Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘sahabat’ Category

MUTIARA PAGI: *GAGAL dan SUKSES*

Sahabatku, yang disebut sukses itu bukanlah orang yang tidak pernah jatuh, tapi yang disebut sukses adalah jika dia selalu bangkit tiap kali dia jatuh. Sedangkan yang disebut gagal adalah jika seseorang jatuh maka dia tetap pada posisi saat dia terjatuh.

Sahabatku, dalam kalimat puncak kesuksesan ada sebuah kata yang berbisik padamu “BANGKITLAH!” Maka, mari kita bangkit untuk menuju hidup yang lebih baik dengan selalu berpikir positif dan maju.

Sahabatku, jangan menyerah seberat apapun masalahmu saat ini. Bersabarlah sedikit lagi. Why? Karena bisa jadi kesuksesan itu sebentar lagi kau dapatkan.. karena 90% orang gagal adalah orang yang HAMPIR sukses.. 🙂

Salam ukhuwah..

TEMAN TERBAIK

 

Kawan, ingin aku bercerita tentang teman terbaik yang pernah kumiliki. Ayah mengenalkan aku dengannya di tiga tahun usiaku. Meski belum banyak mengerti, aku masih ingat kata-katanya, “Kapanpun dan dimanapun, jadikanlah ia peganganmu, insya Allah kamu akan selamat”. Setelah saat itu, aku mulai rajin untuk mengenalnya. Kemana pergi selalu kuajak serta. Ia bukan saja teman terbaik bagi diriku, tapi juga teman terbaik bagi semua orang, begitu cerita ibu.

 

Ia tidak pernah meminta diajak serta, karena semestinya kita yang membutuhkan keberadaannya kemanapun kaki melangkah. Senantiasa memberi jawaban atas semua tanya, mengoleskan kesejukan untuk setiap hati yang gersang. Bagi yang gelisah dan gundah, ia akan menjadi obat mujarab yang mampu memberikan ketenangan. Ia juga menjadi pelipur lara bagi yang bersedih. Tanpa diminta, jika kita mau, ia selalu menunjukkan jalan yang benar dengan cara yang sangat arif. Ikuti jalannya jika mau selamat atau tak perlu hiraukan peringatannya asal mau dan sanggup menanggung semua resikonya. Ia tak pernah memaksa kita untuk mematuhinya, karena itu bukan sifatnya.

 

Tutur katanya, indah menyejukkan, menyiratkan kebesaran Maha Pujangga dibalik untaian goretan barisan hikmah padanya. Tak ada yang sehebat ia dalam bertutur, tak ada pula yang seindah ia dalam bersapa. Hingga akhirnya, setiap yang mengenalnya, senantiasa ingin membawanya serta kemanapun. Tak peduli siang, malam, terik ataupun mendung, ia kan setia menemani. Cukup hanya dengan menyelami kedalamannya, tak terasa setitik air bening mengalir dari sudut mataku. Hingga satu masa, aku begitu mencintainya. Sungguh tiada tanding Maha Pujangga pencipta teman terbaikku ini.

 

Sebegitu dekatnya kami berdua, sehingga melewati satu hari pun tanpanya, hati akan kering, gersang dan merinduharu. Ada kegetiran yang terasa menyayat saat tak bersamanya, bahkan pernah aku tersesat, sejenak kemudian aku teringat pesan-pesannya, hingga aku terselamatkan dari kesesatan yang menakutkan. Di waktu lain, aku berada di persimpangan jalan yang membuatku tak tahu menentukan arah melangkah, berkatnyalah aku menemukan jalan terbaik. Entah bagaimana jika ia tak bersamaku saat itu.

 

Kawan, maukah mendengarkan betapa kelamnya satu masaku tanpa teman terbaikku itu?

 

Mulanya hanya lupa tak membawanya serta ke satu tempat. Esoknya sewaktu ke tempat yang berbeda, aku tak mengajaknya serta, karena kupikir, untuk ke tempat yang satu ini, saya merasa tak pantas membawanya serta. Saat itu saya lupa pesan ayah, “jika tak bersamanya, keselamatanmu terancam”. Esok hari dan seterusnya, entah lupa entah sudah terbiasa teman terbaik itu tak pernah lagi kuajak serta. Kubiarkan ia berhari-hari bersandar di salah satu sudut kamarku. Satu minggu, bulan berlalu dan tahun pun berganti, aku semakin lupa kepadanya, padahal ia senantiasa setia menungguku dan masih di sudut kamar hingga berdebu.

 

Hingga satu masa, bukan sekedar lupa. Bahkan aku mulai malu untuk mengajaknya. Disaat yang sama, semakin tak sadar jika diri ini telah jauh terseret dari jalur yang semestinya. Tapi aku tidak perduli, pun ketika seorang teman menyampaikan teguran dari teman terbaikku agar aku memperbaiki langkahku. Kubilang, ia cerewet! Terlalu mencampuri urusanku.

 

Begitulah kawan, Anda pasti sudah tahu akibatnya. Langkahku terseok-seok, pendirianku goyah hingga akhirnya tubuhku limbung. Mata hati ini mungkin telah mati hingga tak mampu lagi membedakan hitam dan putih. Semakin dalam aku terperosok, tanganku menggapai-gapai, nafasku sesak oleh lumpur dosa. Disaat hampir sekarat itu, mataku masih menangkap sesosok kecil sarat debu, disaat kurebahkan tubuh di kamar.

 

Ya! Sepertinya aku pernah mengenalnya. Teman yang pernah dikenalkan ayah kepadaku dulu. Ia yang pernah untuk sekian lama setia menemaniku kemana aku pergi. Teman terbaik yang pernah kumiliki, ia masih setia menungguku di sudut kamar, dan semakin berdebu. Kuhampiri, perlahan kusentuh kembali. “Jangan ragu, kembalilah padaku. Aku masih teman terbaikmu. Ajaklah aku kemanapun pergi” kuat seolah ia berbisik kepadaku dan menarik tanganku untuk segera menyergapnya. Ffwuhhh…!!! kuhempaskan debu yang menyelimutinya dengan sekali hembusan. Nampaklah senyum indah teman terbaikku itu.

 

Ingin kumenangis setelah sekian lama meninggalkannya. Ternyata, ia teramat setia jika kita menghendakinya. Kini, bersamanya kembali kurajut jalinan persahabatan. Aku tak ingin lagi terperosok, tersesat, terseok-seok hingga jatuh ke jurang yang pernah dulu aku terjatuh. Jurang kesesatan. Bersamanya, hidupku lebih damai terasa. Satu pesanku untukmu kawan, kuyakin masing-masing kita memiliki teman terbaik itu. Jangan pernah meninggalkannya, walau sesaat. Percayalah.

 

Wallaahu ‘a’lam bishshowaab.

http://ovhi.multiply.com/journal/item/34/Teman_Terbaik

Meski RAMADHAN… telah BERLALU…

Namun KETAQWAAN… tak boleh LAYU…

Meski LEBARAN…  telah DATANG…

Nutrisi ILMU…  tak boleh BERKURANG…

Berbekallah di hari TERINDAH…

Tuk menjadi MUSLIM KAFFAH…

“Watazawaduu fainna khoiro zaadit taqwaa..”

Sebaik-baik bekal adalah TAQWA..

= = =

Sahabatku, semoga kita menjadi alumnus Universitas Ramadhan yang sukses dengan gelar ‘MUTTAQIIN’. Berubah dari ULAT berbulu yang ditakuti, menjadi KUPU-KUPU yang cantik dan disukai.. ^_^

Taqobballallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum.

Selamat Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin..

By : Dede Farhan Aulawi

Pagi yang sejuk memberi kesegaran agar kepala tertunduk tuk bersyukur

Kemacetan yang ada sebagai batu ujian tuk menguji kesabaran

Waktu yang bergulir cepat sebagai metamorfosa menuju kedewasaan iman

Kesibukan dan target hanyalah batu loncatan menuju gerbang kematian

Sebagaimana sahabat dan saudara kita yang telah pergi….

Rasanya baru kemarin mereka bersama…..

Tapi kini ntah di alam mana…

Yang pasti semua hanya soal giliran….

Kalau kemarin mereka….

Mungkin esok lusa giliran kita….

Sudah siapkah…???

Buanglah kejenuhan tak berdasar dalam hidup kita

Optimislah dalam memandang indahnya bukit kehidupan

Cukup sudah rasa kecewa, sakit, dendam, dan iri dalam diri kita

Dan berjanjilah…..

….agar tak ada lagi tempat penyakit hati di jiwa kita

Hiruplah nafas dalam – dalam….

Tersenyumlah…..

Berbahagialah……

Dan aku kan terus mendukungmu dalam do’a-do’a

Aku menyatu dalam setiap bayang langkahmu

…karena aku adalah sahabat baikmu

Hiasilah hidup kita dengan amal kebaikan…

Hiasilah wajah kita dengan mimik yang menyenangkan

Hiasilah hati kita dengan cinta…

Cinta yang kan selalu mendekatkan diri pada-Nya semata

Ya Robbana….

Engkau Yang Maha  PEMURAH,

Jika sahabatku Rindu,…

Rindukan dia kepada seseorang yang menjaga rindunya pada-Mu,

Agar sahabatku Tidak Lalai merindui SYURGAMU

Wahai Engkau Yang Maha PENGASIH,

Jika sahabatku memiliki cinta kasih,

Benihkanlah Cintanya kepada Seseorang yang melabuhkan cintanyakepadaMU,

Agar  bertambah Kekuatannya untuk  MencintaiMU,

Wahai Engkau Yang  Maha PENYAYANG,

Jika sahabatku Jatuh Hati,

Izinkan  dia  menyentuh  Hati

Orang yang Hatinya Tertaut KEPADAMU

Agar Sahabatku tidak Jatuh

Dalam Jurang Cinta Yang Engkau murkai,

Ya Robbana….

Bimbinglah setiap langkah kaki dan ucapan kami

Sinarilah jalan kehidupan kami

Baik di sepanjang pematang usia yang tersisa

…tuk merengkuh “Titian Keabadian” di akhirat kelak

Kepada-Mu kami beribadah…memohon …dan berlindung

…sebab Engkahlah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang

Andai bisa kuraih PELANGI………

kan kurangkai menjadi sebentuk HATI……..

yang penuh WARNA-WARNI…………

lalu kukembalikan lagi ke langit BIRU……….

agar semua orang TAHU………

betapa bahagianya HATIKU……..

memiliki SAHABAT seperti DIRIMU………

(Orang yang menunjukkan kebaikan pada diri kita, adalah SAHABAT YANG BAIK.

Dan orang yang menunjukkan kesalahan pada diri kita adalah SAHABAT YANG LEBIH BAIK. Hanya saja, sahabat yang lebih baik, kadang tidak atau kurang kita sukai.)

Rindu seorang sahabat…bagaikan embun yang hadir di setiap pagi…

Sayang seorang sahabat… bagaikan mata air yang selalu mengalir tanpa henti…

Semua itu takkan hilang ditelan waktu..

Sahabat itu seperti BINTANG…
Walau jauh, di tetap BERCAHAYA…
Meski kadang menghilang…dia tetap ADA…
Tak mungkin dimiliki…tapi tak bisa dilupakan…
dan selalu ada dalam hati…


Arsip

Statistik Blog

  • 574,775 hits