Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘hikmah’ Category

Bismillah..

Memiliki wajah bercahaya adalah keinginan dari semua wanita. Wajah bercahaya bukan berarti harus berwajah cantik. Banyak wanita yang memiliki wajah cantik, tetapi tidak sedap dipandang mata. Sebaliknya banyak wanita yang memilki wajah yang biasa saja, tetapi terlihat menarik di mata orang lain. Bentuk wajah, warna kulit dalam batas tertentu memang meberikan keindahan. Namun, telah terbukti ada hal lain yang membuat seseorang menjadi indah. Kita bisa membagi keindahan batin dan keindahan lahir. keindahan batin adalah zat yang dicintai, seperti keindahan ilmu, akal, kemurahan hati, keberanian, ksatria dan lain-lainnya.

Keindahan batini ini menghiasi rupa lahir sekalipun tidak indah. Orang yang memiliki  keindahan batin walaupun berpakaian bagus, kemuliaan dan kharisma akan terasa bila ruhnya tertanam sifat-sifat tersebut. Siapa yang melihatnya akan merasa enggan kepadanya dan siapa yang bergaul dengannya akan merasa nyaman. Barangkali anda pernah lihat orang yang secara fisik berkulit hitam, tidak elok tapi karena memiliki sifat-sifat terpuji dan rajin shalat malam maka dengan sendirinya akan terlihat bagus rupa, menyenangkan dan wajahnya bercahaya cemerlang.

Ana pernah melihat seseorang yang wajahnya bercahaya, yaitu guru Al-Qur’an ana ketika di SMA dulu. Masya Allah, wajah beliau tampak bersinar seperti bulan purnama..! Ketika mengajar di kelas, beliau tidak pernah marah sama sekali pada murid2nya. Yang paling ana ingat dari nasihat beliau adalah hasungan untuk selalu menjadi hamba yang bersyukur dan qana’ah.

Apa ya rahasianya agar wajah bisa bercahaya?

1. Rahasia pertama adalah berbuat kebaikan

“Sesungguhnya kebaikan itu membuahkan semburat cahaya di wajah, lentera di hati, meluasnya rezeki, kuatnya badan, rasa cinta di hati orang. Dan sungguh dalam keburukan terdapat kepekatan di wajah, kegelapan di kubur, kelemahan badan, kurangnya rezeki, dan kebencian di hati orang.” (Abdullah bin Abbas)

Kalau berdasarkan atsar Ibnu Abbas di atas, berarti salah satu penyebab wajah bercahaya adalah Berbuat Kebaikan. Orang yang suka berbuat baik, maka hatinya menjadi tentram dan akan keluar sebuah senyuman yang murni dan tulus dari hatinya yang baik. Kebaikan hati itu pun terpancar melalui wajahnya.  Ini terbukti ketika salah satu sahabat sejati ana memberi hadiah buah pisang.

Setelah memberikan hadiah itu, ana melihat wajahnya menjadi lebih berseri dari sebelumnya.. atau lebih bercahaya dari sebelumnya. Ini baru contoh kecil, bagaimana kalau kebaikan itu dilakukan terus-menerus? Anda bisa menebaknya sendiri.

2. Rahasia kedua adalah shalat tahajud

Ulama kharismatik kota Basrah, Al Hasan Al Basri pernah ditanya orang, “Kenapa orang-orang yang membiasakan diri salat tahajjud di malam hari mukanya tampah cerah, berseri-seri dan berwibawa?“Beliau menjawab, “Karena mereka selalu bercengkerama dengan Tuhan yang Maha Penyayang di kegelapan malam, maka Dia pun memberikan kepada mereka cahaya dari cahaya-Nya“.

Abdul Aziz bin Umair menggambarkan kecantikan dan kewibawaan orang yang rajin salat tahajjud dengan mengatakan, “Anda akan melihat cahaya kebesaran pada mereka, Anda juga akan melihat bekas-bekas pengabdian di antara kedua mata mereka. Sesungguhnya orang yang mau memutuskan sebagian kepentingan duniawinya. Demikian juga dengan orang yang memutus hubungan dengan-Nya, Allah juga akan memperlihatkan bekas-bekasnya kepadanya “.

Dalam kaitan ini Said bin Al Musayyab ra berkata, “Sesungguhnya orang yang selalu salat malam, Allah akan menjadikan pada wajahnya sinar, sehingga dia dicintai oleh seluruh umat, bahkan orang yang belum mengenalnya sekalipun. Orang akan berkata, “Aku sungguh menyenangi orang ini “.

Orang yang memiliki wajah bercahaya itu, waktu malamnya digunakan untuk bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia terbangun dari tidur yang menyelimutinya. Apabila siang menjelang, merekajauh dari kehidupan yang serba nikmat. Allah lah yang memberikan cahaya pada orang yang menggunakan waktunya dengan baik dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Yang matanya disibukkan dengan tangis karena merasa melakukan hal-hal yang diharamkan. Lisannya tertahan -dalam diamnya- dari hal-hal yang menghancurkan. Tangannya tertahan, karena takut terjerumus syahwat. Langkahnya terkendali dengan muhasabah.

3. Rahasia ketiga adalah berwudhu

Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)

Dapat dipastikan tak ada satu produk kecantikan pun yang mampu menandingi cahaya yang terpancar dari wajah orang-orang yang terjaga wudhu’nya. Karena cahaya dari air wudhu tak hanya dirasakan di dunia tapi di hari kiamat pun mereka akan mudah dikenali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits, “Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tahukah kalian bila seseorang memilki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya diantara kuda-kuda yang yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya? Para shahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata: “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu’ mereka.” (HR. Mslim no. 249)

4.Rahasia keempat adalah berpuasa

Beberapa tahun lalu salah seorang muslimah melihat seorang wanita yang memancarkan wajah yang berbeda dari wanita lain. Orang-orang senang dengan kehadirannya dan merasa kehilangan ketika dia tidak ada. Sebenernya wajah wanita itu biasa saja bahkan berkulit hitam. Awalnya muslimah itu mengira hanya dia yang mempunyai prasangka tentang pancaran wajahnya. Ternyata temen-temannya pun menyatakan hal yang sama. Dia pun berusaha untuk mencari tahu. Apa yang membuat wajah wanita ini begitu menarik.

Muslimah itu curiga, dia pasti melakukan ibadah sunah secara rutin. Ketika ada kesempatan, hal itu ditanyakan kepadanya. Awalnya wanita yang memiliki wajah bercahaya itu tidak mau menjawab. Setelah didesak, dia baru mengaku bahwa selama lima tahun, dia terus menerus puasa senin-kamis dan apabila haid pada hari itu,dia menggantinya dengan puasa daud. Wanita ini juga hampir setiap malam salat tahajud. Luar biasa. Ini adalah salah satu bukti, bahwa kedekatan kita kepada Allah akan menimbulkan pancaran keagungan wajar karena apa saja yang mendekati sumber cahaya, dia akan terkenan pancaran cahaya.

= = = = =

Masya Allah, ternyata ketaatan seorang hamba dapat terlihat pada wajahnya. Apakah Anda ingin wajah Anda bercahaya?

http://www.facebook.com/note.php?note_id=133476176732038

http://www.facebook.com/notes/tahajjud-community/indahnya-berkah-shalat-tahajjud/137587409607309

http://titah-motivasihatinurani.blogspot.com/2011/06/wajah-bercahaya.html

= = = =

Wajah yang Tak Bercahaya

Ada seorang ustadz melihat seorang pemuda. Beliau merasa aneh dengan wajah pemuda tadi, lalu dipanggillah pemuda tadi, “Nak ke sini!”

Setelah mendekat, pemuda tadi ditanya, “Jawab dengan jujur, kamu sholat apa tidak?”

Pemuda itu menjawab dengan pelan dan agak takut2, “Tidak, ustadz.”

“Sudah berapa lama?”, ustadz itu bertanya lagi.

“Sudah lama, Ustadz. Saya sudah tidak sholat sejak SMP, SMA, hingga kuliah.”, jawab pemuda itu.

Lalu ustadz melanjutkan, “Mungkin saat itu tidak ada yang menasihati kamu. Baiklah, sekarang kamu sudah diberitahu. Apakah kamu mau sholat lagi?”.

“Ya, ustadz. Saya bertaubat, saya mau sholat lagi.”

= = = =

Masya Allah, bagaimana ustadz itu tahu ya.. kalau pemuda itu sudah lama tidak sholat.. Beberapa tahun sebelumnya, ana mengikuti kajian di sebuah masjid. Ustadz pemateri juga tahu bahwa salah satu yang menghadiri kajiannya adalah orang yang rajin melakukan puasa Daud, dengan melihat wajahnya saja. Masya Allah..

 

MEMINTA MAAF tidak membuat kita HINA….

MEMBERI MAAF jangan menjadikan kita BANGGA….

Tapi MAU MEMAAFKAN yang membuat kita MULIA…

Semoga Allah pun MENGAMPUNI KITA….

Sahabatku,

Mau mengakui kesalahan, mau meminta maaf itu berat, lebih berat lagi bagi orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya. Jangan merasa gengsi untuk mengucap “maaf”. Jangan malu untuk mengakui kesalahan. Dan jangan kikir untuk memberi maaf pada orang lain.

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan….adalah orang yang mau bertaubat kepada Allah SWT, mau meminta maaf kepada orang yang telah didholimi, dan mau mengakui kesalahan disertai tekad untuk tidak mengulanginya.

Hati laksana kaca, kemaksiatan dan dosa adalah noda yang mengotorinya, sedangkan istighfar dan taubat adalah kain lap yang bias dipakai untuk membersihkan kaca dari noda yang mengotorinya.

Para Salafush shalih adalah manusia dengan hati yang bening, sebening kaca yang setiap saat dilap oleh pemiliknya. Seperti apa kehidupan mereka?

Berikut cuplikannya :

Abu Muhammad al-Mawarzy, setelah 3x menolak permintaan Mus’ab bin Ahmad
untuk menemaninya perjalanan ke Baghdad menuju Mekkah yang akhirnya mengizinkannya dengan satu syarat, salah seorang dari mereka harus menjadi amir
safar sementara yang satu tidak boleh menyelisihi amir.

Merasa lebih muda dan tidak lebih baik, Mush’ab bin Ahmad meminta Abu
Muhammad supaya menjadi amir. Namun, hal ini menjadi boomerang bagi Mus’ab.

Setiap kali tiba waktu makan, Abu Muhammad selalu mendahulukannya, memilihkan
makanan yang terbaik untuknya. Ketika Mus’ab mau menolak kebaikan Abu
Muhammad, ia mengingatkan janji Mus’ab untuk taat. Apa boleh buat, dengan
sesal yang menyesakkan dada. Mus’ab pun menerima kebaikan Abu Muhammad.

Suatu saat mendung menggelayut di langit. Abu Muhammad memerintahkan Mus’ab
untuk mencari batu besar dengan ceruk yang biasa dipakai untuk berlindung dari
para musafir saat hujan turun. Setelah menemukannya. Mus’ab mempersilakan Abu
Muhammad untuk mengambil posisi berlindung. Tetapi, sebaliknya Abu Muhammad
memerintahkan Mus’ab untuk lebih dulu mencari posisi berlindung dari hujan
yang mulai turun dengan lebatnya. Ketika Mus’ab mau menolak kebaikan Abu
Muhammad, ia mengingatkan janji Mus’ab untuk selalu menuruti apa yang
dikatakannya, dan lagi-lagi Mus’ab tidak bias menolaknya. Sudah begitu, Abu
Muhammad melindunginya dengan tubuh dan kedua tangannya yang direntangkan.

Hari itu Mus’ab benar-benar menyesal telah memaksa Abu Muhammad untuk
menemani perjalannya sebagai amir.

Aku Malu pada Tuhanku

source : dari sebuah milis

Ketika aku di bangku kuliah dan tengah menyelesaikan tugas skripsiku, ada beberapa kejadian yang aku alami, yang seringkali tanpa sadar aku berucap ”Gila … Kebetulan Banget …”. Kebetulan-kebetulan itu menghampiriku sejak aku memutuskan untuk memulai proses pembuatan skripsiku.

Kebetulan pertama, terjadi ketika aku mengambil form pengajuan judul skripsi di kantor sekretariat jurusan.  Pada saat mengambil Form tersebut, petugas yang melayani memberikan informasi bahwa Rapat penentuan Judul akan dilakukan besok siang, jadi kalau mau diikutkan, maka Form Pengajuan Judul harus diserahkan paling lambat sore ini.  Aku terkaget-kaget mendengar berita tersebut,. Karena umumnya proses sejak pengajuan judul sampai keluar persetujuan judul dan penetapan dosen pembimbing, paling cepat akan selesai dalam jangka waktu 2 bulan.  Mendapat info penting tersebut, tentu saja aku sikapi dengan segera mengisi Form Pengajuan Judul dan mencari Dosen Pembimbing Akademis untuk mendapatkan persetujuan Pengajuan Judul.

Kebetulan Kedua, ternyata Dosen Pembimbingku pada hari itu standby di tempat dan bersedia menandatangani Form Pengajuan Judul yang aku buat dan setelahnya segera menyetorkan kepada bagian pendaftaran pengajuan Judul Skripsi.  Akibat 2 kebetulan tersebut, dalam jangka waktu 2 hari tertempel di papan pengumuman fakultas bahwa Aku termasuk diantara mahasiswa yang sudah mulai dapat melakukan penyusunan skripsi.  Semua kawan-kawanku terheran-heran, karena proses pengajuan dan persetujuan yang demikian cepat yang terjadi pada diriku.

Kegiatanku kemudian berlanjut dengan proses penelitian lapangan, seminar judul, dan seminar hasil penelitian.

Ketika aku selesai melakukan kegiatan seminar hasil penelitian, aku mengalami kebetulan yang ketiga.  Secara alur, jika telah selesai melakukan seminar hasil penelitian, maka jika ada koreksi atas laporan hasil penelitian,  dilakukan koreksi yang dianggap perlu dan proses berlanjut dengan UJIAN SKRIPSI atau yang sering dikenal dengan Sidang Skripsi.  Kebetulan yang aku alami adalah ketika selesai seminar hasil penelitian, Doktor yang menjadi pembimbingku dengan ringan mengatakan bahwa aku harus memperbaiki beberapa catatan yang dihasilkan dari kegiatan seminar dan memberikan jeda waktu 2 minggu untuk pertemuan selanjutnya.  Padahal aku berharap aku diberikan waktu jeda hanya 1 minggu agar aku dapat melakukan Sidang Skripsi di hari ke 10 sejak seminar hasil penelitian selesai aku lakukan.  Aku harus mengejar Sidang Skripsi maksimal di hari ke sepuluh karena aku ingin sekali masuk ke dalam rombongan Wisudawan yang akan diwisuda pada Wisuda Bulan April 1995 yang artinya aku dapat masuk menjadi nominasi Wisudawan Tercepat di angkatanku.  Kebetulan aku menjadi mahasiswa angkatan tahun 1991, sehingga bila dapat diwisuda pada bulan April 1995, maka aku dapat menyelesaikan masa kuliahku dalam tempo 3,8 tahun dan menjadi satu-satunya wisudawan di angkatanku yang diwisuda pada bulan April 1995.

Keputusan Doktor pembimbing skripsiku untuk memberikan jeda selama 2 minggu, aku pastikan akan memupuskan harapanku untuk menjadi wisudawan tercepat di angkatanku.  Namun rupanya Kebetulan ketiga datang menghampiriku.  Ketika aku berada di kantor sekretariat Jurusan, Sekretaris Jurusan menanyakan kepadaku sudah sampai mana proses skripsiku.  Penuh semangat aku jelaskan kepada Sekretaris Jurusan tentang peluangku untuk menjadi wisudawan tercepat bila Dosen Pembimbing Skripsiku memberikanku jeda waktu 1 minggu untuk pertemuan berikutnya. Usai mendapatkan ceritaku, Sekretaris Jurusan kemudian bergegas ke ruangan Doktor yang menjadi pembimbing skripsiku. Entah apa yang ia sampaikan kepada Doktor pembimbingku, lima belas menit berselang Doktor pembimbing skripsiku memanggilku dan meminta aku menyempurnakan hasil penelitianku dan siap untuk Sidang Skripsi di hari ke 8 sejak seminar hasil penelitianku.  Tentu saja keputusan yang amat membahagiakanku dan bergegas aku kembali ke asramaku untuk menyelesaikan penyempurnaan skripsiku.

Akhirnya hari Sidang Skripsiku tiba. Aku dijadwalkan untuk sidang skripsi pada pukul 11.00 Wib dan aku harus siap di ruang jurusan dua jam sebelumnya.  Tatkala menunggu jadwal sidang, Kebetulan Ke-Empat menghampiriku.  Saat itu teman satu angkatanku menghampiriku dan menyampaikan cerita bahwa baru saja jam kuliah statistiknya dipercepat, dan sang dosen menyampaikan didepan kelas bahwa kelas hari ini dipercepat karena akan melakukan pengujian skripsi untuk salah seorang mahasiswa seraya menyebut namaku. Sang Dosen yang kebetulan menjadi Dosen Penguji Skripsiku selanjutnya mengatakan bahwa ia akan mengajukan pertanyaan pertama berupa pertanyaan mudah yang seringkali tidak dapat dijawab oleh Mahasiswa yang sedang sidang skripsi.  Pertanyaannya adalah apa Masalah yang diangkat dalam skripsi dan apa Permasalahan yang diangkat dalam skripsi. Mendengar informasi yang sedemikian, tentu saja aku bergegas mencari dalam buku catatan yang aku miliki untuk mengetahui dasar teoritis mengenai Masalah dan Permasalahan .  Kedua istilah itu memang cukup membuat bingung mahasiswa yang sedang berada di ruang ujian skripsi jika tidak ingat landasan teorinya.  Karena Faktor Kebetulan Ke-Empat inilah yang akhirnya menyelamatkanku di ruang sidang skripsi. Aku dapat menjawab dengan baik pertanyaan sang dosen pada saat mengujiku. Dan pertanyaan pertama sang dosen pada waktu itu adalah …. apa Masalah dan Permasalahan dalam skripsimu ?  Pertanyaan yang bisa aku jawab sempurna karena Faktor Kebetulan yang menghampiriku …

Sidang Skripsi berhasil aku lalui dengan baik.  Aku dapatkan nilai A untuk sidang skripsiku.  Proses selanjutnya adalah melakukan pengurusan administrasi untuk dapat mengikuti Wisuda di Periode Bulan April 1995 dan memuluskan jalanku untuk menjadi wisudawan tercepat diangkatanku.

Namun, lagi-lagi proses menuju ke pendaftaran wisuda berjalan penuh tantangan. Proses administrasi yang rumit yang harus aku selesaikan dalam jangka waktu minggu menghadapi situasi yang menegangkan di hari terakhir pendaftaran wisuda.  Pada hari terakhir pendaftaran, aku masih harus mengejar Tanda Tangan Pembantu Dekan I Bidang Akademis.  Saat menuju ruangan sang Pembantu Dekan, ternyata sang Dekan sedang mengikuti Rapat Pimpinan, sehingga aku harus menunggu rapat selesai. Aku menunggu hingga pukul 14.00 Wib dan sang Pembantu Dekan belum menyelesaikan rapatnya.  Padahal pukul 15.00 Wib  adalah batas terakhir pendaftaran wisuda.  Di tengah waktu yang sangat genting tersebut, Kebetulan Kelima datang.  Pada saat genting itu ternyata  datang Dosen Pembimbing Akademisku yang berjalan ke arahku dan menanyakan  siapa yang aku tunggu.  Aku jelaskan situasiku dan dengan santai dosen pembimbing akademisku mengambil map-ku dan membawa masuk ke ruang Sang Pembantu Dekan.  Tak sampai 5 menit, sang dosen keluar dari ruangan Pembantu Dekan dan memberikanku Map yang sudah ditandatangan lengkap dengan secarik Memo : ”Harap Proses Utk Wisuda – Tertanda PD-I ”

Ah …. akhirnya aku bisa wisuda dan merasakan kebanggaan bahwa aku berhasil menjadi Wisudawan Tercepat diangkatanku dengan Indeks Prestasi Sangat Memuaskan.

Ketika mengingat Lima Kebetulan yang terjadi pada diriku di saat masa-masa penyelesaian skripsiku.  Hari ini aku baru mengingat kesalahanku, bahwa pada waktu itu, sesungguhnya bukanlah Kebetulan yang terjadi.   Tetapi adalah kenyataan bahwa Allah SWT ternyata begitu sayang kepadaku dan tetap melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya kepadaku, walaupun aku jarang berkunjung kepada-NYA dan jarang mengucapkan Nama-NYA.  Hari ini aku malu kepada-NYA.

MANGKUK CANTIK, MADU,

dan SEHELAI RAMBUT

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar r.a, ‘Umar r.a, ‘Utsman r.a, dan ‘Ali r.a, bertamu ke rumah ‘Ali r.a. Di rumah ‘Ali r.a, istrinya yaitu Fathimah r.ha (putri kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abu Bakar r.a berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar r.a berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

‘Utsman ra berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

‘Ali ra berkata, “Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit daripada meniti sehelai rambut”.

Fathimah ra berkata, “Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali mahramnya itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Malaikat Jibril ‘alahis salam berkata, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, meyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Seorang yang suka membaca Al-Qur’an itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik, mempelajari dan menghayati isi Al-Qur’an bersama-sama itu lebih manis dari madu, memelihara Al-Qur’an di dalam dada hingga akhir hayat itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.

Hati yang cantik itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik, mendapatkan lelaki (wanita) yang sholih (sholihah) itu lebih manis dari madu, mendidik anak menjadi generasi terbaik pada zamannya itu lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.


Arsip

Statistik Blog

  • 595,312 hits