Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘sholihah’ Category

Wanita Sholihah..

seumpama kuntum mawar surga..

anggun di balik perisai ketegasan..

cantik dalam balutan rasa malu..

berbinar dalam tunduknya pandangan mata..

 

Wanita Sholihah..

ia lembut mekipun memiliki kekuatan tangguh..

ia mempesona meski tak tersentuh..

ia serahkan jiwa dan raganya pada Rabb-Nya..

dan suatu saat pun tertambatkan pada hati yang diridhai-Nya..

= = = =

Ya Allah, pertemukanlah hamba dengan orang yang benar2 menjaga dirinya karena-Mu..

Ya Allah, pertemukanlah hamba dengan orang yang menjaga kemurnian hatinya untuk-Mu..

Alladziina shobaruu wa ‘alaa Robbihim yatawakkaluunn..

Iklan

Bismillah..

Biasanya kalau saya membaca buku yang sangat bagus, saya akan menangis.. karena merasakan keindahannya. Begitu juga jika ada sebuah artikel yang sangat bagus, misalnya artikel di bawah ini.. “Mengapa harus memilih Wanita yang Shalihah?”, saya menangis ketika membacanya… 🙂

(Ya Allah, berilah kami pertolongan.. Aamiin)

= = = =

Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?

Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..

Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..

Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?

Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…

Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.. Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..

Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?

Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?

Aku menjawab..

Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.

Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..
Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..

Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..

Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?

Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?

Aku menjawab..

Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.

Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?

Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.

Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?

Pada akhirnya, akupun menjawab…

Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..

Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…

Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.

Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…

Seberat itukah?

Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…

= = = = =

al khobiitsaatu lil khobiitsiina wal khobiitsuuna lil khobiitsaat, wath-thoyyibaatu lith-thoyyibiina wath-thoyyibuuna liththoyyibaati.. “(Qs. An-Nuur: 26)

Ayat itu terngiang-ngiang di hatiku ketika aku terbangun dari tidur. Entah mengapa, kalau aku bangun tidur, seolah2 ada murattal yang bersuara di hatiku. Aku pun merasakan bahwa seolah alunan ayat al-Qur’an itu pun berjalan pula ketika aku sedang tidur, hal ini kusadari ketika aku akan bangun, aku mendengarnya.

Ayat itu terngiang-ngiang di hatiku ketika aku terbangun dari tidur. Bahkan itu terjadi tiga kali pada beberapa hari ini. Alhamdulillah barangkali itu adalah nasihat dari al-Qur’an, sahabatku, agar sebagai seorang muslimah, harus menjaga iffah dan harga dirinya, agar aku tidak berbuat sesuka hati (menuruti hawa nafsu) jika menginginkan seorang yang shalih. Agar aku harus selalu berusaha menjadi muslimah yang baik jika menginginkan seseorang yang baik.

Ayat itu terngiang-ngiang di hatiku ketika aku terbangun dari tidur. Untuk hari yang lain, aku mendengar ayat lain sesuai dengan ayat mana yang sering kumuraja’ah atau kudengar. Tapi kadang ayat lain yang jadi wirid harian, dan maknanya membuat kita ketakutan karena Allah akan menghisab amal kita. Tapi setelah itu, datang ayat selanjutnya yang menentramkan jiwa, bahwa Allah Maha Pengampun pada hamba-kamba-Nya. Alhamdulillah..

= = =

Ketika kuliah dulu, aku pernah bertanya-tanya, “Apakah ada orang di dunia ini yang memiliki akhlak seperti Rasulullah Shallaallahu ‘alaihi wa Sallam?” Jawabnya: Ada, yaitu sahabat2 beliau yang hidup bersama beliau dan meniru akhlak beliau. Kalau zaman sekarang ini, adakah? Aku pun tidak menjawab, terhenti pada pertanyaan saja.

Akhlak Rasulullah Shallaallahu ‘alaihi wa Sallam = Al-Qur’an.

= = =

Ya Allah, pertemukanlah aku dengannya. Amin

Bismillah..

Dari buku-buku yang ana  baca, tidak ada penulis (=hafidz) yang mensyaratkan bahwa pendamping seorang hafidz/hafidzah adalah haruslah hafidz/hafidzah juga. Yang ana dapatkan adalah harus memilih calon pendamping yang sholih atau sholihah.

Di sini ana tuliskan sedikit ringkasan dari buku “Cara Mudah Menghafal al-Qur’an dan Ayat-ayat Mutasyabihat”. Dalam buku ini disebutkan beberapa sebab yang memudahkan seseorang untuk biasa menghafal al-Qur’an, yang ditulis dalam 26 bab. Bab ke-23 adalah Memilih Istri Sholihah.

= = = = =

MEMILIH ISTRI SHOLIHAH

Seorang penghafal al-Qur’an harus pula memilih calon istri yang bisa membantu dirinya untuk terus berlangsungnya al-Qur’an dalam lubuk hatinya.

Apabila kita cermati fenomena hidup di masyarakat, maka akan kita dapati realitas hidup yang memilukan, di mana ada sebagian orang yang dulunya rajin ibadah, ta’lim, dan menghafal al-Qur’an kemudian mendapatkan istri yang mata duitan (materialistis) yang tidak bisa menerima kenyataan, tidak siap hidup faqir, menginginkan perhiasan dan segala macam hal, maka suami harus banting tulang, kerja siang malam untuk memperoleh itu semua.

Dengan demikian, al-Qur’an pun sirna sedikit demi sedikit dari lubuk hatinya. Sungguh sangat ironis keadaan yang demikian ini. Padahal, jika mereka mengetahui bahwasanya nilai al-Qur’an jauuuh lebih tinggi daripada wanita cantik dan segala perhiasan dunia ini.. niscaya mereka tidak akan tertipu!!

Demikian pula sebaliknya, wanita yang dulunya rajin ta’lim.., menjadi ustadzah.., hafal al-Qur’an.. tetapi memiliki suami yang tidak pengertian dengan keadaan istrinya.. lebih mementingkan perkara dunia, bisnis, kerja, atau yang lainnya sehingga wanita tadi kembali menjadi orang awam, hafalannya sirna, dakwahnya pun terhambat. Hal ini disebabkan karena sifat wanita yang lemah pada asalnya.

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menganjurkan para calon suami untuk memilih calon istri yang sholihah.

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara, yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya, maka carilah wanita karena agamanya maka kamu akan beruntung (H.R Abu Huroiroh/ Muttafaq ‘alaihi)

(Demikian pula sebaliknya, calon istri hendaknya mencari calon suami yang sholih.)

Dengan kata lain, memilih wanita sholihah yang baik agamanya akan menjadi sebab tetap kokohnya hafalan seseorang di dalam lubuk hatinya dan tetap berlangsungnya karier dakwah suami.. karena istri yang sholihah mampu menempatkan diri dengan baik sekaligus menjadi motivator bagi suami dalam menjalankan kehidupan agamanya.

Insya Allah..

= = = = =

.. fadhfar bidzaatid-diin, taribat yadaak..

Bismillah..

Ana ditanya, apakah seorang penghafal qur’an itu, suami/istrinya juga harus penghafal qur’an juga?

Hal ini juga jadi perbincangan kami, para akhwat yang sedang menghafal qur’an ataupun beberapa sahabat ana yang punya keinginan untuk menghafal qur’an.

= = = =

“Pokoknya suamiku nanti harus hafidz!”, kata salah seorang sahabat karibku.

“Kenapa?”, tanyaku.

“Soalnya aku bercita-cita jadi hafidzah, jadi nanti kalau ana pas nyuci, bisa disimak hafalannya oleh suamiku. Dia nggak perlu mbuka qur’an dan bisa mbenerin”, jawabnya.

Saat ini ia belum memulai program tahfidz karena sedang sibuk dengan studinya di S2, tapi sudah punya keinginan kuat untuk menjadi hafidzah sejak beberapa tahun yang lalu.

Lalu ia menambahkan, “Kalau bisa ya lulusan S1 plus hafidz, atau nggak hafidz ndak apa tapi S2.. dan punya keinginan untuk menghafal qur’an.” Dia mengakui bahwa saat ini memang idealis.

= = = = =

Ada jawaban lain dari salah satu sahabat ana yang sudah menghafal qur’an.

Ana bertanya, “Ukhti, apakah salah satu kriteria suami anti nanti harus hafidz?”

Beliau menjawab “Tidak harus.”

Kenapa ya? Karena orang-orang yang sudah menghafal qur’an sudah mengetahui kondisi dunia tahfidz, baik atau buruknya. Setelah ana tanyakan alasannya, ia menjawab, “Karena tidak semua hafidz itu sholeh! Yang penting sholeh dulu, kalau bisa ya hafidz.”

“Trus kriteria sholeh itu gimana? Itu kan umum sekali”, tanyaku.

“Oh, itu sudah kutanyakan ke ustadzah. Ustadzah mengatakan kesholihan bisa dilihat dari ibadahnya.”, jawabnya

“Tapi kan kita belum kenal, gimana kita bisa tahu ibadahnya”, tanyaku.

“Dari orang2 terdekatnya,”, jawabnya.

“Wah, ukh. Makin nggak kenal dong! Trus ustadzah bilang apa lagi?”

“Oh iya, sholeh atau tidaknya seseorang bisa dilihat dari mu’amalah dia pada ibu dan saudara-saudara perempuannya.”

Ana pun ditanya, “Kalau ukhti gimana”. Ana pun menjawab, “Masalahnya kita kan nggak tahu, jodoh kita nanti hafidz atau bukan. ”

= = = =

Sedangkan dari guru-guru ana sendiri, ada contoh sbb.

1. Istri Hafidzah – Suami Hafidz

2. Istri Hafidzah – Suami Belum Hafidz

3. Istri Belum Hafidz – Suami Hafidz

Suatu ketika, seorang santri putra bertanya pada Ustadznya: Ya Ustadz, Ceritakan Kepadaku Tentang Akhwat Sejati…

Sang Ustadz pun tersenyum dan menjawab…Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar jilbabnya yang lebar, tetapi dari bagaimana ia menjaga pandangan mata (ghudhul bashar), sikap, akhlak, kehormatan dan kemurnian islamnya….

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari kelembutan suaranya, tetapi dari lantangnya ia mengatakan kebenaran di hadapan laki2 bukan mahramnya…..

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya dengan anak2nya, keluarga dekatnya, para jama’ah, para tetangga dan orang2 di sekitarnya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia dihormati di tempat ia bekerja tetapi bagaimana ia dihormati di dalam rumah tangganya…

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia pintar berhias dan memasak masakan yang enak2, tapi bagaimana ia bisa faham dan mengerti selera dan variasi makan suami dan anak2nya yang sebenarnya tidak rewel, pintar mengatur cash flow finansial keluarga, mengerti bagaimana berpenampilan menarik di hadapan suami dan selalu merasa cukup (qonaah) dengan segala pemberian dari sang suami di saat lapang maupun di saat sempit.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang cantik, tetapi dari bagaimana ia bermurah senyum dan sejuk jika dilihat di hadapan suaminya dengan sepenuh hati tanpa dibuat2/dipaksakan.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang mencoba berta’aruf kepadanya, tetapi dari komitmennya untuk mengatakan bahwa sesungguhnya “Tidak ada kata “CINTA sebelum menikah.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari gelar sabuk hitam dalam olahraga beladirinya, tetapi dari sabarnya ia menghadapi lika-liku kehidupan…

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar banyaknya ia menghafal Al-Quran, tetapi dari pemahaman ia atas apa yang ia baca/hafal untuk kemudian ia amalkan dalam kehidupan sehari2.

….setelah itu, Si Murid kembali bertanya…

“Adakah Akhwat yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ya Ustadz ?”

Sang Ustadz kembali tersenyum dan berkata: “Akhwat seperti itu ada, tapi langka.

Sekalipun ada, biasanya ia memiliki karakter khas antara lain; Sangat mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun, tidak lepas dari dunia da’wah (minimal di lingkungan sekitar tempat tinggalnya), hidup berjamaah tapi tidak dikenal ‘ashobiyah, tidak ingin dikenal-kecuali diminta/didesak oleh jama’ah (masyarakat), dari keturunan orang2 yang shalih/shalihat, berasal dari lingkungan yang sangat terpelihara, punya amalan ibadah harian, mingguan dan bulanan di atas rata2 orang kebanyakan, hidupnya sederhana namun tetap menarik dan bermanfaat buat orang lain, dikenal sebagai tetangga yang baik hati, sangat berbakti terhadap orang tua, sangat hormat kepada yang lebih tua dan sangat sayang terhadap yang lebih muda, sangat disiplin dengan sholat fardunya, rajin shaum sunnah dan qiyamullail & atau bisa jadi amalan ibadah terbaiknya disembunyikan dari mata orang2 yang mengenalnya, rajin memperbaiki istighfarnya (taubatan nashuha), rajin mendoakan saudara2nya terutama yang sedang dalam keadaan kesulitan atau sedang terdzolimi secara terang2an/tersembunyi, rajin bersilaturahim, rajin menuntut ilmu-mengaji- (terutama yang syar’i)/minimal rajin hadir di majlis ilmu dan mendengarkannya, senantiasa menambah/memperbaiki ilmunya dan menyampaikan semua ilmu yang ia ketahui setelah terlebih dahulu ia mengamalkannya, rajin membaca/menghafal alqur’an atau hadits dan buku2 yang bermanfaat, pintar/kuat hafalannya, sangat selektif soal makanan/minuman yang ia konsumsi, sangat perhatian terhadap kebersihan dan sangat disiplin sekali soal thaharah, sangat terjaga dari soal2 ikhtilat apalagi berkhalwat, jauh dari gosip-menggosip, lisan dan semua perbuatannya senantiasa terjaga dari hal2 yang sia2, zuhud, istiqomah, tegar, tidak takut/bersedih hati hingga berlarut2 melainkan sebentar (wajar), pandai menghibur dan pandai menutupi aib/kekurangan dirinya dan orang2 yang ia kenal, mudah memaafkan kesalahan/kekeliruan orang lain tanpa diminta dan tanpa dendam, ringan tangan untuk membantu sesama, mudah berinfak (bershadaqah), ikhlas, jauh dari riya, ujub, muhabahat, takabur dan tidak emosional, cukup sensitif tapi tidak terlalu sensitif (tidak mudah tersinggung), selalu berbuat ihsan dan muraqobatullah (selalu merasa dekat dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT baik di saat ramai maupun di saat sendirian), selalu berhusnudzon kepada setiap orang, benar2 berkarakter jujur (shiddiiq), amanah dan selalu menyampaikan yang haq dengan caranya yang terbaik (tabligh), pantang mengeluh/berkeluh kesah, sangat dewasa dalam menyikapi problematika kehidupan, mandiri, selalu optimis, terlihat selalu gembira dan menentramkan, hari2nya tidak lepas dari perhitungan (muhasabah) bahwa hari ini selalu ia usahakan lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini, dan senantiasa pandai bersyukur atas segala ni’mat (takdir baik) serta senantiasa sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan (takdir buruk) dalam segala keadaan. Kapan pun dan di manapun..

Si Murid rupa2nya masih penasaran, dan bertanya kembali kepada Sang Ustadz. “Ya Ustadz, adakah cara yang paling mudah untuk mendapatkannya? atau minimal bisa mendapatkan seorang Akhwat yang mendekati profil Akhwat Sejati??

Sang Ustadz pun dengan bijak segera menjawabnya: “Ada, jika antum ingin mendapatkan Akhwat Sejati nan benar2 Shalihat sebagai teman hidup maka SHALIHKAN DAHULU DIRI ANTUM…!! karena

InsyaAllah Akhwat yang shalihat adalah pada dasarnya juga untuk Ikhwan yang shaalih…

Sumber asli : http://zensudarno.wordpress.com/2007/07/03/profil-seorang-akhwat-sejati-2/

= = = = = = = =

Let’s we Learn to Be A True Muslimah…. ^_^

wazawwajnaahum bihuurin ‘iin… ^_^

Mereka sangat cangat cantik, memiliki suara-suara yang indah dan berakhlaq yang mulia. Mereka mengenakan pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu. Siapapun ingin bertemu dengan mereka, ingin bersama mereka dan ingin hidup bersama mereka.

Semuanya itu adalah anugrah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan sifat-sifat terindah kepada mereka, yaitu bidadari-bidadari surga. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib yang artinya gadis-gadis remaja. Yang memiliki bentuk tubuh yang merupakan bentuk wanita yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah RadhiAllohu anha pernah berkata: “warna putih adalah separoh keindahan”

Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata:

Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan
laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan
dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut
Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat

Al-’In jama’ dari aina’, artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: ”Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (QS: Al-Baqarah: 25)

Makna dari Firman diatas adalah mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. Mereka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar jika kau ingin cinta kita selalu mekar.

Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Aisyah RadhiAllohu anha, pernah bertanya kepad Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, yang artinya: “Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?” Beliau menjawab,”Di tempat yang belum dijadikan tempat gembalaan.” (Ditakhrij Muslim) Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.

Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, yang artinya: ”Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)

Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-’Urub, jama’ dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.

Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, “Al-’Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun”, artinya Fulan berumur sebaya dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan. Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.

Semoga para wanita-wanita di dunia ini mampu memperoleh kedudukan untuk menjadi Bidadari-Bidadari yang lebih mulia dari Bidadari-Bidadari yang tidak pernah hidup di dunia ini. Wallahu A’lam

(Sumber Rujukan: Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin [Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu], karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)

http://ruangmuslimah.wordpress.com/2007/05/21/bidadari-yang-cantik-jelita/


Arsip

Statistik Blog

  • 616,336 hits