Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘pranikah’ Category

Bismillah..

Ana ditanya, apakah seorang penghafal qur’an itu, suami/istrinya juga harus penghafal qur’an juga?

Hal ini juga jadi perbincangan kami, para akhwat yang sedang menghafal qur’an ataupun beberapa sahabat ana yang punya keinginan untuk menghafal qur’an.

= = = =

“Pokoknya suamiku nanti harus hafidz!”, kata salah seorang sahabat karibku.

“Kenapa?”, tanyaku.

“Soalnya aku bercita-cita jadi hafidzah, jadi nanti kalau ana pas nyuci, bisa disimak hafalannya oleh suamiku. Dia nggak perlu mbuka qur’an dan bisa mbenerin”, jawabnya.

Saat ini ia belum memulai program tahfidz karena sedang sibuk dengan studinya di S2, tapi sudah punya keinginan kuat untuk menjadi hafidzah sejak beberapa tahun yang lalu.

Lalu ia menambahkan, “Kalau bisa ya lulusan S1 plus hafidz, atau nggak hafidz ndak apa tapi S2.. dan punya keinginan untuk menghafal qur’an.” Dia mengakui bahwa saat ini memang idealis.

= = = = =

Ada jawaban lain dari salah satu sahabat ana yang sudah menghafal qur’an.

Ana bertanya, “Ukhti, apakah salah satu kriteria suami anti nanti harus hafidz?”

Beliau menjawab “Tidak harus.”

Kenapa ya? Karena orang-orang yang sudah menghafal qur’an sudah mengetahui kondisi dunia tahfidz, baik atau buruknya. Setelah ana tanyakan alasannya, ia menjawab, “Karena tidak semua hafidz itu sholeh! Yang penting sholeh dulu, kalau bisa ya hafidz.”

“Trus kriteria sholeh itu gimana? Itu kan umum sekali”, tanyaku.

“Oh, itu sudah kutanyakan ke ustadzah. Ustadzah mengatakan kesholihan bisa dilihat dari ibadahnya.”, jawabnya

“Tapi kan kita belum kenal, gimana kita bisa tahu ibadahnya”, tanyaku.

“Dari orang2 terdekatnya,”, jawabnya.

“Wah, ukh. Makin nggak kenal dong! Trus ustadzah bilang apa lagi?”

“Oh iya, sholeh atau tidaknya seseorang bisa dilihat dari mu’amalah dia pada ibu dan saudara-saudara perempuannya.”

Ana pun ditanya, “Kalau ukhti gimana”. Ana pun menjawab, “Masalahnya kita kan nggak tahu, jodoh kita nanti hafidz atau bukan. ”

= = = =

Sedangkan dari guru-guru ana sendiri, ada contoh sbb.

1. Istri Hafidzah – Suami Hafidz

2. Istri Hafidzah – Suami Belum Hafidz

3. Istri Belum Hafidz – Suami Hafidz

Iklan

Bismillah..

Alhamdulillah, kemarin tanggal 15 Februari 2011 diadakan kajian khusus perempuan dengan tema “Perempuan sebagai Istri dan Perempuan sebagai Ibu” di Masjid Kebonan, Sriwedari – Solo. Dalam sms undangannya, kami diprovokasi, bagi akhwat yang mau nikah atau bagi para ummahat.. bisa ngikut kegiatan ini. Kontan aja peminatnya banyak, apalagi kontribusinya cukup terjangkau, lima ribu rupiah. Ana diminta menjadi salah satu panitia dalam kegiatan ini. Setelah ana hitung-hitung, jumlah pesertanya lebih dari 150 akhwat atau ummahat.

Pematerinya ada dua, seorang ustadz di sebuah pondok dan seorang dokter perempuan. Pemateri pertama adalah Ustadz Muchtar, beliau dulu pernah mengajarku pelajaran Aqidah di SMA. Beliau jadi ustadz favorit banyak murid. Kenapa? Karena beliau pandai dalam menyampaikan materi, mendengar perkataannya saja bisa langsung masuk dan langsung paham. Subhanallah, sejuk  gitu..

Pemateri kedua adalah dr. Erna, beliau pernah mengajarku pada kuliah Psikiatri di mahad ‘aly. Beliau adalah ibu yang cerdas dan memperhatikan perkembangan putra-putrinya dengan baik. Beliau menyampaikan beberapa dalil dan menularkan sebagian pengalaman berharga beliau dalam kajian itu.

Di sini ana akan menuliskan sebagian poin-poin pentingnya saja, antara lain:

PEREMPUAN SEBAGAI ISTRI (Pemateri: Ustadz Muchtar)

– Istri di Dalam Rumah: melayani kebutuhan suami, memasak makanan yang disukai suami da anak2, mencucikan baju, membersihkan rumah, mendidik anak2. “Tidak ada anak nakal, yang ada orang tua yang tidak sabar”.

– Istri di Luar Rumah: menutup aurat, jangan pakai wangi-wangian, bekerja di tempat yang aman (jauh dari khalwat/ikhtilat) .

– Macam-macam Istri, ada 4 : (1) istri shiddiq, (2) istri muqorobin , (3) istri shalihat, (4) istri fasiq

PEREMPUAN SEBAGAI IBU (Pemateri: Ustadzah dr. Erna)

– Mendidik anak adalah suatu kewajiban, memang sesuatu yang berat. tapi di baliknya ada keuntungan yang amat besar.

– Sambutlah anak yang pulang dari sekolah dengan lemah lembut dan kasih sayang. Biasanya anak pulang dari sekolah itu dalam keadaan lelah, lapar dan mungkin marah2 karena ada masalah dengan teman2nya. Jangan ikut2an marah. Tahanlah marahmu, memang agak tidak enak karena tidak melampiaskan amarah, tapi tidak enaknya itu cuma bentar. Nanti engkau akan memperoleh kebaikan yang panjang di baliknya. Hatinya bisa menjadi senang dan malah nanti bisa membantu pekerjaan rumah dengan senang hati.

– Jangan mendoakan anak dengan keburukan! Kasihan!

– Yang harus diajarkan pada anak: (1) aqidah dan tauhid yang benar dan lurus, (2) adab dan akhlak yang baik (3) menghafal al-qur’an dan mengamalkannya (4) sholat

(dilanjutkan lain waktu, insya Allah.. krn ini baru yang ada di kepala ana, belum mbuka catatan.. 🙂 )

Let’s learn to be a true muslimah.

Bismillah..

Aku masih ingat nasihat ibuku ketika aku lulus SD dan akan masuk SMP. Ibuku memberi nasihat agar aku tidak berpacaran dengan laki-laki ajnabi dan putra yang kulahirkan harus benar-benar dari suamiku. Dengan demikian, Allah akan ridha padaku.

Pacaran menjadi perbincangan banyak kalangan, dari para remaja hingga para pakar, pemikir, dan ulama. Sebagian remaja / pemuda-pemudi menganggap pacaran itu perlu sebagai proses untuk menyelami kepribadian masing-masing pasangan. Dari surat-menyurat, saling sms, telepon,kunjung-mengunjungi, makan-makan berduaan di tempat sepi dan tersembunyi memadu kasih sayang. Tak ada yang di ingatan kecuali orang yang dicintai. Memendam rindu yang tidak halal di dalam hati. Tidak jumpa sehari serasa berabad-abad lamanya.

Tahukah engkau? Saat itu syetan tertawa penuh kegirangan, bertepuk sorai kemenangan karena telah memalingkanmu dari mengingat Allah.  Innama yuriidusy-syaithoonu an-yuuqi’a bainakumul ‘adaawata wal baghdhoo-a fil khomri wal maisiri wa yashuddakum ‘an dzikrillahi wa ‘anis-sholaah.. Setelah saya searching di internet, ternyata banyak tulisan yang menyuguhkan tips dan trik pacaran, bagaimana agar langgeng dalam berpacaran, sampai pacaran islami. Ironis memang..

Bagaimana pandangan Islam? Pacaran bukan perkara boleh / tidak bolehkah, buruk / tidak burukkah. Karena bisa saja seseorang menganggap pacaran it baik dan diperbolehkan oleh orang tuanya. Camkan baik-baik! Pacaran hakikatnya adalah kebodohan dan ketololan, penghinaan dan penipuan pada diri sendiri. Pacaran adalah sarana yang dihias-hiaskan syetan untuk menggagalkan terbentuknya generasi yang sholeh dan unggul. Pacaran adalah sebuah PROSES penghancuran martabat diri, keluarga, keturunan, masyarakat, dan bangsa.

Tak mudah memang memahami, menerima, dan mengakui hakikat dan kenyataan ini.. karena belum ada manusia yang merasakan dahsyatnya balasan dari sebuah dosa. Padahal, pacaran adalah dosa yang nyata dan jelas seterang matahari di siang hari..

Wahai saudara-saudariku, jika kalian sedang berpacaran, merasakan bahagianya hubungan terlarang antara dua jenis manusia tanpa ikatan nikah..ketahuilah bahwa engkau sedang berada pada zona kehancuran! Mungkin Anda akan bertanya? Mana yang hancur? Yang hancur adalah KEIMANANMU! Yang hancur adalah HATIMU, IBADAHMU!

Berpacaran dengan tingkat dosa dan kehancuran diri yang bermacam-macam, sekecil apapun.. tetaplah dosa. Bahkan orang yang di mata manusia adalah orang yang dianggap baik dan sholeh pun bisa jadi terkena. Orang yang melakukan dosa padahal mengetahui bahwa itu dosa adalah lebih besar dosanya. Bahkan ia disebut jahl murakkab (bodoh kuadrat). Sebagai gambaran, misal ada orang yang memperingatkan, “Jangan menuju ke sana, di sana ada jurang yang dalam!”. Ternyata dia tidak menggubris dan menerjangnya, kalau dia benar jatuh ke jurang, salah siapa? Bukankah itu namanya bodoh yang keterlaluan? Makanya ada ulama yang menggolongkan orang yang tahu ilmu tapi tidak mengamalkan sebenarnya adalah: orang bodoh.

Wahai muslimah, mari kita jaga diri kita. Jangan sampai kita membuka pintu padahal bukan saatnya. Wahai saudariku, mari terus perbaiki diri kita, mari bersihkan hati kita, mari perbaiki hubungan kita dengan Allah..Wahai muslimah, jadilah engkau kuntum bunga yang terjaga. Jadilah engkau bunga Islam yang terpelihara..

Di bawah ini ada beberapa petikan hikmah yang dapat kita ambil pelajarannya (diambil dari buku “Gombal Warming” karya Ustadz Burhan Shodiq).

Ibnu Uqail:  “Tidaklah penyakit asmara akan muncul kecuali atas orang yang suka melamun dan menganggur. Jarang sekali orang yang memilki kesibukan terjangkit penyakit ini, baik kesibukan dalam memproduksi barang-barang ataupun berniaga. Apalagi seseorang yang disibukkan dengan ilmu syar’i.”

Ibnu Abdil Bar berkata, “Sebagian ahli hikmah pernah ditanya tentang cinta,maka salah seorang dari mereka menjawab, “Kesibukan disebabkan hati yang kosong.”

“Mabuk Asmara akan menimpa hati yang tidak terisi oleh cinta kepada Allah, hati yang selalu berpaling dari-Nya dan mencari pengganti selain-Nya. Sebab, apabila hati seseorang dipenuhi cinta kepada Allah, dan selalu berharap berjumpa dengan-Nya maka segala bentuk penyakit asmara akan selamat darinya.” (Ibnul Qoyyim)

“Perkara yang paling berbahaya bagi seorang hamba adalah kehampaan hati dan jiwa. Karena sesubgguhnya jiwa itu tidak pernah kosong. Jika ia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat baginya maka akan terisi dengan hal-hal yang membahayakan.” (Zaadul Ma’ad, Ibnul Qoyyim).

“Sesungguhnya jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya maka tidak ada yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat, dan lebih baik darinya.” (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

= = =

Wahai saudariku, jika dirimu sekarang sedang menunggu seseorang untuk menjalani kehidupan menuju ridho-Nya, bersabarlah dengan keistiqomahan.. Demi Allah, ia tidak datang karena kecantikanmu, kepintaranmu, atau kekayaanmu.. Tapi Allah-lah yang menggerakkanya untukmu..

Janganlah tergesa untuk mengekspresikan cinta kepadanya, sebelum Allah mengizinkan.. Belum tentu yang kau cintai adalah yang terbaik untukmu.. Siapakah yang lebih Mengetahui daripada Allah?

Simpanlah segala bentuk ungkapan cinta dan derap hati rapat-rapat. Allah akan menjawab dengan lebih indah di saat yang tepat..

Sahabatku, semoga Allah menjagamu..

Bismillah..

Artikel ini ana tulis ulang dari sebuah makalah sekitar 3 tahun yang lalu ketika ana berada di asrama tahfidz almanar (ketika asrama belum pindah, masih dekat anak sungai Bengawan Solo). Kemudian ana kirim ke beberapa milis Islam dengan sebuah email -yang benar-benar kuniatkan pertama kali ketika membuatnya- untuk berdakwah di jalan Allah. Alhamdulillah, setelah ana cari akhirnya ketemu juga.

Masa-masa sebelum pernikahan sebaiknya digunakan untuk semakin giat mendekatkan diri pada Allah dan mempelajari ilmu-ilmu rumah tangga nantinya. So, tidak benar kalau julukan ‘jomblo’ dan ‘tidak punya pacar’ itu bikin stress atau tidak menyenangkan. Justru, inilah masa-masa emas untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, terutama bagi para muslimah yang nantinya pasti punya kesibukan luar biasa setelah benar-benar menjadi ibu.

Selamat membaca!

= = = = = = = = = =

Oleh: Drs. Mustofa AY

“Apabila anak Adam meninggal dunia putuslah amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR. Muslim).

Setiap pasangan suami istri beriman pasti merindukan anak sholeh. Untuk memiliki anak yang sholeh, pasangan suami istri wajib berusaha menjadi sholeh terlebih dahulu. Dalam hal ini perlu dipahami bahwa segala perilaku ibu dan bapak akan dicontoh putra-putrinya. Untuk itu, semua ibu bapak harus menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Setiap pasangan suami istri yang merindukan anak sholeh wajib memperbanyak amal mulia, makan dan minum hanya yang halal saja, menjaga sholatnya, indah akhlaqnya, lembut hatinya, semangat bekerja, berlaku taqwa dan terus-menerus berdzikir, wirid, memperbanyak membaca do’a.

Islam mengajarkan barangsiapa menginginkan lahirnya generasi unggulan ia hendaknya menyiapkan sejak memilih pasangan. Ini artinya dari pasangan suami istri yang sholeh-sholehah akan lahir generasi yang sholeh-sholehah pula. Anak sholeh bukan hasil kerja instan! Jelasnya, anak sholeh tidak bisa dilahirkan kecuali atas izin Allah dengan gigih kita mengusahakan. Anak sholeh tidak dilahirkan tapi diciptakan.

Berbicara tentang anak, Anda sah-sah saja mengharapkan ia kelak menjadi dokter, jendral, ataupun presiden sekalipun. Tetapi menjadikannya sholeh-sholehah tetap prioritas utama! Mengapa? Pertama, karena anak sholeh yang mendoakan ibu bapaknya adalah salah satu di antara tiga amal yang pahalanya mengalir tiada habis-habisnya. Kedua, karena permohonan ampun anak sholeh, dapat mengangkat derajat orang tuanya dapat masuk surga. Ketiga, karena anak sholeh adalah peredam amarah Allah.

Segala sesuatu tergantung pada pendidikan yang sebenarnya. Ibu dan bapak adalah guru pertama dan utama. Keluarga adalah pusat pendidikan yang sebenarnya. Al-Qur’an adalah materi pendidikan utama yang harus diberikan sebelum lainnya. Jangan menunggu umur enam tahun, jangan menunggu umur empat tahun. Mulailah sedini mungkin. Mulailah segera. Mulailah sejak dalam kandungan. Ingat umur empat tahun sudah sangat terlambat!

Salah satu terobosan dalam melahirkan anak sholeh adalah dengan mengajar bayi anda membaca Al-Qur’an sejak dalam kandungan. Apakah bisa? Insya Allah bisa! Anda hanya membutuhkan kemauan, ketekunan, dan kesabaran. Sebagai bagian dari rasa syukur, inilah berita gembira untuk Anda. Anak-anak kami hasil eksperimen program sekolah Al-Qur’an sejak dalam kandungan menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Maryam Arrosikha, empat tahun dapat membaca Al-Qur’an. empat bulan kemudian, dia dapat membaca cerita, buku, dan majalah berhuruf latin, bahkan di TK, ia khatam Al-Qur’an 30 juz. Aisyah Mujahida, adiknya, khatam membaca Al-Qur’an dan lancar membaca tulisan latin ketika di TK. Faqih Abdullah, anak kami yang ketiga sejak berusia 13 bulan, Alhamdulillah menunjukkan kesenangan membaca yang sangat tinggi. Dari pengalaman itu, kami menginginkan agar setiap bayi mendapatkan pelajaran Al-Qur’an sejak dalam kandungan. Insya Allah sangat bermanfaat.

Bagaimana caranya?
Inilah pertanyaan yang paling sering disampaikan.

Jawabannya:
Rahasia sukses mengajar Al-Qur’an sejak dalam kandungan adalah
R – U – M – U – S – A – B – C – D
Apa maksudnya?
R = Rumah. Maksudnya rumah adalah pusat pendidikan sejati.
U = Usaha. Maksudnya ilmu itu dipelajari.
M = Metodis. Maksudnya metodenya cocok dan meyenangkan
U = Upah. Maksudnya setiap prestasi anak hendaknya dihargai (dicium, peluk yang hangat, dan dipuji).
S = Sabar. Maksudnya ibu dan bapak harus betul-betul sabar. Ibu dan Bapak tidak boleh mengatakan jangan nakal sambil berlaku nakal (misalnya mencubit, memukul, menjewer, atau marah-marah) .
A = Ajeg. Maksudnya pemberian stimulasi hendaknya diberikan secara ajeg, walaupun sangat sebentar.
B = Bermain. Maksudnya stimulasi diberikan sambil bermain. Dengan demikian, anak senang, orangtuapun senang.
C = Contoh. Maksudnya orang tua hendaknya ,emjadi contoh atau mentor.
D = Do’a. Maksudnya orang tua berdo’a untuk kesusesan anak. Di samping segala sesuatu diawali dan diakhiri dengan do’a.

Siapapun yang ingin memberikan pendidikan kepada anak-anaknya sejak dini ia tidak boleh melewatkan masa emas belajar anaknya. Masa emas belajar itu adalah saat bayi di kandungan, dan ketika bayi berusia nol sampai 4 tahun. Singkatnya, pendidikan empat tahun pertama sangat menentukan. Pendidikan anak usia dini (0-6 tahn) lebih penting dibanding pendidikan dua puluh tahun yang diberikan kemudian. Sayang sekali, banyak yang mengabaikan pentingnya pendidikan usia dini. Sudah saatnya semua ibu bapak memperhatikan nasihat Buckminster Fuller berikut ini. “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupus kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama.”

Tugas seorang bayi bukanlah sekadar mami tipis (makan, minum, tidur, dan pipis (ngompol). Ajaklah anak Anda bermain. Janganlah biarkan ia kesepian, nganggur, dan bengong. Ajaklah ia belajar membaca sambil mengenal Tuhannya. Ikutilah metode penddiikan turunnya Al-Qur’an wahyu pertama.

Ajarilah anak Anda membaca Al-Qur’an sejak dalam kandungan.

= = = = = = =

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa. Amin

Sebelumnya saya beristighfar bila ada readers yang hanya membaca judul tulisan ini saja. Tadinya tulisan ini saya beri judul “Ingin hafal Al-Quran atau ingin jadi Penghafal Al-Quran?” yang terinspirasi dari perkataan seorang hafidz yang dipertemukan dengan saya saat Itikaf di Daarut Tauhiid, Ramadhan kemarin. Hanya saja supaya lebih bombastis, judulnya sedikit dibuat slengekan. Jadi lupakan sejenak permainan bahasa EYD kita.

Lupakan masalah judul diatas. Jika masih dirasa menggangu anggap saja judul tulisan ini adalah “Ingin Hafal Al-Quran atau ingin menjadi Penghafal Al-Quran?”. Dan saya yakin, jika tulisan ini mengandung kebenaran maka pembaca akan dipertemukan dengan kesimpulan yang senada dengan judul tulisan ini.

Sangat sederhana sekali pertanyaannya. Ingin hafal Al-Quran atau ingin menjadi penghafal Al-Quran? Dua pilihan yang serupa namun sangat berbeda makna. Pilihan yang pertama, ingin hafal Al-Quran, bermakna bahwa si pemilih berharap dan berusaha agar seluruh isi Al-Quran ada dalam ingatannya. Sedangkan pilihan kedua, ingin jadi penghafal Al-Quran. Terkesan hampir mirip dengan pilihan pertama, hanya bedanya, untuk pilihan yang kedua, si pemilih secara tidak langsung menerjunkan dirinya menjadi seorang penghafal abadi. Maksudnya, tiap ada bagian yang dia hafal, bagian yang lain terlupa. Begitu yang terlupa dihafal lagi, bagian yang lainnya balik terlupa. Benar-benar menghafal tak ada habisnya.

Hal inilah yang seyogyanya sedang saya alami. Benar-benar bisa bikin “babak belur”. Berputar-putar menghabiskan waktu, namun tak ada hasil. Sebuah surat selesai di hafal. Berlanjutlah menghafal surat yang lainnya. Begitu berhasil terhafal, surat yang sebelumnya sudah hafal malah terlupakan lagi. Jadi sampai kapankah akan hafal Al-Quran? 😀

Salah satu hal yang menyebabkan seseorang menjadi penghafal Al-Quran adalah karena surat-surat yang telah dihafalnya jarang sekali di muraja’ah. Dan kenapa jarang di muraja’ah? Jawabannya….. Ada banyak faktor. Diantaranya :

* Terlalu PD pada ingatan yang menurutnya sangat kuat, dan mustahil lupa. Padahal manusia pada fitrahnya selalu dibuat lupa.

* Tidak ada guru atau pun teman untuk bermuraja’ah. Bagaimana mungkin bisa mengetahui hafalan kita bagus atau tidak, jika tidak diuji, minimal di hadapan teman kita yang pandai tahsin Al-Quran.

* Sedikit “jam terbang” untuk mengetes hafalannya. Jika bacaan surat ketika shalat selalu menggunakan surat-surat pendek, lantas surat-surat panjang yang telah dihafal mau dikemanakan?

* Dll (Dan Lupa Lagi…..) 😀

Mungkin kendala-kendala inilah yang membuat Muhammaf Yasin mantap mengambil pilihan hidup. Yasin adalah salah seorang sahabat baru yang saya kenal sejak itikaf kemarin. Dia sering curhat dengan saya tentang diri dan keluarganya. Dalam sebuah dialog, dia mengungkapkan bahwa dirinya ingin hafal Al-Quran. Selain mengikuti kuliah khusus menghafal Al-Quran, dia juga memberikan satu kriteria untuk calon istrinya kelak. Perempuan itu haruslah seorang hafidzah. Benar-benar mantap. Tak ada kriteria lain. Kaya? Cantik? Pintar? Dia geleng-geleng kepala. Tak penting… asal perempuan itu hafal Al-Quran, titik. Jawaban yang membuat bulu kuduk saya merinding bukan main. Merinding, karena memang kriteria itu tidak pernah terlintas dalam benak saya. se… di… kit…. pun.

* * *

Sin…. ana mungkin tidak seyakin antum untuk mendapatkan gadis seorang hafidzah. Mengingat ana sendiri belum mampu konsisten untuk menghafal Al-Quran. Tapi setidaknya ana berharap Allah mengkaruniakan kepada ana pasangan hidup yang “ber-azzam untuk hafal Al-Quran”. Dan mudah-mudahan Allah menganugerahi kemampuan kepada kita agar bisa “hafal Al-Quran”, dan melahirkan generasi-generasi yang hafal Al-Quran.

Saudaraku Yasin, mari kita ingat kembali akan keutamaan-keutamaan insan yang hafal Al-Quran. Betapa mulianya ia dihadapan Sang Khaliq, betapa mudahnya ia melewati sirath, betapa orang-tuanya menjadi orang tua termulia kelak di hari penghisaban. Ah.. masih banyak lagi tentunya bukan akhi? Mudah-mudahan ingatan itu menjadi penyemangat bagi kita untuk istiqamah menuju cita-cita “hafal Al-Quran”. Selamat berjuang! Jangan lupa saling mendoakan, dan jangan sungkan untuk memberi kabar sampai juz berapa hafalan antum, agar ana menjadi termotivasi untuk mengejar ketertinggalan.

Ah.. ana beruntung antum tidak mau menerima tantangan ana waktu itu. “Barang siapa yang hafal Al-Quran terlebih dahulu. Maka dia berhak untuk menikah duluan”. Huh… coba kalau antum menerima tantangan itu. Bisa-bisa saat umur ana menjelang 40 tahun baru bisa nikah… 😀

Allahu Rabbi…! Berikan kekuatan-Mu kepada kami. Ijinkan hati kami terisi penuh dengan ayat-ayatMu. Dan pilihlah kami menjadi salah seorang penjaga kalimat-kalimat suci-Mu.

= = = ==
http://insansains.wordpress.com/2008/10/28/kesia-siaan-besar-bagi-para-penghafal-al-quran/

Kuliah Pra Nikah & Manajemen Rumah Tangga Islami
”Kusongsong Pernikahan yang Full Barokah”

Alhamdulillahirobbil ’alamiin, beberapa hari Ahad di bulan Februari ini saya telah mengikuti kegiatan kuliah pra nikah yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus LDK USAHID. Pertama kali lihat pamfletnya di Gedung A FMIPA UNS, saya langsung tertarik karena desainnya bagus dan terdapat penjelasan yang detail mengenai isi materi perkuliahan dan pembicaranya tiap pekan. Saya mendaftarkan diri dalam kuliah singkat ini dan mengikuti tiap perkuliahannya dengan antusias. Betapa senangnya…bisa dapat ilmu 

Meskipun terbuka untuk umum, tapi kelas putra dan kelas putri dipisah. Pada sebagian pertemuan ada yang dilakukan dalam satu ruangan, yaitu di aula. Pada saat seperti ini peserta ikhwan dan akhwat dapat menimba ilmu dari dua pembicara yang hadir.

Acara ini diselenggarakan di Universitas Sahid Surakarta yang berlokasi di Jln. Adi Sucipto No. 154 Surakarta. Beberapa pihak yang mendukung acara ini antara lain : Yayasan Nurul Karim, Lembaga Qur’an Al-Itqan, Swalayan Aqilla, dan Harian Joglo Semar. Berikut jadwalnya :

STADIUM GENERAL
Hari/Tanggal : Ahad, 1 Februari 2009 dan 15 Maret 2009
Waktu : 09.00 – 11.30 WIB
Tempat : Aula Universitas Sahid Surakarta
Kontribusi : Rp. 10.000,- / SG (Stadium General)
Pembicara :
SG I : 1. Ustadz Adi Setiasi (Fiqih Munakahat)
2. Ustadz Awan Setiawan (Psikologi Pernikahan)
SG II : Ustadz M. Manaf Amin (Fiqih Parenting & Mencetak Generasi Rabbani dan Qur’ani)

PELAKSANAAN KULIAH
Hari/Tanggal : Setiap Ahad, 8 Februari 2009 – 8 Maret 2009
Waktu : 12.30 – 14.30 WIB
Tempat : Ruang Kelas Universitas Sahid Surakarta
Kontribusi : Rp. 75.000,- (sudah termasuk biaya stadium general)
Fasilitas : Ruangan ber-AC, Snack, Sertifikat, Blocknote, Makalah, Doorprize

MATERI KULIAH
Ahad, 8 Februari 2009
Tema : Mempersiapkan Bekal Menikah (aspek ruhiyah, psikologi, fisik, materi, ilmu)

Pembicara : 1. Ustadz Amir Junaedi, 2. Ustadzah Farida Nur ’Aini

Ahad, 15 Februari 2009
Tema : Proses Ta’aruf – Pernikahan
(Batasan-Batasan, Jalur Wasilah, Sumber Informasi, Teknis Ta’aruf, Teknis Khitbah, Akad Nikah, Teknis Walimah)
Pembicara : 1. Ustadz Salim A. Fillah, 2. Ustadzah Nur Silaturrohmah, Lc

Ahad, 22 Februari 2009
Tema : Kesehatan Pra dan Pasca Nikah
(Medical Check-Up Pra Nikah, Konsepsi Pendidikan Seksual, Menjaga Kesehatan Reproduksi Pasangan)
Pembicara : 1. dr. Yusuf Alam, 2. dr. Retno

Ahad, 1 Maret 2009
Tema : Membangun Komunikasi dengan Pasangan dan Keluarga Pasca Nikah
Pembicara : 1. Ustadz Yadi Purwanto, 2. Ustadzah Budi Lestari

Ahad, 8 Maret 2009
Tema : Manajemen Konflik Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah
Pembicara : 1. Ustadz Setyo Purwanto, M. Si, 2. Ustadzah Dra. Suci Murti Karini, M. Si

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Untuk sahabatku yang membutuhkan file-file presentasi dalam acara ini, bisa menghubungi saya, ok! ^_^

Ya Allah…


Aku berdoa untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku,
seorang yang sungguh mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu,
seorang pria yang akan meletakkan ku pada posisi ketiga*) di hatinya setelah Engkau,
seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri,
seorang pria yang tidak hanya mencintaiqu tetapi juga menghormatiqu,
seorang pria yang tidak hanya memujaqu, tetapi juga menasehatiqu ketika aqu berbuat salah,


*****

seorang yang mencintaiqu bukan karena kecantikan ku tetapi karena hatiku,
seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi,
seorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika berada di sebelahnya,

Aku tidak meminta seseorang yang sempurna, namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata-Mu,
seorang pria yang membutuhkan dukungan ku sebagai peneguhnya,
seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupan dan segala urusannya,
seorang pria yang membutuhkan senyumanku untuk menghapus kesedihannya,
seorang pria yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna,

***

Dan aku juga minta…
Jadikanlah aku seorang wanita yang dapat membuat pria itu bangga dan bahgia,
berikanlah aqu sebuah hati yang sungguh mencintai Mu,
sehingga aqu dapat mencintainya dengan cintaMu, bukanmencintainya sekedar cintaku,
berikanlah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya,
Berikanlah aku penglihatanMu sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya, berikanlah aku mulut Mu sehingga aqu dapat mendukungnya setiap hari, dan aku dapat tersenyum padanya setiap detik,
dan bilka mana akhirnya kami bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan ;
“betapa besarnya Tuhan itu karena Engkau telah memberikan kepada ku seorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna”,
aku mengetahui bahwa engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatu indah pada waktu yang Engkau tentukan,

***

Allah yang Maha Pemurah….
Terimakasih engkau telah menciptakan dia dan mempertemukan saya dengannya,
terimaksih untuk saat-saat terindah yang kami nikmati bersama,
terimaksih untuk setiap pertemuan yang boleh kami lalui bersama,
terimaksih untuk saat-saat yang lalu,
saya datang bersujud di hadapanMU, sucikan hatiqu ya Allah,
sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencanaMu dalam hidup saya…,

****

Ya Allah….
Jika Engkau ciptakan ia untuk saya, Ya Allah….tolonglah satukan hati kami.bantulah saya untuk mencintainya, mengerti dan menerimanya dia seutuhnya. berikan saya kesabaran, ketekunan dan kesungguhan untuk menenangkan hatinya. Urapilah dia agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya sebagaimana saya telah kau ciptakan.Yakinkanla h ia bahwa saya sungguh-sungguh mencintai dan rela membagi suka dan duka saya dengan dia..

***

Ya Alah Maha Pengasih…
dengarlah do’a saya ini.Lepaskanlah saya dari keraguan ini menurut kasih dan KehendakMu..
Amieenn yaa Robbal ‘Alamin
= = = = =
*) kata “kedua” pada tulisan di atas ana ubah menjadi “ketiga” karena:
cinta pertama: cinta pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
cinta kedua: cinta pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
Wallahu a’lam
puisi di atas ana dapatkan dari: milis tahajjud_call

Arsip

Statistik Blog

  • 616,336 hits