Learn to Be A True Muslimah

Posts Tagged ‘alquran

♥ Menurut penelitian ilmiah terbaru, anak-anak dapat dididik sejak masih dalam kandungan, karena selama dalam kandungan, otak dan indra pendengaran anak sudah mulai berkembang, mereka dapat merasakan apa yang terjadi di luar kehidupan mereka, sementara yang mempengaruhi otak dan indera pendengaran bayi di dalam kandungan antara lain emosi dan kejiwaan ibu, rangsangan suara yang terjadi di sekitar ibu.

♥ Kisah Nabi Zakaria Dia telah memberikan stimulasi pendidikan pada anak pralahir yaitu anak yang dikandung oleh istrinya, (Q.S. Maryam, 19: 10-11). Di dalamnya dijelaskan bahwa pelayanan stimulasi pendidikan yang dilakukan oleh Nabi Zakaria telah membuahkan hasil yang yang bagus, yakni anak yang memiliki kecerdasan tinggi dalam memahami hukum-hukum Allah. Selain itu digambarkan pula bahwa anak yang dikaruniai itu adalah sosok yang terampil dalam melaksanakan titah Allah, memiliki fisik yang kuat, sekaligus seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, (Q.S. Maryam: 12-15). Bahkan, kemudian anak tersebut dipercaya dijadikan pewaris tunggal orang tuanya yakni tugas kenabian.

♥ Kisah Nabi Adam Tatkala usia kandungan bertambah besar dengan merasakan kepayahan dan keberatan. Saat itulah, Siti Hawa dengan sedih mengadu kepada suaminya. Kondisi ini membuat Adam a.s. beserta istrinya bersama-sama memohon kepada Allah dengan sebuah doa yang sangat filosofis yaitu,”… Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” (al-A’raaf: 189).

♥ Memperhatikan anak ketika dalam kandungan juga berlaku untuk ayah karena sel-sel yang ada pada janin adalah perpaduan sel antara Bapak dan Ibu.

♥ Setelah bayi lahir, orang tua terutama ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anaknya, juga sebagai basis pendidikan moral dan agama serta pelestari nilai-nilai luhur. Jadi harus benar-benar memperhatikan trik dalam mendidik anak.

♥ Anak dalam kandungan dapat belajar tetapi tidak seperti orang dewasa (F. Rene Van de Carr, M.D.) Bayi dalam kandungan dapat merasakan, mendengar dan melihat (Fang Hui Hui/epochtimes/prm).Beberapa penelitian juga menyampaikan bahwa mereka mengetahui antara yg terang dan gelap. ♥ Anak dalam kandungan, cara belajarnya jauh lebih mendasar. Ketika orang tuanya (khususnya sang Ibu) mengajarkan kata-kata kepada bayi dalam kandungannya, ia hanya mendengarkan bunyinya sambil mengalami sensasi tertentu. Misalnya, tatkala si Ibu mengatakan “tepuk”, anak dalam kandungan mendengar bunyi “t-e-p-u- dan k”, karena pada saat yang bersamaan si ibu menepuk perutnya. Kombinasi bunyi dan pengalaman ini memberi kesempatan bagi anak dalam kandungan untuk belajar memahami hubungan tentang bunyi dan sensasi pada tingkat pengenalan praverbal.

♥ Ketika sang ibu membaca ayat-ayat al-Qur’an sambil mengelus-elus dinding perutnya, maka sesungguhnya sang bayi dalam kandungan juga mendengar lantunan ayat Al-Qur’an tersebut sekaligus merasakan sensasi getarannya.. 🙂  Dan dalam beberapa kondisi, sang bayi membalas getaran tersebut agar kelak mudah dalam mempelajari Al-Qur’an.

♥ Jika hal tersebut dilakukan berulang-ulang, maka firman Allah: QS: Al-Anfal: 2 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. Adalah bukti!!!

Pada saat kandungan itu telah berusia lima bulan/setara dengan 20 minggu, kemampuan anak dalam kandungan untuk merasakan stimulus telah berkembang dengan cukup baik sehingga proses pendidikan dan belajar dapat dimulai atau dilakukan.

♥ Keistimewaan pendidikan pralahir. Apa saja keistimewaannya? Antara lain: peningkatan kecerdasan otak bayi, keyakinan lestari pada diri anak saat tumbuh dan berkembang dewasa nanti, keseimbangan komunikasi lebih baik antara anak dengan ortu-nya, anggota keluarganya dan atau dengan lingkungannya, stimulasi pralahir dapat membantu mengembangkan orientasi dan keefektifan bayi dalam mengatasi dunia luar setelah ia dilahirkan, lebih mampu mengontrol gerakan2 mereka, anak lebih tenang, waspada dan bahagia…De el el… Udah terbukti dari berbagai hasil penelitian.

http://najwazuhur.wordpress.com/2010/02/24/pengajaran-al-quran-sejak-dalam-kandungan/

Bagi para penghafal qur’an, sangat penting untuk teliti terhadap ayat-ayat yang mirip (mutasyabihat) agar hafalannya sempurna. Untuk itu, ini ada sedikit catatan saya tentang ayat mutasyabihat di Qs.Luqman. Semoga usaha nanti berlanjut untuk seluruh surat dalam Al-Qur’an.

Mengapa saya mulai dengan Qs.Luqman? karena surat inilah salah satu surat yang saya hafal pada pekan ini. Jadi, masih fresh hafalan dan catatannya.. 🙂

Bismillahirrahmanirrahim..

[1] Tilka aayaatul kitaabil hakiim. (Qs.Luqman : 2)

Tilka aayaatul kitaabil mubiin. (Qs. Qashas : 2)

… tilka aayaatul qur’aani wa kitaabim-mubiin. (Qs. An-Naml : 1)

[2] hudan wa rahmatan lil muhsiniin.

hudan wa busyroo lil mu’miniin.

[3] wa minannaasi man yasytarii lahwal hadiitsi.. (Qs.Luqman : 6)

wa minannaasi man yujaadilu fillahi.. (Qs.Luqman : 20)

[4] wa wash-shoinal insaana biwaalidaihi hamalat-hu ummuhuu wahnan ‘alaa wahnin.. (Qs. Luqman : 14)

wa wash-shoinal insaana biwaalidaihi ihsaanaa, hamalat-hu ummuhuu kurhaw-wawadlo’athu kurhaa.. (Qs. Al-Ahqof : 15)

[5] wa fishooluhuu fii ‘aamaini anisykurLII.. (Qs. Luqman :14)

wa fishooluhuu tsalaatsuuna syahroo.. (Qs. Al-Ahqof : 15)

[6] yaa bunayya innahaa in-taku.. (Qs.Luqman : 16)

yaa bunayya aqimish-sholaata.. (Qs.Luqman : 17)

[7] alam tarou annaLLAAHA sakh-khoro lakum.. (Qs.Luqman : 20)

alam taro annaLLAAHA yuulijul-laili fin-nahaari.. (Qs. Luqman : 29)

alam taro annal-fulka tajrii fil bahri.. (Qs.Luqman : 31)

[8] wa idzaa qiila lahumut-tabi’uu maa anzalaLLAH, qooluu bal nattabi’u maa wajadnaa ‘alaihi aabaa-anaa.. awalaw kaannasy-syaitoonu yad’uuhum ilaa ‘adzaabis-sa’iir. (Qs.Luqman : 21)

wa idzaa qiila lahumut-tabi’uu maa anzalaLLAH, qooluu bal nattabi’u maa alfainaa ‘alaihi aabaa-anaa.. awalaw kaannaa aabaa-uhum laa ya’qiluuna syai-an wa laa yahtaduun. (Qs. Al-Baqarah : 170)

[9] wa man yuslim wajhahuu ilaLLAAHI wahuwa muhsinun faqodistamsaka bil ‘urwatil wutsqo.. (Qs. Luqman : 22)

balaa man aslama wajhahuu liLLAAHI wa huwa muhsinun falahuu ajruhuu ‘inda Rabbihii.. (Qs. Al-Baqarah : 112)

[10] wa man kafaro falaa yahzunka kufruh.. (Qs. Luqman : 23)

wa man kafaro fa’alaihi kufruh.. (Qs. Ar-Ruum : 44)

[11] Wa la-in sa-altahum man kholaqos-samaawaati wal-ardlo layaquulunnaLLAAH.. (Qs. Luqman : 25)

Wa la-in sa-altahum man kholaqos-samaawaati wal-ardlo wa sakh-khorosy-syamsa wal qomar layaquulunnaLLAAH.. (Qs. Al-‘Ankabut : 61)

[12] .. layaquulunnaLLAAH, fa-annaa yu’fakuun. (Qs. Al-‘Ankabut : 61)

.. layaquulunnaLLAAH, qulilhamduliLLAAH, bal aktsaruhum laa ya’qiluun.. (Qs. Al-‘Ankabut : 63)

.. layaquulunnaLLAAH, qulilhamduliLLAAH, bal aktsaruhum laa ya’lamuun. (Qs. Luqman : 25)

[13] .. wa sakh-khorosy-syamsa wal qomaro kulluy-yajrii ilaa ajalim-musammaa wa innaaLLAAHA bimaa ta’maluuna khobiir. (Qs. Luqman : 29)

.. wa sakh-khorosy-syamsa wal qomaro kulluy-yajrii li ajalim-musammaa, dzaalikumuLLAAHU Rabbukum laHul-mulk.. (Qs. Faathir : 13)

.. wa sakh-khorosy-syamsa wal qomaro kulluy-yajrii li ajalim-musammaa, alaa Huwal-‘Aziizul Ghoffaar. (Qs. Az-Zumar : 5)

[14] .. da’awuLLAAHA mukh-lishiina laHud-diina falammaa najjaahum ilal-barri faminhum muqtashid.. (Qs. Luqman : 32)

.. da’awuLLAAHA mukh-lishiina laHud-diina falammaa najjaahum ilal-barri idzaa hum yusyrikuun. (Qs. Al-‘Ankabut : 25)

[15] .. wa maa yajhadu bi-aayaatinaa illal-kaafiruun. (Qs. Al-‘Ankabut : 47)

.. wa maa yajhadu bi-aayaatinaa illadl-dloolimuun. (Qs. Al-‘Ankabut : 49)

.. wa maa yajhadu bi-aayaatinaa illaa kullu khottaarin kafuur. (Qs. Luqman : 32)

Alhamdulillah..

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata : ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika AL-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkata Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS Al-Furqan 27-30).

FENOMENA menarik yang digambarkan ayat di atas adalah penyesalan orang-orang zalim karena mereka sudah salah memilih sahabat. Sahabat yang mereka pilih ternyata sahabat yang tidak bertanggung jawab setelah mereka dipengaruhi agar berpaling dari Al-Quran. Ayat di atas juga mengindikasikan keterkaitan yang cukup kuat antara bagaimana memilih sahabat dan penunjukan Al-Quran sebagai sahabat sejati. Dan pada ayat yang ke-30 Nabi pun mengadu kepada Allah menyangkut sikap kaumnya yang acuh tak acuh terhadap Al-Quran.
Term khalil (khaliilan) yang bermakna sahabat yang digunakan Allah SWT pada ayat tadi secara eksplisit menunjukkan bahwa manusia sangat membutuhkan seorang sahabat. Kebutuhan sahabat itu dapat kita tunjukkan pada saat ini dengan aktivitas yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan sahabat seperti meng-upload biodata ke media, chatting dan sebagainya. Ketika kita mendengar kata sahabat maka di dalam benak kita akan tergambar seseorang yang sangat akrab dan selalu hadir di tengah-tengah kita baik dalam keadaan suka maupun duka.
Sebelum mencari sahabat manusia kita sebaiknya bersahabat terlebih dulu dengan Al-Quran. Dikarenakan dalam Al-Quran kita dapat menemukan panduan hidup yang benar bagaimana memulai persahabatan yang positif dan kiat-kiat mengenali sifat sahabat yang baik. Di dalam sebuah ayat diungkapkan bahwa “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf 67).
Apabila kita jauh dari nilai-nilai Al-Quran dan tidak menjadikannya sahabat kita maka hidup kita akan mudah diperdaya oleh rayuan dan bujukan setan untuk dijadikan sahabatnya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Ilahi: “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yaitu Al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang akan menjadi temannya.” (QS Az-Zukhruf 36).
Intinya, dalam kehidupan kita hanya memiliki dua pilihan untuk dijadikan sahabat: Al-Quran atau setan. Manakala kita bersahabat dengan Al-Quran maka kita akan selamat di jalan Allah. Sebaliknya bersahabat dengan setan kita akan merugi dan jatuh ke lembah kehancuran dan kesesatan. Agar kita terhindar dari persahabatan dengan setan, Al-Quran telah memberikan tips yaitu sering-sering membaca ta’awwudz yaitu ungkapan A’udzubillahi minasy-syaithonir rajim. “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (QS An-Nahl 98).
Selain itu, alasan yang cukup kuat mengapa kita harus bersahabat dengan Al-Quran. Karena kita sebagai seorang muslim pasti sepakat bahwa Al-Quran adalah mukjizat khalidah (mukjizat abadi). Keberadaannya diyakini sebagaimana kata pepatah “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.” Ia akan senantiasa shalih fil al-zaman wa al-makan (selalu relevan di setiap waktu dan tempat).

Jadi kita sangat beruntung bila dapat bersahabat dengan Al-Quran. Hanya saja, untuk menjadikan Al-Quran sebagai sahabat karib, tentu kita harus memposisikan dan memperlakukannya seperti kita memperlakukan sahabat-sahabatnya. Yakni menjadikannya sebagai teman curhat, mendengar nasehatnya, mengikuti petuahnya dan ingin selalu dekat di sisinya, dalam hal ini dengan selalu membaca dan memahaminya.
Dengan begitu kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat. Terlebih lagi, Al-Quran sendiri memperkenalkan  dirinya sebagai kitab petunjuk (hidayah) yang berfungsi mengeluarkan manusia dari kegelapan (zulumat) menuju cahaya (nur).
Lain kata, Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi umat Islam untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ternyata manfaat dari bersahabat dengan Al-Quran selain akan kita peroleh di dunia juga di akhirat nanti, karena membaca Al-Quran, meskipun belum mengerti maknanya, akan dibalas setiap hurufnya dengan sepuluh kebajikan.

http://www.sripoku.com/view/7219/Al-Quran_Sahabat_Terbaik

TEMAN TERBAIK

 

Kawan, ingin aku bercerita tentang teman terbaik yang pernah kumiliki. Ayah mengenalkan aku dengannya di tiga tahun usiaku. Meski belum banyak mengerti, aku masih ingat kata-katanya, “Kapanpun dan dimanapun, jadikanlah ia peganganmu, insya Allah kamu akan selamat”. Setelah saat itu, aku mulai rajin untuk mengenalnya. Kemana pergi selalu kuajak serta. Ia bukan saja teman terbaik bagi diriku, tapi juga teman terbaik bagi semua orang, begitu cerita ibu.

 

Ia tidak pernah meminta diajak serta, karena semestinya kita yang membutuhkan keberadaannya kemanapun kaki melangkah. Senantiasa memberi jawaban atas semua tanya, mengoleskan kesejukan untuk setiap hati yang gersang. Bagi yang gelisah dan gundah, ia akan menjadi obat mujarab yang mampu memberikan ketenangan. Ia juga menjadi pelipur lara bagi yang bersedih. Tanpa diminta, jika kita mau, ia selalu menunjukkan jalan yang benar dengan cara yang sangat arif. Ikuti jalannya jika mau selamat atau tak perlu hiraukan peringatannya asal mau dan sanggup menanggung semua resikonya. Ia tak pernah memaksa kita untuk mematuhinya, karena itu bukan sifatnya.

 

Tutur katanya, indah menyejukkan, menyiratkan kebesaran Maha Pujangga dibalik untaian goretan barisan hikmah padanya. Tak ada yang sehebat ia dalam bertutur, tak ada pula yang seindah ia dalam bersapa. Hingga akhirnya, setiap yang mengenalnya, senantiasa ingin membawanya serta kemanapun. Tak peduli siang, malam, terik ataupun mendung, ia kan setia menemani. Cukup hanya dengan menyelami kedalamannya, tak terasa setitik air bening mengalir dari sudut mataku. Hingga satu masa, aku begitu mencintainya. Sungguh tiada tanding Maha Pujangga pencipta teman terbaikku ini.

 

Sebegitu dekatnya kami berdua, sehingga melewati satu hari pun tanpanya, hati akan kering, gersang dan merinduharu. Ada kegetiran yang terasa menyayat saat tak bersamanya, bahkan pernah aku tersesat, sejenak kemudian aku teringat pesan-pesannya, hingga aku terselamatkan dari kesesatan yang menakutkan. Di waktu lain, aku berada di persimpangan jalan yang membuatku tak tahu menentukan arah melangkah, berkatnyalah aku menemukan jalan terbaik. Entah bagaimana jika ia tak bersamaku saat itu.

 

Kawan, maukah mendengarkan betapa kelamnya satu masaku tanpa teman terbaikku itu?

 

Mulanya hanya lupa tak membawanya serta ke satu tempat. Esoknya sewaktu ke tempat yang berbeda, aku tak mengajaknya serta, karena kupikir, untuk ke tempat yang satu ini, saya merasa tak pantas membawanya serta. Saat itu saya lupa pesan ayah, “jika tak bersamanya, keselamatanmu terancam”. Esok hari dan seterusnya, entah lupa entah sudah terbiasa teman terbaik itu tak pernah lagi kuajak serta. Kubiarkan ia berhari-hari bersandar di salah satu sudut kamarku. Satu minggu, bulan berlalu dan tahun pun berganti, aku semakin lupa kepadanya, padahal ia senantiasa setia menungguku dan masih di sudut kamar hingga berdebu.

 

Hingga satu masa, bukan sekedar lupa. Bahkan aku mulai malu untuk mengajaknya. Disaat yang sama, semakin tak sadar jika diri ini telah jauh terseret dari jalur yang semestinya. Tapi aku tidak perduli, pun ketika seorang teman menyampaikan teguran dari teman terbaikku agar aku memperbaiki langkahku. Kubilang, ia cerewet! Terlalu mencampuri urusanku.

 

Begitulah kawan, Anda pasti sudah tahu akibatnya. Langkahku terseok-seok, pendirianku goyah hingga akhirnya tubuhku limbung. Mata hati ini mungkin telah mati hingga tak mampu lagi membedakan hitam dan putih. Semakin dalam aku terperosok, tanganku menggapai-gapai, nafasku sesak oleh lumpur dosa. Disaat hampir sekarat itu, mataku masih menangkap sesosok kecil sarat debu, disaat kurebahkan tubuh di kamar.

 

Ya! Sepertinya aku pernah mengenalnya. Teman yang pernah dikenalkan ayah kepadaku dulu. Ia yang pernah untuk sekian lama setia menemaniku kemana aku pergi. Teman terbaik yang pernah kumiliki, ia masih setia menungguku di sudut kamar, dan semakin berdebu. Kuhampiri, perlahan kusentuh kembali. “Jangan ragu, kembalilah padaku. Aku masih teman terbaikmu. Ajaklah aku kemanapun pergi” kuat seolah ia berbisik kepadaku dan menarik tanganku untuk segera menyergapnya. Ffwuhhh…!!! kuhempaskan debu yang menyelimutinya dengan sekali hembusan. Nampaklah senyum indah teman terbaikku itu.

 

Ingin kumenangis setelah sekian lama meninggalkannya. Ternyata, ia teramat setia jika kita menghendakinya. Kini, bersamanya kembali kurajut jalinan persahabatan. Aku tak ingin lagi terperosok, tersesat, terseok-seok hingga jatuh ke jurang yang pernah dulu aku terjatuh. Jurang kesesatan. Bersamanya, hidupku lebih damai terasa. Satu pesanku untukmu kawan, kuyakin masing-masing kita memiliki teman terbaik itu. Jangan pernah meninggalkannya, walau sesaat. Percayalah.

 

Wallaahu ‘a’lam bishshowaab.

http://ovhi.multiply.com/journal/item/34/Teman_Terbaik

Para penghapal Al Quran mempunyai etika-etika yang harus diperhatikannya. Dan mereka mempunyai tugas yagn harus dijalankan, sehingga mereka benar-benar menjadi “keluarga Al Quran”, seperti sabda Rasulullah SAW tentang mereka: “Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia. Beliau ditanya: siapa mereka wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Ahli Al Quran, mereka adalah keluarga Allah SWT dan orang-orang dekat-Nya “

Selalu Bersama Al Quran

Di antara etika itu adalah:selalu bersama Al Quran, sehingga Al Quran tidak hilang dari ingatannya. Yaitu dengan terus membacanya dari hapalannya, atau dengan membaca mushaf, atau juga dengan mendengarkan pembaca yang bagus, dari radio atau kaset rekaman para qari yang terkenal. Berkat ni`mat Allah SWT, di beberapa negara Islam terdapat siaran Al Quran al Karim, yang memberikan perhatian pada pembacaan Al Quran, tajwidnya serta tafsirnya.

Dari Ibnu Umar r.a.:bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Perumpamaan orang yang hapal Al Quran adalah seperti pemilik unta yang terikat, jika ia terus menjaganya maka ia dapat terus memegangnya, dan jika ia lepaskan maka ia akan segera hilang.” Hadits diriwayaktkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan Muslim menambah dalam riwayatnya: “Jika ia menjaganya, dan membacanya pada malam dan siang hari, maka ia dapat terus mengingatnya, sedangkan jika tidak, maka ia akan melupakannya”.

Makna “al mu`aqqalah”adalah: terikat dengan tambang, yaitu tambang yang dipegang karena takut terlepas. Dan pluralnya adalah `uqul.Dari Abdullah bin Mas`ud r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Amat buruk orang yang berkata: “Aku telah melupakan hapalan ayat ini dan ayat itu, namun sebenarnya ia dilupakan. Terus ulang-ulanglah hapalan Al Quran, karena ia lebih cepat pergi dari dada manusia, dari perginya unta dari ikatannya”.

Makna kata “nussia“ adalah: Allah SWT yang membuatnya lupa, sebagai hukuman terhadap kesalahan yang ia lakukan. Dari Abi Musa al Asy`ari r.a. dari Nabi Saw bersabda:“Teruslah jaga hapalan Al Quran, karena Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, ia lebih cepat lepas dari lepasnya unta dari ikatannya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dan riwayat Bukhari dengan kata “asyaddu tafashshian”.

Penghapal Al Quran harus menjadikan Al Quran sebagai temannya dalam kesendiriannya, serta penghiburnya dalam kegelisahannya, sehingga ia tidak berkurang dari hapalannya. Qasim bin Abdurrahman berkata: Aku bertanya kepada sebagian kaum sufi: tidak ada seorangpun yang menjadi teman kesepianmudi sini? Ia mengulurkan tangannya ke mushaf, dan meletakkannya di atas batu dan berkata: inilah teman kesepianku!

 

As Suyuthi berbicara tentang hukum melupakan Al Quran, ia berkata: melupakan hapalan Al Quran adalah dosa besar, seperti dikatakan oleh An Nawawi dalam kitab “Ar Raudhah” dan ulama lainnya. Dengan dalil hadits Abi Daud:“Dosa-dosa umatku diperlihatkan kepadaku, dan aku tidak dapati dosa yang lebih besar dari dosa seseorang yang diberi ni`mat hapal Al Quran atau suatu ayat, kemudian ia melupakannya”. Dan ia meriwayatkan pula hadits: “Siapa yang membaca (hapal) Al Quran namun kemudian melupakannya, maka ia akan bertemu Allah SWT pada hari kiamat dalam keadaan terserang penyakit sopak”.

Demikian pula hadits Ibnu Mas`ud dan Abi Musa sebelumnya. Sedangkan hadits Abi Daud yang pertama, diriwayatkan olehTirmizi, dan ia berkata: hadits itu gharib (atau dha`if). Dan ketika Imam Bukhari ditunjukkan hadits itu, ia tidak mengetahuinya dan melihatnya hadits yang gharib. Sedangkan hadits kedua dikomentari oleh Al Munziri: dalam sanadnya adalah Yazidbin Abi Ziyad, ia tidak dapat dijadikan hujjah, dan ia juga munqathi`.

Jika hadits-haditsyang dijadikan landasan orang yang mengatakan bahwa melupakan Al Quran adalah dosa besar, telah jelas kelemahannya, maka yang tersisa adalah celaan terhadap tindakan melupakan Al Quran itu. Karena sang penghapal itu jarang mengulangnya, namun tidak sampai kepada keharaman, apalagi menjadi dosa besar.

Namun yang paling kuat adalah, ia merupakan perkara yang makruh dengan sangat. Dan tidak pantas bagi seorang Muslim yang memiliki perbendaharaan hapalan Al Quran yang amat berharga ini menyia-nyiakannya, hingga hilang darinya.

Yang membuat kami mengatakan hal ini adalah: kami takut (ancaman dosa besar) ini membuat orang enggan menghapal Al Quran, karena ia mempunyai kemungkinan melupakan hapalannya itu, dan akibatnya ia mendapatkan dosa besar, sementara jika ia tidak menghapalnya sama sekali, ia tidak terancam mendapatkan dosa sedikitpun.

http://layananquran.com/index.php?option=com_content&task=view&id=199&Itemid=9

Berakhlak dengan Akhlak Al Quran

Orang yang menghapal Al Quran hendaklah berakhlak dengan akhlak Al Quran. Seperti Nabi Muhammad Saw. Aisyah r.a. pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, ia menjawab: “Akhlak Nabi Saw adalah Al Quran”. Penghapal Al Quran harus menjadi kaca yang padanya orang dapat melihat aqidah Al Quran, nilai-nilainya, etika-etikanya, dan akhlaknya, dan agar ia membaca Al Quran dan ayat-ayat itu sesuai dengan perilakunya, bukannya ia membaca Al Quran namun ayat-ayat Al Quran melaknatnya.

Dari Abdullah bin Amru bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca (menghapal) Al Quran, berarti ia telah memasukkan kenabian dalam dirinya, hanya saja Al Quran tidak diwahyukan langsung kepadanya. Tidak sepantasnya seorang penghapal Al Quran ikut marah bersama orang yang marah, dan ikut bodoh bersama orang yang bodoh, sementara dalam dirinya ada hapalan Al Quran “.

Makna kata “yajidu” adalah dari al wajd atau al wijdan, yang berarti: amat marah atau amat sedih. Dengan pengertian ia dikuasai oleh perasaannya, dan hal itu mempengaruhi perilakunya.

Ibnu Mas`ud r.a. berkata: penghapal Al Quran harus dikenal dengan malamnya saat manusia tidur, dan dengan siangnya saat manusia sedang tertawa, dengan diamnya saat manusia berbicara, dan dengan khusyu`nya saat manusia gelisah. Penghapal Al Quran harus tenang dan lembut, tidak keras, tidak sombong, tidak bersuara kasar atau berisik dan tidak cepat marah.

Ibnu Mas`ud r.a. seakan sedang berbicara kepada dirinya sendiri, karena ia adalah salah seorang imam penghapal Al Quran, dan ia menjadi orang yang betul-betul sesuai dengan prediket penghapal Al Quran. Ibnu Mas`ud juga mengecam orang-orang yang: Al Quran diturunkan kepada mereka agar mereka mengamalkan isinya, namun ia hanya menjadikan kegiatan mempelajari Al Quran itu sebagai amalnya! Salah seorang dari mereka dapat membaca Al Quran dari awal hingga akhirnya tanpa salah satu huruf-pun, namun ia tidak mengamalkan apa yang terdapat dalam Al Quran itu!

Seorang zahid yang terkenal; Fudhail bin `Iyadh, berkata: pembawa (penghapal) Al Quran adalah pembawa bendera Islam, maka ia tidak boleh bermain-main bersama orang-orang yang senang bermain, tidak lupa diri bersama orang yang lupa diri dan tidak bercanda bersama orang yang bercanda, sebagai bentuk penghormatan terhadap hak Al Quran.

Ia berkata: seorang penghapal Al Quran harus tidak butuh kepada orang lain, tidak kepada para khalifah, dan tidak pula kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Sebaliknya, ia harus menjadi tumpuan kebutuhan orang.

Sebagian salaf berkata: “ada seorang hamba yang saat memulai membaca satu surah Al Quran, maka malaikat akan terus berdoa baginya hingga ia selesai membacanya. Dan ada orang yang membaca satu surah Al Quran, namun malaikat terus melaknatnya hingga ia selesai membacanya”. Seseorang bertanya kepadanya: “mengapa bisa terjadi seperti itu?”. ia menjawab: “Jika ia menghalalkan apa yang dihalalkan Al Quran dan mengharamkan apa yang diharamkan Al Quran maka malaikat akan berdoa baginya, namun jika sebaliknya maka malaikat akan melaknatnya!”.

Sebagian ulama berkata: ada seseorang yang membaca Al Quran dan ia sedang melaknat dirinya sendiri, dengan tanpa sadar. Ia membaca: “ala la`natullah `ala azh zhaalimiin” (sesungguhnya laknat Allah diberikan kepada orang-orang zalim), sementara ia adalah orang yang zalim! dan membaca “ ala la`natullah ala al mukdzibiin” (sesunguhnya laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta), sementara ia termasuk golongan yang mendustakan itu!

Inilah makna perkata Anas bin Malik r.a.: Ada orang yang membaca Al Quran, dan Al Quran itu melaknatnya! Al Hasan berkata: Kalian menjadikan membaca Al Quran sebagai stasion-stasion, dan menjadikan malam sebagai unta (kendaraan), yang kalian kendarai, dan dengannya kalian melewati stasion-stasion itu. sementara orang-orang sebelum kalian jika melihat risalah-risalah dari Rabb mereka, maka mereka segera mentadabburinya pada malam hari, dan melaksanakan isinya pada siang hari!

Maisarah berkata: Yang aneh adalah Al Quran yang terdapat dalam diri orang yang senang melakukan perbuatan dosa! Keanehan itu terjadi karena Al Quran berada di satu lembah, sementara akhlak penghapal Al Quran itu dan perilakunya berada di lembah lain! Abu Sulaiman Ad Daarani berkata: Neraka Zabbaniah lebih cepat dimasuki oleh penghapal Al Quran –yang melakukan maksiat kepada Allah SWT—dibandingkan penyembah berhala, saat mereka melakukan maksiat kepada Allah SWT setelah membaca Al Quran!

Sebagian ulama berkata: Jika seorang anak Adam membaca Al Quran kemudian ia berlaku buruk, setelah itu ia kembali membaca Al Quran, Dia berkata kepada orang itu: “Apa hakmu membaca firman-Ku, sementara engkau berpaling dari-Ku?!”. Ibnu Rimah berkata: Aku menyesal telah menghapal Al Quran, karena aku mendengar bahwa orang-orang yang menghapal Al Quran akan ditanyakan dengan pertanyaan-pertanyaan sama yang diajukan kepada para Nabi pada hari kiamat!.

Tidak aneh jika para penghapal Al Quran dari kalangan sahabat adalah mereka yang berada di barisan pertama saat shalat di Masjid, yang berada di garis terdepan saat jihad, dan orang yang pertama melakukan kebaikan di tengah masyarakat. Dalam sebagian peperangan perluasan wilayah Islam, ada orang yang berteriak: wahai para penghapal surah Al Baqarah, hari ini sihir tidak telah lenyap! Seperti terjadi pada perang Yamamah yang terkenal dan dalam perang melawan kelompok murtad. Huzaifah berkata pada hari yang menegangkan itu: wahai para penghapal Al Quran, hiasilah Al Quran dengan amal perbuatan kalian. Pada hari Yamamah (peperangan melawan gerakan riddah) Salim maula Abi Huzaifah, saat ia membawa bendera pasukan Islam, ditanya oleh kaum Muhajirin: “Apakah engkau tidak takut jika kami berjalan di belakangmu?” Ia menjawab: “Sepaling jelek penghapal adalah aku, jika aku sampai berjalan di belakang kalian dalam perang ini!”.

Dalam peperangan Yamamah, saat memerangi Musailimah al Kazzab, sejumlah besar penghapal Al Quran mendapatkan mati syahid, karena mereka selalu berada di barisan terdepan. Hingga ada yang mengatakan: mereka berjumlah tujuh ratus orang. Inilah yang mendorong dilakukannya pembukuan Al Quran, karena ditakutkan para penghapal Al Quran habis dalam medan jihad.

Cara menghapal mereka membantu mereka untuk melaksanakan isi Al Quran itu. Perhatian mereka tidak hanya untuk menghapal kalimat-kalimat dalam Al Quran itu saja. Namun yang mereka perhatikan adalah memahami makna dan mengikutinya, baik dalam bagian perintah maupun larangan.

Imam Abu Amru Ad Dani menulis dalam kitabnya “Al Bayan” dengan sanadnya  dari Utsman dan Ibnu Mas`ud serta Ubay r.a.: Rasulullah SAW membacakan kepada mereka sepuluh ayat, dan mereka tidak meninggalkan ayat itu untuk menghapal sepuluh ayat selanjutnya, hingga mereka telah belajar untuk menjalankan apa yang yang terdapat dalam sepuluh ayat itu. Mereka berkata: kami mempelajari Al Quran dan beramal dengannya sekaligus.

Abdurrazzaq meriwayatkan dalam Mushannafnya dari Abdurrahman As Sulami, ia berkata: Kami, jika mempelajari sepuluh ayat Al Quran, tidak akan mempelajari sepuluh ayat selanjutnya, hingga kami mengetahui halal dan haramnya, serta perintah dan larangannya (terlebih dahulu).

Dalam kitab Muwath-tha Malik ia mengatakan: disampaikan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar mempelajari surah Al Baqarah selama delapan tahun. Hal itu terjadi karena ia mempelajarinya untuk kemudian mengamalkan kandungannya, ia memerintahkan dengan perintahnya, dan melarang dari larangan-larangannya, dan berhenti pada batas-batas yang diberikan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu Ibnu Mas`ud berkata: Kami merasa kesulitan menghapal Al Quran, namun kami mudah menjalankan isinya. Sedangkan orang setelah kami merasakan mudah menghapal kalimat-kalimat Al Quran, namun mereka kesulitan untuk menjalankan isinya.

Dari Ibnu Umar ia berkata: Orang yang mulia dari sahabat Rasulullah SAW dari generasi pertama umat ini, hanya menghapal satu surah dan sejenisnya, namun mereka diberikan rezki untuk beramal sesuai dengan Al Quran. Sementara generasi akhir dari umat ini, mereka membaca Al Quran, dari anak kecil hingga orang buta, namun mereka tidak diberikan rezki untuk mengamalkan isinya!

Mu`adz bin Jabal berkata: “Pelajarilah apa yang kalian hendaki untuk diketahui, namun Allah SWT tidak akan memberikan pahala kepada kalian hingga kalian beramal!”.

http://layananquran.com/index.php?option=com_content&task=view&id=202&Itemid=9


Arsip

Statistik Blog

  • 817.806 hits