Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘tazkiah an-nafs’ Category

KARAKTER ORANG YANG IKHLAS

1- Orang yang ikhlas adalah mereka yang banyak berbuat baik, tidak mencari popularitas, tidak ingin dikenal dan tidak ingin pula melakukan hal-hal yang membuat mereka terkenal. Jika hal itu terjadi lantaran dibukakan oleh Allah, sebisa mungkin mereka lari dari ketenarannya. Mereka lebih memilih tidak dikenal. Mereka lebih suka menyembunyikan keshalihannya.

Karakteristik orang yang ikhlas adalah mereka lebih suka menyembunyikan kebajikan itu hanya diketahui oleh Allah, tidak oleh yang lain. Hal ini dimaksudkan agar mereka benar2 bisa ikhlas. Sebab, bagaimanapun juga jika kebajikan itu diketahui orang banyak, hal itu rentan sekali dengan munculnya riya’ dan ujub.

 

2- Sungguh bisa dijadikan ukuran pasti bahwa ketika orang yang ikhlas itu berbuat baik kepada sesama.. ketika mereka memberikan pertolongan kepada orang lain.. mereka sama sekali tidak menganggap bahwa orang yang ditolongnya itu berhutang budi kepadanya.. atau merasa lebih utama dari orang itu.

Ketahuilah bahwa dalam hati orang-orang yang ikhlas hanyalah kebaikan, sama sekali dalam hati mereka tidak ada buruk sangka atau dendam yang membara. Oleh karena itu, saat mereka berbuat baik pada orang lain namun balasan yang diterima itu tidak sesuai dengan harapan.. mereka tidak merasakan marah dalam hati.. mereka tidak kecewa.. mereka tidak sakit hati.. apalagi sampai timbul rasa dendam.. atau jera untuk melakukan kebaikan lagi..

Meski berkali-kali mereka disakiti.. tetap saja kebaikan itu akan diberikan kepada orang yang menyakitinya. Hal ini karena orang yang ikhlas dalam kebajikan tidak mengharapkan apa-apa dari kebaikannya kecuali hanya ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala..

(bersambung, insya Allah..)

= = =

Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang ikhlas. Aamiin..

Buat yang udah nikah, yang mau nikah atau yang punya niat untuk nikah.

Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga. Kalau ada orang yang bilang: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya!” Kemungkinannya ada dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau dia sedang berbohong. Yang jelas, kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat-saat tidak bertengkar.

Bertengkar itu sebenarnya adalah sebuah keadaan diskusi, hanya saja diluapkan dalam muatan emosi yang tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa memetik hikmah. Bagaimana tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap didorong oleh perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa-basi tanpa emosi.

Salah satu di antaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar. Dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding (MoU), bahwa kalau pun harus bertengkar, maka:

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjamaah.

Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjamaah. Seorang saja sudah cukup membuat rumah jadi meriah.

Ketika ia marah dan saya mau menyela, ia langsung menyangkal, “STOP! Ini giliran saya!” Dan saya pun harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati :

“Kamu makin cantik kalau marah, makin energik…” Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, karena telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati seseorang yang saya cintai. “Duh cintaku… bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega. Aku masih setia menunggu senyumanmu.”

Demikian juga kalau pas kena giliran saya yang “olah raga otot muka”, saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya Smile maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.

Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjamaah, sebab masih ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara “berjamaah” selain marah.

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan mengungkit-ungkit masalah yang telah berlalu.

Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, karena masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedangkan pertengkaran dua hati yang patah asa akan menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dengan seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu yang membuat saya terpuruk jatuh.

Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penyuka gula), sepedas apapun saya marah, maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dengan kesalahannya kemarin dan tiga hari yang lalu, plus tuduhan “Kamu sudah tidak suka lagi ya sama saya?”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu. Ups, saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah…

OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini.

3. Kalau marah jangan bawa bawa-bawa keluarga!

Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu. Demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).

Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”.

Kata ayah saya: “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak.”

Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari maafnya daripada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak anak!

Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi luar rumah kita.

Anak yang melihat orangtuanya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu kan bapak saya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar (based on true story):

Kata ibu, “Saya ini capek, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu?!”

Kata bapak, “Saya juga capek, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda?!”

Kata Anak, “Yaaa … ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa?”

Kita harus berani berkata: “Hentikan pertengkaran!” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita?

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat!

Pada setiap tahiyyat kita berdoa: “Assalaa-mu’alaynaa wa ‘alaa’ibaadilahissholiihiin“. Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yang sholeh. Nah, andaikan setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustaiNya, padahal nyawamu ditanganNya.

OK, marahlah sepuasnya di sore hari, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi… Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu zhuhur, atau habis maghrib sampai isya… Atau habis isya sampai….?

Nnngg……. Ah, kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar …

6. Kalau kita saling mencintai, kita harus saling memaafkan.

Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran (resensi sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens”.

Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfaat. “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”. Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.

= = = = =

http://isykarima.forumotion.com/search?search_author=Admin&show_results=posts

Hati dinyatakan sehat jika..

1-Kerinduannya kepada khidmah seperti kerinduan seorang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Mu’adz berkata, “Barangsiapa suka berkhidmah kepada Allah SWT, segala sesuatu akan senang berkhidmah padanya. Barangsiapa tentram dan sejuk hatinya lantaran taat kepada Allah SWT, maka tentram dan sejuk pulalah hati semua orang yang memandangnya.

2-Pemilik hati yang sehat hanya memiliki satu keinginan: taat kepada Allah SWT.

3-Sangat bakhil terhadap waktu. Menyesal jika terbuang sia-sia. Kebakhilannya terhadap waktu, melebihi kebakhilan manusia terkikir kepada hartanya.

4-Jika telah masuk waktu shalat lenyaplah segala harapan dan kesedihannya terhadap dunia. Ia mendapatkan kelapangan, kenikmatan, penyejuk mata dan penyejuk jiwa di dalam shalat itu.

5-Tidak pernah letih berdzikir kepada Allah SWT, tidak pernah bosan untuk berkhidmah kepada-Nya dan tidak bersikap manis kecuali kepada orang yang menunjukkan jalan kebenaran atau mengingatkan-Nya akan Rabb-Nya.

6-Perhatiannya untuk membenarkan amalan (membuat amal dilaksanakan secara benar), melebihi perhatiannya untuk beramal. Sehingga ia berusaha untuk ikhlas, loyal, ittiba’ dan ihsan di dalamnya. Bersamaan dengan itu, ia menyaksikan betapa banyak anugerah yang Allah SWT berikan dan ia tetap menyadari betapa ia telah banyak melalaikan hak-hak-Nya.

Bismillah..

Ada beberapa tips agar kita bisa menjaga dan menundukkan pandangan mata, antara lain:

1. Membiasakan diri untuk memilih apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di sisi manusia.

Jika kita sudah terbiasa dengan kebaikan maka hati tidak akan rela untuk melakukan keburukan. Ia akan memberikan ‘alarm’ yang akan memberikan WARNING atau peringatan. Tergantung seberapa sensitif hati kita. 🙂

Sedikit saja noda pada kain putih yang senantiasa dicuci dan dibersihkan, maka noda itu akan terlihat. Tapi jika kain putih itu tidak biasa dicuci, tentu noda-noda itu dianggap biasa dan bukanlah noda/kotoran. Demikian hati kita. Biasakan hati kita untuk dibersihkan dengan banyak berdzikir, istighfar, sujud, membaca Al-Qur’an dsb. Biasakan hati kita untuk memilih ketaqwaan daripada kejahatan / kemunkaran.

2. Merasa tidak butuh.

Apa sih yang akan diperoleh dengan mengumbar pandangan mata? Kenikmatan? Tapi hati-hati, ini kenikmatan yang menipu. Ketahuilah wahai saudariku, yang sebenarnya terjadi adalah bertambah/bertumpuknya dosa yang dilakukan oleh mata. Padahal, apakah engkau tahu? biasanya mata adalah pintu masuk pertama kemaksiatan2 yang lain, maksiatnya tangan, maksiatnya kaki,.. termasuk maksiat / zina hati.

Siapa yang butuh dosa?

3. Yakin bahwa Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.

Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Alhamdulilaah.. berita gembira nih.. :).

4. Mengingat berbagai  manfaat yang didapat dengan menjaga pandangan mata.

Tahu ndak? Ternyata menjaga pandangan mata itu buanyak buanget manfaatnya lho! Misalnya: lebih mudah menyerap ilmu, menguatkan dan meneguhkan hati, membantu untuk membersihkan hati, membuat wajah dan hatimu menjadi ceria. Mau nggak hatimu selalu senang dan gembira? Mau dong… 🙂

Mungkin ini dulu nggih.. Insya Allah disambung lagi.

Kalau ana menemukan tips lagi, insya Allah ana lanjutkan..

= = = = =

Hasbunallah wa ni’mal wakiil..

Sabar dan ikhlas adalah kunci melewati perjalanan waktu ini…

Karena tak setiap yang kita tanam…

kan tumbuh bermutu seperti yang kita harapkan…

Sama halnya dengan kehidupan…

Tak selamanya kebaikan yang kita taam pada yang lain…

terbalas dengan kebaikan jua…

Namun, sabar dan ikhlas dengan segala sesuatu yang kita kerjakan…

niscaya kita kan dapat merasakan kenikmatan tersendiri..

Salam ukhuwah

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Rabbanaa afrigh alainaa shobron wa tawaffanaa muslimiin..


Menjaga Pandangan Mata

Jika seorang pelajar ingin meraih kesempurnaan ilmu, hendaklah ia menjauhi kemaksiatan dan senantiasa menundukkan pandangannya dari hal-hal yang haram untuk dipandang karena yang demikian itu akan membukakan beberapa pintu ilmu, sehingga cahayanya akan menyinari hatinya. Jika hati telah bercahaya maka akan jelas baginya kebenaran. Sebaliknya, barangsiapa mengumbar pandangannya, maka akan keruhlah hatinya dan selanjutnya akan gelap dan tertutup baginya pintu ilmu.

(Ibnu Qayyim Al-Jauziyah).

Mata dan hati memiliki ikatan yang kuat. Para dokter akhlaq bertutur, “Antara mata dan hati ada kaitan eratnya. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hati pun rusak dan hancur.

Berapa banyak jatuh korban akibat kerlingan mata yang membawa kehancuran dan penderitaan. Sudah amat banyak kita dengar kasus-kasus perbuatan keji yang dilakukan oleh para pemuda (perzinaan, homoseks, lesbian), suami-istri yang bercerai, atau menderitanya anak-anak sebagai korban.

Semua bencana ini berasal dari pandangan mata, sebagaimana kata penyair, “Pandangan, lalu senyuman, kemudian salam dan bicara, lalu janji, kemudian pertemuan”. Pandangan melahirkan lintasan pikran, lintasan pikiran melahirkan nafsu syahwat, nafsu syahwat melahirkan kemauan yang kuat, sehingga menjadi tekad yang bulat. Dari sini dapat dipastikan akan muncul suatu perbuatan, selama tidak ada penghalang. Mustahil bisa terjaga kehormatan dan kesucian keluarga kecuali dengan menahan diri dan menjaga pandangan mata.

Sebuah pepatah mengatakan, “Bersabar menjaga mata lebih mudah daripada bersabar menanggung derita sesudahnya.” Seseorang yang mengumbar pandangannya akan senantiasa menyesal, ia terkena panah dari salah satu panah beracun iblis. ‘Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata, “Mata adalah tempat memancing bagi setan.” Masuknya setan salah satunya ketika seseorang memandang. Sesungguhnya masuknya setan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruangan yang hampa. Setan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati. Kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu ia nyalakan api syahwat dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang tidak mungkin melakukannya tanpa adanya gambaran wujud yang dipandangnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan kaum mukminin dan mukminat apa yang menimbulkan syhwat lelaki dan syahwat wanita dan tidak memperkeras peringatan-Nya dari perzinaan saja. Bahkan apa yang mengajak atau mendekatkan pada zina pun dilarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

(Al-Quran al-Karim Surah Al-Isra’ [17]: 32).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Dua pasang mata itu berzina dengan cara melihat.” (Muttafaq ‘alaihi). Dipahami bahwa menatap dengan mata adalah sebagian dari zina karena mendapat bagian yang besar dari kelezatan serta hiburan antara pria dan wanita. Oleh sebab itu, pandangan mata harus dijaga.

MANFAAT MENJAGA PANDANGAN MATA

[1]. Mendekatkan hati kepada Allah.

Melepaskan pandangan tanpa kontrol dapat merusak dan menjauhkan hati dari Allah, serta dapat memutuskan hubungan antara hamba dan Tuhan. Para pemerhati masalah jiwa mengemukakan bahwa antara mata dan hati ada satu celah dan jalan. Manakala mata rusak, maka hati pun rusak, dan menjadi tempat kotoran. Hati itu tak bisa lagi menjadi fasilitas untuk mengenal, mencintai, dan menuju Allah.

[2]. Memberikan pakaian penuh cahaya kepada hati.

Melepaskan pandangan secara bebas berarti membusanai hati dengan pakaian kegelapan. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ayat an-Nur (cahaya) segera setelah memberikan perintah menjaga pandangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

”Katakanlah kepada orang-orang mukmim untuk menjaga pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka”

(Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nur [24 ]: ayat 30)

Setelah itu, Allah menyebutkan hasil atau pengaruhnya,

“Allah adalah cahaya yang menerangi langit dan bumi. Cahaya-Nya itu bagaikan lubang, yang di dalamnya ada pelita … “

(Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nur [24]: ayat 35)

Yaitu, seperti cahaya Allah di dalam hati hamba-Nya yang mukmin yang menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Manakala hati mendapat nur, hati itu dapat menerima berbagai kebaikan dari segala sisi. Namun, ketika hati gelap, ia menerima seluruh musibah dan keburukan dari semua tempat.

[3]. Melahirkan firasat yang benar, yang dengannya seseorang bisa membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang jujur dan yang dusta.

Syuja’ al-Karmaniy mengatakan, ”Siapa yang mengisi lahiriahnya dengan mengkuti sunnah dan mengisi batinnya dengan senantiasa mawas diri, menjaga pandangan dari yang terlarang, menahan diri dari syubhat, dan makan yang halal, pasti firasatnya tidak pernah salah.” Syuja’ sendiri adalah orang yang firasatnya senantiasa benar.

[4]. Membuat hati berkonsentrasi dalam memikirkan hal-hal yang baik.

Mengumbar pandangan, akan membuat seseoarang akan lupa akan hal itu, karena ada pembatas antara dia dan hatinya. Jiwanya pecah dan ia jatuh ke dalam perangkap hawa nafsunya dan lalai mengingat Tuhan.

Ada kisah menarik mengenai menjaga pandangan ini. Karena sangat menjaga pandangannya, sebagian orang menduga bahwa Rabi’ bin Khutsaim buta. Selama dua puluh tahun, ia sering berkunjung ke rumah ibnu Mas’ud, ”Temanmu yang telah buta telah datang.” Ibnu Mas’ud tertawa karena ucapan itu. Ketika melihat Rabi’, Ibnu Mas’ud berkata, ”Alangkah gembiranya al-mukhbitiin (orang-orang yang merendahkan diri dihadapan Allah). Demi Allah, seandainya Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Sallam melihatmu, pasti beliau senang.”

Mata yang selalu dijaga dari hal-hal yang diharamkan, tidak akan tersentuh oleh api neraka sebagaimana sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam, “Tiga pasang mata tidak akan menyentuh api neraka, yaitu mata yang menutup dari apa yang diharamkan oleh Allah, mata yang terjaga di jalan Allah, dan mata yang menangis karena takut kepada Allah.” (Hadits Riwayat Imam Hakim dan Imam Baihaqy).

Balasan itu setimpal dengan amal. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, niscaya Allah akan mencemerlangkan cahaya bashirahnya. Siapa yang meninggalkan sesuatu demi Allah, Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik baginya. Apabila seseorang menjaga pandangan dari hal-hal yang haram, Allah akan menggantikannya dengan nur pandangan-Nya. Allah juga akan membukakan untuknya pintu pengetahuan, iman, makrifat, dan firasat yang benar.

Sebagai penutup, nasihat dari Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah untuk memohon pada Allah agar menghidupkan hati kita.

Sungguh aneh orang yang punya keperluan dan memohon agar Allah memenuhinya, namun ia tak memohon untuk menghidupkan hatinya agar tidak terjangkit kebodohan, agar disembuhkan dari penyakit syahwat dan syubhat; sebab jika hati telah mati maka ia tak akan merasakan kedurhakaan kepada Allah.

(Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah)

Wallahu a’lam bish-showab wa ‘afwu minkum.

(Hamba Allah fii Solo)

= = = = = = ==

‘Afwan, referensinya belum dicantumkan, soalnya bukunya sudah dikembalikan di perpustakaan Azzam SKI MIPA UNS. Mohon koreksi kalau ada yang salah ya, soalnya salah satu buku yang saya baca itu berbau tasawuf. 🙂

Oh, iya. Setelah ana belajar pengantar ilmu tafsir / ‘ulumul qur’an / ushulust-tafsir di ma’had ‘aly, ternyata ada tasawuf yang diperbolehkan untuk dipelajari dan diamalkan karena sesuai dengan ajaran Islam (al-Qur’an dan As-Sunnah). Biasanya itu berada pada pembahasan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)..


Arsip

Statistik Blog

  • 574,775 hits