Learn to Be A True Muslimah

Posts Tagged ‘tahfidz

Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin..

Pada pagi hari yang indah, tanggal 8 Februari 2014, saya mendapatkan kabar yang amat menggembirakan dari salah seorang ustadzah di Al-Izzah. Kabar ini juga saya dapatkan dari salah seorang ibu yang menelpon saya.. Dengan hati berbunga-bunga, ibu tersebut memberitahukan kabar yang amat baik mengenai putrinya ini.

Kabar apakah itu? Alhamdulillah.., salah seorang santriwati yang dulu saya bimbing di Al-Izzah hingga khatam 15 juz, insya Allah malam hari itu akan menyelesaikan hafalannya hingga 30 juz.. Allaahu Akbar!!

Shafa Shafira Rabbani, nama santriwati itu. Padahal, teman2nya lebih dulu satu bulan menyetorkan hafalan.. dan ananda Shafa merupakan urutan ke-3 dalam menyelesaikan hafalan 15 juz.. tapi akhirnya dialah yang pertama kali menyelesaikan hafalan 30 juz dalam satu angkatannya.

Aku jadi teringat masa-masa manis bersama mereka. Pagi, sore, dan malam hari.. membaca, menghafal, dan murajaah Al-Qur’an. Dari buku monitoring hafalan, bisa kulihat beberapa santriwati yang memiliki keistiqomahan yang baik.. tidak terlalu mengejar kuantitas hafalan, tapi istiqomah selalu menyetorkan hafalan sesuai target minimal, yaitu satu halaman per hari..

Alhamdulillah, dengan sedikit motivasi akhirnya semua santriwati bisa menghafal minimal satu halaman per hari meski waktu untuk mencapainya berbeda-beda. Saya melihat sebenarnya sebagian dari mereka memiliki kemampuan yang lebih dari itu. Lalu saya memberi pengumuman, “Santriwati yang bisa menghafal 1 halaman/hari mendapatkan nilai A, sedangkan yang bisa menghafal 2 halaman/hari (=1 lembar/hari) maka mendapat nilai A+.”

Awalnya sebagian dari mereka tidak percaya, “Ustadzah, apa mungkin kami bisa menghafal 2 halaman per hari?” Akhirnya kukatakan bahwa itu mungkin saja terjadi.. tentu membutuhkan beberapa tahapan, misal:

-hari ke-1: setor 1 halaman 5 baris. ini berlangsung selama satu minggu

-hari ke-1 pekan 2: setor 1 halaman 10 baris, berlangsung selama 1 pekan

-hari ke-3 pekan 3: setor 1 halaman 15 baris = 2 halaman

Apalagi jika hari libur (Sabtu dan Ahad) mereka tetap menghafal meski beberapa baris, maka itu bisa menjadi tabungan hafalan untuk pekan berikutnya..

“Nah, kalau kalian sudah terbiasa menghafal 2 halaman per hari pada saat masih kelas 7, maka insya Allah nanti ketika sudah duduk di kelas 8.. untuk menghafal 3 halaman per hari itu juga mudah..

Kalau kalian bisa menghafal 2 halaman/hari (Senin-Jumat), maka dalam satu bulan bisa hafal 2 juz, artinya insya Allah ketika selesai kelas 1, sudah khatam 15 juz. Jika kebiasaan ini diteruskan insya Allah kelas 8 nanti kalian sudah khatam 30 juz. Aamiin..”

YA.. alhamdulillah, cita-cita mereka untuk menjadi hafidzah akhirnya terwujud juga. Dalam waktu kurang lebih 8 bulan, sudah ada santriwati yang khatam 15 juz. Dan pada tahun kedua ini, sudah ada satu santriwati yang selesai 30 juz dalam waktu kurang dari 1,5 tahun (-+17 bulan).. yang insya Allah dalam waktu dekat akan disusul oleh teman2nya yang lain. Ya… kuperkirakan setiap selisih satu pekan atau dua pekan ini sudah ada teman2nya yang akan khatam 30 juz.

Alhamdulillah, padahal lembaga menginginkan santriwatinya bisa hafal minimal 15 juz dalam waktu 2 tahun.. tapi akhirnya cukup banyak yang bisa melebihi harapan. Dalam waktu dua tahun (atau kurang) anak usia 13-14 tahun ini sudah bisa khatam 30 juz. Allaahu Akbar!!

= = =

Semoga tulisan ini bisa memotivasi kita semua untuk menghafal Al-Qur’an hingga khatam 30 juz. Aamiiin.. 🙂

http://alizzah-batu.sch.id/hafidzah-pertama-santri-smp-al-izzah/

Bismillah.

Alhamdulillah, Allah mengabulkan apa yang terbersit dalam hatiku, meski aku tidak pernah memintanya di lisanku. Aku pernah berharap agar bisa berkumpul dengan orang-orang shalih dan membangun bi’ah di sana, kurang lebih satu tahun.

Sekolah Al-Izzah adalah sekolah impianku. Tempatnya sangat sejuk, indah dan nyaman. Ketika pertama kali datang ke sana, sebagian orang akan berkomentar kalau sekolah ini seperti hotel. Memang, dari segi kebersihan, kerapian, keindahan, dan keasriannya sangat mirip dengan hotel. Sebagai gambarannya, mirip Hotel Lor In di Solo.

“Hal nudh-dhifat haadhihil hujroh? Apakah kamar ini sudah dibersihkan?”

“Nadh-dhifna wa rottibna! Bersihkan dan Rapikan!”

“Laisa tahtas-sariir syai-un! laisa ‘alal maktab syai-un”

Begitulah kira2 hal yang diucapkan murabbiyah ketika memasuki kamarsantri. Kamar santri harus benar2 bersih dan rapi, termasuk kamar mandi dan tempat cucian di bagian belakang. Saat orientasi masuk sekolah, para santri sudah diajari bagaimana cara membersihkan kamar, merapikan tempat tidur, menyetrika baju dengan standar tinggi, seperti yang diajarkan dalam ilmu perhotelan, tepatnya ilmu tata graha.

 

Alhamdulillah, di Al-Izzah aku bertemu dengan muslimah2 yang sangat baik dan sholihah, juga memiliki keinginan yang kuat dalam meghafal dan menjaga hafalan alqur’an. Aku bertemu dengan para hafidzah dari berbagai pondok pesantren. Kami saling berbagi cerita tentang metode menghafalquran yang diterapkan di pondok kami. Selain itu, di sekolah ini diajarkan kebiasaan yang  baik dari bangun tidur hingga tidur lagi. Salah satu motto yang kuterapkan di sini adalah: make habits so habits make you.

Pukul 3 pagi terdengarlah suara murattal dari para syaikh. Para murabbiyah mulai kontrol ke kamar untuk membangunkan para santri, terutama yang masih kelas 7. Mereka wajib mandi pagi sebelumshubuh lalu pergi kemasjid untuk salat tahajud.

Setelah shalat shubuh, para santri menghafal al-qur’an, disetorkan pada ustadzah tahfidznya masing2 (untuk kelas takhasus), atau disetorkan ke tentor tahfidz (untuk kelas cambridge = internasional). Kelas takhasus menghafal di 3 waktu dalam satu hari, yaitu setelah shubuh, setelah ashar, dan setelah maghrib. Target hafalannya 7 juz di kelas 7, dan 15 juz ketika sudah kelas 8. Sedangkan target kelas 9 adalah muraja’ah, melancarkan, dan menjaga semua hafalan yang dimiliki.

Bismillah..

Suatu hari, lampu di rumah mati. Seluruh anggota rumah diam. Lalu kami berusaha mencari korek api dan lampu minyak atau lilin untuk penerangan. Apa boleh dibuat, ternyata tidak ditemukan lampu minyak dan tidak ada satu toko pun yang menjual lilin. Akhirnya, kami hanya menggunakan cahaya bulan untuk penerangan di luar rumah.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang membaca surat Al-Hujurat di kegelapan itu. “Oh, itu suara ayah.”, bisik hatiku. Setelah beliau selesai membacanya, aku bertanya pada beliau, “Yah, kenapa ayah sangat suka membaca surat al-Hujurat?”, tanyaku penuh penasaran. Ayah menjawab, “Karena dalam surat tersebut banyak sekali terdapat nasihat untuk orang-orang yang beriman.”

Kalau mati lampu, ayah suka sekali membaca ayat itu. Katanya untuk muraja’ah. Hafalan qur’an itu harus dijaga.. dan menjaga hafalan yang telah diperoleh itu lebih sulit daripada mendapatkannya.. Begitu nasihat beliau.

= = = = =

Di beberapa pondok pesantren, ada kegiatan rutin yang biasa dilakukan oleh para santri pada waktu sebelum dan sesudah sholat fardhu. Sebelum adzan dimulai, mereka sudah bersiap dengan pakaian sholat dan al-qur’annya. Selesai sholat sunnah, mereka membaca al-qur’an atau membaca buku pelajaran sambil menunggu sholat fardhu dilaksanakan. Terutama selepas sholat maghrib, biasanya ada kegiatan wajib qiro’ah atau membaca al-qur’an.

Namun, ada perbedaan antara pondok pesantren berbasis tahfidzul qur’an dengan pondok pesantren yang tidak berbasis tahfidzul qur’an.

Apa perbedaannya?

Kalau mati lampu (listrik padam), maka suara bacaan alqur’an mereka terhenti, baik yang di pondok pesantren tahfidz ataupun di pondok pesantren yang mempelajari banyak ilmu secara umum.

Bedanya, dalam keadaaan gelap gulita itu, di pondok pesantren yang umum, bacaan al-qur’an akan terhenti. Tidak/hampir tidak terdengar lagi suara bacaan al-qur’an selanjutnya.. tetapi di pondok berbasis tahfidzul qur’an, meskipun berhenti sebentar karena tiba-tiba lampu padam, tapi setelah itu masih ada bunyinya.. terdengar lantunan ayat-ayat suci al-qur’an yang telah mereka hafal di dalam dada.. bahkan bacaan qur’an itu bisa bertahan sampai beberapa jam kemudian..

= = = = =

Mari kita hiasi rumah-rumah kita dengan bacaan al-qur’an.. 🙂

Bismillah..

((Instropeksi hatiku, hatimu, hati kita))

Salah satu peraturan di ma’had, terutama bagi yang asrama adalah tidak boleh mengaktifkan hp sejak hari Senin s.d Jum’at. Boleh mengaktifkan hari Sabtu dan Ahad aja. Peraturan ini dibuat tentu ada maksudnya: agar semua santri FOKUS dengan al-Qur’an. Dulu ana tidak megang hp, jadi tidak masalah dengan peraturan ini.

Alhamdulillah, sekarang ana megang hp lagi. Tapi amat sangat jarang sekali ana pakai kecuali seperlunya saja. Why? agar bisa FOKUS dan KONSENTRASI. Ini intinya. Untuk memutuskan hal ini, ana sudah memikirkan cukup lama. Karena jika dilihat dari besarnya pahala dan kesungguhannya, menghafal dan menjaga hafalan qur’an itu tidak mudah. Menurut ana, terlalu banyak megang hp akan memecah konsentrasi menghafal dan muraja’ah. Sangat mengganggu. Tapi di sisi lain memang bermanfaat untuk hubungan dengan sahabat dan ustadzah2.

Tapi ingat kembali: apa tujuan utamamu SAAT INI? Jika tujuanmu adalah menghafal qur’an, maka apa yang harus paling sering dipikirkan di otak adalah bagaimana bisa memahami, menghafal, muraja’ah dan mengamalkannya.. Apa yang paling sering dipegang adalah al-Qur’an, bukan hp! Sibukkan diri dan pikiran kita untuk hal2 yang bermanfaat saja.. misal: terus menghafal, terus memahaminya dengan membaca tafsir qur’an, asbabun nuzul, buku2 tahfidz, kamus qur’an, terjemah qur’an dari depag.. Menjaga waktu, menjaga kebersihan hati, menjauhi kemaksiatan, menjaga kejernihan pikiran, kefasihan lisan agar sesuai tajwid.. Ini saja sudah sangat membutuhkan waktu banyak.. Anda sepakat bukan? Apalagi jika ini dilakukan saat PROSES PENGUMPULAN hafalan qur’an dari kertas ke dalam dada.

Gangguan lain yang biasanya tidak disadari adalah: mengatakan / melakukan perbuatan sia2 sehingga waktu berharga kita sudah dicuri olehnya.

Hal lain.. Ironis sekali, jika kita menghadiri majlis ta’lim, lalu mmeperhatikan para anak muda. Apa yang mereka pegang jika sudah tiba di majlis ta’lim? Yang mereka pegang adalah HP. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, jika ustadz pemateri belum datang, maka yang dipegang dan dibuka adalah al-Qur’an.

Oleh karena itu, sebaiknya kita pandai mengelola waktu kita yang nilainya lebih berharga daripada uang. Perlu diketahui dan dipahami pula, bahwa orang yang menghafal qur’an itu memiliki ritme harian yang berbeda dengan orang yang tidak menghafal.

(Kalau di ma’had lain yang lebih ketat malah tidak diperkenankan sama sekali megang atau mbawa hp)

= = =

Apa yang telah berhasil dari waktumu, tidak ternilai harganya..

Apa yang telah luput dari waktumu, tidak bisa kembali selamanya..

Bersakit2 dahulu, bersenang2 kemudian.. Alhamdulillah.. Wallahu a’lam

Tag: ,

“Kono tabi, hajimete no Qur`an zen-ankisha (danshi 11-sai) ga tanjoushimashita” “Telah ‘lahir,’ seorang hafidz Qur`an pertama di Jepang (anak laki-laki 11 tahun).”Begitu kira-kira terjemahan kalimat di atas.

Sebuah berita yang saya terima melalui e-mail dari salah satu Masjid di Jepang. Tentu, membaca berita tersebut, sontak mata terbelalak.

Antara gembira, terharu dan tak percaya. 11 tahun? Anak laki-laki? Hafidz cilik pertama di Jepang? Allahu Akbar! Ada kebanggaan tersendiri meyelusup di hati. Ingatan saya lalu mulai berjalan pada seorang anak laki-laki berkaca mata. Sama dengan anak-anak sebaya lainnya, Ia polos dan kadang penuh dengan ulah.

Saya biasa bertemu dengan lelaki cilik tersebut di tangga masjid. Dengan santainya ia duduk, kadang menyapa saya, sambil sesekali mulutnya komat-kamit. Iseng sering saya tanya “Lagi ngapain? Sudah sampai mana hapalannya?” Dengan santai ia akan menjawab ala kadarnya “Wakaranai… !” (Ngga tahu) Kalau akhirnya, laki-laki cilik tersebut menjadi seorang hafidz di usianya yang masih belia. Tentu betapa gembiranya saya, yang selalu bertemu dengannya di tangga masjid.

Saya membayangkan kedua orang tua laki-laki cilik tersebut. Melebihi saya, sudah tentu mereka memiliki kebanggaan dan kebahagiaan yang berlipat-lipat dari saya.Tinggal di Jepang, mencetak anak menjadi seorang penghapal Qur’an?

Tentu bukan perjuangan yang mudah. Di mana lingkungan kadang tidak mendukung, kendala menggunung dan rintangan menggulung.Belum lagi tarikan kuat teman-teman Jepang yang kadang mengalahkan niatan.

Selain lelaki cilik berkacamata yang saya kenal, ada juga beberapa anak usia belia lainnya yang kini tengah mengikuti program kelas hafidz hafidzah di masjid tersebut.

Kadang, ada perasaan kasihan melihat mereka yang masih belia, datang di sore menuju kelas hafidz Qur`an. Tentu mereka lelah, sedari pagi dan siang berada di sekolah umum Jepang, dan sorenya pergi ke kelas Qur`an di masjid. Perjalanan yang mereka tempuhpun tidaklah dekat. Turun naik bus ataupun kereta harus dijalani. Namun, tak ada sedikitpun keluhan yang pernah saya dengar dari mereka.

Di usia belia, sepertinya mereka menikmati “adventure” perjalanan menuju kelas Qur`an. Tetap ceria, penuh polah dan lincah berlari-lari. Bertemu dengan teman sebaya sesama muslim – bagi mereka yang tinggal di lingkungan Jepang non muslim- sepertinya menjadi sesuatu yang dinanti dan memiliki daya tarik tersendiri. Layaknya bertemu sahabat lama, mereka akan langsung saling bercerita dengan penuh semangat.

Bergugurlah konsep-konsep “kasihan” saya yang selama ini kadang tak sengaja muncul di benak. Batapa naifnya saya. Bukankah sebuah kebanggaan jika anak-anak tersebut nantinya yang akan menancapkan peradaban Islam Jepang?

Bukankah merupakan sebuah aset berharga jika nantinya banyak hafidz hafidz cilik menggaungkan kalimat Allah di negeri samurai? Untuk mewujudkan itu semua tidak akan mungkin bisa tanpa mengkondusifkan anak-anak dalam suasana qur`ani, bukan?

Saya teringat si kecil yang kini genap berusia 2 tahun? Akan saya jadikan apa si kecil yang menjadi amanah saya saat ini? Akan saya wariskan apa padanya untuk menapaki kehidupan? Akan saya hadiahkan apa padanya yang dapat membuatnya bahagia dunia akhirat? Mampukah saya mencetaknya menjadi generasi qurani? Menjadi barisan generasi hafidz di negeri samurai ini?

Betapa bahagianya jika suatu saat nanti si kecil mendapatkan hadiah berupa “Tajul Karamah.” Hadiah dari Allah berupa “Mahkota Kemuliaan” yang diberikan bagi mereka para penghapal Al Qur`an.

Dan betapa bahagianya saya jika di akhirat kelak mendapatkan “Tajan min Nur.” Hadiah berupa “Mahkota Bercahaya”yang cahayanya lebih gemerlap dari cahaya mataharibagi orang tua yang telah mencetak si buah hati menjadi generasi Qur`ani.

Subhanallah…. Betapa luar biasanya balasan yang disediakan oleh Allah Ta`ala. Saya percaya, setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan saya percaya tentu banyak orang tua yang menginginkan tajul karamah bagi si buah hati dan tajan min nur bagi dirinya. Menggiring diri, buah hati dan suami menuju jalan ke surga-Nya. Meski mungkin jalan untuk mewujudkan impian tersebut tidaklah semudah yang dipikirkan.

Terutama bagi keluarga muslim di negeri samurai khususnya, dan negeri minoritas secara umum, yang dimana lingkungan kadang tidak mendukung. Tapi saya lebih percaya jika niat membentuk generasi qurani sudah tertanam, Allah akan memudahkan segalanya. Faidza azamta fa tawakal alallah “Ketika sudah bertekad, bertawakallah kepada Allah” Suatu karunia paling berharga jika suatu saat negeri samurai akan penuh dengan tabuhan genderang, suara-suara indah para hafidz hafidzah dari negerinya sendiri.

Allahu Akbar! Barang siapa belajar Al-Qur’an, mengajarkan dan mengamalkannya, kelak akan dikenakan padanya mahkota yang bercahaya di hari kiamat. Sinarnya menyamai terang matahari dan kedua orang tuanya pun diberi dua pakaian yang tidak dapat dibandingi dengan gemerlap dunia.

Mereka berdua kemudian bertanya keheranan: “Karena amalan apakah kami berdua berhak diberi pakaian ini? lalu dikatakan: “Karena buah hati kalian telah belajar, mengajar dan mengamalkan Al-Qur’an” (HR. Al-Hakim)

Wallahu`alam bishowab

Sumber: http://www.eramuslim.com/oase-iman/lizsa-anggraeny-hafidz-cilik-pertama-negeri-samurai.htm


Arsip

Statistik Blog

  • 574,775 hits