Learn to Be A True Muslimah

Posts Tagged ‘Al-Qur’an

Bismillah..

“Ukh, kalau sudah khatam itu rasanya bagaimana?”, tanya seorang akhwat.

“Khatam itu bukan akhir, ukh.”, jawab sahabatnya.

“Oh ya, benar. Itu awal dari sebuah akhir.. Berarti antum minimal harus mbaca 5 juz/hari dong.. biar bisa mutqin.”, tambahnya.

“Iya, begitulah. Allahu Musta’an. Sebenarnya ana sudah tahu dari dulu sebelum masuk dunia tahfidz: kalau orang sudah khatam, tugasnya  itu belum selesai. Ia harus memantapkan hafalannya dulu. Hal ini bisa dilakukan dengan mempertahankan kebiasaan membaca 5 juz/hari selama -+5 tahun. Kalau ini sudah tercapai, insya Allah hafalannya lebih mutqin/dhobit dan akan lebih mudah utk tahun2 selanjutnya. ”

Bagaimana hafalan yang mutqin itu?

Hafalan mutqin adalah hafalan yang kuat:

(1)    terhadap lafadz-lafadz al-Qur’an dan

(2)    menghafal maknanya dengan kuat

(3)    sehingga mudah untuk menghadirkan ayat tersebut setiap kali menghadapi permasalahan kehidupan, yang mana al-Quran senantiasa hidup di dalam hati sepanjang waktu.. sehingga orang yang memiliki hafalan mutqin akan mudah untuk menerapkan dan mengamalkannya.

Hal yang tidak menyangkut definisi di atas:

  1. hafalan yang lemah terhadap lafadz al-Quran.
  2. Hafalan yang sekedar menghafal lafadz al-Qur’an saja meskipun sangat kuat hafalannya dan sangat akurat ketelitiannya. Penghafal ini hanya menghafal lafadz, meninggalkan menghafal makna dan amalan.
  3. Hanya sekedar menghafal lafazh dan makna, tanpa diiringi usaha serius untuk:
    1.  mengaitkan makna dengan kenyataan hidup
    2. Mengulang-ulang untuk membiasakan diri menerapkan ikatan kuat antara ilmu dan amal

Jika terjadi ikatan kuat antara ilmu dan amal:

Diperoleh maksud diturunkannya al-Qur’an –“untuk menguatkan hatimu”-

 

CATATAN: definisi ini tidak mensyaratkan harus hafal al-Qur’an 30 juz, tapi memungkinkan untuk mempraktekkan rukun-rukun program pendidikan menghafal quran (ia hafal lafadz, makna, dan amal) dan sarananya sesuai jumlah hafalan al-Qur’an yang dimiliki seseorang.

Bismillah..

Kitab-kitab samawi seperti Zabur, Taurat, dan Injil diturunkan secara sekaligus pada para nabi yang dipilih-Nya. Bagaimana dengan kitab suci Al-Qur’an? Al-Qur’an berbeda karena diturunkan tidak sekaligus, tapi berangsur-angsur. Justru inilah salah satu keistimewaan Al-Qur’an.

Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan secara sekaligus?

Ada hikmah besar di baliknya. Sebenarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun mampu menurunkannya sekaligus, namun dengan kesempurnaan hikmah dan ilmu-Nya, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap dalam beberapa waktu, seperti kalam Allah:

“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Qs. Al-Isra’: 106)

Dengan diturunkan secara berangsur-angsur, maka akan memudahkan Al-Qur’an untuk dihafal, difahami, dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat2nya. Orang2 Arab zaman dulu umumnya tidak bisa membaca dan menulis, sehingga mereka menyimpan ilmu mereka dengan hafalan.

Ayat lain yang menjelaskan hal ini adalah di Surat Al-Furqon berikut ini:

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS. Al-Furqon: 32)

Dengan turun secara berangsur-angsur, maka dapat memperkuat/memperteguh hati Rasulullah karena dakwah itu berat dan penuh rintangan. Ada ayat yang isinya berisi hiburan untuk beliau sehingga menjadi lebih sabar dan teguh dalam berdakwah.. ada yang berisi berita gembira akan kemenangan yang akan peroleh meski keadaan saat itu sangat sulit.. ada yang berupa kisah2 para Nabi yang ternyata mendapatkan berbagai cobaan2 yang berat juga, sehingga beliau bisa mengambil ibrah dari kisah tersebut.. ada juga yang menjawab pertanyaan2 kaum musyikin Mekkah, kaum Yahudi maupun menjawab pertanyaan para muslimin tentang beberapa hukum saat di Madinah..

Jadi, betapa indahnya dan betapa besarnya hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur. Intinya, dalam Surat Al-Furqon di atas, tujuan diturunkan Al-Qur’an tidak sekaligus seperti kitab sebelumnya, tapi berangsur2 adalah untuk MEMPERKUAT/MEMPERTEGUH/ MEMPERKOKOH HATIMU..

Barangkali ini juga bisa menjawab pertanyaan salah satu saudari saya di Kalimantan,

Mengapa kita tidak bisa menguasai seluruh bidang yang kita inginkan sekaligus dalam satu waktu? Agar kita bisa menghafal ilmu itu, memahaminya, mempraktekannya.. dan agar ilmu itu benar2 kokoh dalam hati kita lebih dulu. Seperti ulama zaman dulu, tidak diperkenankan belajar hadits sebelum hafal/menguasai Al-Qur’an lebih dahulu. Jadi, kuasai dan tekuni dulu satu-satu.. 🙂

= = = =

Alhamdulillah, dalam perjalanan saya menghafal Al-Qur’an, banyak ayat Al-Qur’an yang saat saya hafal, saat itu pula saya mendapatkan kesan/hikmah/penjelasannya/mengingat masa lalu saya yang indah.. atau bahkan ujian bagi kehidupan saya. Misalnya,

-saat saya menghafal QS. Thaha, saat itu saya mendapat jatah dari ustadzah untuk mempresentasikan/menjelaskan pada teman2 di mahad tentang bagaimana proses Umar bin Khoththob masuk Islam. Padahal, Umar bin Khoththob masuk Islam setelah mendengar dan membaca QS. Thaha. Beliau kagum dan menangis karena merasakan keindahan Al-Qur’an. Hatinya luluh dan mengakui kebenaran karena tidak mungkin kata2 yang memiliki ketinggian satra itu itu adalah kata2 manusia lalu beliau masuk Islam.

-saat menghafal QS. Al-Ahqof, saya diuji untuk menuruti orang tua untuk bekerja dan tidak bisa masuk mahad lagi. Saat itu saya bertanya dalam hati, “Masya Allah, saya diuji dengan apa yang saya hafal.” Akhirnya saya mengambil cuti beberapa waktu dan terus memohon pada Allah agar bisa kembali lagi ke mahad untuk meneruskan hafalan.

-saat saya menghafal QS. Al-Hajj, saat itu adalah bulan Dzulhijah, di mana sebagian muslimin melaksanakan ibadah haji dan penyembelihan hewan qurban. Saya mendengar para penceramah di kajian membaca QS. Al-Hajj saat berkhutbah menjelang hari Idul Adha.

-suatu saat saya bertanya pada Allah, “Ya Allah, apakah yang paling berharga di dunia ini?” Setelah beberapa lama, hati saya menjawab : iman dan Islam. Lalu saya pun bertanya lagi, “Banyak orang yang mengaku orang Islam dan orang beriman, tapi ternyata mereka berbeda2. Ya Allah, bagaimanakah iman yang sesungguhnya itu?”.. Alhamdulillah, pagi harinya saya menghafal awal Qs. Al-Anfal yang menjawab pertanyaan saya. Alhamdulillah, saya sangat senang dan bersyukur sekali karena pertanyaan saya terjawab. Lalu saya menceritakan pada ayah, ayah menambahkan bahwa ciri iman yang sebebarnya itu diterangkan dalam Qs. Al-Hujurat.

-Suatu saya menghadiri majelis pengkhataman al-Qur’anyang diadakan besar2an di kota Solo, penceramah menjelaskan tentang kematian dan menyebutkan salah satu ayat di Surat Al-A’raf. “Masya Allah, ini adalah jatah hafalanku hari ini.”

-Saat saya menghafal salah satu ayat di Qs. Al-Qashash, saya teringat dulu pernah memohon pada Allah dengan doa yang mirip seperti yang diucapkan Nabi Musa ‘alaihissalam. Dan alhamdulillah, Allah mengabulkan doa itu dan memberikan kebaikan yang banyak.

-saat saya menghafal Qs. Maryam, saat itu saya sedang bersedih, lalu ada sebuah ayat yang benar2 menghibur dengan khitab yang tepat, “Alaa tahzanii..” Janganlah kamu besedih.. “. Kata kerja yang digunakan adalah kata kerja untuk perempuan tunggal, yaitu Maryam. Seolah-olah Al-Qur’an berkata padaku, “Janganlah engkau bersedih..” kemudian menceritakan bagaimana Allah memberi pertolongan dan kebar gembira pada Maryam. Setelah itu, saya tersenyum.. 🙂

Masih ada lagi yang belum bisa saya ceritakan, seperti kesan ketika menghafal QS. Az-Zukhruf, Al-Mukminun, Al’Ankabut, Al-Hijr, Al-Baqarah, Ali-Imran, Az-Zumar, Al-Isra’, Yunus, Yusuf, Muhammad, dst. Barangkali ini salah satu nikmatnya menghafal qur’an, untuk memperkuat hatimu.. karena memang menghafal qur’an itu banyak rintangan dan ujiannya.. saya akui.. berat.. Alhamdulillah, Allah memberi kabar gembira, menghibur kesedihan, dan menggantinya dengan kegembiraan.

 

 

 

Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap)maka yang harus dilakukan adalah menjadikan Al-Quran sebagai wirid harian hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam semasa hidupnya, beliau membagi al qu an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.

Aus bin Huzaifah rahimahullah; aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: “Kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al Qur an)”. (HR. Ahmad).

Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:

  1. Hari pertama: membaca surat “Al-Fatihah” hingga akhir surat “An-Nisa’”,
  2. Hari kedua: dari surat “Al-Maidah” hingga akhir surat “At-Taubah”,
  3. Hari ketiga: dari surat “Yunus” hingga akhir surat “An-Nahl”,
  4. Hari keempat: dari surat “Al-Isra’” hingga akhir surat “Al-Furqon”,
  5. Hari kelima: dari surat “Asy Syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”,
  6. Hari keenam: dari surat “Ash-Saffatt” hingga akhir surat “Al-Hujurat”,
  7. Hari ketujuh: dari surat “Qaaff” hingga akhir surat “An-Naas”.

Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadi kata: ” Fami bisyauqin ( فم ي ب شوق ) “, dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya, maka:

  1. huruf “fa” symbol dari surat “Al-Fatihah”, sebagai awal wirid beliau hari pertama,
  2. huruf “mim” symbol dari surat “Al-Maidah”, sebagai awal wirid beliau hari kedua,
  3. huruf “ya” symbol dari surat “Yunus”, sebagai wirid beliau hari ketiga,
  4. huruf “ba” symbol dari surat “Bani Israil (nama lain dari surat al isra)”, sebagai wirid beliau harikeempat,
  5. huruf “syin” symbol dari surat “Asy Syu’ara”, sebagai awal wirid beliau hari kelima,
  6. huruf “wau” symbol dari surat “Wa Shaffat”, sebagai awal wirid beliau hari keenam,
  7. huruf “qaaf” symbol dari surat “Qaaf”, sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat “An-Naas”.

Ini tidak seperti pembagian hizb seperti sekarang ini dengan dengan membuat pemberhentian (waqaf) terhadap beberapa ayat yang bersambung dengan ayat sesudahnya, kemudian seorang qori membacanya lagi pada hari berikutnya dengan memulai bacaan yang diikutkan dengan bacaan sebelumnya.

Misalnya memulai dengan kalam Allah, “wal muhshonaati minan-nisaa-i.. ” pada permulaan juz ke-5. Padahal ini adalah ayat yang masih satu tema dengan akhir juz ke-4. (ceritanya belum selesai ko sudah dipotong.. karena sudah beda juz.. 🙂 )

Oleh sebab itu, pembagian hizb (tahzib) dengan surat secara lengkap lebih utama daripada pembagian hizb dengan juz. Ini merupakan salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.

Bagaimana jika kita belum mampu melaksanakan hizb Nabi di atas?

Kita harus melalui tahap-tahap agar dapat mencapai derajat yang tinggi tersebut, yaitu:

Fase 1: mengulangi seluruh hafalan selama 3 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 2: mengulangi seluruh hafalan selama 1,5 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 3: mengulangi seluruh hafalan selama 1 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 4: mengulangi seluruh hafalan selama 1/2 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 5: mengulangi seluruh hafalan selama 7 hari, seperti hizb Nabi di atas.

Jika kita sudah berusaha keras dan belum bisa mencapai tingkatan fase ke-5 ataupun fase ke-4, maka paling tidak kita terus bertahan di fase ke-3 (mengkhatamkan hafalan qur’an 30 selama sebulan). Disarankan tidak kurang dari ini hingga Allah mengaruniakan nikmat-Nya kepada derajat yang tinggi di dunia dan akhirat, insya Allah.

= = = =

Sumber:

– Revolusi Menghafal Al-Qur’an (buku terjemahan), karya Ustadz YahyaAbdul Fattah Az-Zawawi

– rizkafitri.wordpress.com

Alhamdulillah… Senangnya hati ana…:)

Ana menemukan blog bagus tentang belajar Bahasa Arab Al-Qur’an, ditulis oleh ahli IT yang (dulu awal menulisnya) sedang belajar Bahasa Arab.. ulasannya lengkap juga lho!

Dengan cara otodidak, ia coba mempelajari beberapa buku tata-bahasa Arab, baik yang berbahasa Indonesia, maupun Inggris. Proses itu menjadi lebih cepat setelah ia memiliki guru. Tulisan dalam blog itu dituliskan sebagai bagian dari proses belajar pribadinya (menjadi semacam refleksi ataupun dokumentasi) .

Ini salah satu artikelnya yang berjudul ” Muhrim” :

= = = = = = = = = = = = =

Bismillahirrahmanirrahim.

Kata muhrim sering kita pakai. “Eh awas… nanti whudhu’mu batal… jangan dekat-dekat… bukan muhrim”. Muhrim yang dimaksud disini, adalah orang yang haram dinikahi.

Kata yang dekat dengan kata muhrim banyak. Antara lain: kata haram, muharram, mahrum, mahram, dsb.

Haram dan Halal

Haram, حرام adalah lawan dari Halal حلال. Sudah tidak kita perlukan penafsiran apa-apa lagi kan. Haram artinya sesuatu yang dilarang. Halal artinya sesuatu yang dibolehkan.

Dari mana asalnya kata Haram? Perhatikan kata haram dalam bahasa Indonesia itu dalam bahasa Arabnya حرام . Ada 4 huruf kan. HA RO ALIF dan MIM. Nah sebuah kata bahasa Arab umumnya terdiri dari 3 huruf asli (yaitu huruf hijaiyah selain YA, WAW, dan ALIF).

Kalau begitu kata حرام – yang 4 huruf itu, karena ada ALIF, maka huruf aslinya hanya 3, yaitu HA RO dan MIM. Jadilah dia: حرم.

Nah yang jadi soal gimana mbacanya? Dia bisa kita baca harama, haruma, harima. Ada 3 kemungkinan. Lho… kan bisa juga kita baca hurima, hurimi, dsb? Ya Anda benar. Akan tetapi yang umum jadi entri pertama di kamus adalah AWAL dan AKHIR fathah. Dengan demikian tengahnya bisa fathah, kasroh, atau dhommah. So hanya 3 kemungkinan.

Okeh… sekarang kita lihat lagi. Kata حرم , jika mendapat alif sebelum huruf terakhir, maka biasanya kata itu menunjukkan sifat, dan cara bacanya tertentu. Jadi kata حرام , walau tidak ada harokatnya, dibaca haraam. Yaitu sesuatu yg sifatnya haram.

Sama halnya dengan رحمان walau tidak ada harokatnya kita baca rahmaan. Tidak bisa dibaca ruhmaan, atau rihmaan.

Sekarang balik lagi ke kata حرم. Bagaimana cara membacanya, diantara 3 kemungkinan? Hanya ada 1 cara, yaitu lihat kamus… (hik.. only that??? lah iya laaa…)

Di kamus ditulis:
حرم يحرم حرما – haruma yahrumu hurman : haram, terlarang.

Berarti kita bacanya haruma (kata kerja).

Simple kan? Insya Allah ya…

Oke, dari KKL haruma itu, banyak kata yang terbentuk setelahnya, seperti:

حرّم – harrama : mengharamkan (KKT-2)
أحرم – ahrama : berihram (KKT-1)

TAHRIIM dan MUHRIM

Kata ahrama – berihram. Orang yang melakukan ihram disebut محرم – muhrim (isim fa’il). Sama halnya dengan أسلم – aslama : berIslam, maka orang yang Islam disebut مسلم – muslim.

Jadi kalau begitu kata MUHRIM lebih tepat diartikan orang yang berihram (sedang melaksanakan ibadah haji).

Sedangkan kata محرم – mahram, adalah orang yang haram dinikahi.

Dalam AQ sesuatu yang dilarang disebut dengan mahruum محروم .

Kata tahrim artinya pengharaman. Kata ini adalah kata masdhar dari harrama. Tashrifnya adalah: harrama yuharrimu tahriim.

Muharram

Muharram محرم adalah nama bulan. Secara letterleijk, muharram adalah isim maf’ul (objek) dari kata harrama. Jadi kalau harrama mengharamkan, muharrim adalah sesuatu yang mengharamkan, sedangkan muharram artinya sesuatu yang diharamkan. Dari kacamata sejarah bulan muharram adalah bulan dimana berperang dibulan tsb diharamkan.

Kembali lagi ke konteks muhrim dan mahram. Kalau yang dimaksud orang yang tidak boleh dinikahi maka disebut mahram, bukan muhrim. Karena muhrim adalah orang yang berihram. Di Indonesia dan Malaysia (kalo tidak salah), sering dijumpai perkataan muhrim, tapi maksudnya mahram.

Allahu a’lam.

Sumber : http://arabquran.blogspot.com

Bismillah…

Alhamdulillah, sebagai kelanjutan dari Program “Daiyyah Sukses”, maka kami beberapa akhwat akan mengadakan dauroh Al-Qur’an di Solo. Pengurusnya sekitar 17 orang, sebagian besar adalah para tholibat Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq, baik bagian Lughoh ‘Arobiyyah ataupun Tahfidzul Qur’an. Dalam merencanakan program ini, kami dibimbing oleh Ustadzah ‘Ainul Millah, Lc.

Untuk itu, kami mengadakan rapat dan persiapan. Untuk pekan ini adalah menyiapkan materi yang disampaikan, dibagi menjadi 3 kelompok : mukadimah, tahsinul qur’an (makharijul huruf), dan ilmu tajwid. Ana berada di kelompok pembuatan diktat “ilmu tajwid”, mendapat bagian mengetik dan membuat slidenya setelah dibahas bersama (lebih berat nih…Allahu Musta’an..).

Ini adalah program keluar untuk para muslimah, terutama di solo dan sekitarnya…

Sedangkan program internalnya juga masih ada, yaitu : kajian ilmu, membuka kitab-kitab digital, latihan berceramah.. dsb. Tujuanya adalah mengantarkan kita menjadi daiyyah, ‘alimah, mujahidah, yang siap berdakwah… plus hafidzah tentu.. 🙂 (untuk para tholibat Tahfidzul Qur’an).

= = = = = = = = = = =

Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlaa wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlaa…

Amin.

Alhamdulillah, di desa kami mulai diadakan kegiatan rutin berupa ta’lim Tahsin al-Qur’an dan Bahasa Arab khusus muslimah. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Akhwat (FOSWAT) sejak bulan Mei 2009.

Diikuti oleh sekitar 30 orang dan semakin lama semakin banyak muslimah yang tertarik dan antsias mengikuti kegiatan ini. Ingin belajar tentang Tahsin Al-Qur’an & Bahasa Arab? Kalau pembaca adalah seorang muslimah yang tertarik dengan kegiatan ini serta berada di daerah Solo dan sekitarnya, ikut saja kegiatan ini, gratis kok ^_^.

Kursus Tahsin Al-Qur’an & Bahasa Arab

(Tingkat Dasar I)


Lama Belajar : 8 × pertemuan

(2 pekan sekali, dimulai 17 Mei 2009)

Kurikulum Tahsin Al-Qur’an:

I    : Makhraj Huruf ,

II   : Makhraj Huruf ,

III : Makhraj Huruf , ,

IV : Makhraj Huruf ,

V   : Makhraj Huruf ,

VI : Makhraj Huruf ,

VII   : Makhraj Huruf ,

VIII : Makhraj Huruf ,

Kurikulum Bahasa Arab:

I    : Kata Benda (Al-Ismu)

II   : Kata Kerja (Al-Fi’lu)

III  : Kata Depan (Al-Harfu)

IV  : Tashrif Isthilahi & Tashrif Lughowi

V   : Perubahan Kata (I’rob)

VI  : Mubtada’-Khobar, Na’at, Idhofah

VII : Fa’il – Maf’ul – Naibul Fa’il

VIII: Kata Tanya (Al-Istifham)


Tempat Belajar :

Bulan Mei : Masjid At-Taqwa (Jetak-Pool Barat)

Bulan Juni : Masjid Al-Mukmin (Watuburik-Pool Timur)

Bulan Juli : Masjid Al-Barokah (Saudan, Pool Tengah)

Bulan Agustus : Masjid Nur Ilham (Gang Rambutan, Pool Perumnas)

Pengajar :

Alumni Ma’had Tahfidzul Qur’an “Khoirotun Hisan”,

Mahasiswi Ma’had Tahfidzul Qur’an “Abu Bakar Ash-Shiddiq”

Biaya Pendidikan :

Gratis !!


Fasilitas :

Makalah, snack, hadiah bagi yg berprestasi

Contact Person : 085 647 582 141

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Untuk melihat blog Resmi Forum silaturahmi Akhwat, silahkan berkunjung ke : http://www.foswat.wordpress.com. ^_^



Arsip

Statistik Blog

  • 821.185 hits