Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘keluarga’ Category

Pekerjaan mencuci baju sendiri saya mulai sejak kelas 2 SD. Hal inilah yang mendorongku untuk ikut mengerjakannya, tanpa diminta. Dimulai dari mencuci bajuku seragam sekolah berwarna putih. Ibu pernah bilang, kalau mencuci baju itu harus dibilas dua kali (saya kira maksudnya diberi sabun dua kali). Akhirnya baju itu kusabun dua kali hingga kelihatan sangat putih dan bersih. Ibuku tertawa karena tingkahku ini. 🙂

Setelah itu saya dipercaya ibu untuk mencuci baju sendiri. “Asal bersih ya!”

Ibu menunjukkanku tempat jemur pakaian dari besi yang dilapisi nikel hampir setinggi bahuku. Saya menjemur pakaian di situ lalu mengangkatnya ke tempat yang mendapatkan sinar matahari (di depan rumah). Setelah kering, tempat jemur pakaian itu kuangkat ke rumah untuk dilipat.

Ayahku walaupun seorang laki-laki tapi beliau pintar memasak. Masakannya sungguh lezat, ini diakui oleh seluruh anggota keluarga, termasuk ibu. Ayah juga melakukan pekerjaan ini dengan senang hati (mungkin rasa senang di hati ini juga mempengaruhi rasa masakan). Ayah mengajariku cara memasak yang baik dan memberikan penjelasannya secara ilmiah. Misal, kalau mau masak oseng-oseng, baiknya sayurnya dulu yang dimasukkan, baru gula merah; tapi kalau mau masak tempe kering, gula merahnya dulu yang dimasukkan, baru tempenya. Alasannya sama, biar lebih meresap. Hal yang perlu diperhatikan saat memasak adalah macam bumbu, ukuran memotong bahan, urutan memasukkan bahan ke panci atau wajan, jumlah garam, kapan mengecilkan kompor, dan lain-lain.

Ayah pernah membuat keripik dari umbi-umbian yang beracun sehingga racunnya harus dihilangkan, yaitu gadung. Untuk menghilangkan racunnya, maka irisan gadung itu harus direndam selama tiga hari tiga malam, dan air rendamannya diganti tiap sehari sekali. Waktu itu, kebun ayah di desa sedang ada panen gadung, jadi ember untuk merendam gadung sampai 3 ember ukuran besar. Setelah itu, gadung itu direbus kemudian dijemur di atas tanah sampai kering. Saya ikut membantu ayah menjemur gadung itu di samping rumah. Wah, betapa berat !! Untuk mendapatkan keripik gadung harus mengalami proses panjang berhari-hari : mengupas, mengiris, merendam, mengganti air, merebus, menjemur, lalu menggorengnya. Saya bertanya ke ayah, “Ayah, kenapa ayah mau bersusah-susah seperti ini? Bukankah hal seperti ini berat?“ Ayah menjawab, “Lakukanlah segala sesuatu dengan ikhlas, maka sesuatu yang berat itu akan terasa ringan bagimu.” Aku balik menjawab, “Tapi ayah, ikhlas itu kan sulit sekali.” Ayahku berkata, “Iya, memang sulit. Tapi akan mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah.” Akupun akhirnya mengerti mengapa ayah merasa ringan ketika bekerja, yaitu mengusahakan hati agar ikhlas dalam melakukan amalan.

Ayahku sangat suka membaca buku dan buku yang paling sering ia baca adalah Al-Quran. Setiap hari beliau membaca Al-Qur’an sebanyak 3 juz sehingga dalam satu bulan dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Setiap kali mengkhatamkan Al-Qur’an, ayah mencatat tanggal khatamnya itu dalam secarik kertas tebal. Setelah kurang lebih tiga tahun, ayah telah mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 100 kali. Subhanallah…, dalam hal ini saya masih kalah  😦

Saya sangat iri dengan ayah dengan hobi membacanya ini. Salah satu buku favorit lainnya adalah buku tafsir, sehingga di masyarakat sering diminta mengisi pengajian dengan bahasan tafsir. Di rumah ada beberapa buku-buku Islam yang kebanyakan dibeli ayah setelah berkeluarga (saya tahu dari tahun dibelinya buku itu). Kalau ayah beli buku baru, biasanya ditulis kapan buku itu dibeli, dan kapan selesai dibaca. Buku-buku yang saya sukai (sering dibuka, sering dibaca, sering diulang) ternyata juga disukai pula oleh ayah. Misalnya tentang buku (kitab) berjudul Al-‘Ubudiyah (Hakikat Penghambaan Diri Kepada Allah) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Waktu pertama membaca buku ini, saya terperanjat. Kenapa? Karena ternyata uang bisa jadi berhala, pakaian bisa jadi berhala, dst. Wah, menakutkan, jangan sampai terjerumus menyekutukan Allah tapi tidak merasa !

Lanjut berbicara tentang buku. Kalau saya membawa buku-buku Islam dari perpustakaan dan membawanya ke rumah, kadang ayah yang lebih dulu selesai membacanya daripada saya. Wah, tambah iri nih. Kupandang wajah ayah dengan agak cemberut (karena mendahuluiku), tapi ia membalas dengan senyuman yang tulus padaku. Akhirnya akupun ikut tersenyum 🙂

Suatu kali, ayah yang gantian membawa buku terbitan baru ke rumah (pinjaman dari temannya). Akhirnya saya duluan menyelesaikan membaca kitab itu (hore…tidak mau kalah terus !!, J). Kitab itu lumayan tebal dan saya menyelesaikan kitab itu dalam waktu satu malam. Wah, saya senang sekali karena akhirnya bisa juga lebih cepat dari ayah. Namun, rupanya ayah tidak terpengaruh dengan rasa senangku ini. Beliau tetap tenang dan membuka kitab itu lembar demi lembar.


Arsip

Statistik Blog

  • 817.814 hits