam Allah, “wal muhshonaati minan-nisaa-i.. ” pada permulaan juz ke-5. Padahal ini adalah ayat yang masih satu tema dengan akhir juz ke-4. (ceritanya belum selesai ko sudah dipotong.. karena sudah beda juz.. 🙂 )

Oleh sebab itu, pembagian hizb (tahzib) dengan surat secara lengkap lebih utama daripada pembagian hizb dengan juz. Ini merupakan salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.

Bagaimana jika kita belum mampu melaksanakan hizb Nabi di atas?

Kita harus melalui tahap-tahap agar dapat mencapai derajat yang tinggi tersebut, yaitu:

Fase 1: mengulangi seluruh hafalan selama 3 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 2: mengulangi seluruh hafalan selama 1,5 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 3: mengulangi seluruh hafalan selama 1 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 4: mengulangi seluruh hafalan selama 1/2 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 5: mengulangi seluruh hafalan selama 7 hari, seperti hizb Nabi di atas.

Jika kita sudah berusaha keras dan belum bisa mencapai tingkatan fase ke-5 ataupun fase ke-4, maka paling tidak kita terus bertahan di fase ke-3 (mengkhatamkan hafalan qur’an 30 selama sebulan). Disarankan tidak kurang dari ini hingga Allah mengaruniakan nikmat-Nya kepada derajat yang tinggi di dunia dan akhirat, insya Allah.

= = = =

Sumber:

– Revolusi Menghafal Al-Qur’an (buku terjemahan), karya Ustadz YahyaAbdul Fattah Az-Zawawi

– rizkafitri.wordpress.com


Arsip

Statistik Blog

  • 574,775 hits