Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘tafsir’ Category

Bismillah..

Suatu ketika..

“Ukh, mumpung ingat, ini ada titipan dari Ustadzah Munawarah untuk ukhti.”, kata salah seorang sahabat karibku sambil menyerahkan sebuah amplop kecil.

“Itu titipan dari Ustadz Hasan.”, lanjut sahabatku. Ustadz Hasan adalah seorang doktor tafsir qur’an lulusan Mesir dan Sudan. Beliau mengajari kami pelajaran Pengantar Ilmu Tafsir/’Ulumul Qur’an/Ushul at-Tafsir di ma’had ‘aly Al-Islam Solo pada semester kemarin.

“Apa ini? Oh…”, aku berhenti berkata karena tahu apa isi amplop itu.

“Padahal ana sudah menolak lho.. karena dananya masih ada.”, jawabku. Ya sudahlah, barangnya sudah ada di tangan. Jadi, tidak bisa ditolak.. hihi.. karena untuk sampai ke tanganku, amplop itu sudah melewati beberapa tangan. Kasihan yang sudah repot2 ingin menyerahkan barang itu padaku.

“Oh iya, Ustadz Hasan minta doa, beliau i’tikaf di Mekkah.”, tambah sahabatku.

“Masya Allah, i’tikaf di Mekkah?”, kataku sambil berteriak dengan rasa kagum dan senang. Langsung deh terbayang gambar ka’bah di benakku. Pingin juga sih bisa i’tikaf di sana.. Kalau Ustadz2 sih udah bisa Bahasa Arab. Lha ana? Masih belum bisa 😦

Lalu aku melanjutkan, “Apa nggak kebalik? Harusnya ana yang minta didoakan oleh beliau, doa di sana kan maqbul..”, kataku. Aku mengingat kisah Umar bin Khoththob radhiyallaahu ‘anhu: beliau akan melakukan haji/umrah menuju Baitullah, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata pada Umar ra agar mendoakannya. Umar ra menangis terharu, mengapa seorang Nabi dan Rasul yang sudah diampuni seluruh dosa2nya  dan jika berdoa pada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu dikabulkan, ,malah minta didoakan oleh dirinya?

Setelah berpikir sejenak, akhirnya ana menambahkan, “Eh, tapi nggak papa ding, sama2 mendoakan.”, jawabku sambil senyum.

= = =

Kapan ya, kita bisa i’tikaf di Mekkah? 🙂

Oh iya, kalau mau lihat tulisan2 Ustadz Hasan, silakan klik di sini.. 🙂

penulis Al-Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim
new Maktabah 14 – Agustus – 2003 06:20:57

Sesungguh memahami Kalamullah adl cita-cita yg paling mulia dan taqarrub yg paling agung. Amalan ini telah dilakukan shahabat tabi’in dan murid-murid mereka yg menerima dan mendengar langsung dari guru-guru mereka. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikut yg mengikuti jejak mereka hingga hari kiamat.

Tidak diragukan orang pertama yg menerangkan mengajarkan dan menafsirkan Al Qur’an adl Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Para shahabat telah menerima Al Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara bacaan dan pemahaman. Mereka mengetahui makna-makna maksud-maksud dan rahasia-rahasia krn kedekatan mereka dgn Rasulullah khusus Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin Abdullah bin Mas’ud Ibnu Abbas Ubai bin Ka’ab Zaid bin Tsabit Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Az-Zubair radhiallahu ‘anhum.

Mereka adl para shahabat yg terkenal alim di antara shahabat lainnya. Para shababat adl guru-guru bagi tabi’in yg di kemudian hari melahirkan ahli tafsir dari generasi ini di Makkah Madinah dan Irak. Dari shahabat dan tabi’in dilahirkan ahli tafsir yg mengetahui sejarah tafsir -di madrasah tafsir dgn atsar Nabi dan Shahabat- yaitu imam besar dlm ushul tafsir: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari .

Ciri khas dari madrasah tafsir dgn atsar adl menafsirkan ayat Al Qur’an dgn satu atau lbh ayat Al Qur’an lainnya. Bila tdk memungkinkan mk ditafsirkan dgn hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yg shahih. Jika tdk ditemukan hadits yg menjelaskan mk ditafsirkan dgn ucapan shahabat terutama shahabat yg telah disebutkan di atas. Jika ucapan shahabat tdk ditemukan mk dgn ucapan tabi’in seperti Mujahid Ikrimah Sa’id bin Al-Musayyib Sa’id bin Jubair ‘Atha bin Abi Rabbah dan Al-Hasan Al-Basri. Namun jika semua ada mk biasa disebut semua.

Adapun menafsirkan Al Qur’an dgn akal semata haram menurut kesepakatan ulama Ahlus Sunnah apalagi tafsir yg dilandasi ilmu filsafat -walaupun terkadang benar- termasuk dlm sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dgn akal atau tanpa ilmu mk siapkanlah tempat duduk dgn api neraka.”

Di abad ke-8 Hijriyah lahir seorang ulama ahli tafsir yg merupakan alumnus akhir madrasah tafsir dgn atsar. Dialah Isma’il bin ‘Umar bin Katsir rahimahullah salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah . Tafsir dijadikan rujukan oleh para ulama dan penuntut ilmu semenjak jaman beliau hingga sekarang.

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah -beliau juga menulis tafsir- mengatakan bahwa Tafsir Ibnu Katsir adl salah satu kitab tafsir terbaik jika tdk bisa dikatakan sebagai tafsir terbaik dari kitab-kitab tafsir yg ada. Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah menilai tafsir menakjubkan belum ada ulama yg menandinginya. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dlm buku Al-‘Ilmu menganjurkan penuntut ilmu membaca Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim atau yg lbh dikenal dgn Tafsir Ibnu Katsir.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.asysyariah.com

http://blog.re.or.id/tafsir-ibnu-katsir-salah-satu-kitab-tafsir-al-qur-an-terbaik.htm

DR. Ahmad Zain An Najah, MA

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

” Dan mintalah pertolongan ( kepada ) Allah dengan sabar dan sholat.

Dan sesungguhhya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu’ , ( yaitu ) orang-orang yang menyakini , bahwa mereka akan menemui Robb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepad-Nya ” ( QS Al Baqarah : 45 -46 )

Pada tulisan yang lalu telah diterangkan tentang sabar dan sholat serta pengaruhnya terhadap penyelesaian problematika hidup. Begitu juga sudah kita ketahui bahwa sabar dan sholat ini akan sangat sulit dikerjakan secara baik dan terus menerus kecuali oleh orang-orang yang khusu’. Pada tulisan di bawah ini akan diterangkan hakekat khusu’ menurut Al Qur’an, dan Hadist serta padangan para ulama. Untuk mempermudah pembahasan akan dibagi menjadi beberapa pelajaran :

Pelajaran Pertama :

Khusu’ merupakan inti sari dalam ibadat sholat, tanpanya sholat tidak mempunyai arti. Kedudukan khusu’ dalam sholat bagaikan nyawa dalam sebuah badan, atau buah dalam sebuah pohon, atau amal dalam sebuah ilmu. Khusu’ artinya tunduk, tenang dan rendah diri serta tawadhu’. Dalam sebuah ayat disebutkan :

وخشعت الأصوات للرحمن فلا تسمع إلا همساً.

“dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.”( Qs Toha : 108 )

Khusu’ secara istilah adalah : keadaan jiwa yang berdampak pada ketenangan dan tawadhu’ dalam bersikap.

Akan tetapi kalau kita melihat teks ayat di atas, maka orang yang khusu’ adalah :

1/ Orang yang menyakini bahwa dia cepat atau lambat akan meninggalkan dunia yang fana’ ini dan akan menemui Robb-nya untuk mendapatkan balasan dari perbuatannya selama hidup di dunia

2/ Orang yang menyakini bahwa kematian akan menjemputnya setiap saat, sehingga dia selalu mempersiapkan bekal untuknya, yaitu menjalankan segala perintah Allah swt dan menjauhi segala larangan-Nya. ([1])

Pelajaran Kedua :

Khusu’ dibagi menjadi dua :

Pertama : Khusu’ Mahmud ( khusu’ yang terpuji ), yaitu khusu’ yang terdapat dalam hati, dan efeknya terlihat dalam sifat dan sikap serta gerak –gerik. Maka orang yang khusu’ dalam sholat akan selalu menundukkan pandangan dan tidak melirik ke kanan atau ke kiri atau melihat ke atas. Berkata Ibrahim An Nakh’I : ” Khusu’ itu bukan dengan memakai baju kasar dan compang-camping, ataupun makan makanan yang keras, dan selalu menundukkan kepala. Akan tetapi khusu’ adalah jika kamu memandang semua orang sama derajatnya, baik para pejabat maupun orang awam, serta kamu tunduk dengan apa yang diperintahkan Allah swt. Suatu ketika Umar bin Khottab melihat seorang pemuda berjalan sambil menundukkan kepalanya, beliaupun menegur pemuda tersebut seraya berkata : ” Wahai pemuda angkat kepalamu, karena khusu’ itu hanya di hati “. Berkata Ali bin Abi Thalib : ” Khusu’ itu terdapat dalam hati, dan tandanya kamu berbuat lembut terhadap sesama muslim, serta tidak menoleh-noleh ketika sedang melakukan sholat”.

Kedua : Khusu’ Madzmum (Khusu’ yang tercela ). Khusu’ ini adalah khusu’ yang dibuat-buat, padahal hatinya tidak demikian, seperti berpura-pura menangis dan menunduk-nundukkan kepala. Pernah pada suatu ketika seseorang mengambil nafas panjang dan berpura-pura sedih di depan Umar bin Khottab, melihat seperti itu, Umar langsung menamparnya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Umar bin Khattab jika berbicara lantang, jika berjalan cepat, jika memukul keras, tetapi walaupun begitu beliau adalah seorang ahli ibadat yang benar dan orang yang benar-benar khusu’. ([2]) Artinya khusu’ yang hakiki tidaklah bertentangan dengan sikap yang tegas dan suara yang lantang serta berjalan yang tegap, karena khusu’ letaknya di hati saja.

Pelajaran Ketiga :

Khusu’ mempunyai beberapa manfaat, diantaranya adalah :

1/Khusu’ yang terdapat dalam hati akan menyebabkan bertambahnya iman seseorang, atau paling tidak akan menjaga stabilitas keimanan seseorang. Dengan khusu’ tersebut, seseorang akan merasakan hatinya tetap hidup, segar dan tenang, karena ia selalu dekat dengan Allah. Dengan khusu’ seseorang akan mampu menepis syubhat dan syahwat yang akan selalu mengganggu hatinya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kaum muslimin untuk selalu menambah keimanannya setiap hari dan mengecam orang-orang yang tidak khusu’ hatinya untuk menerima kebenaran dalam Al Qur’an, sebagaimana firmanNya :

أََلَمْ يَاًنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” ( QS Al Hadid : 16 )

Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa yang menyebabkan para ahli kitab menjadi fasik, karena hati mereka keras dan tidak khusu’. Dan hati yang keras ini akibat dari perbuatan-perbuatan jahat yang mereka lakukan secara terus-menerus tanpa dimasuki rasa khusu’ sedikitpun, sehingga mereka semakin jauh dari ajaran agama ini. Akan tetapi walaupun begitu, Allah swt masih memberi kesempatan kepada siapa saja dari hamba-Nya untuk bisa menjadikan hatinya khusu’ dan dekat dengan Allah. Sebagaimana Allah swt mampu menghidupkan kembali tanah yang kering dan tandus dengan menurunkan hujan di atasnya sehingga menjadi subur dan gembur ([3]), Allah swt berfirman :

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya”( Qs Al Hadid : 17 )

2/ Khusu’ akan menyebabkan seseorang dekat dengan Allah swt, sehingga hatinya selalu dipenuhi dengan cahaya keimanan. Dengan khusu’ tersebut, dia bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah baik yang terdapat dalam Al Qur’an maupun yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bekal khusu’ tersebut, dia mampu mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang terjadi di sekitarnya.

3/ Khusu’ dalam hati akan mampu membentengi hati dari penyakit ‘ujub ( merasa paling hebat), riya’ dan sum’ah.

4/ Dengan khusu’ tersebut, seseorang akan mendapatkan rahmat dari Allah swt.

5/ Dengan khusu’ tersebut, seseorang akan mendapatkan kabar gembira dari Allah swt, sebagaimana dalam firman-Nya :

فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

” Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah ( khusu’) ” ( QS Al Hajj : 34 )

Ayat di atas menunjukkan salah satu bentuk khusu’, yaitu tunduk kepada Allah swt secara mutlak.

6/ Dengan khusu’, seseorang akan mendapatkan kejayaan yang akan mengantarkannya kepada syurga , sebagaimana firman-Nya :

قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُونَ ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ … أُوْلَئِكَ هُمُ الوَارِثُونَ ، الَذِينَ يَرِثُونَ الفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

” Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya……..Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya “ ( Qs Al Muminun : 1,2,10,11 )

7/ Dengan khusu’, seseorang bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat, Karena ilmu yang bermanfaat adalah semua ilmu yang menyebabkan seseorang takut kepada Allah swt. Oleh karena itu nabi Muhammad saw berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, sebagaimana yang tersebut dalam salah satu do’anya:

اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع ، ومن قلب لا يخشع ، ومن نفس لا تشبع ، ومن دعاء لا يسمع

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan hati yang tidak khusu’, dan jiwa yang tidak pernah kenyang, dan do’a yang tidak didengar ”

Khusu’ inilah yang diangkat pertama kali dari diri manusia, maka pada zaman sekarang jarang kita dapatkan orang yang khusu’ hatinya, baik dalam sholat maupun di luar sholat, hal ini sesuai yang sebut dalam hadist :

أول ما يرفع من الناس الخشوع

” Pertama kali yang diangkat dari diri manusia adalah khusu’ ( Hadist Shohih Riwayat Tobrani , lihat juga dalam Shohih Al Jami’ Shoghir no : 2576 )

8/ Dengan khusu’, seseorang akan bertambah semangatnya di dalam beramal dan bekerja sehingga hasilnya bisa maksimal.

9/ Dengan khusu’, seseorang akan menjadi ringan di dalam melaksanakan ibadat, bahkan merasa senang dengannya. Dalam suatu hikmah Arab dinyatakan:

من عرف ما يطلب ، هان عليه ما يبذل ، ومن أيقن بالخلف ، جاد بالعطية

” Barang siapa mengetahui apa yang diminta, maka akan ringan untuk mengorbankan sesuatu untuknya, dan barang siapa yang yakin akan mendapatkan balasan, maka dia akan menjadi royal untuk memberi

10/ Dengan khusu’, seseorang menjadi cepat menerima kebenaran, bahkan mengamalkan kebenaran tersebut dan bahkan berdakwah kepadanya dengan sungguh-sungguh.

11/ Dengan khusu’ tujuan umat Islam dalam hidup ini bisa disatukan yaitu mencari ridho Allah.

Pelajaran Keempat :

Bagaimana caranya supaya hati bisa khusu’ ? Di sana ada beberapa amalan yang bisa mendatangkan kekhusu’an dalam hati, diantaranya adalah :

1/ Menerima perintah Allah dan Rosul-Nya dengan rela dan pasrah tanpa ragu-ragu, dan tidak menolaknya hanya karena tidak masuk akal kita.

2/ Berusaha untuk selalu ikhlas dalam setiap amal perbuatan,

3/ Selalu muhasabah ( intropeksi diri ) dan mencari kekurangan yang ada pada dirinya.

4/ Menjauhi sifat sombong, takabbur, riya’ da sum’ah.

5/ Selalu merasa takut terhadap amal perbuatannya apakah diterima oleh Allah atau ditolaknya.

6/ Selalu mengingat nikmat dan karunia-Nya yang telah diberikan kepadanya selama hidup ini.

7/ Selalu meminta hidayat dari Allah swt dalam setiap gerak-geriknya.

8/ Selalu merenungi arti dan makna serta rahasia dibalik Asmaul Husna ( Nama-nama Allah yang indah)

9/ Selalu mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu semua ilmu yang bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt .

10/ Selalu mengingat kematian, adzab kubur, hari kebangkitan, syurga dan neraka.

11/ Selalu bersimpuh dihadapan Allah untuk berdo’a dan memohon pertolongan dari-Nya

Pelajaran Kelima :

Adapun khusu’ dalam sholat, pembahasannya sangat luas sekali, di bawah akan disebutkan beberapa kuncinya saja, diantaranya adalah :

1/ Mengetahui pentingnya sholat dan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya.

2/ Mempersiapkan diri sebelum sholat, dengan mensucikan diri dari hadast dan najis serta memakai pakaian yang pantas.

3/ Selalu memperhatikan adab- adab sholat secara lahir, seperti tuma’ninah dalam setiap gerakan sholat.

4/ Melakukan sholat dengan ikhlas dan hanya mengharap ridha Allah saja.

5/Menjauhi segala sesuatu yang akan mengganggu konsentrasi sholat.

6/Mengetahui dan merenungi bacaan-bacaanyang terdapat di dalam sholat.

Pelajaran Keenam :

Tanda-tanda khusu’ yang terdapat dalam diri seseorang adalah sebagai berikut :

1/ Cinta terhadap sholat dan hatinya selalu tertambat padanya.

2/ Segera mengerjakan sholat jika sudah datang waktunya, dan terasa sangat ringan di dalam mengerjakannya.

3/ Selalu menghadirkan hatinya ketika membaca Al Qur’an, berdzikir, dan berdo’a.

4/ Selalu bersyukur terhadap nkmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya, walaupun terlihat dimata manusia nikmat itu hanya sedikit. Dan dalam satu waktu dia sangat berhati-hati ketika mendapatkan nikmat, karena khawatir kalau hal itu hanya ujian dari Allah, akibat dosa-dosanya .

5/ Selalu bersabar ketika mendapatkan musibah dan menyerahkan segala urusan kepada Allah swt saja.

6/Selalu merenungi fenomena yang terjadi disekitarnya, seperti pergantian malam dan siang, keajaiban makhluq-makhluq Allah baik yang ada di darat, di lautan,maupun yang berada di angkasa. Begitu juga dia selalu merenungi kehancuran bangsa-bangsa terdahulu maupun yang sekarang akibat bermaksiat kepada Allah swt.

7/ Jika disebut nama Allah swt,maka tergetar hatinya dan sering menangis karena takut kepada Allah swt.

Kairo, 15 Januari 2008


[1] Fahru Rozi, Mafatihil Ghoib : Juz II, hlm : 77

[2] Al Qurtubi, al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an, Juz I, hlm : 253

[3] Ibnu Qayyim, Ar Ruh, hlm : 520.

Orang yang Ucapannya Memikat Hati Manusia

dalam Kehidupan Dunia

 

Oleh : Ahmad Musthafa Al-Maraghi

(Tafsir Al-Maraghi)

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.

(Al-Quran Al-Karim Surah Al-Baqarah [2] : ayat 204)

Di antara umat manusia ada segolongan orang yang perkataan mereka membuat anda kagum dan terpedaya dalam kehidupan dunia ini. Sebab, anda menilai segala sesuatu dari lahiriahnya saja. Padahal mereka adalah orang-orang munafik atau orang-orang yang berkata tidak sesuai dengan apa yang terpendam di dalam hatinya dan mengatakan hal-hal yang tidak mereka kerjakan. Orang semacam ini hanya mengandalkan keahlian dalam berbicara untuk menipu kawan dan teman sepergaulan. Ia sangat pintar menanamkan pengaruh pada lawan bicaranya seolah-olah ia benar-benar orang yang beriman, penolong perkara hak dan membenci kebatilan, takwa kepada Allah lahir batin dan menjauhi hal-hal yang menyebabkan dosa, baik lahir maupun batin.

Kemudian ia bersumpah dengan nama Allah, bahwa apa yang ada dalam hatinya benar-benar sesuai dengan apa yang ia katakan dan akui.

Ia sangat kuat dalam berdebat, tak pernah putus asa dalam upaya membujuk dan menipu manusia, sekalipun ia harus berpura-pura menampakkan kecenderungannya kepada mereka dan berupaya di dalam memperbaiki keadaan mereka.

Cara dan Upaya Kaum Munafik dalam Membujuk dan Menipu Manusia

Kesimpulan dari makna ayat di atas ialah bahwa golongan ini (orang-orang munafik) dalam upaya mereka membujuk manusia, berpegangan pada tiga hal berikut ini :

[1] Baik dalam berbicara, sehingga membuat orang kagum dan terpesona kepadanya serta menguasai hati mereka, sehingga orang percaya bahwa ia tidak berbohong.

[2] Memakai nama Allah dengan bersumpah atas nama-Nya untuk membuktikan kepada orang banyak bahwa ia tidak bohong dan berniat baik terhadap mereka.

[3] Tangguh dalam berdebat dan mampu menghadapi segala bantahan yang mengingkari dan tantangan terhadap dirinya.

 

Orang-orang semacam ini ada pada setiap umat dan di segala zaman, sekalipun keadaannya berbeda-beda sesuai dengan perkembangan zaman. Terkadang seseorang tidak bisa menipu orang banyak melalui perkataannya yang lincah dan manis. Hanya beberapa orang saja dalam umlah yang bias dihitung, terpikat oleh perkataannya. Tetapi ada kalanya seseorang dapat menipu dan memikat seluruh umat dan mengendalikannya sekehendak hati sendiri. Anda tentu bisa melihat bahwa pada zaman kita sekarang ini, surat kabar terkadang bisa dijadikan alat untuk menipu dan melontarkan isu yang tidak benar, sebagaimana surat kabar pun bisa dijadikan sarana pembimbing dan petunjuk kepada umat tentang apa yang menjadi kebaikan dan kesejahteraannya.


Arsip

Statistik Blog

  • 574,775 hits