Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘Hafal Quran’ Category

Bismillah..

Kepada ukhtifillah Niken Puspitasari
di tempat

Assalamkm. Sudah 2 hari ini saya membaca beberapa tulisan anda di https://nikenpuspitasari.wordpress.com/. sbenarnya bbrp bulan lalu juga mbaca tapi sdikit saja.

Saya ingin mngucapkan jazakumulllah khoiron kepada ukhti Niken atas tulisan2nya tentang program tahfidz. Saya membulatkan tekad setelai selesai S2 saya & istri, nanti memulai program tahfidz.

Oh ya ingin share,
Apakah dengan mnguasai bahasa arab, kita akan lebih mudah menghapal Quran? Asumsi saya, dgn tahu bahasa arab maka bisa memahami tekstual Quran shg lebih mudah dihafal. Benakah?.

Rencana saya,
1) selama 2 tahun balajar bahasa arab di mahad jaringannya AMCF. Dulu di Malang pernah di mahad abd. bin auf tapi cuma ikut 2 hari saja. Itu karena harus mmilih dan prioritas waktu.
2) jalankan program tahfidz 3-4 th. Umur saya skrg 30 th. kuatir daya ingat tak skuat ukhti niken yg masih muda:)

Smg Allah mberikan kelancaran dan kesuksesan pada aktivitas saudari Niken.

Wassalam

= = = = = =

Wa’alaikumus salam warahmatulahi wabarakatuh
A. Iya, orang yang faham dan menguasai bahasa arab akan lebih mudah hafal qur’an. Tapi itu bukan satu2nya faktor utama.

Ada teman ana lulusan bahasa arab, sangat sulit menghafal dan akhirnya keluar dari mahad tahfidz. kalau ana analisa, faktor penghambatnya adalah: KONSENTRASI yang kurang kuat, karena konsentrasinya terpecah antara keinginan menghafal, mencari pekerjaan, dan melayani suaminya yang ada di luar kota.

Oleh karena itu, kabar baiknya adalah jika belum bisa bahasa arab dengan baik pun, bisa juga menghafal. Akan tetapi, secara umum dia juga agak kesulitan dalam memahami dan mentadaburinya sendirian. Akan tetapi, jika dia orangnya punya tekad kuat menghafal qur’an dan punya kemauan belajar bahasa arab saat menghafal, insya Allah dengan menghafal itu pun akan dimudahkan Allah untuk memahami bahasa Arab karena bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab.

Hanya saja, memang orang yang sudah punya kemampuan bahasa arab yang baik dan semangat menghafalnya tinggi, insya Allah lebih cepat dalam ziyadah / menambah hafalan. Satu hari bisa menghafal 2 lembar. Artinya satu juz diselesaikan dalam 5 hari.

= = = =
Ya, rencana itu bagus sekali. Jika bapak masuk ma’had bahasa arab, nanti juga mendapatkan dapat ilmu2 agama yang lain, insya Allah. dan biasanya orang yang lulus mahad bahasa arab nanti, setelah lulus bisa menjad ustadz. selain bisa berbicara bahasa arab dengan lancar, juga tahu dalil2 agama. Akan lebih baik lagi jika seorang ustadz itu hafal al-qur’an dan faham hukum2 agama (fiqih).

Target hafalan di mahad bahasa arab AMCF adalah 3 juz dalam dua tahun: juz 30, 29, dan 28. Jika bapak punya rencana ke mahad tahfidz setelahnya, maka baiknya target hafalan (utk diri sendir) bukan hanya 3 juz. tapi lebih tinggi, misal 4 atau 5 juz atau lebih.. sesuai kemampuan dan prioritas. Baiknya setelah menghafal juz 28, lalu menghafal juz 1, juz 2, dst..

Menghafal al-qur’an selama 3 tahun jika disambi bekerja, itu termasuk cepat. karena yang di pondok tahfidz saja, butuh 2 tahun atau lebih.

Usia memang salah satu faktor penunjang hafalan. Tapi, coba lihat ke belakang, bukankah para sahabat seperti Umar ra dan Abu Bakar ra itu menghafal pada usia dewasa? Mereka bisa, insya Allah kita juga bisa. keuntungan menghafal alqur’an saat dewasa adalah memiliki pemahaman yang lebih baik dan lebih cepat daripada anak kecil. Tajwidnya juga insya Allah bisa lebih baik. Cepat hafal bukanlah segalanya. Umar saja menghafal surat al-baqarah dalam waktu 8 tahun. Ini karena beliau menghafal al-qur’an sekaligus mengamalkannya.

Oh ya, untuk memperlancar proses hafalan di ma’had tahfidz, sebaiknya pada masa dua tahun belajar di mahad bahasa arab itu ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
(1) mempelajari tahsin dan tajwid secara mantap dulu PADA AHLINYA.. dan
(2) mengkhatamkan al-qur’an satu bulan sekali.. atau satu bulan dua kali..

= = = =

Semoga nanti dimudahkan studi S2 nya. Dan semoga nanti dimudahkan juga program bahasa arab, tahfidz, dan S3 nya. Aamiin
Ma’akumun najah

Alhamdulillah
Wassalam

========

NB: Tulisan di atas ana posting atas permintaan pengirim pertanyaan dengan harapan bisa lebih bermanfaat.

Tanggal 3 januari 2011 bisa jadi menjadi hari sangat bersejarah bagi Khilfatin Nabawiyah, alumni UIN Malang yang diwisuda pada 23 November 2010. Pasalnya, gadis kelahiran Gresik, 25 September, 1986 itu memperoleh penghargaan dari Menteri Agama, Suryadarma Ali, karena menoreh prestasi gemilang. Khilfatin adalah alumni Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Malang angkatan  tahun 2006 yang menulis skrispsi dalam bahasa Arab, dan sekaligus hafal Al Qur’an 30 juz. Penghargaan diberikan di Kementerian Agama Jakarta tepat di hari jadi Kementerian Agama, 3 Januari 2011 bersamaan dengan pemberian penghargaan kepada karyawan-karyawan Kementerian Agama yang berprestasi dari seluruh Indonesia. Pemerintah melalui Menteri Agama layak memberikan penghargaan kepada alumni UIN Malang itu karena prestasinya membanggakan dan setidaknya membuktikan bahwa konversi beberapa lembaga pendidikan tinggi islam (STAIN Malang dan beberapa 5 IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) tidak menjadikan studi agama (keislaman) terpinggirkan sebagaimana kekhawatiran selama ini. Kelahiran UIN ternyata justru menyemarakkan kajian keislaman. Berbagai disiplin ilmu seperti kimia, matematika, fisika, biologi, ekonomi, psikologi, linguistik, pendidikan, hukum, sastra dan seni, kedokteran, farmasi dan lain sebagainya dikaji dengan perspektif Al Qur’an.

Khilfatin layak diapresiasi dan dijadikan contoh bagi lulusan PTAIN yang lain. Dia masuk ke UIN Malang tidak memilih studi agama di Fakultas Tarbiyah atau Fakuktas Syariah, meiainkan Jurusan Fisika yang dianggap salah satu jurusan momok di Fakultas Sains. Sebagian orang menganggap ilmu fisika tergolong sangat sulit sehingga wajar jika tiap tahun peminat masuk jurusan ini sedikit. Di tengah-tengah studi ilmu yang tergolong berat itu, Khilfatin masih menyempatkan diri dengan kesibukan menghafalkan Al Qur’an hingga hafal 30 juz. Khilfatin tentu memiliki daya hafal yang tinggi. Jika tidak,  mana mungkin dia bisa hafal semua ayat dalam Al Qur’an. Jika Khilfatin belajar di Fakultas Tarbiyah atau Fakultas Syariah dan hafal Al Qur’an mungkin tidak begitu mengherankan. Sebab, kedua fakultas itu memang mengembangkan ilmu keislaman (Pendidikan Agama Islam dan Hukum Islam). Itu pun masih ditambah prestasi yang lain, yakni kemampuan bahasa Arabnya yang baik, dan menulis karya akhir berupa skripsi  dalam bahasa Arab. Khilfatin menjadi sosok yang lengkap: menguasai sains fisika, hafal al Qur’an, dan dapat berbahasa Arab.

Prestasi Khilfatin tentu bukan kerja sendiri. Para dosen, kyai di ma’had, dan ustad yang membina hafalan Al Qur’an selama ini juga telah turut serta mengukir prestasi tersebut. Tetapi sebenarnya semuanya berpulang pada Khlfatin sendiri. Sebab, semua keberhasilan atau kegagalan seseorang terletak pada orang itu sendiri. Orang lain yang ada di sekitarnya, seperti para dosen dan ustad, orangtua, teman serta fasilitas serta lingkungan yang ada hakikatnya hanya berperan sebagai instrumen pendukung. Namun demikian, kondisi lingkungan  tersebut bisa jadi penghambat keberhasilan seseorang dalam meraih prestasi tertentu jika tidak  pandai-pandai memanfaatkannya. Banyak kisah sukses diraih oleh orang dalam kondisi sangat minim segalanya. Tetapi karena gigih berjuang untuk menggapai keberhasilan dan tidak kenal lelah, kondisi serba kekurangan tidak menjadi penghalang, tetapi jutsru menjadi cambuk untuk memacu diri. Sebaliknya, tak terhitung kisah kegagalan yang dialami orang dengan fasilitas cukup bahkan berlebih. Tetapi karena tidak mampu memanfaatkan kelebihan yang dimiliki, maka semua yang ada tidak bermakna bagi dirinya.

Mengukir prestasi memang bukan pekerja tiba-tiba dan sekali jadi. Karena itu, bisa saja orang mengatakan bahwa hafalan Al Qur’an Khilfatin sudah dimulai sebelum kuliah di UIN Malang dan kemampuan berbahasa Arabnya juga sudah dimiliki sejak di bangku  sekolah menengah. Tetapi juga bisa dijelaskan bahwa sistem pendidikan di UIN Malang yang mensyaratkan mahasiswa harus tinggal di pondok (ma’had) untuk program ta’lim dan semua mahasiswa pada tahun pertama harus kuliah bahasa Arab secara intensif — apa pun jurusannya — merupakan variabel pembentuk prestasi Khilfatin (facilitating variable), bukan penghambat (constraining).

Khilfatin adalah sosok lulusan yang diharapkan oleh UIN Malang sesuai visi dan misi yang telah digariskan yang bertumpu pada empat pilar kekuatan, yakni kedalaman spiritual, keagungan akhlak, kedalaman ilmu, dan kematangan profesional. Hafal Al Qur’an merupakan salah satu indikator empirik mengenai kedalaman spiritualnya, sebagai seorang hafidhoh Khilfatin tentu harus menjaga perilakunya, sebagai sarjana sains merupakan wujud keilmuan yang dimiliki, dan  keberhasilan menghafal Al Qur’an, menguasai bahasa Arab dan keberanian menulis skripsi dalam bahasa Arab merupakan bukti profesionalisme belajarnya. Jika dia tidak belajar secara profesional, prestasi demikian sulit diraih.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang mengembangkan sistem pendidkan integrasi agama (Islam) dan sains, tentu UIN Malang belum bisa berpuas diri karena sudah menghasilkan sosok lulusan seperti Khilfatin. Sebab, masih saja ada yang mempertanyakan bagaimana memadukan agama dan sains dalam sistem pendidikan, atau malah ada yang skeptis bahwa memadukan keeduanya merupakan hal yang tidak mungkin, dan karena itu merupakan pekerjaan sia-sia. Sebagai sebuah pendapat, hal demikian sah-sah saja. Tetapi perlu diingat bahwa kelahiran Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia didasari oleh semangat menerjemahkan pesan-pesan Al Qur’an dalam kehidupan nyata, khususnya yang menyangkut ilmu,  bahwa Al Qur’an tidak pernah membuat dikotomi keilmuan (antara ilmu agama dan sains), sebagaimana selama ini berkembang. Cara pandang dikotomik demikian dianggap sebagai penyebab utama ketertinggalan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Padahal, jika mau menengok sejarah masa silam Islam pernah membangun peradaban sangat maju sehingga menguasai peradaban dunia ketika para ilmuwan muslim mengembangkan ayat-ayat kauniyyah dan qouliyyah secara integratif dan holistik, sehingga tidak ada dikotomi atau polarisasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Cara pandang demikian yang mesti dilakukan oleh umat Islam jika ingin tampil  di depan dalam kehidupan global yang sangat kompetitif seperti saat ini. Karena itu, untuk mencapai hal itu reorienatsi dan rekonstruksi model pendidikan Islam mesti dilakukan secara menyeluruh. Konversi IAIN dan STAIN menjadi UIN merupakan jawabannya.

Selain itu, kehadiran Universitas Islam Negeri (UIN) juga dimaksudkan untuk menerjemahkan doktrin Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, atau doktrin universal. Sebagai agama pembawa rahmat bagi apa pun yang ada di muka bumi, Islam tentu mengajarkan bagaimana berhubungan dengan sesama manusia, alam dan lingkungan sekitarnya, membangun kemajuan berdasarkan nilai-nilai Islami, dan mengolah sumber-sumber kekayaan alam tanpa melakukan perusakan. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin orang Islam bisa melakukan itu semua jika tidak menguasai ilmu pengetahuan? Karena itu, sebagai kitab suci, Al Qur’an membicarakan semua itu dalam garis-garis besarnya dan memerintahkan umat Islam untuk memikirkannya. Itu sebabnya ayat pertama yang turun adalah perintah untuk membaca (iqra’). Membaca tentu bukan sekadar melafal huruf, tetapi juga terkandung makna untuk memahami.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyatakan bahwa para penggagas, pelopor, dan pendiri UIN Malang tentu akan sangat bangga melihat prestasi Khilfatin. Sebab, jika alumni lembaga pendidikan tinggi Islam ini sudah menguasai sains, dapat berbahasa Arab dengan baik, dan hafal Al Qur’an 30 juz, akhlak dan moralnya terjaga, maka apa lagi yang masih diragukan. Khilfatin adalah eksemplar sosok lulusan UIN Malang yang dicita-citakan. Kita semua berharap akan lahir lulusan seperti Khilfatin yang tidak saja menjadi kebanggaan sivitas akademika UIN Malang dan tentu kedua orangtuanya, tetapi juga masyarakat perguruan tinggi Islam di mana saja. Selamat untuk Khilfatin. Congratulation !

Sumber: http://www.mudjiarahardjo.com/artikel/300-penghafal-al-quran-itu-memperoleh-penghargaan-menag.html

Anas bin Malik menuturkan bahwa suatu ketika Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari manusia.” Para shahabat yang mendengarnya pun terkejut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Lantas beliau menjawab, “Mereka adalah ahlul Qur’an. Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang Dia istimewakan.” (HR Ibnu Majah: I/78).

Siapakah ahlul Qur’an itu? Apakah mereka adalah para penghafal Al-Qur’an? Ataukah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya walaupun ia belum menghafalnya?

Ahlul Quran adalah orang-orang khusus pengemban amanah risalah Al-Quran, kedudukan mulia ini lantaran mereka mau mempelajari Al-Quran, mengajarkan, menghafalkan, memamahi, mengamalkan, memasyarakatkan serta menjadikan Al-Quran sebagai pedoman selama hidupnya. Al-Quran selalu menjadi imam dalam ibadah, muamalah mereka. Akhlak mereka mulia karena mulianya Al-Quran Karena mereka mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah SWT.

Namun, apakah ada syarat, bahwa ahlul quran itu harus hafal 30 juz?

Dari buku yang pernah ana baca, kalau menurut salaf, tidaklah demikian. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ahlul Qur`an adalah orang yang memiliki ilmu tentang Al-Qur’an dan mengamalkannya meskipun ia tidak hafal di luar kepala. Adapun orang yang hafal, tetapi tidak memahami apalagi tidak mengamalkannya maka ia bukan termasuk ahlul Qur`an meskipun pelafalan huruf-hurufnya setepat bidikan anak panah.

Inilah kelebihan para ahlul Qur’an. Bisa jadi di mata manusia, dia adalah orang biasa bahkan tidak dianggap. Namun, anggapan itu lain di hadapan Allah. Mereka adalah orang-orang yang istimewa. Oleh karena itu, Rasulullah pernah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Jadi, intinya, meskipun seseorang tidak hafal qur’an 30 juz, bisa jadi dalam pandangan Allah, dia adalah ahlul qur’an. Alhamdulillah.. 🙂

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Dalam taushiyah Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc., Al-Hafizh, disebutkan setidaknya ada 15 parameter yang bisa mengindikasikan seorang Ahlul (ahli) Al-Qur’an. Parameter tersebut adalah:

1. Khatam Al Quran. Minimal satu bulan satu kali khatam, maksimal tiga hari satu kali khatam.

Hal pertama yang mesti dilakukan untuk menjadi ahlul Quran adalah dengan membacanya secara rutin. Minimal satu hari menghabiskan 1 juz (10 lembar). Agar mudah, sehabis shalat rutinkan untuk membaca sebanyak dua lembar, insya Allah kita bisa mengkhatamkan Al Quran dalam 1 bulan.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam beliau berkata,“Puasalah tiga hari dalam satu bulan.” Aku berkata, “Aku mampu untuk lebih banyak dari itu, wahai Rasulullah.” Namun beliau tetap melarang, hingga akhirnya beliau mengatakan,“Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan.” Aku berkata, “Aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau terus melarang hingga batas tiga hari. (HR. Bukhari)

Menurut hadits di atas, kita dilarang mengkhatamkan Al Quran lebih dari 30 hari. Karena bila kita membaca Al Quran kurang dari 1 juz per harinya, kita akan kehilangan ruh dan akan menjauh dari Allah. Selain itu, kita juga dilarang untuk mengkhatamkan Al Quran kurang dari 3 hari. Hal itu telah dijawab oleh hadits berikut:

Dari Abdullah bin Amru, beliau mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan dapat memahami/menghayati Al-Qur’an, orang yang membacanya kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud)

2. Qiyamulail.

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah: ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.’” (TQS. Al Isra’: 79-80)

“bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (TQS. Al Muzzammil: 2-6)

Saya kira sudah jelas mengapa Qiyamullail menambah kedekatan kita dengan Al Quran. Aktivitas tersebut merupakan salah satu indikasi ahli Quran.

3. Qiyamullail dengan bacaan 1 juz. Minimal satu pekan satu kali.

Pada poin kedua (poin sebelum ini), titik tekan pada kuantitas. Pokoknya yang penting Qiyamullail dulu. Sedangkan pada poin ketiga ini, titik tekan pada kualitas Qiyamullail. Diharapkan dalam sepekan ada 1 Qiyamullail yang membaca 1 juz Al Quran. Yang baik adalah dengan membacakan hafalan kita, insya Allah juz 30 bisa lah ya. Tetapi bila ingin mencari suasana baru, kita bisa membaca mushaf untuk juz-juz lainnya.

Syeikh Ali Jumu’ah mengatakan bahwa kebanyakan ulama membolehkan membaca surat/ayat dengan mushaf sewaktu shalat sunnah dan wajib. Mereka berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik bahwa Dzakawan hamba sahayanya Aisyah pada saat qiyamullail di bulan Ramadhan menggunakan mushaf. Dan tidak ada dalil yang melarangnya.

Adapun tentang membalikkan halaman-halaman kertas mushaf maka tidaklah mengapa dengan tetap memperhatikan bahwa hal itu dilakukan dalam waktu sesingkat mungkin sehingga tidak menjadikan diri orang yang shalat itu keluar dari kekhusyu’an yang dituntut oleh syari’at didalam shalat.

Akan tetapi yang paling afdhal (utama) adalah seorang yang menjadi imam shalat bagi manusia adalah orang yang hafal Al Qur’an sedangkan makmumnya tinggal mendengarkan bacaan imam itu sehingga tidak disibukkan dengan sesuatu yang dapat menghilangkan kekhusyu’annya seperti membalikkan halaman-halaman kertas mushaf dan banyak gerakan diluar gerakan shalat. (Fatawa al Mu’ashiroh juz I hal 6)

4. Menambah hafalan Al Quran. Minimal satu tahun nambah satu juz.

Rasulullah SAW memberikan penghormatan kepada orang-orang yang mempunyai keahlian dalam membaca Al Quran dan menghafalnya, memberitahukan kedudukan mereka serta mengedepankan mereka dibandingkan orang lain.

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, ‘Surat apa yang kau hafal?’
Ia menjawab, ‘Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.’
‘Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?’ Tanya Nabi lagi.
Shahabi menjawab, ‘Benar.’
Nabi bersabda, ‘Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.’”

(HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)

Hadits di atas merupakan kemuliaan penghafal Quran di dunia, sedangkan di akhirat pun ada keutamaannya.

Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Penghafal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: ‘Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia,’ kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: ‘Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah.’ Kemudian Al Quran memohon lagi: ‘Wahai Tuhanku ridhailah dia,’ maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: ‘bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga)’, dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2916), Ibnu Khuzaimah, al hakim, ia meninalinya hadits sahih, serta disetujui oleh Adz Dzahabi(1/533).)

5. Membaca tafsir Al Quran. Minimal satu pekan satu kali baca tafsir.

Allah SWT akan memberikan suatu kemuliaan di akhirat bagi orang yang mempelajari Al Quran, ditambah lagi kemuliaan itu juga akan diberikan kepada kedua orang tuanya.

Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikanlah mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran.’” (Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilainya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (21872) dan Ad Darimi dalam Sunannya (3257).)

Bayangkanlah betapa bahagianya ketika nanti di hari dimana tidak ada naungan selain naungan dari Allah, orang tua kita terkaget-kaget saat diberi jubah kemuliaan seperti hadits di atas karena kita (anaknya) mempelajari Al Quran.

6. Membaca doa Al Quran. Minimal satu pekan satu kali.

Seorang mukmin hendaknya selalu berdo’a kepada Allah dimanapun dan kapanpun ia berada sebagaimana Allah berfirman:

“dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka seseungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Rabbmu itu Mahapemalu dan Mahamulia, malu dari hambaNya jika ia mengangkat kedua tangannya (memohon) kepada-Nya kemudian menariknya kembali dalam keadaan hampa kedua tangan-nya.”(HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, di-hasan-kan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Albani)

Ibnul Qayyim berkata: “Doa termasuk obat yang paling bermanfaat, ia adalah musuh bala, ia mendorongnya dan mengobati, ia menahan bala atau mengangkat atau meringankannya jika sudah turun.”

Masih banyak keutamaan doa dan doa yang paling utama adalah doa yang berasal dari Al Quran. Misalnya, doa yang ada dalam QS. Al Baqarah: 201.

(رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (٢٠١

“Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah. Wa qina adzaban naar.”
Artinya: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka.” (TQS. Al-Baqarah: 201)

7. Tadarus Al Quran bersama keluarga. Minimal satu kali per minggu.

Membaca Al Quran bersama keluarga akan meningkatkan rasa cinta kita kepada Al Quran. Selain itu, membaca bersama-sama dapat memperbaiki bacaan bila masih ada bacaan yang salah secara tajwid. Kebiasaan Rasulullah dalam membaca Al Quran bersama keluarga terlihat ketika akan mengkhatamkan Al Quran.

Adalah Anas bin Malik, beliau memiliki kebiasaan apabila telah mendekati kekhataman dalam membaca Al-Qur’an, beliau menyisakan beberapa ayat untuk mengajak keluarganya guna mengkhatamkan bersama. Dari Tsabit al-Bunnani, beliau mengatakan bahwa Anas bin Malik jika sudah mendekati dalam mengkhatamkan Al-Qur’an pada malam hari, beliau menyisakan sedikit dari Al-Qur’an, hingga ketika subuh hari beliau mengumpulkan keluarganya dan mengkhatamkannya bersama mereka. (HR. Darimi)

Hikmah yang dapat dipetik dari hadits Anas di atas, adalah bahwa ketika khatam Al-Qur’an merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah. Dengan mengumpulkan seluruh anggota keluarga, akan dapat memberikan berkah kepada seluruh anggota keluarga. Karena, semuanya berdoa secara bersamaan kepada Allah mengharapkan rahmat dan berkah dari-Nya.

Nah, bila jauh dari kedua orang tua dan kakak-adik, serta belum menikah, mungkin alternatifnya adalah tadarus Al Quran bersama kelompok halaqoh/mentoring.

8. Mengulang-ngulang hafalan Al Quran, minimal satu kali per minggu.

Bila dipikir-pikir, esensi utama dari menghafal Quran bukanlah mendapatkan hafalan Al Quran. Itu hanyalah bonus. Esensi utama dari menghafal Quran adalah agar kita semakin sering berinteraksi dengan Al Quran. Karena ketika kita menghafal al Quran, kita dituntut untuk senantiasa mengulangnya. Dan dengan mengulang itulah ingatan kita akan semakin tajam. Akan lebih baik lagi bila kita mengulangnya bersama keluarga atau kelompok halaqoh/mentoring.

Itulah mungkin sebab kita bisa membaca Al Fatihah tanpa mushaf dengan mudahnya, bahkan meski pikiran kita tidak fokus ke bacaan, kita masih bisa menyelesaikannya. Ya, karena kita telah beratus-ratus kali mengulangnya. Jadi, sesungguhnya tidak ada sikap permisif bagi yang merasa ingatannya kurang baik untuk tidak menghafal al Quran.

Info tambahan, penelitian yang dipimpin oleh Avi Karni, seorang ahli ilmu otak dari Universitas Haifa, Israel, mengungkapkan tidur siang baik untuk mendongkrak ingatan. Penelitian ini dipublikasikan jurnal Nature Neuroscience. Pengaruh tidur siang jelas terlihat hasilnya untuk meningkatkan kemampuan mengingat hal-hal jangka panjang dan hal-hal yang bersifat penjelasan. Memori jangka panjang biasanya tetap diingat seseorang selama bertahun-tahun.

Dalam percobaannya, Karni meminta sukarelawan mengingat-ingat permainan jari yang rumit. Mereka kemudian dibagi menjadi dua kelompok, salah satu tidur siang selama setahun dan lainnya tidak. Ternyata, sukarelawan-sukarelawan yang tidur siang mampu mengingat lebih baik daripada yang tidak tidur. Setelah tidur malam, kemampuan kedua kelompok tak jauh berbeda, namun kelompok yang tidur siang tetap saja menunjukkan kemampuan mengingat lebih baik.

9. Mengajarkan Al Quran minimal satu kali satu bulan.

Dari Usman bin Affan ra, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Tirmidzi)

Al Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: “Maksud dari sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkan kepada orang lain’ adalah bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.”

Mengajarkan Al Quran bukan lantas berhenti mempelajarinya. Dengan mengajarkan Al Quran justru membuat kita semakin terpacu untuk senantiasa mempelajarinya. Bahkan, tanpa kita sadari, dengan mengajarkan Al Quran, kita mendapatkan ilmu baru, yaitu ilmu untuk mengajarkan Al Quran kepada orang lain dengan berbagai perbedaan latar belakang ke-Quran-an, karakter bawaan, metode menerima materi, dan lain sebagainya.

10. Mentadabburi AlQuran minimal satu kali satu bulan.

Kata tadabbur berhubungan dengan kata ‘Yudabir’ yang artinya mengatur, seperti tersebut dalam QS. Yunus: 3.

“Sesungguhnya Tuhan kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur/yudabbir segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izinNya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (TQS. Yunus: 3)

Jadi, kurang lebih tadabbur adalah usaha yang teratur/sistematis untuk memahami Al Qur’an, sehingga dapat melakukan petunjuk Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Tadabbur merupakan aktivitas untuk mempelajari makna-makna dzahir yang tertera dalam Al Quran, namun bila untuk memahami pengertian tersirat yang ada dibalik ayat/surat yang akan dipelajari perlu adanya syarat-syarat khusus, karena hal tersebut sudah masuk kepada wilayah menafsirkan Al Quran.

Salah satu output dari mentadabburi Al Quran adalah munculnya kesan tertentu terhadap ayat/surat yang ditadabburi. Misalnya, ketika orang lain merasa biasa saja membaca surat Al Ma’uun, saya memiliki kesan ‘seram’ terhadap surat tersebut, terutama ayat keempat. Karena dari ayat tersebut saya berpikir, bisa jadi kita sudah bersusah payah melakukan ibadah shalat, tetapi bukan pahala dan keridhoan yang didapat, melainkan celaka.Na’udzubillah…

11. Mendengarkan bacaan Al Quran secara rutin. Baik itu dari radio, kaset, MP3, youtube, dll.

DariAbdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Bacakan Alquran kepadaku.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, aku harus membacakan Alquran kepada baginda, sedangkan kepada bagindalah Alquran diturunkan?” Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku.” Kemudian aku membaca surat An-Nisa’. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).” Aku angkat kepalaku atau secara mendadak ada seseorang berada di sampingku. Dan ketika aku angkat kepalaku, aku melihat beliau mencucurkan air mata. (Sahih Muslim No: 1332)

Imam Nawawi berkata “Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadis ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Alquran, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al Quran agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al Quran, dibandingkan dengan membaca sendiri.”

12. Membaca surat pilihan harian (yang telah dikumpulkan dalam kitab Al Matsurat) tiap hari minimal satu kali.

Misalnya keutamaan membaca ayat kursi (QS. Al Baqarah: 255) masing-masing satu kali ketika pagi dan sore.
“Barangsiapa membacanya di pagi hari maka akan dilindungi dari (gangguan) jin sampai sore, dan barangsiapa yang membacanya di sore hari maka akan dilindungi dari gangguan mereka (jin).” (HR. Al Hakim 1/562 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albaniy dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib 1/273)

Lalu, keutamaan membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas, masing-masing dibaca 3x ketika pagi dan sore.
“Barangsiapa yang membacanya tiga kali ketika pagi dan ketika sore maka dia akan dicukupi dari segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/322, At Tirmidziy 5/567, lihat Shahih At Tirmidziy 3/182)

Dan masih banyak lagi surat pilihan yang utama untuk dibaca ketika pagi dan petang. Lebih utama jika membaca bacaan zikir pagi dan petang juga.

13. Membiasakan membaca surat pilihan pekanan tiap pekan. Misalnya membaca Al Kahfi tiap hari Jumat

‫مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

14. Membiasakan membaca surat Al Mulk sebelum tidur.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبَّاسٍ الْجُشَمِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ سُورَةً مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِىَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan pada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qotadah, dari ‘Abbas Al Jusyamiy, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,“Ada suatu surat dari al qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafa’at bagi yang membacanya, sampai dia diampuni, yaitu: ‘Tabaarakalladzii biyadihil mulku… (surat Al Mulk)’” (HR. Tirmidzi no. 2891, Abu Daud no. 1400, Ibnu Majah no. 3786, dan Ahmad 2/299).

أخبرنا عبيد الله بن عبد الكريم وقال حدثنا محمد بن عبيد الله أبو ثابت المدني قال حدثنا بن أبي حازم عن سهيل بن أبي صالح عن عرفجة بن عبد الواحد عن عاصم بن أبي النجود عن زر عن عبد الله بن مسعود قال : من قرأ { تبارك الذي بيده الملك } كل ليلة منعه الله بها من عذاب القبر وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم نسميها المانعة وإنها في كتاب الله سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد أكثر وأطاب

Telah menceritakan pada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdil Karim, ia berkata, telah menceritakan pada kami Muhammad bin ‘Ubaidillah Abu Tsabit Al Madini, ia berkata, telah menceritakan pada kami Ibnu Abi Hazim, dari Suhail bin Abi Sholih, dari ‘Arfajah bin ‘Abdul Wahid, dari ‘Ashim bin Abin Nujud, dari Zarr, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Barangsiapa membaca ‘Tabarokalladzi bi yadihil mulk… (surat Al Mulk)’ setiap malam, maka Allah akan menghalanginya dari siksa kubur. Kami di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan surat tersebut ‘al Mani’ah’ (penghalang dari siksa kubur). Dia adalah salah satu surat di dalam Kitabullah. Barangsiapa membacanya setiap malam, maka ia telah memperbanyak dan telah berbuat kebaikan.” (HR. An Nasai dalam Al Kabir 6/179 dan Al Hakim. Hakim mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih)

Catatan: Keutamaan surat ini bisa diperoleh jika seseorang rajin membacanya setiap malamnya, mengamalkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, mengimani berbagai berita yang disampaikan di dalamnya.

15. Meneteskan air mata karena Al Quran.

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, Yaitu Para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (TQS. Maryam: 58)

Ibnu Sa’di berkata berkenaan dengan ayat di atas, “Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ‘Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis, maksudnya adalah mereka khudhu’ dan khusyu’ dengan ayat-ayat tersebut, karena menggoreskan iman, cinta dan takut di hati mereka, sehingga membuat mereka menangis, berserah diri dan sujud kepada Tuhan mereka.”

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman mengenai para ahli kitab yang shalih,

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu.” (TQS. Al Israa’: 107-109)

Menangis, menurut Al-Ghazali, disunahkan saat membaca Al-Qur’an. Cara untuk memaksakan tangisan adalah membayangkan hal-hal yang dapat menyebabkan kita menangis, yaitu dengan merenungi ancaman dan janji yang ada di dalam Al-Qur’an, kemudian merenungi kealpaan sikap kita terhadap berbagai perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasa sedih dan tangis hanya menghampiri hati seseorang yang bersih. Hilangnya kesedihan dan tangisan hendaknya membuat kita bersedih (dan menangis), karena hal tersebut merupakan tanda musibah terbesar yang telah menimpanya.

Bahkan dalam sejarah kehidupan generasi awal Islam, banyak kita temui kisah-kisah tentang kelembutan hati dimana mereka sering menangis ketika membaca dan mendengarkan Al Qur an. Hati mereka begitu mudah tersentuh karena keimanan yang telah begitu kuat mengakar di dalam dada.

Lalu, pertanyaan terbesarnya adalah:
BAGAIMANA DENGAN KITA?
Sudah sejauh mana diri kita untuk bisa menjadi ahli Quran. Yuk, sama-sama evaluasi dan berbenah diri. Bukankah kita ini adalah umatnya Rasulullah sang pembawa risalah Al Quran? Masa enggan untuk mengikuti petunjuknya, sementara kita sudah mengetahui kebenaran dan keuntungannya.

Allahu’alam bish shawab
(mohon koreksi bila ada dalil yang tidak relevan atau dhoif/maudhu)

sumber tulisan

**http://rezaprimawanhudrita.wordpress.com/2010/07/28/menjadi-ahlul-quran/**

Bismillah..

Suatu hari di kamar dengan posisi duduk di atas tikar berwarna hijau..

“Alhamdulillah, akhirnya kakak sudah selesai menghafal.”, kataku pada adik perempuanku yang bersekolah di SMK IT Informatika. Aku menyerahkan mushaf al-qur’an berwarna merah hati pada adik lalu berkata, “Dik, ayo kakak disimak ya! Satu halaman saja. Yang ini!”, kataku sambil menunjuk halaman yang perlu dia simak.

Lalu adik menyimak hafalanku. Alhamdulillah, aku bisa membaca hafalanku dengan lancar. Namun, ketika akan berakhir, adikku memberi kode dengan kepalanya. Aku sadar, berarti ada yang salah atau kurang pada hafalan yang sedang kubentuk itu. Pada halaman itu ada tiga ayat yang sangat mirip. Aku sudah berhasil membedakan dua ayat sebelumnya, tapi pada ayat yang ketiga, ada satu kata yang belum kuucapkan, yaitu kata “minnaa”.

“Wah, ayatnya sangat mirip. Ternyata masih kurang satu kata..”, kataku sendu. Aku merasa belum berhasil, karena target ‘hafalan baru’ haruslah hafalan yang sempurna tanpa kesalahan, tanpa terbata-bata, atau berhenti untuk mengingat-ingat. Hanya saja, memang sudah kukenali kalau hafalanku itu.. biasanya bisa menjadi sempurna kalau sudah disimak dua kali oleh orang lain. Kalau disimak satu kali, kadang masih ada yang kurang, atau mungkin masih ragu2 meskipun akhirnya nanti bisa melanjutkan sampai akhir.

= = = = =

“Alhamdulillah, dik. Halaman ini kakak hafal dalam waktu setengah jam.”, kataku pada adik yang sudah menyerahkan kembali mushaf merah itu padaku.

“Lho, ko bisa cepet banget?”, jawabnya agak heran.

“Mm.. karena kakak sudah biasa mendengar ayat itu. Selain itu, halaman itu sudah kakak terjemahkan..”, jawabku.

Lalu aku balik bertanya padanya, “Kalau adik, target hafalannya berapa?”

“Sekolah menargetkan satu semester satu juz.”, jawabnya. Satu juz pada mushaf madinah terdiri dari 10 lembar. Satu semester ada 6 bulan, tapi mungkin bulan terakhir untuk ujian, maka waktu menghafal adalah 5 bulan.

“Berarti kalau dihitung2, baiknya tiap bulan adik menghafal dua lembar (2 lembar = 4 halaman). Satu bulan ada empat pekan, berarti satu pekan menghafal satu halaman”, jawabku menjelaskan.

“Oh ya, sebenarnya kakak dulu bisa menghafal satu halaman dalam waktu 10 menit. Tapi kondisinya harus sangat tenang, misalnya pagi hari sebelum shubuh.”, tambahku. Hal ini kukatakan padanya untuk memberi motivasi.

“Ya sudah, gitu aja ngafalnya..”, jawab adikku. Mungkin dia berpikir, kenapa tidak 10 menit aja? Kan lebih cepat, lebih enak..

Lalu aku menjawab, “Tapi kakak tidak suka menghafal cepat2, soalnya kalau ngafalnya cepat biasanya cepet ilang. Trus rasanya kering dan kurang berbekas pada hati. Ya sudah, kakak lebih suka menghafal satu halaman dalam waktu setengah atau satu jam saja. Hati bisa lebih basah dan ada bekasnya. Selain itu, juga tidak mudah hilang.”, jawabku menjelaskan. Ternyata cepat hafal bukanlah segalanya..

= = = = =

Ustadzah tahfidz ana tipenya bukan orang yang mudah silau dengan cepatnya murid2 beliau menghafal.. karena beliau melihat dari sudut pandang keseluruhan. Memang menghafalnya bisa cepat, tapi bagaimana dengan tugas tilawah hariannya.. bagaimana dengan tugas muraja’ah hafalannya? Semuanya harus dalam keadaan baik, baru ustadzah akan menganggap kondisi kita dalam keadaan baik..

Bismillah..

Ana ditanya tentang beberapa hal jika seorang laki2 memiliki istri seorang hafidzah, bagaimana kewajibannya? Sebelumnya ana juga pernah ditanya seperti ini.

Tulisan di bawah ini adalah jawaban singkat ana. Semoga nanti ada hafidzah yang mau berkomentar untuk menambahkan dan menyempurnakan jawabannya.. 🙂 sekaligus agar ana dan para pembaca juga bisa mengetahui lebih banyak.. 🙂

= = = = =

  • Apakah seorang hafidzhah jika menikah, harus dengan seorang hafidzh ? tidak harus
  • Apabila seorang hafidzhah yang menikah sebelum khatam tahfizhnya,  apakah berakibat pada sulit khatam tahfidzh 30 juz ? ya, biasanya begitu. belum ada satu pun teman ana yang menikah akhirnya bisa ujian. mungkin khatam 30 juz, tapi tidak bisa ujian, kenapa? karena hafalannya tercerai berai dan menguap karena kesibukan menjadi istri dan ibu yang mengurus anak..
  • Apa kriteria calon suami yang diinginkan oleh seorang hafidhzah (yang biasanya diobrolkan oleh para hafidzhah atau telah disampaikan oleh ustadz/ustadzah) ? biasanya ya pilih yang hafidz, seorang ustadz, bacaan qur’annya bagus, tapi ada yang lebih mengedepankan kesholehan daripada hafidz, mau mendukung terjaganya hafalan qur’annya sampai ajal menjemput, mau menyimak hafalannya tiap hari
  • Apa yang perlu dipersiapkan dan diperhatikan bagi seorang ikhwan yang menginginkan calon istri seorang hafidhzah ? baiknya dibaguskan dulu bacaannya agar sesuai tajwid, banyak membaca qur’an secara istiqomah (minimal 1 juz tiap hari), menjaga sholat, suka kajian, kuat menyimak hafalan.. karena biasanya tidak semua orang bisa kuat dan sabar menyimak hafalan para hafidz/ah berjam2.. karena yang dibaca bisa 5 juz sekali duduk atau lebih pada hari2 libur.. tapi bisa disiasati dengan masuk komunitas tahfidz dll
  • Apakah calon suami yang diinginkan para hafidzhah adalah harus seorang ustadz ? tidak harus, karena banyak juga yang dipanggil ustadz tapi bermaksiat, yang diinginkan adalah yang sholeh, suka mencari ilmu dan mengamalkan ilmu agama, bertanggung jawab, menghormati perempuan dll
  • Kewajiban-kewajiban khusus apa yang harus dipenuhi suami terhadap istrinya yang hafidzhah ? memberi waktu khusus rutin padanya untuk membaca hafalannya, jangan memberatkannya dengan pekerjaan rumah sehingga terbengkalailah hafalannya, mengantarkannya ke tempat2 komunitas tahfidz untuk muraja’ah, mengingatkannya agar menjaga hafalan dan mengamalkan al-qur’an.. dll

Wallahu a’lam

Bismillah..

Allaahu Akbar!! Kisah di bawah ini benar2 menginspirasiku. Limaadza? karena di situ dikisahkan seseorang yang dulunya dibenci oleh orang2 di sekitarnya karena perilakunya, akhirnya bisa menjadi orang yang baik dan sangat dihargai karena hafal qur’an. Salah satunya kuncinya adalah perubahan, yaitu perubahan tempat tinggal / hijrah dari tempat yang tidak baik ke tempat yang baik dan mendukung. Beliau akhirnya masuk pondok pesantren, mendapat karunia Allah yang sangat besar dan nasihat2 yang berharga dari ustadz2nya. Bahkan beliau bisa melanjutkan studinya ke Mesir. Sesuatu yang diinginkan banyak orang.

Ternyata kegiatannya menghafal qur’an itu pun menuntunnya dalam memperbaiki kehidupannya yang telah lalu menjadi semakin baik. Yang unik dari kisah ini adalah, beliau menyelesaikan hafalannya yang kurang 11 juz hanya dalam sebulan!! Ko bisa ya? Karena rahmat Allah kemudian pakai tenaga dalam kali, hihi.. 🙂

Memang manusia memiliki kekuatan luar biasa yang tersembunyi. Ana pun dulu juga pernah dikatakan begitu oleh dosen (maksudnya: memakai tenaga dalam) ketika membuat 4 proposal penelitian dalam waktu singkat. Padahal biasanya mahasiswa dengan waktu segitu hanya bisa membuat satu proposal. Memang saat itu ana sangat bersemangat dan hati ana dipenuhi dengan cita2 dan harapan yang membumbung tinggi.. tinggii sekali!

Alhamdulillah, saat itu ana mendapatkan fasilitas akses komputer di laboratorium pusat dari pagi hingga sore. Padahal, saat itu ana tidak punya komputer di rumah. Makanya, ana hampir selalu ke rental kalau mengerjakan tugas2 kuliah. Ana bertekad, kalau nanti diberi kemudahan menggunakan komputer, harus lebih rajin dari sebelumnya.. HARUS!! karena dalam kesempitan dan kesusahan pun bisa mengerjakan. Maka sebab itu, ana harus membuktikan kalau ana merealisasikan tekad itu, yang berarti jalan merealisasikan cita2 pula.

Sahabat ana di mahad tahfidz pun juga pernah mengalami suatu kejadian yang membangkitkan jiwanya, lalu akhirnya dia mengeluarkan ‘tenaga dalam’nya, hingga dalam waktu 1 bulan ia dapat menyelesaikan 7 juz terakhirnya dalam waktu satu bulan.. Allaahu Akbar!!

= = = =

Kapan ya, kita mengeluarkan ‘tenaga dalam’ kita lagi?

(Dalam waktu dekat, insya Allah bulan Ramadhan ini)

Selamat membaca.. 🙂

NB: Kisah di bawah ini agak panjang.. jadi yang sabar ya, mbacanya.. 🙂

= = = =

Alhamdulillah, kali ini ana ingin mengisahkan kehidupan seseorang, yang insyaallah kita bisa mengambil banyak pelajaran dari kisahnya. Kisah singkat ini adalah kisah nyata tentang seorang sahabat ana, sahabat qarib, ana juga sering bertukar pikiran dengannya. Darinya ana mendapat banyak motivasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari, kehidupannya, dia telah membuktikan bahwa kunci tercapainya sebuah tujuan, adalah tekad yang kuat, qowiyyul ‘azm. Selanjutnya diserahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

            Namanya Muaz Abdul Hafizh (nama samaran). Ia terlahir dari sebuah keluarga tarbiyah, dari kecil ia selalu ditanamkan nilai-nilai aqidah, dan semuanya sangat berpengaruh terhadap pemahamannya tentang islam sejak kecil. Ia pernah menurunkan sebuah foto dari dinding rumahnya, bibinya lah yang selalu mengaitkannya lagi kedinding. Namun karena terlalu sering, bibinya sudah lewat jenuh sehingga tidak mau lagi mengaitkan foto itu, Muaz berkata “Selama masih ada tangan berarti bisa, Kenapa tidak? Untuk apa Allah menciptakan tangan?” Pertanyaan itu ia lontarkan saat berumur 3 tahun yang membuat bibinya menangis terharu. Adiknya juga pernah berkelahi dengan temannya, temannya bilang “Saya akan panggil abang saya!”, adiknya tidak mengatakan bahwa ia akan memanggil abangnya Muaz, melainkan “Saya akan minta tolong sama Allah!”.
            Muaz adalah anak yang cerdas sejak kecil, karena kecerdasannya ia dibenci banyak teman-temannya, ditambah lagi ia tidak mau memberi contekan dalam ulangan maupun PRnya. Ini membuat dirinya setiap pulang sekolah, sering dikeroyok oleh teman-temannya. Kondisi seperti itu membuatnya ingin mencari perlindungan atau bodyguard. Sebelumnya, Muaz juga menderita penyakit Kleptomania, yaitu kecenderungan untuk mengambil barang orang lain atau mencuri. Disamping itu, dakwah abinya yang tidak disukai oleh sebagian orang di komplek perumahannya, membuat dia sering diolok-olok oleh masyarakat. Lagi-lagi faktor lingkungan membuatnya kembali berfikir untuk mencari proteksi atau bodyguard. Tak lama kemudian ia mendapatkan partner sebagai perlindungan, seorang preman, sehingga dari lingkungan barunya ia mendapatkan kebiasaan baru pula, yaitu merokok. Kebiasaannya merokok ditambah lagi dengan penyakit kleptomania yang dideritanya, ia tidak hanya sering mencuri uang abinya, bahkan tetangganya. Itupun tidak hanya ribuan, puluh ribuan, bahkan ratusan ribu banyaknya. Hubunganya dengan masyarakat dan interaksinya dengan teman-temannya yang nakal sangat mempengaruhi kepribadiannya.
             Abi dan Ummi Muaz sudah bosan menasehatinya dengan beragam cara, dari yang paling lembut hingga yang paling kasar karena Muaz merokok. Puncaknya saat SD menjelang UN, Abinya membakar kaki Muaz dengan alasan agar tahu bagaimana panasnya api neraka yang jauh lebih panas dari api dunia. Luka bakarnya sangat menyakitkan. Tapi Muaz pernah bilang “Prosesnya yang paling
menyakitkan”. Tidak ada temannya yang tau kalau kakinya dibakar, Muaz mengaku menginjak bara saat ditanya temannya, karena dia ke sekolah mengenakan sandal. Muaz justru semakin down, UNnya pun menjadi berantakan. Setelah UN, ia memiliki banyak waktu kosong. Saat itulah teman-temannya mencoba menjerumuskannya. Muaz diajak menonton film porno oleh preman-preman, itupun tidak hanya sekali, bahkan berulang kali!
             Kecenderungannya dalam mencuri semakin menjadi-jadi, Muaz pernah mencuri uang penjual es, jumlahnya sampai ratusan ribu. Muaz melakukannya bersama teman-temannya dan dirinya sebagai eksekutor. Mereka ketahuan karena salah seorang teman membocorkannya lantaran sakit hati padanya. Betapa kaget Abi dan Ummi  Muaz ketika mendengar kasus ini. Abinya kehilangan cara untuk merubahnya. Akhirnya, dibuatlah skenario dengan polisi yang datang dan memanggil Muaz. Saat itu Muaz sangat ketakutan dan berhenti merokok maupun mencuri, tapi hanya untuk beberapa waktu. Tak lama kemudian, lanjut lagi. Lebih parah lagi, ia pernah membobol sebuah rumah dan mencuri uangnya. Yang satu ini tidak ketahuan, namun uang yang dicurinya itu sudah digantinya beberapa waktu setelah itu. Hingga datanglah hidayah itu melalui sampainya informasi tentang Perguruan Islam Ar-Risalah, Muaz tertarik karena ia melihat ada ekstrakurikuler Beladiri. Lagi-lagi dengan alasan sebagai sarana proteksi diri. Tapi pikirannya berubah tidak mau bersekolah di Ar-Risalah, sampai Abinya memaksa hingga dia mau.
          Jadilah dia bersekolah di Ar-Risalah, generasi pertama, meskipun begitu Muaz masih melanjutkan kebiasaan merokoknya. Tapi ia tidak melakukannya di sekolah, melainkan di rumah saat libur. Sejak Muaz bersekolah di Ar-Risalah, dia sudah mulai menemukan jati dirinya, sudah mulai menyadari bahwa dia benar-benar sedang hidup di dunia, dan memahami hakikat perjuangan dalam kehidupan. Apalagi saat pertama kalinya belajar tentang tauhid, tafsir, dan hadits bersama ustadz-ustadz yang subhanallah, rasa takut yang amat sangat menampar hatinya ketika bercerita tentang neraka dan siksaan di dalamnya. Akhirnya ia termotivasi untuk mulai menghafal al-Quran sejak ia mengetahui bahwa orang yang hafal Quran diberi karunia untuk dapat memberi syafa’at dan pasti masuk surga. Muaz lebih termotivasi lagi ketika dirinya sudah bisa menghafal surat an-Naba. Semua itu terjadi secara bertahap. Karena hidup yang ia jalani di saat SD, membuat Muaz menjadi orang yang bertemperamen keras, menjadi anak yang nakal, suka membantah dan sangat kritis. Sampai-sampai ada guru yang membencinya.
Muaz terus menambah hafalannya karena iri kepada teman-temannya di kelompok tahsin yang levelnya lebih tinggi, padahal hafalan mereka lebih rendah darinya. Hingga di tahun itu juga dia sudah menamatkan juz 30 dan awal surat al-Baqarah. Hingga sampai kelas 2 SMP, murabbi tahsinnya beralih ke ustadz Irsyad Safar, Muaz makin termotivasi karenanya. Sehingga hafalannya meningkat sampai 2,5 juz, hafalan sebanyak itu merupakan hafalan tertinggi diantara semua teman-temannya yang membuatnya malas menambah hafalan sebab tak lagi ada saingan. Disamping hafalan Muaz yang banyak, ia juga nakal, sangat nakal. Bahkan ada temannya yang menyatakan “Percuma saja hafalannya banyak, tapi akhlaqnya seperti itu”. Perkataan itu membuat Muaz makin malas dan sifat berontaknya mulai muncul. Klimaksnya saat ia mengajak teman-temannya untuk berdemo dengan mengajukan, ustadz yang ia benci dan dibenci sebagian besar siswa dikeluarkan. Dan benar, di kelas 3 SMP, ustadz tersebut keluar. Hingga Ar-Risalah sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat, dan Muaz ditawarkan untuk mengikuti MTQ yang membuatnya kembali termotivasi.
Seiring waktu berlalu, Ar-Risalah sudah memasuki tahun ke 4, dan telah dibuka MA Ar-Risalah. Disini ana pertama kalinya masuk Ar-Risalah dan untuk yang pertama sekali bertemu dengan Muaz. Ana pernah bertanya kepada teman-teman, siapa hafalannya yang paling banyak, semua mengatakan Muaz. Ana ingin bertanya langsung kepadanya, saat ana tanya. Ia mengaku hafalannya 5 juz, padahal saat itu hafalannya sudah 10 juz lebih. Murabbi tahsinnya bertukar lagi ke ustadz April Hidayat, seorang hafizh Quran 30 juz. Awalnya Muaz merasa bangga saat mengatakan ke Murabbi tahsinnya, bahwa ia muraja’ah hafalan satu juz per hari. Ternyata murabbinya bilang “1 juz itu bukan muraja’ah namanya, kalau hafalan sudah 10, muraja’ahnya 5 juz sehari..”. Muaz makin termotivasi, ia bisa memuraja’ah hafalan hingga 5 juz per hari. Dan hafalannya meningkat dari 10 juz menjadi 20 juz. Ia bertekad agar saat berumur 17, harus sudah hafizh. Ketika dirinya kurang bermuraja’ah, Muaz merasa ada yang menjanggal di hatinya, merasa ada yang tidak enak, sehingga perasaan itu diobatinya dengan bermuraja’ah. Akhirnya ia sangat jarang merasa malas dalam memuraja’ah hafalannya.

              Ada peristiwa menarik yang dialaminya, peristiwa menjelang ia hafal Quran 30 juz. Saat itu hari senin, semua siswa Ar-Risalah berpuasa, shoum senin-kamis. Sebelum shalat zhuhur setelah shalat sunnah, ustadz Irsyad bertanya kepada Muaz “Ila ayyi juz’in antal aan?” (sudah sampai juz berapa antum sekarang?), karena siang hari Muaz merasa lapar dan tidak konsentrasi, Muaz menjawab “Tis’ah wa ‘isyriin” (29). Wajah ustadz berubah kaget dan bertanya lagi “Tis’ah wa i’syriin? Hafizhta kullah?” (sudah 29? Berarti antum sudah hafal semuanya?). Muaz hanya mengangguk dan tidak banyak respon, karena yang ia maksud adalah 19, bukan 29. Ketika shalat, ia terpikir kenapa sampai ustadz begitu terkejut, baru ia sadar, ternyata yang diucapkannya tadi “‘Isyriin”, bukan “‘Asyar”. Sepanjang shalat Muaz berdo’a agar ustadz lupa dengan jawabannya tadi, ternyata tidak, malah sebaliknya. Berita itu langsung hangat dikalangan para ustadz. Ia malu dan ia merasa harus mempertanggungjawabkan jawabannya itu. Oleh karena itu, Muaz sangat bersungguh-sungguh untuk menambah hafalan. Hingga dalam jangka waktu satu bulan, Muaz berhasil menamatkan hafalannya hingga 30 juz, saat kelas 1 MA.
Caranya, ia membedakan jadwal antara menambah hafalan dengan muraja’ah keseluruhan hafalannya. Ia sengaja bangun jam 3 setiap pagi untuk menambah hafalan, dan dilanjutkan ba’da subuh. Sepulang sekolah Muaz melanjutkan menambah hafalan ba’da ashar. Sedangkan waktu muraja’ahnya ialah hari jum’at, sabtu, dan minggu. Ia berkomitmen melaksanakannya hingga Allah memudahkan setiap langkahnya. Dan sesuai janji Allah, bila ada seorang yang hafal Quran, orangtuanya akan dipasangkan mahkota kehormatan di surga. Jangan bayangkan mahkota yang biasa tergambar di dunia. Kotak penyimpan cambuk hewan tunggangan milik penduduk surga saja, lebih mahal dan lebih berharga daripada dunia dan isinya, apalagi mahkota kehormatan yang ada di surga.
Setelah hafal al-Quran, ana yang  bertanya kepadanya tentang bagaimana perasaannya saat ini dan keuntungan yang ia rasakan, ia kirim melalui email, “Hal-hal yang ana rasakan dari manfa’at menghafal alquran adalah, ana tidak terlalu sulit untuk menghafal dan memahami pelajaran, sehingga waktu ujian tiba, ana tetap konsisten dengan target muraja’ah, maka pelajaran itu menurut saja. Jika ana melakukan suatu kesalahan, hati ana akan langsung merasa ana telah melakukan kesalahan dan merasa ditegur, setelah itu akan datang musibah-musibah kecil seperti jatuh, luka, kehilangan barang-barang, yang ana yakini penghapus dosa-dosa kecil itu, wallahu a’lam. Juga ana tidak pernah merasa ada masalah finansial, walaupun orang tua ana agak kesulitan dalam maslah ekonomi, ada saja rezki yang datang”. maka pelajaran itu menurut saja” hal ini telah dibuktikannya, ia tak pernah meleset dari ranking 1 di kelasnya selama 3 tahun MA. Juga disaat ujian untuk melanjutkan studi ke Mesir, penguji bertanya ke seluruh peserta yang terdiri dari berbagai macam sekolah, siapa yang sudah hafal al-Quran? Menunjuk dua orang termasuk Muaz, dan alhamdulillah yang satu lagi seorang siswi dari sekolah yang sama, Ar-Risalah.
Pengalaman ana pribadi, ada masa-masa “sakau” dalam menghafal Quran, sangat kecanduan. Rasanya sungguh rugi jika waktu ini terlewat tanpa adanya hafalan yang bertambah. Bahkan ketika mambaca buku-buku islami pun, terlintas di pikiran “Seandainya waktu membaca buku dari tadi ana gunakan untuk menghafal Quran, sudah berapa lembar yang bisa ana hafal ya?”.
“Waaaah… Rasanya mustahil ana bisa hafal al-Quran” Buang jauh-jauh paradigma seperti itu… Ikhwah semua hanya perlu memulai, memulai dengan tekad yang kuat dan serius. Karena juga ada orang yang memiliki tekad kuat namun tidak serius menjalaninya, atau cepat berputus asa. Langkah-langkah awal memang lebih sulit, tetapi ada masanya dimana menghafal itu terasa sangat mudah, bahkan antum bisa mengatur frekuensi bertambahnya hafalan.
Jadi apa yang kita tunggu? Mari mulai melangkah dari sekarang!!!
= = = =

 

 


Arsip

Statistik Blog

  • 821.185 hits