Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘Ramadhan’ Category

Bismillah..

Alhamdulillah, pada bulan Ramadhan di mahad tahfidz almanar tahun ini benar2 berbeda dari tahun2 sebelumnya. Kalau dulu kita tetap aja setoran dan muraja’ah seperti hari2 biasa.. plus ada kegiatan ifthor jama’i (buka puasa bersama) menjelang maghrib. Kalau sekarang, jumlah jam setorannya dikurangi tapi kita diberi tugas oleh ustadzah untuk memperbanyak tilawah al-Qur’an.

TILAWAH AL-QUR’AN

Untuk santriwati baru, maka mereka diberi tugas untuk tilawah 10 juz tiap hari. Tujuaannya adalah agar benar2 lancar dalam membaca al-Qur’an sehingga nanti kalau sudah masuk tahap menghafal, menjadi lebih mudah karena sudah sering dibaca dan dikhatamkan. Target khatam adalah 10 kali khatam hingga hari pertama masuk setelah lebaran.

Untuk santriwati lama, tugas tilawahnya hanya 5 juz tiap hari. Lebih sedikit, karena sudah punya hafalan. Mereka juga diperbolehkan untuk muraja’ah di hadapan ustadzah untuk melancarkan dan menjaga hafalan. Setelah itu, kembali dengan kegiatan tilawahnya. Target khatam adalah 6 kali khatam hingga hari pertama masuk setelah lebaran.

IFTHOR JAMA’I

Pada sore hari menjelang maghrib, ada kegiatan ifthor jama’i. Acara dimulai pikul 5 sore, diisi kajian atau taushiyah singkat seputar Adab Membaca Al-Qur’an selama 20-30 menit. Pengisi kajian adalah para santriwati lama sedangkan MC nya adalah santriwati baru. Buku yang dibahas adalah buku karya Imam Nawawi yang sangat terkenal. Di buku itu disebutkan ada 51 adab dalam membaca al-Qur’an. Makanya, hanya mempelajari satu bab saja dibahas sampai beberapa kali pertemuan karena jumlah poin nya banyak.

Setelah kajian, adalah persiapan buka puasa. Santriwati yang tugas piket menyiapkan dan membagikan makanan dan minuman, dibantu bebrapa teman yang lain. Sambil menunggu buka puasa, ada yang membahas materi kajian itu lebih dalam, ada yang melanjutkan tugas tilawahnya hari itu..

Makanan buka puasa itu adalah bantuan dari AMCF, plus kurma yang dikirm dari Dubai. Ana membayangkan, betapa banyak pahala yang didapatkan para donatur karena orang yang memberi makanan buka puasa itu juga mendapatkan pahala orang yang berbuka. Apalagi kalau yang berbuka itu adalah para santri tahfidz. Padahal tiap santri tiap hari membaca 5-10 juz tiap hari. Sedangkan jumlah santri yang ikut buka puasa sekitar 30 orang. Berarti pahala mereka banyak sekali ya.. kalau mau sedikit menghitung barangkali setara dengan 300 kali khatam qur’an pada bulan Ramadhan!! Hmm.. Allah-lah yang lebih tahu dan berhak untuk melipatgandakannya tanpa batas.

DOA SAAT BUKA PUASA

Saat-saat berbuka puasa adalah salah satu waktu ijabah untuk dikabulkannya doa. Beberapa hari yang lalu ada seseorang yang menyumbagkan sekotak roti untuk para santri. Beliau berpesan agar para santri berkenan mendoakan ibunya yang sedang sakit agar segera sembuh.. Hm.. pemikiran yang sangat baik, mohon didoakan kesembuhan oleh banyak orang pada saat ijabah, oleh para santri tahfidz yang hari2nya setiap hari disibukkan dengan al-qur’an dan menjaga diri dari hal2 yang tidak dridhai-Nya..

= = = =
Alhamdulillaah..

Iklan

“Mantap! Dua rakaat 20 menit!”, kataku pada ayah yang membukakan pintu rumah sekitar pukul 01.15 dini hari (tentu sebelumnya ana sudah mengucapkan salam dan mengetuk pintu.. 🙂 ). Lalu aku pun berbincang-bincang dengan ayah sejenak mengenai kegiatan yang baru saja kulakukan di sebuah masjid favoritku.

= = = = =

Alhamdulillah, pada malam hari bulan Ramadhan..  di Masjid Istiqlal Solo diadakan kegiatan shalat tarawih berjama’ah seperti tahun-tahun sebelumnya. Imamnya adalah para hafidz qur’an yang memiliki bacaan yang jernih, bagus, lembut, dan merdu.. 🙂

Suatu malam ana diantar adik untuk shalat tarawih di sana. Para jama’ah datang ke masjid sekitar pukul 22.00 untuk mengikuti kajian terlebih dahulu. Pengisinya biasanya para ustadz kabir atau doktor2 yang sangat muslim. Biasanya mereka menggunakan slide presentasi untuk memberikan pemahaman yang lebih dengan bantuan audio-visual. Dengan mengikuti kajian itu, serasa otak kita bersinar dan volumenya bertambah karena isi kajiannya padat ilmu dan benar2 menggugah.. 🙂

Setelah kajian selesai, dilanjutkan shalat tarawih berjama’ah. Semua lampu utama dimatikan, tinggal lampu samping berwarna kuning yang masih hidup. Suasana yang agak gelap itu membuat lebih nyaman dan menambah konsentrasi sholat. Sholat tarawihnya dilaksanakan dua rakaat-dua rakaat. Dua rakaat itu berlangsung selama kurang lebih dua puluh menit.

Sebenarnya ana tidak bermaksud menghitung lama waktunya, tapi kebetulan pada sholat yang pertama secara tidak sengaja ana melihat jam dinding yang terletak di sebelah atas imam. Untuk rakaat2 setelahnya, ana tidak tahu berapa menit lamanya karena tidak melihat jam. Hanya saja sempat terhitung olehku bahwa untuk keseluruhan sholatnya berlangsung sekitar 1,5 jam.

Alhamdulillah, ana mendapatkan tambahan ilmu di sana, termasuk ilmu tajwid yang ana cari selama ini. Ana teringat, ustadzah tahfidz di semester satu pernah mengatakan kalau bacaan tasydid dan idgham bi-gunnah itu berbeda.

Dalam sholat itu, bacaan tasydid dan idgham bi-gunnah yang dibaca imam BENAR-BENAR TERDENGAR JELAS di telingaku. Oh, jadi itu ya.. perbedaannya.

= = = =

“Ukh, ana ingin sekali belajar tahsin lagi. Tahu nggak, tasydid dan idgham bi-gunnah itu beda lho!”, kataku sambil berjalan ke masjid al-manar pada salah seorang sahabat.

“BEDA? Benarkah?”, tanyanya heran.

“Iya, beda!”, jawabku. Lalu aku menggambarkan perbedaan itu dengan isyarat telapak tangan (sesuai pemahamanku). Kalau tasydid itu suaranya seperti dua tangan yang ditumpuk atas bawah.. kalau idgham bi-ghunnah itu seperti dua telapak tangan yang berjajar.

“Bagaimana praktek membacanya?, tanyanya ingin tahu.

Ana sudah memberitahu praktek bacanya sesaat sebelum pembicaraan ini. Karena takut salah ngasih contoh dan mau berpisah, maka kujawab singkat saja, “Nanya ustadzah Mukminah aja! Biar lebih jelas!”. Lalu kami pun berpisah. Ia menuju masjid di lantai satu untuk mengajar ibu2 membaca al-Qur’an. Sedangkan ana menuju masjid di lantai dua menaiki tangga putri.

= = = = =

Kapan ya, belajar tahsin lebih dalam lagi?

Bismillah..

Alhamdulillah, hari ini, Sabtu 24 Juli 2011 di Islamic Center diadakan kegiatan masak2 bikin kue lebaran istimewa. Sebagai seorang muslimah, tentu ana sangat tertarik. Why? Karena perempuan itu fitrahnya suka masak.. 🙂 Ana teringat ketika masih kecil, suka main rumah-rumahan atau masak-masakan. Bahan makanannya dari daun-daunan, pasir, tanah, dan air. Kalau masak bubur, tanahnya dikasih air. Kalau bikin mie, daunnya diiris tipis2 memanjang seperti mie. Trus kita juga jualan es dengan berbagai warna / rasa, yaitu dengan memberi air dengan teres/pewarna lalu dimasukkan ke dalam botol. Teman2 yang lain berperan sebagai pembeli.. Dari kegiatan bermain peran itu, kami juga belajar menghitung uang dengan uang-uangan.. Lucu ya.. 🙂

Masaknya bareng siapa? Apa saja yang dipelajari?

Alhamdulillah, dengan dibimbing Ustadzah Istiqomah, kami bisa mengenal bahan2 untuk membuat kue kering. Bahan utamanya adalah teung, gula. lemak, dan telur. Takarannya harus pas!! Kalau tidak, hasilnya tidak sempurna. Misalnya, kalau terlalu banyak tepung, kuemenjadi keras, tapi jika terlalu sedikit, maka kuenya akan menjadi lembek. Kalau gulanya kurang, warna kue kurang coklat.. tapi kalau terlalu banyak, kue kering jadi mudah gosong!

Beliau juga menjelaskan perbedaan penggunaan putih telur dan kuning telur. Kalau kuning telur, membuat kue menjadi empuk, sedangkan putih telur menyebabkan kue menjadi keras.. Bahan yang tak kalah penting adalah lemak, dengan menggunkan mentega atau margarin. Ternyata, kedua bahan tersebut bebrbeda lho! Kalau mentega itu terbuat dari lemak hewani, kalau margarin terbuat dari lemak nabati/tumbuhan.

Di Islamic Center masak kue apa saja?

Alhamdulillah, kami masak beberapa kue kering siang tadi.. antara lain: (1) kue semprit, (2) kaastengel, (3) cokelat crunchy, dan (4) vanila spikle.

Awalnya, Ustadzah Istiqomah memberi contoh bagaimana membuat adonan kue semprit, mengocoknya dengan mixer, mencetak kue, hingga mengoven- nya. Saat membuat kue dengan cetakan, beliau memberi kesempatan pada para peserta untuk mencetak juga. Ternyata mencetak kue semprit nggak segampang yang dilihat. Ada yang bisa mencetak kue itu seperti bunga mawar tapi bentuknya kecil, tapi ada juga yang malah nggak jadi. Lalu ana pun mencoba.. emm Alhamdulillah bisa..:) Kue yang kucetak bentuknya seperti bunga mawar yang memiliki mahkota yang lebar dengan lekukan kecil di tengahnya. Setelah itu, ana dan beberapa orang memberi hiasan sukade (pepaya yang dikeringkan) warna-warni di lekukan kecil tadi.

Selesai membuat kue semprit, beliau memberi kesempatan pada peserta untuk membuat kue selanjutnya dengan tangan sendiri. Paniti mempersilahkan tiga orang untuk maju ke depan. Seperti anak kecil yang penuh rasa ingin tahu dan mencoba melakukan sendiri, ana pun maju disusul dua akhwat yang lain. Kami membuat kue vanila spikle. Kue ini unik! Karena hiasannya seperti butiran2 pasir kecil warna-warni yang disebut spikle. Bentuk cetakannya pun baru kulihat pertama kali tadi, berupakurva tertutup dengan beberapa lengkungan dan tiga sudut lancip.

Setelah itu, teman2 yang lain membuat kaastengel, kue kering yang bentuknya panjang dan rasanya asin dan gurih. Kalau dua kue sebelumnya rasanya manis. Hiasan dari kue ini adalah keju edam yang diparut lalu ditaburkan di atasnya. Cetakan dari kue ini berbentuk persegi panjang yang berjajar rapi.

Terakhir, kami membuat cokelat crunchy, yaitu kue kering rasa coklat dengan campuran serbuk cornflake. Hiasannya adalah dua atau tiga cornflake yang masih utuh di atasnya seperti bentuk bunga. Rasa coklatnya terasa dan renyah dari choco crunch nya pun juga hmm.. crispy.. 🙂

Sebenarnya masih ada satu resep lagi, yaitu kue lidah kucing (namanya unik ya.. by the way, ana sangat suka kucing.. ). Tapi karena cetakannya tidak terbawa, ya sudah, acara dicukupkan sampai empat kue saja sambil menunggu kue di dalam oven matang. Para peserta bisa menikmati kue hasil masakan dengan tangannya sendiri maupun maskan teman2nya. Asyik deh, bisa jadi pengalaman berharga untuk masa depan..:)

= = = = =

Ramadhan nanti bikin kue yuuk..!

Bismilah..

Hari Selasa-Kamis, tepatnya tanggal 10-12 Agustus 2010 FAAI (Forum Aktualisasi Anak Islam) mengadakan acara Pesantren Kilat di SD Amanah Ummah, Gading, Solo. Seluruh panitia FAAI adalah muslimah yang berasal dari beberapa kota/kabupaten di Karesidenan Surakarta… Acara ini diikuti oleh anak-anak usia SD baik putra maupun putri di daerah Solo dan sekitarnya.

Aku menjadi salah satu panitia dari acara tersebut. Awalnya, aku khawatir tidak bisa membantu sahabat-sahabatku dalam acara ini karena kukira mahad tahfidz masih masuk. Alhamdulillah ternyata libur, dengan hati gembira aku bergabung dengan teman-teman. Awalnya aku bertugas melayani peserta di bagian registrasi di Masjid AL-Ikhlas. Para peserta sebagian besar diantar oleh ibu mereka. Ada ibu-ibu yang berpesan pada kami mengenai sifat anaknya, misal : tidak boleh minum es, takut kalau mau bilang ke kamar kecil-jadi kami harus menawarkan pada para peserta sebelum acar a dimulai “Siapa yang mau ke kamar kecil?” dll.  Ternyata anak-anak itu unik.

Acara dimulai menjelang ashar diisi dengan perkenalan dan games-games seru untuk anak-anak. Para sahabatku memang pandai menghidupkan suasana sehingga para peserta pun memperhatikan dengan baik dan ikut aktif dalam permainan tersebut. Hari pertama Pesantren Kilat saat itu belum puasa. Petugas konsumsi datang membawakan gelas-gelas, kue, dan snack. Anak-anak diberi makanan, asal mau duduk rapi dan mematuhi perkataan atau nasihat ustadzah. Mereka dipanggil satu demi satu untuk mendapatkan gelas yang sudah diberi nama sesuai nama mereka. Tiap anak bertanggung jawab terhadap gelasnya masing-masing.

Setelah acara makan-makan, anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok putra diberi nama dengan nama-nama para nabi, seperti “Ibrahim” dan “Muhammad”. Kelompok putri diberi nama dengan nama-nama shohabiyah, seperti ‘Aisyah’, ‘Hafshoh’, dll. Saat itu, aku mendapat tugas untuk membimbing kelompok “Aisyah”.

Acara-acara lain yang diikuti para peserta antara lain:

1. MURI-Q (Murattal Irama Qur’an)

2. Tilawah quran

3. Pemutaran Film

4. Dongeng

5. Keterampilan Membuat Origami

6. Olahraga dan Games

Biasanya tilawah dilakukan ba’da sholat dibimbing oleh murabbi masing-masing kelompok. Tilawah pertama adalah membaca Surat Ar-Rahman (juz 27). Subhanallah, ternyata, salah satu murid yang kubimbing ternyata telah menghafalnya meski belum seluruhnya. Padahal setahuku, anak-anak SDIT itu standar hafalannya dari sekolah  mencapai juz 30, 29, dan 28. Barangkali orang tuanya sering memperdengarkan Surat Ar-Rahman Ahmad Thoha.

MURI-Q dilaksanakan pada malam hari setelah sholat tarawih. Pengajarnya adalah salah satu sahabatku yang telah mendapat bimbingan khusus dari Ustadz Dzikron Al-Hafidz. Anak-anak mengikuti kegiatan dengan penuh antusias, karena memang amat menarik, membaca iqro dengan lagu murottal.. sehingga tidak membosankan.. Apalagi basmalahnya ada beberapa jenis lagu.

Setelah acara MURI selesai, aku berdiskusi dengan sahabatku yang tadi mengajarkan MURI. “Ko bisa diajar Ustadz Dzikron gimana ceritanya?”, tanyaku. Ia menceritakan pengalamannya, aku menyimak perkatannya. Aku sendiri belum tahu Ustadz Dzikron itu yang mana, hatiku berkata, semoga suatu saat aku juga bisa bertemu beliau dan belajar dari beliau…

Alhamdulillah beberapa hari setelah itu, ternyata aku bisa bertemu beliau saat shalat tarawih di masjid Istiqlal Solo. Saat itu aku di shaf putri, beliau mengisi kajian setelah mengimami shalat tarawih… Alhamdulillah lagi, pada hari Ahad di bulan Ramadhan ini diadakan pelatihan MURI-Q di Islamic Center Pabelan. Aku termasuk peserta yang datang bersama sahabat-sahabat tahfidz yang lain. Dalam acara itu diajarkan secara lebih mendetail tentang MURI-Q dengan menggunakan buku panduannya secara langsung. Suatu saat aku pun ingin menhgajarkan pada dik-adikku dan anak-anak TPA  di sekitar rumah.. sehingga mereka bisa menjadi semakin mencintai Al-Qur’an.

Alhamdulillah..

Amin

Meski RAMADHAN… telah BERLALU…

Namun KETAQWAAN… tak boleh LAYU…

Meski LEBARAN…  telah DATANG…

Nutrisi ILMU…  tak boleh BERKURANG…

Berbekallah di hari TERINDAH…

Tuk menjadi MUSLIM KAFFAH…

“Watazawaduu fainna khoiro zaadit taqwaa..”

Sebaik-baik bekal adalah TAQWA..

= = =

Sahabatku, semoga kita menjadi alumnus Universitas Ramadhan yang sukses dengan gelar ‘MUTTAQIIN’. Berubah dari ULAT berbulu yang ditakuti, menjadi KUPU-KUPU yang cantik dan disukai.. ^_^

Taqobballallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum.

Selamat Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin..

Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata :

“Bila masuk sepuluh (hari terakhir bulan Ramadhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengencangkan kainnya menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan Keluarganya . ” Demikian menurut lafazh Al-Bukhari.

Adapun lafazh Muslim berbunyi :

“Menghidupkan malam(nya), membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya.

Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh (hari) akhir (bulan Ramadhan), hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya. “

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain, di antaranya:

  • Menghidupkan malam: Ini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya. Dalam Shahih Muslim dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:

“Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat malam hingga pagi. “

Diriwayatkan dalam hadits marfu’ dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali :

“Barangsiapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat dan sebagai orang muslim, lalu puasa pada siang harinya dan melakukan shalat pada sebagian malamnya, juga menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan, lisan dan tangannya, serta menjaga shalatnya secara berjamaah dan bersegera berangkat untuk shalat Jum’at; sungguh ia telah puasa sebulan (penuh), menerima pahala yang sempurna, mendapatkan Lailatul Qadar serta beruntung dengan hadiah dari Tuhan Yang Mahasuci dan Maha tinggi. ” Abu Ja ‘far berkata: Hadiah yang tidak serupa dengan hadiah-hadiah para penguasa. (HR. Ibnu Abid-Dunya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membangunkan keluarganya untuk shalat pada malam-malam sepuluh hari terakhir, sedang pada malam-malam yang lain tidak.

Dalam hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu disebutkan:

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27) saja. “

Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menekankan dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadar di dalamnya.

At-Thabarani meriwayatkan dari Ali radhiallahu ‘anhu :

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat. “

Dan dalam hadits shahih diriwayatkan :

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali radhiallahu ‘anhuma pada suatu malam seraya berkata:

Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat ?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga membangunkan Aisyah radhiallahu ‘anha pada malam hari, bila telah selesai dari tahajudnya dan ingin melakukan (shalat) witir.

Dan diriwayatkan adanya targhib (dorongan) agar salah seorang suami-isteri membangunkan yang lain untuk melakukan shalat, serta memercikkan air di wajahnya bila tidak bangun). (Hadits riwayat Abu Daud dan lainnya, dengan sanad shahih.)

Dalam kitab Al-Muwaththa’ disebutkan dengan sanad shahih, bahwasanya Umar radhiallahu ‘anhu melakukan shalat malam seperti yang dikehendaki Allah, sehingga apabila sampai pada pertengahan malam, ia membangunkan keluarganya untuk shalat dan mengatakan kepada mereka: “Shalat! shalat!” Kemudian membaca ayat ini :

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. ” (Thaha: 132).

Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengencangkan kainnya. Maksudnya beliau menjauhkan diri dari menggauli isteri-isterinya. Diriwayatkan bahwasanya beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sehingga bulan Ramadhan berlalu.

Dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu disebutkan :

“Dan beliau melipat tempat tidurnya dan menjauhi isteri-isterinya (tidak menggauli mereka).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Orang yang beri’tikaf tidak diperkenankan mendekati (menggauli) isterinya berdasarkan dalil dari nash serta ijma’. Dan “mengencangkan kain” ditafsirkan dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah.

  • Mengakhirkan berbuka hingga waktu sahur.

Diriwayatkan dari Aisyah dan Anas uadhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam-malam sepuluh (akhir bulan Ramadhan) menjadikan makan malam (berbuka)nya pada waktu sahur.Dalam hadits marfu’ dari Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

“Janganlah kalian menyambung (puasa). Jika salah seorang dari kamu ingin menyambung (puasanya) maka hendaknya ia menyambung hingga waktu sahur (saja). ” Mereka bertanya: “Sesungguhnya engkau menyambungnya wahai Rasulullah ? “Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya pada malam hari ada yang memberiku makan dan minum. “(HR. Al-Bukhari)

Ini menunjukkan apa yang dibukakan Allah atas beliau dalam puasanya dan kesendiriannya dengan Tuhannya, oleh sebab munajat dan dzikirnya yang lahir dari kelembutan dan kesucian beliau. Karena itulah sehingga hatinya dipenuhi Al-Ma’ariful Ilahiyah (pengetahuan tentang Tuhan) dan Al-Minnatur Rabbaniyah (anugerah dari Tuhan) sehingga mengenyangkannya dan tak lagi memerlukan makan dan minum.

  • Mandi antara Maghrib dan Isya’.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli) isteri-isterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya.”

Ibnu Jarir rahimahullah berkata, mereka menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam sepuluh hari terakhir. Di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar.

Karena itu, dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan di dalamnya turun Lailatul Qadar untuk membersihkan diri, menggunakan wewangian dan berhias dengan mandi (sebelumnya), dan berpakaian bagus, seperti dianjurkannya hal tersebut pada waktu shalat Jum’at dan hari-hari raya.

Dan tidaklah sempurna berhias secara lahir tanpa dibarengi dengan berhias secara batin. Yakni dengan kembali (kepada Allah), taubat dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sungguh, berhias secara lahir sama sekali tidak berguna, jika ternyata batinnya rusak.

Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu. Karena itu, barangsiapa menghadap kepada Allah, hendaknya ia berhias secara lahiriah dengan pakaian, sedang batinnya dengan taqwa. Allah Ta’ala berfirman :

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. ” (Al-A’raaf: 26).

  • I’tikaf. Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah radhiallahu ‘anha :

Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau. “

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir yang di dalamnya dicari Lailatul Qadar untuk menghentikan berbagai kesibukannya, mengosongkan pikirannya dan untuk mengasingkan diri demi bermunajat kepada Tuhannya, berdzikir dan berdo’a kepada-Nya.

Adapun makna dan hakikat i’tikaf adalah:

Memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada AI-Khaliq. Mengasingkan diri yang disyari’atkan kepada umat ini yaitu dengan i’tikaf di dalam masjid-masjid, khususnya pada bulan Ramadhan, dan lebih khusus lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang yang beri’tikaf telah mengikat dirinya untuk taat kepada Allah, berdzikir dan berdo’a kepada-Nya, serta memutuskan dirinya dari segala hal yang menyibukkan diri dari pada-Nya. Ia beri’tikaf dengan hatinya kepada Tuhannya, dan dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada-Nya. Ia tidak memiliki keinginanlain kecuali Allah dan ridha-Nya. Sembga Alllah memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita. (Lihat kitab Larhaa’iful Ma’aarif, oleh Ibnu Rajab, him. 196-203)

Saudaraku kaum muslimin, agar sempurna puasamu, sesuai dengan tujuannya, ikutilah langkah-langkah berikut ini :

· Makanlah sahur, sehingga membantu kekuatan fisikmu selama berpuasa; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah. ” HR.’Al-Bukhari dan Muslim) “Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang ” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya) Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga mengurangi rasa lapar dan haus. Hanya saja harus hati-hati, untuk itu hendaknya Anda telah berhenti dari makan dan minum beberapa menit sebelum terbit fajar, agar Anda tidak ragu-ragu. Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur . ” (HR. Al-Bukhari, I\luslim dan At-Tirmidz) ·

Usahakan mandi dari hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan ibadah dalam keadaan suci.

· Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan didalamnya, yakni membaca Al-Qur’anul Karim. Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur’an baginya. (HR. AL-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu).Dan pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi kita.

· Jagalah lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan pevkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari) Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa. Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional.

Dan jika Anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, jangan Anda hadapi dia dengan perbuatan serupa. Nasihati dan tolaklah dengan cara yang lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kama beupuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata ‘Sesungguhnya aku sedang puasa” (HR. Al- Bukhari, Muslim dan para penulis kitab Sunan) Ucapan itu dimaksudkanagar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang mengumpatnya Di samping, juga mengingatkan agar ia menolak melakukan penghinaan dan caci-maki.

· Hendaknya Anda selesai dari puasa dengan membawa taqwa kepada Allah, takut dan bersyukur pada-Nya, serta senantiasa istiqamah dalam agama-Nya. Hasil yang baik itu hendaknya mengiringi Anda sepanjang tahun. Dan buah paling utama dari puasa adalah taqwa, sebab Allah berfirman : “Agar kamu bertaqwa. “(Al-Baqarah: 183) Jagalah dirimu dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal bagimu. Hal itu agar tujuan puasa tercapai, dan mematahkan nafsu dari keinginan. Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata : “Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kama beupuasa jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa.” Hendaknya makananmu dari yang halal.

Jika kamu menahan diri dari yang haram pada selain bulan Ramadhan maka pada bulan Ramadhan lebih utama. Dan tidak ada gunanya engkau berpuasa dari yang halal, tetapi kamu berbuka dengan yang haram.

Perbanyaklah bersedekah dan berbuat kebajikan. Dan hendaknya kamu lebih baik dan lebih banyak berbuat kebajikan kepada keluargamu dibanding pada selain bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paring dermawan, dan beliau lebih dermawan ketika bulan Ramadhan.

Ucapkanlah bismillah ketika kamu berbuka seraya berdo’a :”Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan atas rezki-Mu aku berbuka. Ya Allah terimalah daripadaku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “(44) (Lihat Mulhaq (bonus) Majalah Al WaLul Islami bulan Ramadhan, 1390 H.hlm.38-40.)


Arsip

Statistik Blog

  • 616,336 hits