Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘penelitianku’ Category

Bismillah..

Hari Sabtu kemarin aku bertemu dengan seseorang yang tertarik dengan skripsiku. Saat itu aku sedang membantu seorang ibu untuk membaca al-Qur’an. Tiba-tiba ada tamu yang datang ke rumah itu dengan bawaan yang cukup banyak. Beliau membicarakan masalah bioetanol dari singkong, suatu bahan bakar pengganti BBM yang ramah lingkungan.

Aku pun berkata pada ibu itu, “Penelitian saya juga tentang singkong, saya meneliti ampasnya.”

“Berarti kamu paham pembicaraan ini tadi ya?”, tanyanya.

“Iya”, jawabku sambil mengangguk.

= = = = =

Aku pun bercerita secara singkat mengenai penelitianku. Ternyata paman (tamu) tadi juga berbisnis ampas singkong. Beliau diminta untuk menyediakan ampas singkong 10-50 ton per hari pada suatu perusahaan. Sedangkan aku bercerita bahwa ampas singkong memiliki potensi digunakan sebagai bahan penyerap (peredam) bunyi.  Nampaknya beliau tertarik, dan bilang agar jika penelitianku sudah selesai, bisa ditunjukkan pada beliau, nanti bisa dapat dana cair.

Lho, ana kan cuma bercerita saja..

Bagaimana sih isi penelitiannya?

Penelitianku ini dilaksanakan pada tahun 2009, dan salah satu referensi utamanya adalah jurnal internasional yang keluar pada bulan Februari 2009. Seorang profesor dari Jepang meneliti koefisien absorbsi ampas daun teh. Sedangkan aku meneliti ampas singkong dengan alat dan metode pengukuran yang sama dengan beliau.

Singkatnya, hasil penelitianku menunjukkan hasil yang lebih baik dari penelitian sebelumnya. Koefisien absorbsinya lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari gypsum. Hanya saja rentang frekuensinya kurang lebar. Hal ini disebabkan sampel tersebut dibuat dengan tekanan cukup tinggi, dalam skala hampir 10 ton.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, tentu perlu ada penelitian lebih lanjut, tapi ana sudah lulus kuliah nih.. Apakah aku akan kembali ke laboratorium pusat lagi?? Bayanganku, aku perlu berkonsultasi pada ahli Fisika, ahli Biologi dan ahli Kimia untuk menyempurnakan penelitian ini..

= = = = =

Sebelum pulang, aku diberi buah tangan oleh ibu itu, yaitu buah naga, buah jeruk, dan makanan berkuah.. 🙂

Paman tadi berkata, “Jangan pulang dulu, mau kukasih sesuatu.”

“Apa, Pak?, tanyaku.

“Saya punya ekstrak … (beliau menyebutkan suatu nama tanaman, ana lupa namanya), nanti diseduh dengan air lalu diminum, seperti teh. Ini sudah manis”, terangnya.

“Apa khasiatnya?”, tanyaku.

“Baik untuk penderita diabetes melitus, mengurangi tekanan darah tinggi.”, jawabnya.

“Terima kasih, Pak.”, jawabku. Wah, dapat oleh-oleh banyak nih,, 🙂

Iklan

Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di benakku seusai membeli bahan penelitian di pasar Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Awalnya, aku masuk ke bagian pinggir pasar berupa jalan kecil yang mengelilingi bangunan pasar. Aku memilih untuk melewati jalan sempit memanjang dan berkelok-kelok itu karena tidak ingin memarkir sepedaku sehingga masih bisa mencari-cari bahan yang sesuai sambil menaiki sepeda. Ke manamana kalau pergi aku memang sering memakai sepeda. Salah satu kelemahanku adalah belum bisa naik sepeda motor, hihi….. Perlahan-lahan sepedaku kukayuh dengan melihat-lihat barang-barang yang dijual dari satu penjual ke penjual berikutnya. Aku mengincar ketela rambat yang berwarna merah. ”Hmm…, sulitnya…apa ini lagi bukan musimnya ya. Kalau tidak ada yang berwarna merah, ketela rambat yang berwarna putih pun tidak apa”, kataku dalam hati.

Alhamdulillah, pada jarak beberapa meter sebelum sampai ke ujung jalan sempit itu akhirnya kutemukan juga sebuah warung kecil yang menjual sejumlah besar umbi-umbian. Di sana terdapat cukup banyak ketela rambat daripada tempat lainnya. Lalu aku turun untuk melihat lebih seksama lagi ketela rambat itu, ternyata berwarna putih dan masih segar. Walaupun tidak berwarna merah seperti yang kuharapkan, tapi hatiku senang daripada tidak mendapatkan sama sekali untuk bahan penelitianku. Dialog pun dimulai.

Penjual itu bertanya sambil mendekat, ”Badhe tumbas napa mbak?”.
Akupun menjawab, ”Ajeng tumbas tela Bu. Setunggal kilo pinten nggih?”
Ibu itu menjawab, ”Kalih ewu. Tumbas pinten mbak?”
Aku menjawab,”Tumbas setunggal kilo mawon.”
Ibu itu lalu memulai memilih dan mengambil ubi-ubi di depanku.
”Bu, nyuwun dipilihaken ingkang sae-sae nggih.”, kataku menambahkan.

Nah, sebuah kalimat yang menggelikan dilontarkan ibu itu, ”Inggih mbak, kula pilihaken sing ayu-ayu kaya si mbak.”

Hihi…, tersungging senyum kecil di bibirku menahan tawa di hati . Hatiku terpingkal-pingkal mendengarnya, lucu bangeet . Kenapa lucu? Karena tidak sedikitpun terpikir di benakku ibu itu akan mengucapkan kata-kata tersebut dan saat itu aku benar-benar tidak berdandan dan hanya mengenakan pakaian biasa. Yah, bisa jadi itu untuk membuat daya tarik agar suatu saat pembeli tersebut membeli di tempat itu lagi, pikirku.

Saat perjalanan pulang sambil bersepeda, kalimat ibu itu menjadi bahan diskusi di alam pikiranku. Muncullah pertanyaan pada diri ini, ”Apakah aku cantik?”. Pertanyaan ini muncul karena aku adalah wanita yang berbeda dari kebanyakan orang, yaitu kurang suka berdandan dan tidak terlalu memperhatikan kecantikan. Sebenarnya bukan karena malas berdandan tapi karena untuk menjaga diri agar ”tidak disukai orang” (bukan berarti tidak merawat diri). Hal ini dianggap aneh oleh keluargaku, baik ayah, ibu, adik, bahkan paman dan bibiku. Aku sadar ini akan terlihat aneh untuk orang lain tetapi bagiku tidak aneh karena aku mengerti bagaimana alur berpikirku. Aku tidak ingin ketika seorang laki-laki melihatku maka dia gampang tertarik sehingga ibadah sholatnya menjadi tidak khusyuk karena terngiang-ngiang dengan apa yang dilihatnya (tidak ghadul bashor sih…!!). Oleh karena itu, dalam keseharian aku lebih suka berpenampilan biasa. Orang lain bisa pro dan kontra dengan pilihanku ini.

”Kecantikanku” hanya khusus untuk suami aja, bahkan foto saya hanya untuk suami saja (kalau masalah begini saya memang pelit, hihi….maka dari itu, saya sengaja tidak punya friendster). Saya adalah wanita yang paling cantik di dunia ini lho (menurut suami saya, hihi…… ).

Saya benar-benar tidak tahu siapakah pendamping hidup saya nanti dan saya memohon kepada Allah agar diberikan pasangan hidup yang sholih, jujur, bertaqwa dan berakhlak mulia. (Eh hem…..sepertinya masih lamaaa…masih pingin sekolah duluuu…….)

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Secantik apapun seorang wanita, seanggun apapun dia, selembut apapun dia, sepintar apapun dia, maka dia hanyalah hamba Allah. Hamba yang memiliki kewajiban untuk mengabdi beribadah….hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang Engkau ridhai. Hamba yang saat matinya mendapatkan ucapan, ”Irji’ii ilaa robbiki roodhiyatan mardhiyyah, fadkhuliy fii ’ibaadiy, fadkhuliy jannatiy.” (Aamiin).

  • In: penelitianku
  • Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

  1. Skripsi saya adalah tentang SISTEM PAKAR (salah satu cabang dari Artificial Intelligence) yang akan diterapkan untuk bidang FISIKA. Karena pengertian dari sistem pakar ini, maka saya harus mendapatkan data-data yang ditulis oleh pakar fisika di bidangnya. Untuk yang ini, saya masih kabur, kira-kira apa ya, yang sudah ditulis oleh para pakar fisika yang bisa dibuat sistem pakar?

 

  1. Pemrograman yang dipakai ada 2 pilihan (1) MATLAB, (2) VISUAL BASIC.

 

  1. Kalau bisa dalam skripsi tersebut memanfaatkan ILMU Digital Signal Processing (DSP) dalam salah satu prosesnya. Karena saya sangat tertarik dengan keluasan dan kedalaman ilmu ini.

 

  1. Dan untuk ke depannya (atau kalau bisa dimasukkan ke dalam skripsi saya) hasilnya nanti dapat ditampilkan secara ONLINE. Dengan demikian akan banyak orang yang akan mengetahui, mengembangkan, ataupun memanfaatkan sesuatu yang dikerjakan oleh salah satu mahasiswa Fisika UNS.

Arsip

Statistik Blog

  • 616,336 hits