Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘keluarga’ Category

Alhamdulillaah, hari ini -Senin, 24 Maret 2014- adalah hari ketujuh dari hari kelahiran putra pertama kami. Hari ini kami mengadakan aqiqah dan mencukur rambut buah hati kami, sekaligus memberinya nama. Pembagian daging aqiqoh terutama dilaksanakan di dua tempat, yaitu di tempat tinggal kami di Sragen, dan di tempat orang tua kami di Karanganyar. Selebihnya dibagikan pula kepada kerabat dekat, sahabat, para guru -ustadz/ustadzah- yang pernah mengajar.. memberikan ilmunya dengan ikhlas kepada kami.. serta kepada orang2 yang telah memberikan banyak jasanya kepada kami.

Orang tua yang baik tentu menginginkan anaknya menjadi orang yang istimewa di masa depan. Untuk itu, mereka akan selalu mendoakannya demi keberhasilan dan kesuksesannya. Salah satu doa itu tercermin dari nama yang diberikan pada anak tersebut.

Setelah bermusyawarah dan membaca beberapa buku dan rujukan, alhamdulillah akhirnya kami bersepakat untuk memberi nama buah hati pertama kami dengan nama: Shuhaib Shafiyyurrahman… :). Tentu ada latar belakang di balik pemberian nama tersebut. Nama pertama: Shuhaib.. adalah nama pemberian dari ibunya, sedangkan Shafiyyurrahman.. adalah nama pemberian ayahnya.

Mengapa dinamakan Shuhaib?

Karena saat menghafal al-Qur’an, ibunya sangat mengagumi sebuah ayat dalam kitabullah, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 207. Kemudian, setelah membaca tafsir dan asbabun nuzulnya, kekaguman itu semakin bertambah dan bertambah.. dan tiada habis2nya hingga sekarang. Subhanallah..  betapa beruntungnya orang yang dimaksud dalam ayat tersebut. Apalagi ayat itu diakhiri dengan nama/sifat Allah yang sangat indah dan menentramkan hati.. Wallaahu Ro-uufun bil ‘ibaad.. Dan Allah Maha Penyantun pada hamba-hamba Nya.. 🙂 Siapakah orang yang dimaksud dalam ayat tersebut? Dia adalah Shuhaib bin Sinan Ar-Rumy.. 🙂

Shuhaib bin Sinan adalah seorang sahabat Nabi yang memiliki hati dan budi pekerti yang mulia. Dia termasuk As-Sabiquna Al Awwalun dan pejuang perang Badar dan perang Uhud. Selain itu, dia sosok yang terpandang dan berwibawa. Rasulullah sangat menyayanginya, lantaran keshalehan dan ketakwaannya. Dalam pergaulan, ia termasuk orang yang periang dan menyenangkan. Ia bisa diterima oleh semua sahabat dan kalangan.

Sahabat yang sangat mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ini dikenal taat beribadah, mudah bergaul, periang dan sangat dermawan. Sejarah mencatat, Shuhaib bahkan sering menghabiskan gajinya yang diperoleh dari baitulmal untuk membantu orang-orang membutuhkan. Yaitu fakir miskin, anak yatim, dan para tawanan perang.

Shuhaib selalu tampil dekat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, terutama dalam setiap peristiwa penting. Ia memiliki keahlian serta kemahiran dalam memanah dan lempar lembing. Ia tidak pernah membiarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berada dalam posisi antara dirinya dengan musuh. Begitulah kesetiaan Suhaib hingga Rasulullah wafat.

Betapa indahnya, kata-kata yang terucap oleh Shuhaib bin Sinan, sebagai bukti rasa tanggung jawabnya sebagai seorang Muslim yang telah berbai’at kepada Nabi.

“Tidak ada suatu perjuangan bersenjata yang diterjuni Rasulullah, kecuali pastilah aku menyertainya. Dan tidak ada suatu bai’at yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya. Dan tidak ada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya, kecuali aku termasuk sebagai anggota rombongannya. Dan tidak pernah beliau bertempur baik di masa-masa pertama Islam atau di masa-masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan Kaum Muslimin di hadapan mereka pasti aku akan menyerbu paling depan, demikian pula kalau ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku akan mundur ke belakang serta aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rasulullah berada dalam jangkauan musuh sampai ia kembali menemui Allah…!”

Itulah, kata-kata yang terucap dari mulut Shuhaib bin Sinan. Bukankah hal ini menunjukkan gambaran akan keimanan yang istimewa dan kecintaan yang luar biasa atas Rasul-Nya?

Mengapa dinamakan Shafiyyurrahman?

karena ayahnya berharap.. kelak salah satu spesialis keilmuan yang ia kuasai adalah Sejarah Kenabian. Shafiyyurrahman adalah nama ulama yang mengarang kitab Ar Rahiqul Al Makhtum, Sirah Nabawiyah yang menjadi Juara I Lomba Penulisan Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan oleh Rabithah Alam Islami dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Selain itu, ketika buah hati pertama kami lahir, ia tidak menangis. Awalnya kami khawatir, mengapa tidak menangis? Apakah ia masih hidup di dunia ini? Ibunya memanggilnya beberapa kali agar ia bangun.. “Bangun sayaaang.. banguun..!”. Alhamdulillah, tidak lama kemudian ia membuka kedua matanya, dengan pandangan mata yang sangaat jernih.. Oleh karena itu ia diberi nama Shafiyyurrahman.. seseorang yang memiliki mata yang jernih pemberian dari Ar-Rahman. Semoga jernih pula akalnya dan jernih pula hatinya. Aamiin.. Inilah doa dari kami untuknya melalui nama yang indah yang kami pilihkan untuknya.. 🙂

 

Oleh: Ummu Ayyub

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan

tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan….

Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita?

Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita bangga-banggakan itu,?”

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa

padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup,…!

siapakah yang mendoakan kita kalau bukan anak-anak kita?”

“Tunggu saja saatnya peristiwa dan kejandian itu pasti akan datang,…?? “

Ingatlah akan pesan Nabi. Saw..

Jika seorang manusia meninggal dunia, maka pahala amalnya terputus, kecuali tiga hal:

  shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.”

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut dinas keluar kota bahkan terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara:Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’?… dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a’lam

Bismillah..

Jangan hanya kagum dengan kejeniusan Imam Asy-Syafi’i

Jangan hanya kagum pada kekuatan hafalan Imam Bukhari

Jangan hanya kagum pada kezuhudan Umar bin ‘Abdul ‘Aziz

Jangan hanya kagum pada keshalihan Hasan Al-Bashri

Tapi mari kita renungkan pula..

Sebenarnya apa rahasianya di balik keberhasilan mereka?

Siapakah gerangan di balik mereka?

Di balik pria yang agung, ada wanita agung di belakangnya.

Jika ada lelaki yang menjadi ulama cendikia, tokoh ternama, pahlawan ksatria, maka lihatlah siapakah wanita di baliknya. Salah satu ‘pencetak lelaki sejati’ itu adalah ibu karena ibu memiliki peran besar dalam membentuk watak, karakter, dan pengetahuan seseorang. Perhatikanlah, bagaimana ibu hebat itu mendidik anak-anaknya.

Semenjak awal pertumbuhan, jiwa seorang anak sangat lembek dan lentur. Ia bisa menerima bentuk dan pola tabiat yang bermacam-macam. Tidak hanya itu, kecerdasan otak dan daya khayal yang tinggi (yang mampu merekam setiap apa yang dilihat dan didengar) dengan begitu mudah dimiliki anak-anak. Pembentukan karakter anak tersebut sangat dipengaruhi oleh sosok pribadi pengasuh dan pendidik. Di antara pengasuh dan pendidik itu adalah ibu.

Mengapa ibu?

Karena ibu lah yang memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama si kecil. Ketika sang ayah sibuk diluar rumah, ibulah yang dengan penuh kesabaran mendampingi anak mencapai tumbuh kembangnya.

Ibu adalah ustadzah pertama, sebelum si kecil berguru pada ustadz besar manapun. Maka kecerdasan, keuletan, dan perangai sang ibu adalah faktor dominan bagi masa depan anak. Jika seorang ibu memainkan perannya dengan baik, maka kelak -dengan izin Allah- ia dapat memetik buah manisnya dari sang anak berupa ketaatan, birrul walidain, dan kesuksesan.

Ibu, dengan kasih sayangnya yang tulus, merupakan tambatan hati si kecil dalam menapaki masa depannya. Ketika si kecil merasa sedih, susah, takut, tidak percaya pada kemampuan diri, maka ibunyalah yang memberi semangat untuk terus maju dan berjuang. Senyumannya, belaian sentuhan tangannya yang hangat, kata-kata dan nasihatnya mengobarkan semangatnya. Tangannya yang senantiasa menengadah ke atas, disertai doa dan deraian air mata merupakan salah satu kunci kesuksesannya di hari esok.

= = = =

Seorang ibu, tangan kirinya menggendong anak, tangan kanannya.. Mengguncang Dunia..!!

Bismillah..

MEMILIHKAN IBU YANG SHOLIHAH

Umar bin Khotob berkata:”Hak anak atas orang tuanya adalah meilihkan ibu yang sholihah, mengajarkan Al Qur’an dan memilihkan nama yang baik”.(Kaifa Turobbi waladan sholihan oleh Al Maghribi).

Seorang ibu yang sholihah amatlah penting karena ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak pada masa-masa balita. Inilah kesempatan untuk menanamkan aqidah keislaman dalam diri anak-anaknya dan mereka didik sang permata hati untuk cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta menjauhkan diri dari kemaksiatan dan akhlaq yang rusak.

Perkembangan pengetahuan baru mengenai mendidik anak sejak dalam kandungan, menjadi sebuah bukti betapa kualitas seorang Ibu, mempengaruhi kualitas sang anak. Selama dalam kandungan, apa yang dimakan Ibu itu pula yang dimakan anak, apa yang biasa dimakan Ibu itu pula yang membuat anak akrab dengan rasa makanan serupa, perasaan seperti apa yang biasa muncul pada Ibu cenderung akan biasa muncul pula pada anak, bagaimana akhlak Ibu maka anakpun cenderung memiliki akhlak serupa.

Keberadaan seorang ibu sholihah sangat diperlukan. Seorang ayah yang shalih tidak akan mampu sendirian mengamankan bentengnya. Keduanya harus bersama-sama menjaga putra dan putri mereka. Sejumlah kaum lelaki dikerahkan untuk membangun masyarakat Islami akan sia-sia jika tidak mengikut sertakan kaum wanitanya. Karena, merekalah para penjaga tunas masa depan (generasi).”

Rasulullah saw. berpesan, “Pilihlah (calon istri) untuk menyemaikan benih (keturunanmu) karena wanita itu akan melahirkan anak menyerupai saudara-saudaranya!” Rasulullah saw. juga bersabda, “Pilihlah untuk (meletakkan) benih (keturunan)-mu pada tempat-tempat yang baik (shalihah)!” [Dari Aisyah, diriwayatkan oleh Daruquthni]

BERJIWA PENDIDIK

Ibu yang baik, akan menjadi guru bagi anak-anaknya. Ibu merupakan sekolah bagi anak-anaknya. Anak akan menyerap semua dari kebiasaan ibunya. Anak bukan sekedar menyusu asinya, tapi juga menyusu akhlak dan kepribadian ibunya. Maka penyair arab mengatakan:

Ibu adalah sekolah

Jika engkau menyiapkannya

Maka engkau telah menyiapkan generasi yang baik dan tangguh

Ibu adalah penentu dan pengukir kepribadian  anak-anaknya. Kalau dia mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya, maka dia telah mengukir kebaikan kepada anak-anaknya. Begitu juga sebaliknya. Maka sebagian para ulama’ mengatakan mendidik itu seperti menanam benih. Orang yang akan menanam tentu akan memilih lahan yang gembur agar tanamannya subur, tumbuh dengan lebat dan berbuah dengan memuaskan. Demikian juga mendidik anak, maka kita disuruh untuk memilihkan ibu yang cerdik dan pandai lagi sholihah.

Suami juga harus memperhatikan pengetahuan yang dimiliki istrinya. Dengan bekal pengetahuan, istri akan dapat mengatur urusan rumah dan mendidik anak dengan baik. Oleh karena itu wanita harus -mencari bekal ilmu dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk membantunya menjalankan fungsi seorang istri dan ibu. Bak kata pepatah, “Lelaki dan perempuan itu bagaikan sebait puisi, harus ada keserasian dan kecocokan.” Serasi dan cocok dalam cara pandang dan pemikiran. Meskipun hal ini pun membutuhkan waktu, karena masa mengenal itu membutuhkan waktu.

Seorang pendidik yang berhasil mempunyai sifat atau ciri-ciri yang jika setiap dari sifat tersebut bertambah maka akan bertambah pula keberhasilan ia dalam mendidik anak-anak tentunya juga dengan taufiq bantuan Allah swt. Adapun sifat atau ciri-ciri seorang pendidik antara lain:

  1. berilmu.
  2. amanah (bertanggung jawab).
  3. kuat.
  4. adil.
  5. berkeinginan besar.
  6. konsisten.
  7. baik.
  8. jujur.
  9. penuh hikmah.
  10. sabar.

Sebagai penutup, wanita shalihah adalah harta simpanan yang hakiki dunia lan akhirat bagi seorang lelaki. Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah ladits dari Tsauban yang berkata, “Tatkala turun ayat, ‘Orang- orang yang menimbun emas dan perak dan tidak dikeluarkan (zakatnya) di jalan Allah. . . ,’ [At-Taubah: 34] kami sedang dalam perjalanan bersama Rasulullah saw. maka sebagian sahabat ada yang berkata, Ayat ini turun berkenaan dengan emas dan perak. Jika kami tahu ada harta yang lebih baik lagi (yang boleh disimpan) kami akan mencarinya.’

Maka Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik harta (simpanan) adalah lisan ;yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur dan istri shalihah yang bisa mendukung keimanan seorang mukmin’ . ”

Diringkas dari berbagai sumber..

= = = = =

Jika Anda melihat seseorang yang berhasil, maka perhatikanlah, siapa dulu ibunya.. 🙂

(insya Allah ana akan posting lagi artikel seputar ibu yang hebat.. 🙂 )

Bismilah..

Alhamdulillah, hari Sabtu kemarin, tepatnya 18 Juni 2011 adalah penerimaan raport adik-adik ana. Hasilnya menggembirakan, alhamdulillah.. Adik-adik ana mendapat juara 1 lagi di kelasnya, yaitu Ahmad Yanuar dan Umar Said. Merka mendapat hadiah dari ayah berupa sejumlah uang sebagai penghargaan pada mereka. Tentu mereka senang sekali. Hanya saja ayah tidak memberikannya secara langsung, diberikan secara bertahap agar uangnya tidak habis untuk jajan.. 🙂

Adik ana yang lain yang bersekolah di SMK IT Informatika, nilainya cukup bagus, sebagian besar di atas KKM, tapi dia masih kalah dibandingkan teman-temannya. Nilai paling rendah adalah Matematika, mungkin merasa Matematika itu sulit (sama sepertiku dulu ketika SMP, pelajaran paling sulit adalah Matematika, tapi karena merasa sulit, maka harus lebih gigih belajarnya).

Sedangkan adik ana yang di MTs nilainya banyak yang turun. Kenapa ya? Karena masih suka main dan belum bisa konsentrasi dengan baik.. Selain nilainya banyak yang turun, bahkan ada pelajaran yang harus diremidi! Meski demikian, ana menyemangati adik agar tetap semangat dan sungguh-sungguh belajar untuk mengerjakan remidinya pada pekan berikutnya. Alhamdulillah berhasil, dengan rayuan kata-kata dan sedikit makanan akhirnya adik aktif lagi mencari bukunya untuk belajar.. 🙂 Meskipun nilainya banyak yang jelek, entah kenapa ana punya feeling adik ana yang ini nanti bisa menjadi orang yang sukses terutama dalam perniagaan. Karena dari kecil ia sudah bisa menjual barang dan jasa tenaganya sendiri sehingga bisa mendapatkan tambahan uang untuk beli jajanan.. 🙂

= = = =

Allahumma, laa ‘ilma lanaa ilaa maa ‘allamtanaa..

Ya Allah, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.

♥ Menurut penelitian ilmiah terbaru, anak-anak dapat dididik sejak masih dalam kandungan, karena selama dalam kandungan, otak dan indra pendengaran anak sudah mulai berkembang, mereka dapat merasakan apa yang terjadi di luar kehidupan mereka, sementara yang mempengaruhi otak dan indera pendengaran bayi di dalam kandungan antara lain emosi dan kejiwaan ibu, rangsangan suara yang terjadi di sekitar ibu.

♥ Kisah Nabi Zakaria Dia telah memberikan stimulasi pendidikan pada anak pralahir yaitu anak yang dikandung oleh istrinya, (Q.S. Maryam, 19: 10-11). Di dalamnya dijelaskan bahwa pelayanan stimulasi pendidikan yang dilakukan oleh Nabi Zakaria telah membuahkan hasil yang yang bagus, yakni anak yang memiliki kecerdasan tinggi dalam memahami hukum-hukum Allah. Selain itu digambarkan pula bahwa anak yang dikaruniai itu adalah sosok yang terampil dalam melaksanakan titah Allah, memiliki fisik yang kuat, sekaligus seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, (Q.S. Maryam: 12-15). Bahkan, kemudian anak tersebut dipercaya dijadikan pewaris tunggal orang tuanya yakni tugas kenabian.

♥ Kisah Nabi Adam Tatkala usia kandungan bertambah besar dengan merasakan kepayahan dan keberatan. Saat itulah, Siti Hawa dengan sedih mengadu kepada suaminya. Kondisi ini membuat Adam a.s. beserta istrinya bersama-sama memohon kepada Allah dengan sebuah doa yang sangat filosofis yaitu,”… Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” (al-A’raaf: 189).

♥ Memperhatikan anak ketika dalam kandungan juga berlaku untuk ayah karena sel-sel yang ada pada janin adalah perpaduan sel antara Bapak dan Ibu.

♥ Setelah bayi lahir, orang tua terutama ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anaknya, juga sebagai basis pendidikan moral dan agama serta pelestari nilai-nilai luhur. Jadi harus benar-benar memperhatikan trik dalam mendidik anak.

♥ Anak dalam kandungan dapat belajar tetapi tidak seperti orang dewasa (F. Rene Van de Carr, M.D.) Bayi dalam kandungan dapat merasakan, mendengar dan melihat (Fang Hui Hui/epochtimes/prm).Beberapa penelitian juga menyampaikan bahwa mereka mengetahui antara yg terang dan gelap. ♥ Anak dalam kandungan, cara belajarnya jauh lebih mendasar. Ketika orang tuanya (khususnya sang Ibu) mengajarkan kata-kata kepada bayi dalam kandungannya, ia hanya mendengarkan bunyinya sambil mengalami sensasi tertentu. Misalnya, tatkala si Ibu mengatakan “tepuk”, anak dalam kandungan mendengar bunyi “t-e-p-u- dan k”, karena pada saat yang bersamaan si ibu menepuk perutnya. Kombinasi bunyi dan pengalaman ini memberi kesempatan bagi anak dalam kandungan untuk belajar memahami hubungan tentang bunyi dan sensasi pada tingkat pengenalan praverbal.

♥ Ketika sang ibu membaca ayat-ayat al-Qur’an sambil mengelus-elus dinding perutnya, maka sesungguhnya sang bayi dalam kandungan juga mendengar lantunan ayat Al-Qur’an tersebut sekaligus merasakan sensasi getarannya.. 🙂  Dan dalam beberapa kondisi, sang bayi membalas getaran tersebut agar kelak mudah dalam mempelajari Al-Qur’an.

♥ Jika hal tersebut dilakukan berulang-ulang, maka firman Allah: QS: Al-Anfal: 2 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. Adalah bukti!!!

Pada saat kandungan itu telah berusia lima bulan/setara dengan 20 minggu, kemampuan anak dalam kandungan untuk merasakan stimulus telah berkembang dengan cukup baik sehingga proses pendidikan dan belajar dapat dimulai atau dilakukan.

♥ Keistimewaan pendidikan pralahir. Apa saja keistimewaannya? Antara lain: peningkatan kecerdasan otak bayi, keyakinan lestari pada diri anak saat tumbuh dan berkembang dewasa nanti, keseimbangan komunikasi lebih baik antara anak dengan ortu-nya, anggota keluarganya dan atau dengan lingkungannya, stimulasi pralahir dapat membantu mengembangkan orientasi dan keefektifan bayi dalam mengatasi dunia luar setelah ia dilahirkan, lebih mampu mengontrol gerakan2 mereka, anak lebih tenang, waspada dan bahagia…De el el… Udah terbukti dari berbagai hasil penelitian.

http://najwazuhur.wordpress.com/2010/02/24/pengajaran-al-quran-sejak-dalam-kandungan/

Bismilah..

Alhamdulillah, hari ini adalah hari penerimaan raport adik-adikku selama semester ini. Sesampai rumah setelah pulang dari kajian, aku diberitahu kalau adik-adik mendapatkan hasil yang memuaskan. Dua adikku, Ahmad Iskandar (kelas 5) dan Umar Said (kelas 3) mendapat peringkat satu di kelasnya, di MI Sudirman. Alhamdulillah.. Ini berita yang baik.. Aku ikut senang..

Tapi adikku yang lain, Fitri, yang bersekolah di SMK IT Smart Informatika belum berkesempatan mendapat peringkat satu, padahal -secara tidak sengaja- kubaca di salah satu buku hariannya, ia punya keinginan untuk mendapatkan rangking satu, bukan hanya di kelas, tapi di sekolah. Wow, cita-cita yang bagus dan optimis!!..

Kulihat nilai-nilai ujian semesternya bagus-bagus, kebanyakan dapat nilai 90 ke atas, bahkan ada yang dapat nilai 100. Tapi.. ada juga yang dibawah 80. Aku berkata kepadanya, “Dik, kalau mau jadi rangking satu paralel, harus unggul dalam semua bidang, tidak boleh ada satu pelajaran pun yang diremehkan. Harus rela belajar berjam-jam, bahkan tidak tidur semalaman. Barangkali engkau menyangka, itu sesuatu yang tidak mengenakkan, tapi justru itu adalah hiburan dan kesenangan baginya.”

Kemudian aku melanjutkan, “Tapi yang lebih penting adalah prestasi di hadapan Allah..” Adikku balas menjawab, “Iya-iya kak, udah tahu.” Aku balas menjawab, “Maksud kakak, adalah sholat berjama’ah… Dek, kalau kamu tahu betapa besarnya pahala sholat berjama’ah, kamu tidak akan mau ketinggalan sholat jama’ah meskipun satu kali. Jika sampai ketinggalan, dan tidak bisa sholat jama’ah, kamu akan menangis tersedu-sedu.. karena tahu rahasia di baliknya.” Adikku terdiam. Lalu aku melanjutkan, “Itulah dek, benar-benar berbeda, orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui.”

Adikku yang lain, Aji, aku sering memanggilnya ‘adik kesayangan’, karena ia adalah adikku yang sering menemaniku pergi ke tempat-tempat kajian di masjid ketika malam hari. Meskipun demikian, adik-adikku yang lain tidak merasa iri jika aku memanggilnya demikian karena ada kelebihan masing-masing dari adikku dan aku menyebutkan kelebihan-kelebihan mereka untuk menyemangati dalam beraktivitas.

Adikku yang ini sebenarnya cerdas. Ia mudah menangkap pelajaran dan cepat paham, asal yang ngajari dia adalah orang yang sabar dan tidak mudah marah. Adikku ini sekolah di MTs kelas 1, masih dalam masa-masa peralihan dari SD ke MTs. Ia belum begitu memberi perhatian cukup besar pada pelajaran, ia lebih suka berpetualang ke berbagai tempat, misalnya ke sawah untuk mencari keong, ke sungai untuk mencari ikan, ke pasar burung untuk melihat burung-burung dan aneka satwa yang dijual di sana.

Kelebihan dia yang nampak padaku adalah barangkali ketika besar nanti ia akan menjadi pengusaha yang sukses karena ia berbakat dalam berdagang atau mencari uang. Amin. Aku kalah dalam hal ini. Karena kalu aku membeli barang di pasar, aku lupa untuk menawarnya. Tapi anehnya, meskipun tidak kutawar, pedagangnya menurunkan harga untukku. Baik sekali..

Adik-adikku.. aku sayang kalian.


Arsip

Statistik Blog

  • 595,312 hits