Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘kisah’ Category

Bismillah.

Alhamdulillah, Allah mengabulkan apa yang terbersit dalam hatiku, meski aku tidak pernah memintanya di lisanku. Aku pernah berharap agar bisa berkumpul dengan orang-orang shalih dan membangun bi’ah di sana, kurang lebih satu tahun.

Sekolah Al-Izzah adalah sekolah impianku. Tempatnya sangat sejuk, indah dan nyaman. Ketika pertama kali datang ke sana, sebagian orang akan berkomentar kalau sekolah ini seperti hotel. Memang, dari segi kebersihan, kerapian, keindahan, dan keasriannya sangat mirip dengan hotel. Sebagai gambarannya, mirip Hotel Lor In di Solo.

“Hal nudh-dhifat haadhihil hujroh? Apakah kamar ini sudah dibersihkan?”

“Nadh-dhifna wa rottibna! Bersihkan dan Rapikan!”

“Laisa tahtas-sariir syai-un! laisa ‘alal maktab syai-un”

Begitulah kira2 hal yang diucapkan murabbiyah ketika memasuki kamarsantri. Kamar santri harus benar2 bersih dan rapi, termasuk kamar mandi dan tempat cucian di bagian belakang. Saat orientasi masuk sekolah, para santri sudah diajari bagaimana cara membersihkan kamar, merapikan tempat tidur, menyetrika baju dengan standar tinggi, seperti yang diajarkan dalam ilmu perhotelan, tepatnya ilmu tata graha.

 

Alhamdulillah, di Al-Izzah aku bertemu dengan muslimah2 yang sangat baik dan sholihah, juga memiliki keinginan yang kuat dalam meghafal dan menjaga hafalan alqur’an. Aku bertemu dengan para hafidzah dari berbagai pondok pesantren. Kami saling berbagi cerita tentang metode menghafalquran yang diterapkan di pondok kami. Selain itu, di sekolah ini diajarkan kebiasaan yang  baik dari bangun tidur hingga tidur lagi. Salah satu motto yang kuterapkan di sini adalah: make habits so habits make you.

Pukul 3 pagi terdengarlah suara murattal dari para syaikh. Para murabbiyah mulai kontrol ke kamar untuk membangunkan para santri, terutama yang masih kelas 7. Mereka wajib mandi pagi sebelumshubuh lalu pergi kemasjid untuk salat tahajud.

Setelah shalat shubuh, para santri menghafal al-qur’an, disetorkan pada ustadzah tahfidznya masing2 (untuk kelas takhasus), atau disetorkan ke tentor tahfidz (untuk kelas cambridge = internasional). Kelas takhasus menghafal di 3 waktu dalam satu hari, yaitu setelah shubuh, setelah ashar, dan setelah maghrib. Target hafalannya 7 juz di kelas 7, dan 15 juz ketika sudah kelas 8. Sedangkan target kelas 9 adalah muraja’ah, melancarkan, dan menjaga semua hafalan yang dimiliki.

Bismillah..

Ini ada sedikit kisah menarik  yang saya ambil dari sebuah buku yang sangat menarik perhatian para muslimah. Nama Muslim dan Muslimah dalam ilustrasi ini hanyalah nama samaran. Semoga menginspirasi.. 🙂

= = = = =

PEMUDA DAN PEMUDI YANG MENJAGA DIRI

Muslimah, adalah seorang gadis yang menutupi kecantikannya semaksimal mungkin. Dia tidak menampakkan kepada siapapun ketika masih lajang. Ia hanya menampakkannya ketika dia sudah menjalani kehidupan berumah tangga. Masa SMA dan universitas ia jalani dengan baik, tanpa terkotori oleh noda pacaran sama sekali.

Muslim, adalah seorang pemuda yang beriman. Dia menjadi muslimah semasa belajar di kampus. Keimanannya mendorong dia tekun dalam belajar dan menjalani studi di perguruan tinggi. Akhirnya dia lulus sebagai sarjana dengan predikat cum laude. Walaupun nilainya bagus, tetapi usaha wiraswasta yang dirintis Muslim kurang sukses. Dia hidup serba kekurangan, tetapi tetap mandiri, tak pernah minta belas kasihan orang lain, termasuk dari orang tuanya sendiri.

MEMILIH PENDAMPING TERBAIK

Tibalah saatnya Muslim memilih pendamping hidupnya. Siapa yang dia pilih? Dia memilih Muslimah. Mengapa? Apakah karena Muslimah berwajah cantik dan berpenampilan menarik? Bukan, bahkan Muslim sudah lupa dengan raut wajah Muslimah, karena dia hanya melihatnya sekali atau dua kali, itu pun karena tidak sengaja. Muslim memilih Muslimah karena dari sekian banyak wanita yang dia kenal, hanya Muslimah yang sangat menjaga pergaulannya dengan lelaki.

Empat setengah tahun keduanya duduk di dalam kelas yang sama dan menjalani kuliah di ruang yang sama, tetapi jumlah percakapannya dengan Muslimah masih dapat dihitung dengan jari, artinya tidak sampai sepuluh kali. Tidak hanya kepada dirinya, Muslimah juga bersikap yang sama dengan semua teman lelakinya. Tidak berbicara ketika sangat perlu, itu pun dengan menundukkan wajahnya.

Bagi Muslim, wanita seperti itu sangat mahal harganya, maka dia ingin memilikinya. Muslim tidak peduli dengan penampilan luar Muslimah. Tidak peduli apakah dia cantik atau jelek, apakah dia kurus atau gemuk, apakah dia berkulit kunit langsat atau berkulit sawo matang nan gelap. Muslim ingin membeli ketakwaannya, rasa malunya yang sedemikian besar, dan kekuatannya dalam menjaga kehormatan dirinya.

Akhirnya, Muslim meminang Muslimah. Muslimah menerima pinangan itu bukan karena Muslim adalah pemuda yang tampan, bukan karena dia bergelimang harta, bukan karena dia teman kuliahnya yang berhasil meraih kelulusan cecara cum laude. Bukan itu semua. Muslimah menerimanya karena Muslim adalah pemuda yang paling menjaga dirinya dalam pergaulan dan teguh dalam membentengi dirinya dengan muraqabah, iman dan taqwa.

Muslim menikah dengan Muslimah. Sesaat setelah pernikahan barulah Muslim mengetahui betapa cantiknya Muslimah. Kecantikan batin ternyata berdampak positif terhadap kecantikan dhahir. Muslim berbahagia karena hanya dirinya yang bisa menikmati kecantikan istrinya itu, sebab si istri hanya menampakkanya pada suami tercinta, bukan yang lain.

Sesaat setelah menikah, barulah Muslimah tahu betapa tampannya Muslim. Selama ini dia hampir tak pernah melihat wajah Muslim. Keindahan dan keteguhan hati Muslim ternyata memengaruhi penampilan luarnya. Dia mencintai orang yang baru saja menjadi suaminya itu luar dalam, karena Allah Ta’ala.

Apakah berhenti di sini? Tidak. Mari kita simak bersama-sama.

Karena Muslim selalu menundukkan pandangannya dari gadis lain atau wanita lain selain istrinya, maka dia selalu mendapati istrinya sebagai wanita tercantik di seluruh dunia. Bayangan wajah istrinya dan kemanisan tutur katanya mendorongnya untuk segera pulang ke rumah seusai bekerja.

Muslimah tak kalah shalehahnya. Dia tahu bahwa suaminya yang baru pulang dari kerja itu pasti payah dan capai. Dia mempersiapkan segala keperluan suaminya dan mempersiapkan masakan yang paling disukai suami. Dia berdandan secantik mungkin untuk menyambut suaminya. Dia melakukan hal itu karena Allah, walau juga didorong oleh rasa rindu dan cinta pada suami.

Muslimah selalu melihat Muslim sebagai laki-laki paling tampan di dunia. Mengapa? karena dia tidak pernah memuaskan kedua matanya untuk memandang lawan jenis sebagimana memandang suaminya. Dia hanya mengizinkan matanya untuk memandang suaminya berlama-lama dan tak pernah mengizinkan untuk memandang wajah lelaki lain selain suaminya, kecuali sekedar keperluannya saja.

MENIRU ISTRI TELADAN

Muslimah ingin menjadi istri teladan seperti Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah. Rumah tangga yang keberkahannya didoakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Alhamdulillah, dari pasangan penuh berkah itu akhirnya mereka dikaruniai sembilan orang anak, semuanya hafal al-Qur’an.

Muslimah ingin menjadi istri seperti Khadijah radhiyallahu ‘anha, yang selalu diingat-ingat kebaikannya oleh sang suami, walaupun dia telah meninggal dunia. Muslimah berharap rumah tangganya, meskipun tidak sebaik rumah tangga Nabi atau para sahabat, bisa menjadi rumah tangga yang penuh mahabbah, mawaddah, dan rahmah.

= = = =

Dikutip dan diringkas dari buku “Engkaukah Bidadari Itu?”, karya Ustadz Erwan Roihan.

Bismillah..

Saya sangat kagum dengan akhlak yang dimiliki oleh para Nabi yang diceritakan dalam al-Qur’an, salah satunya adalah akhlak Nabi Yusuf ‘alahissalam.

Kisah Nabi Yusuf: Kisah Terbaik

Surat Yusuf merupakan kisah terpanjang dalam Al-Qur’anul Karim. Allah menghimpun kisah Nabi Yusuf ini dalam satu surat. Pokok pembicaraan pada surat ini adalah berupa kisah seorang Nabi yang mengalami nasib berganti-ganti, antara kesengsaraan dan kebahagiaan yang pada semua itu beliau menjadi teladan yang baik.

Kisah ini merupakan kisah terbaik dari segi isi dan faidahnya karena mengandung pelajaran dan hikmah. Dalam surat ini terdapat puncak dalam gaya bahasa atau pengaruhnya terhadap jiwa, di samping keindahan isinya. Dengan membaca kisahnya, seseorang dapat memperoleh pelajaran berharga dan dapat melihat kekuasaan Allah dan kebesaran hikmah-Nya sehingga kita merasa takjub atau kagum.

Apa saja itu?

Akhlak Nabi Yusuf yang saya kagumi antara lain:

Pertama. Teguh dalam Menjaga Diri.  

Ketika beliau digoda oleh istri Al-’Aziz (raja Mesir), beliau menolaknya dengan sangat sopan.. Qoola ma’aadzallaah.. Innahuu rabbiiy ahsana matswaay.. “Aku berlindung kepada Allah.. Sesungguhnya dia, tuanku –yang memilikiku sebagai budaknya-  benar-benar telah memperlakukanku secara baik..”

Kemudian Nabi Yusuf memberi alasan tentang sikapnya tersebut dengan berkata: Innahuu laa yuflihudh-dhoolimuun.. “Sesungguhnya Allah Ta’ala takkan memberi kemenangan pada orang yang berbuat dholim..”, yaitu perbuatan menganiaya diri sendiri atau menganiaya orang lain dengan suatu pengkhianatan atau melanggar kehormatan.

Kata-kata Nabi Yusuf tersebut merupakan isyarat bahwa ia merasa bangga dengan Rabbnya dan teguh memegang agama dan amanat Rabbnya.. serta menyindir pengkhianatan istri tuannya. Oleh karena pengelakan itu, istri Al-‘Aziz menjadi marah, hendak membalas dendam kepada Nabi Yusuf agar kemarahannya terobati karena ia gagal mencapai keinginannya dan terhina dengan sikap Nabi Yusuf yang tidak mau meladeni kehendaknya. Sedangkan Nabi Yusuf bersiap-siap hendak membela diri dari serangan wanita itu dan hendak memukulnya. Namun, Nabi Yusuf melihat tanda dari Rabbnya.. dari lubuk jiwanya..

Apakah itu?

Allah memberi ilham pada Nabi Yusuf bahwa lari dari tempat itu adalah lebih baik sehingga ia tidak jadi menyerang wanita itu dan lebih baik lari menghindarinya. Dengan demikian, terlaksanalah kebijaksanaan Allah tentang apa yang Dia persiapkan untuk Nabi Yusuf.

“Kadzaalika linashrifa ‘anhus-suu-a wal fakhsyaa’..”Demikianlah agar Kami memalingkannya dari kemungkaran dan kekejian..” Allah menghindarkan Nabi Yusuf dan menjaganya dari dorongan untuk melakukan keburukan ataupun dorongan untuk melakukan kekejian sehingga beliau takkan keluar dari orang yang berbuat baik menuju golongan orang yang berbuat dholim.

“Innahuu min ‘ibaadinal mukhlashiin.. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk dari hamba-hamba Kami yang terpilih..”  Sesungguhnya Nabi Yusuf ini tergolong orang-orang yang dimurnikan, termasuk bapak-bapaknya yang dimurnikan dan dijernihkan oleh Allah dari segala aib dan cela. Allah Ta’ala berkalam mengenai mereka:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan manusia kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada ssisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Shad, 38: 45-47)

 

Kedua. Pemaaf, mampu menahan amarah, membalas kejahatan dengan kebaikan, dan mendoakan kebaikan bagi orang yang pernah berbuat dholim kepadanya.

Hal ini diceritakan dalam Surat Yusuf ayat 77, 89-92. Pada ayat 77 Nabi yusuf menahan amarahnya dan tidak menampakkan kemarahan tersebut pada saudara2nya . Pada ayat 89-92, diceritakan akhirnya saudara2nya mengetahui bahwa pembesar Mesir yang mereka mintai bantuan itu adalah Nabi Yusuf. Tentu mereka merasa takut karena dulu pernah membuangnya ke sumur dan meninggalkannya. Namun, justru Nabi Yusuf dengan kelembutan hati tidak mencela kepada mereka sedikitpun. Bahkan, malah mendoakan agar Allah mengampuni kesalahan-kesalahan mereka.

Begitu juga akhlak Nabi Ya’qub yang begitu mulia dan mengesankanan dalam Surat Yusuf ayat 98. Meskipun beliau pada awalnya sudah mengetahui kedustaan anak2nya yang mengaku bahwa Nabi Yusuf dimakan serigala, namun pada akhirnya Nabi Ya’qub memohonkan ampunan bagi anak2nya tersebut.

 

Ketiga. Kecerdikannya dalam berdakwah. Meskipun Al-‘Aziz, istrinya, dan keluarganya mengetahui tanda-tanda bahwa Nabi Yusuf yang benar dan istri Al-Aziz yang salah, namun mereka tetap menjebloskan Nabi Yusuf ke dalam penjara. Maksudnya agar orang melupakan cerita tersebut dan tenteramlah kota dari peristiwa yang menggegerkan itu. Walaupun demikian, Allah sangat sayang dengan Nabi Yusuf, yakni dengan menganugerahkan ilmu ta’bir mimpi.

Suatu saat ada dua pemuda pelayan raja Mesir yang masuk penjara, seorang di antaranya juru masak roti, sedang yang satu adalah juru minumnya. Mereka berdua dipenjarakan karena suatu pengkhianatan, yaitu akan menghabisi riwayat raja. Mereka bertanya pada penghuni penjara, apa yang bisa Nabi Yusuf lakukan. Nabi Yusuf menjawab bahwa beliau dapat mena’birkan mimpi.  Lalu masing-masing menceritakan mimpinya.

Apa mimpi kedua pemuda itu?

Qoola ahaduhumaa inniiy arooniiy a’shiru khomroo.. Juru minum raja berkata pada Nabi Yusuf, “Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku memeras anggur supaya menjadi khamr.” Ada sebuah riwayat bahwa juru minum raja itu berkata,”Sesungguhnya aku mimpi ada sebatang pohon anggur yang mempunyai tiga cabang, yang pada masing2 terdapat anggur, aku memerasnya, lalu memberi minum kepada raja.”

Wa qoolal-akhoru inniy arooniy ahmilu fauqo ro’siy khubzan ta’kuluth-thoiru minh.. Sedangkan yang lain, yaitu juru masak roti berkata –yang menurut sebuah riwayat- dia berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi melihat diriku keluar dari dapur raja dengan menjunjung tiga keranjang roti di atas kepala, sedang burung-burung memakan dari atasnya.”

Nabbi’naa bita’wiilihii.. “Beritahukanlah kepada kami ta’bir mimpi itu.” Yakni tafsiran dari mimpi tersebut yang akan menjadi kenyataan. Mimpi tersebut ternyata mimpi yang benar, bukan hanya sekedar bunga tidur.

“Innaa narooka minal muhsiniin.. “Sesungguhnya kami melihat engkau termasuk orang yang berbuat baik.”, yakni orang yang pandai menakwilkan mimpi dengan baik. Kata-kata yang mereka nyatakan ini setelah mereka melihat ilmu Yusuf yang luas dan tingkah lakunya yang baik pada sesama penghuni penjara hingga menjadikan Nabi Yusuf sebagai ’ka’bah’  tempat berkunjung dan meminta fatwa.

Namun…  beliau tidak memberitahukan secara langsung ta’wil dari mimpi mereka berdua. Nabi Yusuf terlebih dahulu menerangkan kepada mereka kebenaran masalah tauhid dan ibadah yang murni hanya kepada Allah Ta’ala (ayat 37-40), baru kemudian beliau terangkan tentang apa yang mereka tanyakan (ayat 41).

 

Keempat. Kesantunan dan kelembutan Nabi Yusuf.

Jika kita memperhatikan gaya bahasa yang dipakai Nabi Yusuf dalam berbicara atau menjawab pertanyaan, maka akan kita temukan kata2 yang sangat halus, sangat sopan, dan sangat indah.. J Juga sikap beliau yang sangat santun dan hormat pada orang tuanya dan juga pada saudara2nya.

 

Dari keseluruhan akhlaq Nabi Yusuf ‘alaihis salam tersebut, saudara2nya yang awalnya iri dan dengki pada beliau hingga berbuat jahat pada beliau, akhirnya -bi idznillah- menjadi orang-orang yang baik dan bertaubat pada Allah. Ini merupakan kisah yang happy ending..

Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa meskipun secara lahir pada awalnya seseorang mendapatkan bencana/hal yang tidak disukainya, namun sebenarnya Allah memiliki hikmah yang besar di baliknya.. sebenarnya Allah memberikan karunia kepadanya. Meskipun pada awalnya saudara2 Yusuf berlaku jahat padanya, sedangkan dia tetap sabar menghadapi segala kesusahan itu hingga Allah memberinya kedudukan yang tinggi di Mesir dan menganugerahi Nabi yusuf berupa hukum dan ilmu ta’bir mimpi.

Semua ini adalah balasan dari Allah atas kebaikan Nabi Yusuf ‘alaihis salam dalam perjalanan hidupnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi anugerah pada tiap cobaan dan memberi kenikmatan pada setiap yang pada lahirnya berupa bencana/musibah.

= = = = =

Aku kagum dengan akhlak Nabi Yusuf ‘alaihissalam.. Innahuu min ‘ibaadinal mukhlashiiiin.. Semoga kita bisa meneladani aklak beliau. Aamiin..

 

Bismillah..
Berikut adalah sepenggal cerita dari Bapak Habibie yang dituliskan oleh salah seorang pendengarnya berdasarkan ingatan beliau.. agar bisa diambil ibrahnya oleh pembaca, terutama para ilmuwan Indonesia (cz saya juga pingin banget jadi ilmuwan fisika.. 🙂 ). Saya jadi ingin membaca buku yang diceritakan beliau dalam cerita di bawah ini, dengan membaca perjuangan keras beliau dalam belajar dan mengamalkan ilmu, semoga bisa terinspirasi dan mewujudkan mimpi saya.. because a giant standing on the shoulders of other giants..
= = =
Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).  Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan….

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu….Saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan….“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, ….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur….Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.
Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.Sekarang Dik,…anda semua lihat sendiri…N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu…di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia…

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin.

Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop.

N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

? Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam………………………..seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia………….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,

Capt. Novianto Herupratomo

= = =

Bismillah..

Ini kisah nyata. Benar-benar terjadi di atas muka bumi. Telah ditulis dengan tinta emas oleh banyak sejarahwan dalam buku-buku mereka. Sebuah kisah nyata tentang lelaki-lelaki sejati di masa Umar bin Khattab ra.

Dimasa Kekhalifahan Umar bin Khattab, ada seorang pemuda yang mengarungi padang pasir untuk menunaikan umrah di Tanah Suci. Pemuda itu tiba di sebuah oasis di pinggir sebuah permukiman penduduk. Ia berhenti dan istirahat. Karena kelelahan pemuda itu tertidur.

Ketika pemuda itu tidur , tali pengikat untanya lepas. Dan unta itu, tanpa sepengetahuan pemuda berjalan mencari makan, karena kelaparan. Unta itu masuk kesebuah kebun yang suburtak jauh dari tempat itu. Penjaga kebun itu adalah seorang kakek. Unta itu tak ayal lagi. Karena kelaparan, memakan dan merusak tanaman kebun itu.

Sang kakek berusaha mengusir unta itu. Tapi sang unta itu tidak mau beranjak dari tempatnya. Karena panik dan takut dimarahi tuannya, sang kakek memukul unta itu.Dan atas kehendak Allah, unta itu mati. Sang kakek semakin panik dan cemas, apalagi pemuda pemilik unta itu terbangun dan mendapati untanya telah mati.

Karena tidak ada orang lain selain kakek itu di dekat bangkai unta, pemuda itu berprasangka bahwa kakek tua itulah yang membunuh untanya. Dan kaket itu mengakuinya setelah sang pemuda mengintrogasinya. Seketika itu sang pemuda marah besar dan gelap mata. Ia memukul kakek itu dengan pemukul yang digunakan untuk memukuli untanya. Dan kakek itu tewas.

Pemuda itu sangat panik dan menyesal ketika mengetahui kekhilafannya. Ia tidak berniat membunuh kakek itu, hanya marah besar.Tiba-tiba datanglah dua pemuda yang tak lain anak sikakek . Mereka terkejut melihat ayahnya mati dan ditempat itu hanya ada sipemuda. Akhirnya tahulah kedua anak kakek itu,bahwa ayahnya dibunuh oleh sipemuda itu. Mereka lalu menangkap si pemuda dan menyeretnya kehadapan Umar bin Khattab untuk diadili.

Sang pemuda mengakui perbuatannya dan Umar pun menjatuhi hukuman mati ( Qishash) untuk pemuda itu. Namun, sang pemuda minta penangguhan
eksekusi hukuman, karena ia harus memberi tahu keluarganya dan menyelesaikan utangnya yang belum tuntas dikampungnya. Umar pun bersedia mengabulkan permintaaan pemuda itu dengan syarat ada yang bersedia menjadi penjamin pemuda itu.

Pemuda itu cemas dan bingung. Siapa yang mau jadi penjaminnya?ia tidak punya kenalan dan kerabat didaerah itu. Bagaimana mungkin akan ada orang yang bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi penjaminnya. Tiba-tiba ada orang lelaki maju dan berkata kepada Umar, ” Wahai Amirul Mu’minin, saya bersedia menjamin pemuda ini.” Umar kaget, Ia menatap tajam lelaki itu yang tak lain adalah Abu Dzar Al Ghiffari ra. Umar berkata dengan nada serius, ” Abu Dzar, sadarkah kamu dengan resiko kesediaan mu menjadi penjamin pemuda ini?”

Dengan tegas Abu Dzar menjawab,’ Ya saya sadar. Saya siap menanggung resikonya.”

Umar lalu berkata kepada pemuda itu,” Hai anak muda kau telah memiliki penjamin. Sekarang Pulanglah. Selesaikan urusanmu dan segera kembalilah kesini untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu.”

Pada hari yang telah ditentukan, masyarakat sudah berkumpul di lokasi pelaksanaan eksekusi hukuman Qishash, Abu Dzar. Hari semakin panas, siang semakin terik, dan pemuda itu belum juga ada tanda-tand datang. Ketika hari memasuki sore, dan pemuda itu belum juga datang. Masyarakat riuh membicarakan kebodohan Abu Dzar yang bersedia menjadi penjamin orang asing yang tidak dikenal. Masyarakat juga cemas, jika sampai matahari tenggelam dan pemuda itu belum juga datang, maka Abu Dzar harus menggantikan pemuda itu untuk dipancung.

Namun, Abu Dzar tetap tenang. Dengan rasa tawakal yang tinggi kepada Allah ia menunggu detik2 matahari semakin dekat keperaduannya. Dan matahari tenggelam, pemuda itu belum datang. Maka eksekusi harus dijalankan. Dengan tenang Abu Dzar maju ketempat eksekusi. Algojo disiapkan. Banyak yang menangis melihata Abu Dzar siap dihukum mati untuk dosa yang tidak dilakukannya.

Dan, ketika algojo sudah mengangkat tangannya dengan pedang terhunus siap ditebaskan ke leher Abu Dzar, seorang penduduk berteriak. Ia melihat di kejahuan ada bayangan dan kepulan debu. Ada yang datang. Ia meminta ditunggu sebentar sampai jelas siapa yang datang. Semua menoleh kebayangan itu termasuk Umar bin Khatab ra. Umar minta agar yang datang ditunggu dulu.

Bayangan itu semakin dekat. Dan ternyata yang datang adalah pemuda itu untuk memenuhi tanggung jawabnya. Semua orang berdecak takjub dan haru. Bisa saja pemuda itumelarikan diri dari hukuman mati. Tapi ia tetap datang. Dengan napas terengah-engah pemuda itu minta maaf atas keterlambatannya karena ada halangan dijalan. Karena kagum pada kejujuran pemuda itu, Umar bertanya,” Wahai pemuda, aku kagum padamu. Kenapa engkau memilih datang padahal kau bisa saja lari dari hukuman mati?’

Pemuda itu menjawab,: Wahai amirul Mu’min, alasanya sederhana saja. AKu tidak mau ada yang mengatakan bahwa tidak ada lagi lelaki-lelaki sejati dikalangan umat muslim yang dengan ksatria berani mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia juga bagaimana mungkin saya tega membiarkan orang lain tidak bersalah yang rela menjadi penjaminku mati karena perbuatanku.”

Lalu umar menoleh kepada Abu Dzar dan bertanya,”Dan kamu Abu Dzar, apa yang membuatmu yakin untuk menjadi penjamin pemuda asing ini dan kamu siap menggantikan dirinya untuk dihukum mati jika dia tidak datang?”

Abu Dzar menjawab,”Aku melakukan ini agar tidak ada yang mengatakan bahwa tidak ada lelaki sejati di kalangan umat islam yang bersedia menolong saudaranya yang membutuhkan pertolongan. Aku tidak merasa rugi di hadapan Allah. Kalau pemuda itu tidak datang dan aku harus mati  menggantikannya, kematianku syahid di jalan Allah, karena aku memang tidak bersalah.

Umar bin Khatab ra diliputi rasa kagum dan haru. Dia lalu memutuskan untuk segera mengeksekusi pemuda itu sebelum waktu salat mahgrib habis. Tiba-tiba ada yang berteriak” Tunggu wahai amirul mu’min, bolehkan kami minta agar pemuda ini dibebskan dari hukuman mati?! yang berteriak itu adalah dua pemuda anak kakek yang tebunuh itu. Umar menjawab,” Apa yang membuat kalian minta pembatalan hukuman ini?”

Mereka menjawab,”Sungguh kami kagum dengan dua lelaki sejati ini izinkan kami memafkan pemuda yang saleh yang jujur ini. kami tidak ingin ada yang mengatakan bahwa dikalangan umat islam tiada lelaki sejati yang memaafkan kesalahan. Bukankah Al’quran membolehkan bagi ahli waris untuk memberi maaf dan membatalkan Qishash pada seorang yang melakukan pembunuhan? kami rasa pemuda saleh ini pantas untuk kami maafkan.”

Seketika gemuruh takbir dan tahmid berkumandang. Seluruh masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu takjub dengan mata berkaca-kaca. Mereka terharu menyaksikan tingginya ahlak dalam jiwa lelaki-lelaki sejati yang berjiwa ksatria itu.

Saya sering bertanya-tanya, masih adakah lelaki-lelaki sejati berjiwa ksatria di negeri ini? Semoga masih ada, aamiin..

Andakah lelaki sejati itu?

= = = = =

Sumber: milis airputih

bismillah..

Suatu saat ana berdoa pada Allah, alhamdulillah siang hari Allah menunjukkan ayat itu padaku.. 🙂

Ana memohon kepada Allah agar Allah memasukkan rasa kasih sayang pada hamba-hamba-Nya dan agar Allah mengizinkanku untuk menjadi hamba-Nya. Lalu pada siang harinya, Allah menunjukannya padaku. Dan yang lebih membuat hatiku senang adalah, ayat itu adalah ayat yang kuhafal hari itu, atau ayat yang kuhafal di juz pekan itu.

Ayat itu adalah ayat di surat Maryam ayat 93 dan 96:

In kullu man fis samaawaati wal ardli illaa aatir Rohmaani an yattahida waladaa.. “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)

Innalladziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati sayaj’alu lahumur-Rohmaanu wuddaa..  “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)

Alhamdulillah, ana merasa ayat yang kubaca itu benar2 menghiburku karena telah menjawab apa yang kuinginkan dan kubutuhkan. Meskipun hanya sebuah jawaban atau berita gembira, meskipun berupa terjemah alqur’an yang barangkali ada makna lain jika dipelajari tafsirnya lebih dalam.

= = = =

Bagi penghafal qur’an, bagaimanapun kondisi hatinya, baik senang, sedih, bersemangat, jenuh, marah, menyesal, kecewa dst.. maka tetep saja harus muraja’ah agar terjaga hafalannya dan ternyata dari ayat2 itu nanti akan ada sesuatu yang menjawab problematika yang ia alami, menjadi obat bagi penyakit hatinya, menghibur hatinya sehingga menjadi gembira dan tersenyum.. 🙂 , atau menyadari kesalahan2nya. Orang yang menghafal qur’an itu manusia biasa juga. Tentu bisa juga berbuat salah (jadi teringat Surat Ali-Imron ayat 135.. ).

Sebenarnya ada cerita lain yang menarik tentang menghafal qur’an, khususnya ketika ana menghafal suatu ayat, maka ayat itu kutemukan/kualami secara langsung hari itu juga.

= = = = =

(lanjutan… )

Suatu hari ana ikut kajian khusus akhwat dan ibu2 di sebuah rumah besar yang sejuk. kajian dilaksanakan dua kali: kajian pertama adalah untuk umum sedangkan kajian kedua itu adalah kajian khusus untuk orang2 yang ikut kajian nisa’ secara rutin.

Di sela2 dua kajian itu, ada waktu istirahat sebentar. Sebagian pulang, sebagian membeli sarapan pagi.. Sedangkan ana, memanfaatkan waktu senggang itu untuk menghafal al-qur’an lembar ke-45. Tidak berapa lama kemudian, ustadz sudah datang, kami mempersiapkan diri untuk mendengarkan kajian. Beliau mengajarkan kami ushul fiqih. Ana suka sekali kajian ini karena ana belum pernah mendapatkan ushul fiqih di sekolah, biasanya yang diajarkan di sekolah itu baru fiqihnya saja.

Ana menyimak kajian beliau dengan antusias. Dan alhamdulillah, ternyata, salah satu ayat yang keluar dari mulut beliau adalah ayat yang baru saja ana hafal beberapa menit itu, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 268.. Allaahu Akbar.. !!

As-syaiithoonu ya’idukumul faqro wa ya’murukum bil fakhsyaa’.. Wallaahu ya’idukum maghfirotan minhu wa fadh-laa.. Wallaahu waasi’uun ‘aliim.. “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.”

= = = = =

Suatu hari pada pagi yang indah.. di tempat yang sama, ana mengikuti kajian Sirah Nabawiyah. Hari itu ana menghafal al-qur’an halaman ke 71. Alhamdulillah, ternyata hari itu pula ustadz tersebut menyampaikan tafsir Surat Ali-Imron ayat 159, dari sisi sejarahnya.

Hatiku pun berkata, “Masya Allah, ayat itu adalah ayat yang ana hafal hari ini.” Hatiku gembira bercampur haru. Ana merasakan nikmat yang luar biasa. Mengapa? karena ana menghafal suatu ayat, dan Allah memberikan bonus penjelasan tafsir ayatnya hari itu juga ketika ayat itu kuhafal.

Siang hari, setelah shalat dhuhur, ana mendapat tugas untuk presentasi durus idhofiyah Sirah Nabawiyah, yaitu tentang Perang Uhud. Masya Allah, padahal perang Uhud itu diceritakan dengan panjang lebar di juz 4. Juz yang sedang kuhafal pekan itu. Allaahu Akbar..!! Paginya ana mendapatkan tafsirnya, dhuha ana menyetorkan hafalan ayat itu pada ustadzah, dan siangnya ana menceritakan kejadian perang uhud yang dikisahkan dalam juz yang sudang kuhafal pekan itu..Allaahu Akbar.. !!

Masya Allah, sejuknyaa.. 🙂

(insya Allah tulisan ini ana lanjutkan pekan depan..)

Sahabat dari judul cerpennya saja sudah menggambarkan dalam pikiran kita bahwa penderitaan yang kita dapatkan dalam pencarian cinta itu dapat mengabadikan cinta itu sendiri.

“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk
kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr.
Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo
dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf
terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua
mempelai. Kepada Professor dipersilahkan…”

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan
resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di
tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan
disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-
nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan
dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering
nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih
melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya
memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa
ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan
kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium,
kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat
sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu…

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma
ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat
lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada
kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita…

Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan
bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai
harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya.
harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan
Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah
mutiaranya dan buanglah lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,
melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan
kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.

Tiga puluh tahun yang lalu …

Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan
menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi,
keturunan “Pasha” yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah
terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di
Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang
memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik
di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup
dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan
hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat.
Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan
aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini.
Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang
didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya
cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman
dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan
perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka
menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial
keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat
dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun
saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu
mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah
dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke
luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya.
Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan
keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza
yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah.
Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil
biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para
dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.

“Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja” tegas
ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah
habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di
hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang
penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan,
kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya
menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan
tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis
yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa
telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk
menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu
ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi
di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua
menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan
yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan
hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu,
dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan,
kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam
memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.

Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu
saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan
membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum:
Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan
dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak
saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin
yang tak terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang
cukur….tukang cukur, ya… sekali lagi tukang cukur! Saya katakan
dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki
sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya
dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi
yang tak banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat tangannya ia
lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun
dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri
sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya
membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui.
Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya
sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada
perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di
jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-
jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili
pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui
dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah
menjawab. “Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah
dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu
yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga
besar Al Ganzouri.”

Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan
ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda
kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah
dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan
hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan
pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-
apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci
yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya.
Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,
dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la
haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau
setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-
mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau
menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya
sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak
pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan
keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan
bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri
penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke
kantor ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang
sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun
untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari’ah mengikuti mahzab
imam Hanafi.

Ketika Ma’dzun menuntun saya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya
terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan
mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam
Abu Hanifah.”

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata
3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah
itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah
di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar
menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum
berakhir.

Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah
kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan
mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari
rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari
rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa
potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang
saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih
tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang
sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound
atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua
bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan
Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa
cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya
saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan
jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup
menjalari sukma kami.

“Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti
ini. Maafkan Kanda!”

“Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita
telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak
bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir
anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan
tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita
tempuh ini.

Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama
kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan
buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan
keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita
ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan
mereka akan menangis haru.

Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita
kita saat ini,” jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah
rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika.
Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi
dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan
menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk
di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa.
Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak
mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang
juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah
toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman
sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala
kadarnya yang murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan
kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus
mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta,
kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami
berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra
Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin
dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan
mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus
dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu,
jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia
bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah
sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang
jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari
25 pound saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu
kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih
dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu
kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua
cangkir dari tanah, itu saja… tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa
tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini
kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta?
Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-
orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah
menjanjikan cinta.

Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya
persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah
untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah
di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh
lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa
dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh
Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya.
Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah
SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an
dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang
berhak memperoleh segala cinta di surga.

Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus
mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan
tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi’ah
Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu
siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia
memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad
untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia
juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa
sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup
untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan
kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan
dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-
sampai ada yang bilang tanpa disengaja,”Ah, kami kira para dokter
itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara
seperti Mamduh dan isterinya.”

Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi
nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan
kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri
agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami
memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada
yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan
pertolongan-pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan
yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan
tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami.
Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami
digedor dan didobrak oleh 4 ..::makhluk yang lucu::.. kiriman ayah
saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-
satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur
tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam
dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan
ancaman, “Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan
Pasha.”

Yang mereka maksudkan dengan Tuan “Pasha” adalah ayah saya yang kala
itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat ..::makhluk yang
lucu::.. itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi
nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang
hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami
masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek
tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan
kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur
kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman
inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi
hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup
tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah
merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan
tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen
militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan
undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah
total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak
mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman
karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil
membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk
bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu
terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa
berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil
meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai
isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu,
sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara
saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu
tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya
takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6
pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang
sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur
karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hamba-Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia
mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah
kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan
rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu
kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan
keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang
putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya
teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup
bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana… di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku… besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari
nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta.
Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras
untuk masuk program Magister bersama!

“Gila… ide gila!!!” pikirku saat itu. Bagaimana tidak…ini adalah
saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari
pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan
keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh
untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat
tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya,
kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian
cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa
tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita
sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah
kita.”

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku
pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran
dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami
memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan,
sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek,
buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan
roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari
awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut
kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama
dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami
obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa
uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya… kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan
itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah
menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri
saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab.
Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi
dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan
saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup
sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang
asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di
rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang
luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan
rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya
adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya
dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan,
dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh
cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan
terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di
dunia ini.

“Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…” bisiknya mesra
sambil tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih
gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja!
Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister
pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada
istilah makan enak dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami
berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan
untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka,
kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang
mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal
masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir
setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia
kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program
Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

“Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita
lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar
Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak
ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil
merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah
menyediakan dana tambahan.”

Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol
gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya
spesialis jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak
kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya
diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai
wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai
dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam
suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah
sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali
laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling
dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah
lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah
swt dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika
hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan
mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak
pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka
lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum
ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah
istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa
mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz…”

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok
perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru.
Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga
merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru
kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini
dengan seksama.

= = = = =

Ana suka sekali cerita di atas.

Kapan ya ana bisa sekolah S2 dan S3… ?


Arsip

Statistik Blog

  • 574,775 hits