Learn to Be A True Muslimah

Archive for the ‘nasihat’ Category

Bismillah..

Ketika membaca sejarah, kita akan mendapati catatan perjalanan orang-orang besar yang luar biasa. Merekalah orang-orang yang telah mengukir kisah hidup mereka dengan kesungguhan menempa diri, perjuangan mempertahankan prinsip dan kegigihan merealisir cita-cita. Merekalah pribadi-pribadi yang tak mengenal lelah. Tak ada istilah menyerah dalam kamus mereka. Tak peduli seberapa banyak keringat yang menetes, air mata yang mengalir atau bahkan darah yang tertumpah.

Hati ini pasti tersentak ketika membaca kehidupan mereka. Bagaimana tidak, sementara detik terus berdetak, hari terus berlari, waktu berlalu menorehkan catatan-catatan keberhasilan mereka melewati sederetan aral melintang yang menghadang. Setiap derap langkah dan desah nafas selalu terisi dengan kesabaran, keteguhan dan jiddiyah (kesungguhan), bukan bersantai-santai, berleha-leha dan bertopang dagu sambil berangan-angan.

Tidak. Sekali-kali tidak. Sejarah tak pernah lelah mencatat semua kisah kehidupan manusia. Semuanya terekam dengan jelas dan detil. Siapa membaca akan mendapatkan pelajaran. Siapa acuh tak acuh akan terjatuh pada lubang yang sama.

Orang yang cerdas tentu takkan mau terperosok pada lubang yang sama. Orang yang sadar akan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Bagaimanakah nasib akhir para pejuang tangguh yang dengan gigih tanpa menyerah mempertahankan prinsip-prinsipnya? Bagaimanakah pula nasib para pecundang yang dengan mudah bertekuk lutut hanya dengan secuil rintangan?

Ya, semua itu sudah jelas jawabannya. Mereka yang bersungguh-sungguh akan memanen hasil kesungguhannya di kemudian hari. Demikian pula mereka yang bermalas-malasan akan menanggung sendiri akibat kemalasannya.

Marilah kita buka kembali catatan biografi orang-orang besar yang pernah hadir dalam pentas sejarah. Perhatikanlah hal-hal luar biasa yang pernah mereka hadapi. Bagaimana seorang Imam Ahmad bin Hanbal harus rela kulitnya terkelupas karena cambukan para sipir di penjara tirani demi mempertahankan akidahnya untuk tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Sebelumnya, Yasir dan Sumayyah, sepasang suami istri yang telah melahirkan Ammar, harus rela darahnya tertumpah di tanah, bahkan Sumayyah harus rela kemaluannya terhujam tombak, demi mendapatkan janji Nabi SAW:

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena tempat tinggal kalian adalah di surga”

Demikian pula Bilal yang harus tegar bertahan di atas siksaan tidak manusiawi yang ditimpakan atas dirinya oleh gembong kaum musyrikin Makkah saat itu, Umayyah bin Khalaf. Atau Mush’ab bin Umair, seorang pemuda rupawan yang dilahirkan di kalangan elit kota Makkah, namun rela menutup matanya untuk selamanya dengan satu kisah memilukan. Ia hanya dikafani dengan satu burdah. Jika ditutup kepalanya maka tampaklah kakinya, jika ditutup kakinya, tampaklah kepalanya. Semua itu ia lakukan demi memperjuangkan agama Allah.

Bahkan Rasulullah SAW sendiri, sang pembawa risalah amanat dari Rabb semesta alam, sang pionir perjuangan, harus merelakan tubuh beliau berlumur darah dalam berbagai peperangan yang beliau pimpin, atau gigi beliau yang patah karena lemparan batu penduduk Thaif ketika beliau berhijrah ke sana. Subhanallah.

Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa heroik yang memenuhi lembaran sejarah orang-orang besar. Kini, berkat kegigihan mempertahankan prinsip dan kesungguhan dalam menghadapi setiap cobaan dan mara bahaya yang mengancam, nama-nama mereka senantiasa harum dikenang dalam sejarah. Nama mereka telah tercatat dengan tinta emas dan akan terus dikenang hingga akhir masa.

Kita tentu menyadari bahwa setiap orang akan dibalas sesuai dengan kadar kesungguhannya. Seorang pemalas tentu tak layak protes ketika mendapatkan nilai yang buruk dalam ujian atau tidak naik kelas, misalnya. Demikian pula seseorang yang rajin pasti merasakan betapa nikmatnya melihat hasil ujiannya meskipun nilai yang didapat belum memenuhi harapan. Karena semua itu berkat kerja keras dan lelehan keringat serta semangat yang gigih yang telah ia jalani. Kini ia dapat tersenyum menikmati hasil keringatnya.

Demikian pula perjalanan hidup ini. Kita tak berhak protes kepada Sang Pencipta jika di akhirat nanti mendapatkan jatah surga kelas rendahan, karena itulah hasil ujian kita selama di dunia. Seseorang yang hanya berkorban keringat akan dibalas dengan harga keringat. Seseorang yang berkorban air mata juga akan dibalas dengan harga yang sesuai. Lalu tidakkah kita tergoda untuk mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, keringat, air mata, darah bahkan nyawa kita sekaligus?

Ternyata harga surga sangat mahal, kawan. Kita harus memiliki dana yang cukup untuk membelinya. Surga tidak diberikan secara gratis. Harus ada transaksi jual beli. Harus ada harga yang sesuai. Harus ada pengorbanan.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah: 111)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah: 214)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran: 142)

Marilah kita mulai dari sekarang untuk memperbaiki diri. Mari kita kembali berkaca. Sejauh manakah kesungguhan kita selama ini. Seberapa besarkah pengorbanan yang telah kita sumbangkan untuk tegaknya agama ini di muka bumi. Seberapa banyakkah dana yang kita miliki untuk membeli surga nanti di akhirat. Tentu, setiap kita mengharapkan jannatul firdausil a’la, surga Firdaus yang tertinggi. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan hanya untuk orang-orang yang bertakwa.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menjadi para pembela agama-Nya. Semoga Allah mengaruniakan kita kesabaran untuk menapaki hidup ini dengan ridho-Nya. Semoga Allah mengumpulkan kita di akhirat nanti bersama hamba-hamba-Nya yang Dia cintai. Bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin.

Allahumma Amin, Ya Rabbal Alamin.

http://isykarima.forumotion.com/t22-kesungguhan-dan-harga-surga

***************

Kesungguhan,

Kesungguhan, akan memberikan kepada kita sebuah hasil yang luar biasa menakjubkan seperti yang diungkapkan dalam pepatah arab “man jadda wajada” barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan akan mendapatkannya. Dengan kesungguhan, seperti yang Allah firmankan “Sungguh Allah, tidak akan mengubah keadaan suatu kaum tanpa adanya kesungguhan dari kaum tersebut untuk mengubah keadaannya sendiri” (QS Ar Rad : 11 ).

Kesungguhan,

Kesungguhan telah membawa diri kita dalam pengalaman batin yang luar biasa. Dengan kesungguhan kita mampu mengerjakan banyak hal yang bisa kita jangkau. Kita terkenal dengan kemampuan kita untuk berbuat sesuatu yang baik. Kita bayangkan apa yang akan terjadi seandainya kita tidak mampu berbuat sesuatu tanpa maksud apa pun. Yang kita kerjakan adalah mendidik diri kita untuk mampu mengerjakan hal-hal lain di luar jangkauan kita.

Kesungguhan,

Kesungguhan telah memberikan kita kesempatan untuk mampu menerapkan pengetahuan kita pada banyak hal yang kita ketahui. Yang terpenting adalah membangun kesempatan untuk mampu memberikan kita manfaat yang lebih yang mampu kita kerjakan. Kita sanggup untuk mampu melihat kenyataan bahwa kita sanggup berjuang lebih banyak dari pekerjaan yang telah kita kerjakan. Kita sanggup untuk membina hubungan yang kurang baik menjadi hubungan yang semakin baik.

Kesungguhan,

Kesunguhan kita dalam bekerja dan berusaha telah menjadikan kita mampu meraih hal-hal lain yang bisa kita jangkau. Kita sanggup untuk berbuat sesuatu yang melebihi kemampuan kita. Yang kita butuhkan adalah tanggung jawab untuk membangun bangunan jiwa yang utuh dan tumbuh dengan baik. Kita membutuhkan keberanian untuk melangkah lebih maju. Yang kita tuntut adalah pengalaman jiwa yang utuh dan berkembang.

Kesungguhan,

Hanya dengan kesungguhan inilah peradaban ini dibangun. Hanya dengan kesungguhan inilah pekerjaan kita dibuat. Hanya dengan kesungguhan harapan keberhasilan pantas untuk kita harapkan. Yang menarik adalah adanya kemampuan untuk membangun hubungan yang baik untuk kita selesaikan. Kita pantas untuk melihat hal-hal yang mampu kita kerjakan. Yang penting kita sanggup untuk berbuat yang lebih baik yang mampu kita kerjakan. Inilah yang sepatutnya kita kerjakan. Menulis, membaca, berdebat, berdiskusi, berdislog, presentasi, atau melakukan pekerjaan lain. Yang penting adanya kesungguhan.

Kesungguhan,

Kesungguhan telah memberikan kita kesempatan untuk mampu memperbaiki apa yang kita kerjakan. Yang menjadi kebingungan ketika segala kesempatan hilang tidak diketahui kemana perginya. Yang perlu kita kerjakan adalah membvangun kebersamaan dan kesungguhan. Kesunguhan akan menuntunmu ke arah jalan yang benar.

Kesungguhan,

Dengan kesungguhan kita bisa terhindar dari kegagalkan. Dengan kesungguhan kita harapkan banyak harapan untuk berhasil membuat perubahan atas pekerjaan yang kita lakukan. Yang terpenting untuk dikerjakan adalah mampu membawa perubahan demi perubahan. Yang penting ammpu mengarahkan jalan petunjuk manakah yang semestinya ditempuh.

= = =

sumber: nasihat sahabat di email

Iklan

Oleh: Kholili Hasib

 

DALAM Islam, waktu itu adalah amal sholih. Waktu itu bukanlah uang seperti kata sebuah adagium, time is money. Di sini, amal sholih menjadi tujuan utama, bukan materi. Bukan berarti Islam anti-uang. Akan tetapi yang lebih tepat kita katakan, uang/materi menjadi sarana untuk beramal sholih, bukan tujuan utama (big goal). Jika uang menjadi big goal, maka materialisme menjadi pemahaman kita.

Adagium “time is money”, adalah prinsip kaum materialism. Orang yang tidak memanfaatkan waktu-waktu luangnya, oleh al-Qur’an disebut sebagai orang yang merugi. أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَى علَى مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ ﴿٥٦ “Supaya jangan ada orang yang mengatakan, ‘amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).” (QS. Al-Zumar: 56).

Orang merugi adalah orang yang tidak memanfaatkan aktifitasnya untuk kehidupan abadi, yaitu hidup setelah mati. Betapa kita terlalu lalai memanfaatkan aktifitas mulya ini. Berapa lama kita membaca al-Qur’an atau membaca buku-buku. Bandingkan dengan lamanya kita duduk di warung kopi dan trotoar jalan, sekedar ngobrol, ngerumpi dan menghabiskan waktu luang. Berapa jam kita menonton TV dan tidur.

Bandingkan dengan lamanya kita beribadah. Berapa lama pula kita meeting bisnis, bandingkan dengan berapa lama kita duduk di majelis ilmu dan majelis-majelis mengingat Allah. Sungguh banyak waktu yang terlewat sia-sia. Penyesalan dalam ayat tersebut karena lalai menunaikan kewajiban Allah dan memandang rendah agama Allah. Dua hal tersebut disebabkan waktu yang tidak dimanfaatkan dengan baik atau waktu luang digunakan untuk hal yang tidak baik.

Lebih berbahaya lagi jika waktu disia-siakan untuk mengerjakan perbuatan yang dimurkai-Nya. Jadi, dalam managemen waktu, ada dua pilihan; menyibukkan dengan kebenaran dan menyibukkan dengan perkara yang dimurkai. Waktu kosong yang digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna, pada akhirnya akan mengantarkan kepada kegiatan-kegiatan yang dimurkai. Imam al-Syafi’i pernah mengatakan: “Jika Anda tidak menyibukkan diri anda dengan kebenaran, maka ia (waktu) akan menyibukkan Anda dengan kebatilan.”

Oleh sebab itu, dalam pengisian waktu sesungguhnya terjadi pertempuran sengit antara setan dan hati kita. Hal yang paling penting untuk menjaga kehidupan kita adalah menyusun rencana-rencana dan program yang akan mengisi waktu. Dan tidak memberi sedikitpun celah kepada setan untuk ikut beraktifitas dalam sela-sela waktu kita. Jika kebenaran yang menguasai celah-celah dalam waktu kita, maka ia akan membangkitkan potensi yang terpendam dalam diri manusia. Sebaliknya jika kebatilan jadi penguasa waktu, maka tunggulah kerusakannya.

Bagaimana belajar memangemen waktu?

Bagi awam dan pelajar pemula, para ulama’ memberi petunjuk sederhana, yaitu mendisplinkan shalat tepat pada waktunya. Sesungguhnya amal ibadah yang efektif dalam mendidik disiplin waktu itu shalat jama’ah tepat pada waktunya. فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً Allah berfirman:”Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu. Sesungguhnya shalat itu adalah fardlu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Nisa’: 103).

Disiplin shalat lima waktu bisa menjadi media pembelajaran memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kita bisa mendidik diri atau anak dan murid kita dengan ini. Sesudah shalat, diisi dengan dizikir dan membaca al-Qur’an. Jika kita mampu mengatur waktu ini dimulai dengan disiplin shalat, maka lambat laun ibadah-ibadah lainya akan tertunaikan dengan disiplin. Inilah yang disebut Allah sebagai orang yang tidak merugi. Allah SWT menyebutkan sifat-sifat orang yang beruntung, yaitu mereka yang mampu menjaga waktunya dengan beriman dan beramal sholeh. وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْ “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih serta saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3).

Dalam ayat ini kita bisa menarik pelajaran penting mengenai waktu. Yaitu isilah waktu itu dengan empat hal; menjaga iman, mengerjakan amal sholih, menasihati dalam kebenaran dan menasihati dalam kesabaran. Tidaklah Iman itu akan bisa menjadi benar kecuali dengan ilmu. Karena ilmu merupakan cabang dari iman tersebut dan tidak sempurna iman seseorang kecuali jika dia memiliki ilmu. Oleh karenanya, mengisi waktu luang dengan menambah ilmu itu sangat mulia. Amal sholeh yang mencakup semua kebaikan, mulai dari kebaikan yang bersifat dzahir hingga kebaikan yang bersifat bathin, dimana hal itu berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak hambanya baik hal-hal yang hukumnya bersifat wajib ataupun yang bersifat anjuran.

Aktifitas lain yang penting adalah saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran. Ketika sedang ngobrol dan duduk-duduk santai, alangkah baiknya digunakan dengan mengucapkan kalimat-kalimat nasihat, mendorong saudara dan teman untuk memperbaiki kualitas kehidupan. Menasehati untuk bersabar dalam menjalankan ibadah. Sabar dalam menuntut ilmu dan menghadapi tantangan kehidupan. Dari situ kita bisa menyimpulkan bahwa waktu itu adalah amanah Allah yang diembankan kepada manusia. Kita pasti akan pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Simak sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ini: “Tidak akan beranjak kaki seorang hamba di akhirat kecuali setelah ditanya tentang empat perkara; ditanyakan tentang umurnya lalu bagaimana ia menggunakannya dan ditanyakan kepadanya tentang ilmu yang didapatkannya lalu apa yang dilakukannya dengan ilmu tersebut, ditanyakan kepadanya tentang harta yang ia dapatkan dari mana ia mendapatkannya dan kemana harta itu dibelanjakan dan ditanyakan kepadanya tentang jasadnya lalu kemana dipergunakannya.” (HR.Tirmidzi, hadis shohih). Pantas saja Imam Fakhruddin al-Razi begitu menghargai waktu setinggi-tingginya. Tiada celah sedikitpun ia berikan untuk hal-hal yang tidak berguna. Ia pernah mengatakan: “Demi Allah, sungguh aku sedih karena kehilangan banyak waktu kesempatan mempelajari ilmu di saat makan. Sesungguhnya waktu dan zaman itu mulya.”

= = =

sumber: nasihat sahabat di email

Oleh: Thalhah Nuhin, Lc.

Kalam Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran :102-103)

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, Karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (Huud:112-115)

Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammad rasulnya, ia harus senantiasa memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realitas kehidupannya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai-nilai tersebut baik dalam kondisi aman maupun terancam. Namun dalam realitas kehidupan dan fenomena ummat, kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam mampu meimplementasikan dalam seluruh kisi-kisi kehidupannya. Dan orang yang mamupu mengimplementasikannya belum tentu bisa bertahan sesuai yang diharapkan Islam, yaitu komitment dan istiqomah dalam memegang ajarannya dalam sepanjang perjalanan hidupnya.

Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qooma” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Secara terminology, istiqomah bisa diartikan dengan beberpa pengertian berikut ini;

Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqomah ia menjawab; bahwa istiqomah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun)

– Umar bin Khattab ra berkata: “Istiqomah adalah komitment terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”

– Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt

– Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban

Al-Hasan berkata: “Istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan”

Mujahid berkata: “Istiqomah adalah komotmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah swt”

Ibnu Taimiah berkata: “Mereka beristiqomah dalam mencintai dan beribadah kepaadaNya tanpa menengok kiri kanan”

Jadi muslim yang beristiqomah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Ia bak batu karang yang tegar mengahadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degredasi dalam perjalanan hidupnya. Ia senantiasa sabar dalam memegang teguh tali keimanan. Dari hari ke hari semakin mempesona dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam. Ia senantiasa menebar pesona Islam baik dalam ruang kepribadiannya, kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Itulah cahaya yang selalu menjadi pelita kehidupan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu istiqomah dalam sepanjang jalan kehidupan.

Kalam Allah SWT:

“Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya karena kekufutran) kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 6:122)

“Maka tetaplah (istiqomahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS 11:112)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak adakekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.(QS 46:13-14)

 

5 Tips Istiqamah

Kesucian dan ketakwaan yang ada dalam jiwa harus senantiasa dipertahankan oleh setiap muslim. Hal ini disebabkan kesucian dan ketakwaan ini bisa mengalami pelarutan, atau bahkan hilang sama sekali. Namun, ada beberapa tips yang membuat seorang muslim bisa mempertahankan nilai ketakwaan dalam jiwanya, bahkan mampu meningkatkan kualitasnya. Tips tersebut adalah sebagai berikut;

Pertama, Muraqabah

Muraqabah adalah perasaan seorang hamba akan kontrol ilahiah dan kedekatan dirinya kepada Allah. Hal ini diimplementasikan dengan mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya, serta memiliki rasa malu dan takut, apabila menjalankan hidup tidak sesuai dengan syariat-Nya.

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadiid (57) : 4)

Rasulullah saw. bersabda-ketika ditanya tentang ihsan, “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR al-Bukhari)

Kedua, Mu’ahadah

Mu’ahadah yang dimaksud di sini adalah iltizamnya seorang atas nilai-nilai kebenaran Islam. Hal ini dilakukan kerena ia telah berafiliasi dengannya dan berikrar di hadapan Allah SWT.

Ada banyak ayat yang berkaitan dengan masalah ini, diantaranya adalah sebagai berikut.

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (an-Nahl (16) : 91)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (al-Anfaal (8) : 27)

Ketiga, Muhasabah

Muhasabah adalah usaha seorang hamba untuk melakukan perhitungan dan evaluasi atas perbuatannya, baik sebelum maupun sesudah melakukannya. Allah berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Hasyr (59) : 18)

“Orang yang cerdas (kuat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan berangan-angan pada Allah.” (HR. Ahmad)

Umar bin Khattab ra berkata, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang ….”

Keempat, Mu’aqabah

Mu’aqabah adalah pemberian sanksi oleh seseorang muslim terhadap dirinya sendiri atas keteledoran yang dilakukannya.

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (al-Baqarah (2) : 179)

Generasi salaf yang soleh telah memberikan teladan yang baik kepada kita dalam masalah ketakwaan, muhasabah, mu’aqabah terhadap diri sendiri jika bersalah, serta contoh dalam bertekad untuk lebih taat jika mendapatkan dirinya lalai atas kewajiban. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa contoh di bawah ini.

1. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin.”

2. Ketika Abu Thalhah sedang shalat, di depannya lewat seekor burung, lalu beliau pun melihatnya dan lalai dari shalatnya sehingga lupa sudah berapa rakaat beliau shalat. Karena kejadian tersebut, beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang-orang miskin, sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidak khusyuannya.

Kelima Mujahadah (Optimalisasi)

Mujahadah adalah optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya…” (al-Hajj (22) : 77-78)

“Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Aisyah ra. pun bertanya, ‘Mengapa engkau lakukan hal itu, padahal Allah telah menghapuskan segala dosamu?’ Maka, Rasulullah saw. menjawab, ‘Bukankah sudah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur.’” (HR. al-Bukhari Muslim)

Inilah lima langkah yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang ingin mempertahankan nilai keimanan, yang ingin bertahan dan istiqamah di puncak ketakwaannya. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah, menjadi model-model muslim ideal dan akhirnya kita dijanjikan surga-Nya. Aamiin.

= = =

sumber: nasihat sahabat di email

Mari kita Bercermin!

Berapa banyak noktah yang menodai kita dalam kebersamaan di jalan ini? Sebuah perjalanan panjang yang kita tempuh bersama-sama, pasti menyisakan debu dan kotoran pada diri kita. Meski kadarnya berbeda-beda. Tapi di jalan ini kita memang saling membutuhkan. Dan di jalan ini, kita harus terus berjalan seiring. Kita satu sama lain memerlukan orang yang bisa memberikan keberanian dan mengusir ketakutan karena kesendirian. Kita, satu sama lain saling memerlukan orang yang bisa meluruskan kesalahan, lalu saling memberi rambu-rambu perjalanan. Kita semua sangat memerlukan kehadiran pendamping yang shalih, teman yang bisa saling membantu bak dua telapak tangan yang saling membersihkan, satu sama lain. Bayangkanlah, Saudaraku, Bahwa kita masing-masing adalah salah satu dari dua telapak tangan itu….

Jika dalam perjalanan duniawi, Rasulullah memerintahkan kita untuk memiliki teman, jelas perjalanan ukhrawi lebih perlu lagi. Kita lebih membutuhkan teman dalam bekerja di jalan Allah, berupaya melakukan amal shalih, memberikan hak-hak manusia dan berdakwah di jalan Allah. Orang yang menyendiri dalam melakukan amal-amal ini, akan ditemani syaitan. Dan setiap kali terjadi pertambahan jumlah orang yang menemaninya, semakin sulitlah syaitan menguasainya, dan semakin tertutuplah celah-celah untuk syaitan.

Perhatikanlah sabda Rasulullah saw, “Satu orang pengendara adalah syaitan, dua orang pengendara adalah dua syaitan, dan tiga orang pengendara baru disebut pengendara yang banyak.” (HR. Malik, Abu Daud dan Turmudzi) Maksud kalimat ‘pengendara yang banyak’ adalah karena jumlah yang banyak semakin meminimkan penguasaan syaitan atas mereka. Dalam hadits lain disebutkan, “Barangsiapa di antara kalian yang ingin menikmati taman surga hendaklah ia berjama’ah. Karena syaitan itu bersama orang yang sendiri, dan ia akan menjauh dari dua orang.” (HR. Ahmad Turmudzi dan Hakim)

Meski demikian kita harus berhati-hati. Karena kebersamaan dan kedekatan kita di jalan ini juga tetap menyimpan jerat-jerat yang bisa membuat kita terjatuh. Itu karena di jalan ini tetap ada lubang dan persimpangan yang bisa menyesatkan kita. Kondisi inilah yang disinggung oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah yang mengatakan bahwa berkumpulnya orang-orang beriman tetap menyimpan marabahaya yang harus diwaspadai. Menurut Ibnul Qayyim, ancaman bahaya itu ada tiga. Pertama, tatkala dalam perkumpulan itu, satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan. Kedua, ketika dalam perkumpulan itu, pembicaraan dan pergaulan antar mereka melebihi kebutuhan. Ketiga, ketika pertemuan mereka memunculkan keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan. (Al Fawa-id, 60)

Saling menghiasi satu sama lain, akan menafikan suasana saling menasihati. Lalu kondisi itu bisa menggiring orang masuk dalam prilaku riya dan nifaq karena selalu membaik-baikkan dan tidak mengakui kekurangan. Ini sama saja dengan aspek bahaya yang kedua, akibat perkumpulan dan pergaulan yang berlebihan dari waktu yang wajar akan membuang-buang waktu. Akibatnya, akan ada banyak amal-amal yang terlewat karena pertemuan yang melebihi keperluan itu. Terakhir, pertemuan dan perkumpulan kaum beriman juga bisa berbahaya, tatkala ia menjadi seperti kenikmatan sendiri yang justru mengurangi nilai ketaatan di dalamnya, bahkan menjadi penghalang bagi kebaikan. Dalam kondisi seperti inilah, pertemuan memutarbalikkan sisi prioritas amal, mengabaikan amal yang utama dan mengutamakan yang kurang utama, menghilangkan tujuan utama dan begitu mengutamakan sarananya.

Kita perlu bersabar dalam kebersamaan ini. Syaikh Ahmad Ar Rasyid dalam buku Darul Muntholaq menuliskan bab sendiri tentang kesabaran kita bersama orang-orang seperjalanan, yakni shabr alal aqran. Ia menyebutkan bahwa dalam perjalanan ini kita masing-masing harus sabar dari kekasaran, sabar dari kesalahpahaman, sabar dari keburukan dalam berbagai bentuknya yang dilakukan teman perjalanan. Alasan paling dasarnya adalah karena manusia tidak pernah terlindung dari kekeliruan dan kekurangan. Sehingga Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan,-“Siapa yang ingin bersaudara yang tidak memiliki aib, tanpa kekurangan, ia takkan memiliki saudara.” Bahkan Abu Darda rahimahullah mengatakan, “Kata-kata keras dan kasar dari seorang saudara itu masih lebih baik daripada engkau kehilangan seorang saudara.”

Di sinilah rahasianya, keutamaan seseorang yang bisa bertahan dan bersabar dengan kondisi orang sekitarnya, dibanding orang yang menyepi dan tak mau berinteraksi dengan orang lain, karena tidak sabar dengan sikap dan prilaku mereka. “Seorang Muslim yang berbaur dengan manusia, lalu ia bersabar atas perilaku buruk mereka, itu lebih baik dari orang yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar atas perilaku buruk mereka.” (HR Ahmad dan Turmudzi).

Ada prinsip indah yang diajarkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Miftah Darus Sa’adah, agar kita bisa mendapat kebaikan dari orang-orang sekitar kita. Ia mengatakan, “Siapa yang ingin keburukannya dibalas oleh Allah dengan kebaikan, hendaknya ia juga membalas keburukan orang lain dengan kebaikan. Dan siapa yang mengetahui bahwa dosa dan keburukan itu pasti ada pada diri manusia, ia tidak terkejut dengan sikap buruk orang kepadanya.” (Miftah Darus Sa’adah, 11292)

Andai kita bisa menyadari prinsip ini, maka perjalanan kita akan menjadi indah. Jiwa-jiwa kita menjadi dingin, permasalahan lebih mudah diatasi. lalu, pohon keimanan kita akan tumbuh mekar dan bunga-bunganya akan merekah.

Ingatlah Saudaraku,

Ada banyak keadaaan yang akan memisahkan langkah kita dari jalan ini. Karena, kita tak pernah lepas dari intaian syaitan yang ingin menceraikan kita dari kebersamaan ini. Seperti perkataan Mujahid, “Tak ada sekelompok orang yang keluar ke Makkah (untuk ketaatan) kecuali Iblis telah mempersiapkan pasukan yang sama untuk menghalangi mereka.” Wallahu’alam

=====

Sumber: nasihat sahabat di email

Bismillah..

Setelah ana kehilangan salah satu sahabat ana, hidup ana menjadi berubah warnanya. Ana jadi teringat dengan sebuah ayat tentang kematian, yang tujuannya adalah agar diketahui siapakah yang terbaik amalannya..

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (QS. Al-Mulk: 1-2)

Bagaimanakah amalan yang terbaik itu?

1. amal yang paling ikhlas

2. amal yang paling banyak manfaatnya

3. amal yang paling besar resikonya

4. (saya lupa tapi kalau tidak salah adalah: amal yang paling kontinyu.. barangkali ada pembaca yang bisa membantu menyebutkan jawaban yang ke-4..)

Bismillah..

Untuk sahabat-sahabatku yang merindukan nasihat dan sangat suka nasihat.. silahkan lihat blog diary-taushiyah ini.. 🙂

Blog ini berisi taushiyah2 yang dikirim lewat sms dan didokumentasikan oleh seorang hafidzah (kakak tingkat saya di ma’had tahfidz)..

Selain itu, sebagiannya adalah taushiyah dari beliau sendiri hasil telaah beberapa kitab arab. Alhamdulillah..

Selamat membaca. Semoga bermanfaat di dunia dan akhirat. Amin.. 🙂

Bismillah..

Entah kenapa, motto hidup yang kutulis itu mempengaruhi perjalanan hidupku selanjutnya. Misalkan, suatu saat ana pernah menulis bahwa motto hidup ana adalah Tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin!“. Maksudnya, kagiatan ta’limku harus lebih baik, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Alhamdulillah, ternyata motto hidup tersebut bisa terwujud. Di akhir tahun, ana menghitung jumlah catatan kajianku, ternyata ada sekitar 400 lembar selama satu tahun pada tahun 2008. Artinya dalam satu hari ana menulis satu lembar catatan kajian karena memang kajian itu dilaksanakan setiap hari.

Lalu setelah menetapkan azzam, alhamdulillah pada tahun 2009 catatan kajianku meningkat dua kali lipat lebih, yaitu 1000 lembar catatan kajian dalam setahun. Sebenarnya ana merasa ini masih kurang. Kenapa? Karena itu hanya didapat dari 3 majlis ta’lim utama dan beberapa majlis ta’lim tambahan.. Padahal ana punya obsesi mengikuti SELURUH KAJIAN AKHWAT dan UMUM di kota Solo.. baik pagi, siang, sore, ataupun malam. Obsesi ini terbangun karena membaca biografi para ulama yang sangat cinta ilmu. Imam Nawawi saja dalam satu hari menghadiri 14 majlis ta’lim. Namun, ana tidak bisa melakukan obsesiku itu karena masih harus membagi waktu dengan kuliah dan mencari uang dengan memberi les privat pada para pelajar. Selain itu, juga keterbatasan gerak sebagai seorang muslimah, tidak bisa pergi ke majlis ta’lim yang jauh dari rumah pada malam hari.

Dari segi kualitas, menurut ana ada peningkatan. Why? Karena majlis ta’lim yang kuhadiri adalah majlis ta’lim yang diisi oleh para huffadz al-Qur’an. Mereka selalu berpesan agar selalu membaca dan mempelajari al-Qur’an.. termasuk menghafal al-Qur’an. Nasihat mereka yang sejuk itu teringiang-ngiang di hatiku. Oleh karena itu, ana memutuskan tahun selanjutnya akan kuhabiskan untuk menghafal al-Qur’an di ma’had tahfidz. Meskipun ana tahu, ada konsekuensinya pula, yaitu menunda pekerjaan, sekolah S2, ataupun pernikahan.. karena salah satu syarat diterima di ma’had tahfidz saat itu adalah tidak boleh ndobel kegiatan.. Padahal setelah lulus kuliah ada tawaran pekerjaan dengan gaji cukup tinggi di Jakarta, dihubungi oleh Ketua sebuah yayasan untuk mengajar, dan pernah ada staf sebuah penerbit datang ke rumah menawari ana untuk menulis buku Fisika ataupun menjadi editor buku Fisika dan Bahasa Arab. Namun, dalam hati ana, al-Qur’an lebih utama. Insya Allah ana bisa mendapatkannya lagi di waktu selanjutnya.. jika Allah mengizinkan.

Lalu suatu saat ana menulis, motto hidup ana adalah Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan“. Ternyata benar, dengan berawal dari menulis motto hidup tersebut, akhirnya ana mendapat kemudahan yang tersusun rapi pada waktu selanjutnya. Padahal awalnya ana hanya asal menulis aja, mengambil motto dari ayat al-qur’an..

Saat itu ana tidak punya alat transportasi menuju ke sekolah, karena ana terbiasa naik sepeda ke mana2. Padahal jarak rumah-sekolah sekitar 20 km, ditempuh dalam waktu 2 jam jika naik sepeda. Bagaimana ini?? Kalau berangkat habis shubuh pun bisa terlambat.. Tiba2 ana ditawari menjadi pembina asrama di sekolah. Di asrama, ana bertemu dengan seorang akhwat yang sangat baik. Ana belajar banyak pada beliau, tentang ketegasan, kejelasan fakta, keberanian, percaya diri, dan optimis menatap masa depan. Karena ana tinggal se-asrama dengan beliau, maka ana berangkat ke sekolah diboncengkan naik sepeda motor. Wew! Beliau kalau naik kendaraan cepat sekali! Di jalanan yang sepi, kecepatannya 120 km/jam.. Hmm.. Takut juga sih awalnya. Namun, setelah terbiasa dan yakin akan kemahirannya naik sepeda motor. Ana enjoy saja.. 🙂

Lalu motto ana sebagai peneliti adalah, Dengan doa, keyakinan, kesungguhan, dan kesabaran, maka sesuatu yang nampaknya tidak mungkin akan menjadi mungkin (bi idzniLLAH.. = dengan izin Allah)“. Perkataan semacam ini sudah dikenal baik oleh para peneliti meskipun redaksinya mungkin berbeda.

Lihat saja, dulu orang tidak pernah berpikir bisa berbicara dan mendengar suara orang lain yang terpisah jarak yang sangat jauh, melewati sungai, laut, gunung, dsb. Pada zaman dahulu sekitar tahun 1400 an ada seorang jenius bernama Leonardo Da Vinci. Setiap hari ia sering  merenung di sebuah gua, setiap  keluar gua ia selalu berbicara aneh dan membuat orang tertawa. Ia berkata bahwa suatu hari orang akan dapat berbicara dan melihat wajah orang lain dari tempat yang sangat jauh.  Enam ratus tahun yang lalu ini adalah mimpi.. !!

Abad 20 digemparkan dengan munculnya teknologi  elektromagnetik sehingga mengubah peradaban dunia yang membuat khayalan Davinci menjadi kenyataan. Sekarang, orang menganggap biasa kalau bisa berbicara dengan orang di lain provinsi, pulau, bahkan negara dengan alat2 yang dihasilkan oleh para peneliti. Biasanya para ilmuwan dan peneliti itu memang memiliki imajinasi/ khayalan/mimpi yang akhirnya terwujud di masa depan.

Sebenarnya ada suatu teknologi yang lebih hebat dari itu  yaitu teknologi wrapping (berpindah tempat). Secara theory, hal ini  terbentur dengan hukum kekekalan massa dan energi. Jika sesuatu itu hilang maka ia harus menjadi energi. E=mc^2. Hilang juga dapat berarti hancur. Yang paling memungkinkan adalah ia berubah menjadi cahaya, dan berpindah dengan kecepatan cahaya. Namun, hingga saat ini kita hanya mempunyai hubungan teori antara photon dan cahaya. Teori wrapping  hingga hari ini ini masih menjadi suatu Hipotesa.

Seorang ilmuwan muslim di Jerman percaya bahwa teknologi ini  akan ditemukan berdasarkan Al Qur’an QS. An Naml :40.

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al- Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni’mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

(Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Naml [27] :40)

Beliau berkeyakinan  bahwa Al Qur’an telah  memberikan isyarat  bahwa  teknologi  ini  suatu hari akan ditemukan oleh seorang hamba Allah yang sangat sholeh yang menguasai Al Qur’an.

= = = = = =

-Motto Hidup, Bikin Hidup Makin Hidup!!-


Arsip

Statistik Blog

  • 616,336 hits