Posted by: annisa1 on: 21 Januari 2010
Bismillah…
Alhamdulillah, sebagai kelanjutan dari Program “Daiyyah Sukses”, maka kami beberapa akhwat akan mengadakan dauroh Al-Qur’an di Solo. Pengurusnya sekitar 17 orang, sebagian besar adalah para tholibat Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq, baik bagian Lughoh ‘Arobiyyah ataupun Tahfidzul Qur’an. Dalam merencanakan program ini, kami dibimbing oleh Ustadzah ‘Ainul Millah, Lc.
Untuk itu, kami mengadakan rapat dan persiapan. Untuk pekan ini adalah menyiapkan materi yang disampaikan, dibagi menjadi 3 kelompok : mukadimah, tahsinul qur’an (makharijul huruf), dan ilmu tajwid. Ana berada di kelompok pembuatan diktat “ilmu tajwid”, mendapat bagian mengetik dan membuat slidenya setelah dibahas bersama (lebih berat nih…Allahu Musta’an..).
Ini adalah program keluar untuk para muslimah, terutama di solo dan sekitarnya…
Sedangkan program internalnya juga masih ada, yaitu : kajian ilmu, membuka kitab-kitab digital, latihan berceramah.. dsb. Tujuanya adalah mengantarkan kita menjadi daiyyah, ‘alimah, mujahidah, yang siap berdakwah… plus hafidzah tentu..
(untuk para tholibat Tahfidzul Qur’an).
= = = = = = = = = = =
Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlaa wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlaa…
Amin.
Posted by: annisa1 on: 4 Januari 2010
Perpustakaan Wakaf Muslimin (PWM) “Syaikh Al-Albani” memiliki program SMS Taushiyah Gratis hampir tiap hari. Berikut beberapa smsnya, ana tuliskan di sini:
Ibnu Syihab -seorang muhadits besar- tidak mau makan apel karena mengganggu daya hafal. Ia suka makan madu. Innahu yadzaki = MADU bikin CERDAS! Demikian kata beliau. Hats ‘ala Tholabil ‘Ilm, hlm 35. BELI MADU!
Hadiah Pagi Ini : ALLOH MAHA KARIM = TIDAK MENOLAK JIKA DIMINTA, maka mintalah kebutuhan-kebutuhanmu hari ini kepada-Nya. ALLOH SUKA DIMINTAI, MARAH JIKA TIDAK DIMINTAI. PWM = PUSTAKA Wakaf MUSLIMIN
Sebab-sebab KHUSYU’ SHALAT ada 4 : 1. Sadar bahwa (ketika sedang shalat) berdiri menghadap dan bermunajat kepada Allah; 2. Memahami pahala shalat; 3. Meresapi bahwa ada AKHIRAT; 4. Jauh dari hal-hal yang mengganggu konsentrasi. (Syeikh Syanqiti)._PWM
Anda punya PROBLEM? Tengah malam, di langit ada seruan : “HAL MIN MAKRUB FAYUFARRAJ ANH?” Adakah orang sedih yang mau dibebaskan dari sedihnya?. (HR.Thobaroni, shohih). BERDOALAH..!_PWM
BASMALAH sebelum melakukan sesuatu = agar dibarokahi Alloh. BERKAH = kecil jadi besar, sedikit jadi banyak. Barokah muncul sesuai KEMANTAPAN HATI saat baca basmalah. (Syeikh Syanqiti)._PWM
Ingin bisa ISTIQOMAH dalam KEBAIKAN? Nabi MEMBACA DOA di dalam SUJUD : “ALLOHUMMA TSABBIT QOLBII ‘ALA DIINIK” = Teguhkan aku di dalam agama-Mu. SUNNAH TERLUPAKAN!! Silakan BACA TIAP SUJUD OK!_PWM
AR-ROHMAN: selalu memberi jika diminta. AR-ROHIM: marah jika tidak dimintai. Maka BANYAK BERDOA MEMBUAT ALLOH MAKIN CINTA. Mari berdoa untuk BISA MENGHAFALKAN AL-QUR’AN kemudian MENJAGA HAFALAN tersebut hingga masuk liang kubur besok._PWM
Bolehkah wanita minta syarat tidak dipoligami saat dilamar? Dari Abu Usamah : boleh, sebab poligami bukan kewajiban. Dari Abu Zaidan : tapi itu egois dan tidak ada istri Nabi yang seperti itu._PWM
Kunci DICINTAI ALLOH ada 3 : 1. JUJUR; 2.MENUNAIKAN AMANAH; 3. BAIK kepada TETANGGA . -HR. Baihaqi- (dari Silsilah Shohihah yang belum terbit)_PWM
Hai Kristen, kenapa kau sembah yesus, padahal ia TAK KUASA SELAMATKAN DIRI saat disalib? Penjual yang Cina Kristen itu TAKJUB. Akhirnya ia MENURUNKAN HARGA dari 600ribu menjadi 350 ribu. (Kisah Nyata)._PWM
“Wattaqullah wayu’allikumullah..” (QS. Al-Baqarah:282). TAQWA adalah KUNCI MENJADI ULAMA. TAQWA MEMBUAHKAN ILMU. Syekh Mukhtar Syenqiti, guru termuda di Masjid Nabawi -berumur 40 tahun, belum menikah- ILMUNYA digemari!_PWM
Hp BUNYIsaat SHALAT? AMBIL, MATIKAN! Ulama : Boleh bergerak dalam shalat untuk mashlahat shalat itu sendiri. MATIKAN HP untuk MASHLAHAT! Jaga kekhusyu’an para jama’ah!_PWM
Ibnu Syihab -seorang muhadits besar- tidak mau makan apel karena mengganggu daya hafal. Ia suka makan madu. Innahu yadzaki = MADU bikin CERDAS! Demikian kata beliau. Hats ‘ala Tholabil ‘Ilm, hlm 35. BELI MADU!_PWM
Unuk melihat blog resminya, silahkan kunjungi : http://maktabah-albani.blogspot.com
= = = = = = = =
Insya Allah kumpulan sms2 taushiyah PWM akan ana tuliskan lagi pada pstingan di blog ini. Allahu Musta’an…
Posted by: annisa1 on: 4 Januari 2010
Kutaeb-kutaeb PWM Syaikh Al-Albani yang telah terbit hingga awal Januari 2010 antara lain :
1. Akulah Pakar Maksiat
2. Bid’ahnya Seruan “ash-shalatu Jami’ah”
3. Hukum BERJABAT TANGAN dengan Perempuan
4. Hukum NASYID Islami +RINGTONE HP
5. Hukum USAP WAJAH Setelah Do’a
6. Jangan Sampaikan Hadits Dha’if / Palsu di MIMBAR JUM’AT
7. Jotosan dengan SETAN
8. Kamus ISTILAH-ISTILAH dalam AL-QUR’AN
9. M.PONARI al-Kahin
10. Menyelami Fiqih QURBAN
11. Menyingkap Rahasia HUJAN
12. Mereka BERKELANAMemburu Ilmu Hadits
13. Nasihat Nabi saw untuk Yang Terkena Musibah
14. NYONTRENG Opo Ora
15. Rahasia ILMU
16. Rahasia TUBUH
17. Sedetik Pasca NIKAH
18. Shalat TAHIYATUL MASJID Ba’da Shubuh
19. Syarah Kritis NGAJI PAGI
20. Tafsir AZ-ZUMAR
21. Tanya Jawab Seputar KHUTBAH
22. Ustadz Bukan Nabi
23. Kamus ADAD 3
24. WASIATKUSebelum Mati
25. Biografi Syaikh AL-ALBANI
26. 101 Alasan Mengapa Ane Pakai JILBAB
27. Santri ALHAMDULILLAH
28. TAUSHIYAH Ramadhaniyah
29. Catatan Cerdas MENGHAFAL AL-QUR’AN
30. Mengapa Kita MENUNTUT ILMU?
31. TAKBIRAN JAMA’I (Dengan Satu Suara Koor), SUNNAHKAH?
32. Kamus DOA
33. Dituduh SYI’AH, Bagaimana Menyikapinya dengan Bijak?
34. KONSULTASI dengan Santri via SMS
35. Cewek Jannah Dahsyat
36. SETAN
Nantikan Pula Terbitan PWM berikutnya (Insya Allah) :
1. BIOGRAFI Kibar Ulama
2. SYUBHAT Sekitar MAULID NABI
3. POLIGAMI Lebih dari 4 Istri, Haramkah?
4. Rahasia HAFAL QUR’AN
5. Rahasia HIJAMAH
6. Rahasia NIKAH
7. JADWAL HARIAN Santri Tahfidz Quran
8. Oleh-oleh Cantik Ayu dari Garut
9. HIDUP CERAH Anti Sedih
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Sumber : http://maktabah-albani.blogspot.com/2010/01/kutaeb-kutaeb-pwm-yang-telah-terbit.html
Posted by: annisa1 on: 2 Januari 2010
Alhamdulillah, bulan Desember lalu ana lulus test Ma’had ‘Aly Al-Islam. Materi testnya meliputi Test Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.
Alhamdulillah, ana dipertemukan dengan Ukhti Fadhilatul Hasanah, anak ma’had lulusan Aliyah.
Masya Allah, ternyata beliau telah mengenal nama ana sebelum bertemu dengan ana… ^_^
Kami sekarang menjadi teman akrab yang saling mengingatkan dan menasihati serta saling berbagi ilmu, alhamdulillah…. ^_^
Insya Allah ana sambung waktu lain ceritanya karena datanya sekarang tidak ana bawa.. afwan ya..
Wassalam
= = = = =
Posted by: annisa1 on: 26 Desember 2009
Waktu berjalan terasa sangat cepat, tidak terasa bulan Muharram akan kembali datang. Bulan yang menandai pergantian tahun baru Islam yakni tahun 1431 Hijriyah. Bulan yang mempunyai sejarah yang sangat kental dan erat kaitannya dengan perjuangan Islam era sahabat g dan mempunyai keutamaan-keutamaan yang tidak ditemui dalam bulan-bulan yang lain.
Namun demikian, dalam masyarakat kita—terutama masyarakat Jawa yang menyebut bulan Muharram dengan nama Bulan Suro—justru yang seringkali tampak ialah keyakinan-keyakinan yang bukan berasal dari ajaran Islam. Maklum, jika kita melihat sejarah perkembangan Islam di Jawa, maka di sana tidak terlepas dari pengaruh keyakinan lama yang cukup mengakar di masyarakat, bahkan pengaruh tersebut sampai kepada urusan keyakinan yang akhirnya akan melahirkan sinkretisme.
Sebenarnya apa yang terkandung dalam bulan Muharram? Bulan dalam kalender Islam yang mungkin sudah jarang diperhatikan lagi oleh kebanyakan masyarakat kita, karena mereka lebih akrab dengan kalender Masehi dan hampir semua urusan penanggalan selalunya terkait dengan kalender Masehi. Nah, sebagai seorang muslim sebaiknya kita perlu merenunginya, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Mengingatkan atas berkurangnya umur kita dan syukur atas usia yang masih diberikan.
Datangnya bulan Muharram menunjukkan bahwa bilangan tahun semakin bertambah. Itu akan mengingatkan kita bahwa usia kita semakin bertambah pula sedangkan jatah umur kita semakin berkurang.
Umur adalah nikmat yang diberikan Allah pada kita, akan tetapi kita seringkali kurang menyadarinya. Kita saat ini masih hidup, itu artinya kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, menambah amal shaleh sebagai bekal menghadap Allah kelak.
Adalah sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shaleh.
Oleh karena itu, sangat tidak pantas seorang hamba yang masih diberi kesempatan untuk beramal, akan tetapi justru lupa untuk bersyukur kepada Allah dengan melakukan perkara yang tidak diperbolehkan.
2. Muhasabah (introspeksi diri) dan istighfar.
Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan?
Malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan sinetron, film dan sebagainya dari televisi? Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Dan sebagainya.
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana pergantian tahun seperti sekarang ini. Pergantian tahun bukan sekadar pergantian kalender di rumah kita, namun peringatan bagi kita apa yang sudah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan kita perbuat esok.
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).
Ayat ini memperingatkan kita untuk mengevaluasi perbuatan yang telah kita lakukan pada masa lalu agar meningkat di masa datang yang pada akhirnya menjadi bekal kita pada hari kiamat kelak.
3. Mengenang Hijrah Rasulullah n.
Sebenarnya dalam kitab Tarikh Ibnu Hisyam dinyatakan bahwa keberangkatan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah adalah pada akhir bulan Shafar, dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabiul Awal. Jadi bukan pada tanggal 1 Muharram sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan penetapan Bulan Muharram sebagai awal bulan dalam kalender Hijriyah adalah hasil musyawarah pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab tatkala mencanangkan penanggalan Islam.
Pada saat itu ada yang mengusulkan Rabiul Awal sebagai l bulan ada pula yang mengusulkan bulan Ramadhan. Namun kesepakatan yang muncul saat itu adalah bulan Muharram, dengan pertimbangan pada bulan ini telah bulat keputusan Rasulullah n untuk hijrah pasca peristiwa Bai’atul Aqabah, di mana terjadi bai’at 75 orang Madinah yang siap membela dan melindungi Rasulullah, apabila beliau datang ke Madinah.
Dengan adanya bai’at ini Rasulullah pun melakukan persiapan untuk hijrah, dan baru dapat terealisasi pada bulan Shafar, meski ancaman maut dari orang-orang Qurais senantiasa mengintai beliau. Peristiwa hijrah ini seyogianya kita ambil sebagai sebuah pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Betapapun berat menegakkan agama Allah, tetapi seorang muslim tidak layak untuk mengundurkan diri untuk berperan di dalamnya.
Rasulullah n akan keluar dari rumah sudah ditunggu orang-orang yang ingin membunuhnya. Begitu selesai melewati mereka, dan harus bersembunyi dahulu di sebuah goa, masih juga dikejar, namun mereka tidak berhasil dan beliau dapat meneruskan perjalanan.
Namun pengejaran tetap dilakukan, tetapi Allah menyelamatkan beliau yang ditemani Abu Bakar hingga sampai di Madinah dengan selamat. Allah menolong hamba yang menolong agamaNya.
Perjalanan dari Mekah ke Madinah yang melewati padang pasir nan tandus dan gersang beliau lakukan demi sebuah perjuangan yang menuntut sebuah pengorbanan. Namun dibalik kesulitan ada kemudahan. Begitu tiba di Madinah, dimulailah babak baru perjuangan Islam. Perjuangan demi perjuangan beliau lakukan.
Menyampaikan wahyu Allah, mendidik manusia agar menjadi masyarakat yang beradab dan terkadang harus menghadapi musuh yang tidak ingin hadirnya agama baru. Tak jarang beliau turut serta ke medan perang mempertaruhkan nyawa demi tegaknya agama Allah, hingga Islam tegak sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk dunia saat itu. Lalu sudahkah kita berbuat untuk agama kita?
4. Kalender Hijriyah adalah Kalender Ibadah kita
Barangkali kita tidak memperhatikan bahwa ibadah yang kita lakukan seringkali berkait erat dengan penanggalan Hijriyah. Akan tetapi hari yang istimewa bagi kebanyakan dari kita bukan hari Jum’at, melainkan hari Minggu. Karena kalender yang kita pakai adalah Kalender Masehi.
Sekadar mengingatkan, hari Minggu adalah hari ibadah orang-orang Nasrani. Sementara Rasulullah saw menyatakan bahwa hari jum’at adalah sayyidul ayyam (hari yang utama diantara hari yang lain). Demikian pula penetapan hari raya kita, baik Idul Adha maupun Idul Fitri pun mengacu pada hitungan kalender Hijriyah.
Wukuf di Arafah yang merupakan satu rukun dalam ibadah haji, waktunya pun berpijak pada kalender Hijriyah. Begitu pula awal Puasa Ramadhan, puasa ayyamul Bidh (tanggal 13,14,15 tiap bulan) dan sebagainya mengacu pada Penanggalan Hijriyah. Untuk itu seyogianya bagi setiap muslim untuk menambah perhatiannya pada Kalender Islam ini.
5. Beberapa Keutamaan dan Peristiwa di Bulan Muharram
a. Bulan Haram
Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam Kalender Hijriyah, termasuk di antara bulan-bulan yang dimuliakan (al Asyhurul Hurum). Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram.” (Q.S. at Taubah :36).
Abu Hurairah a menjelaskan bahwa Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada keempat bulan ini Allah melarang kaum muslimin untuk berperang. Dalam penafsiran lain adalah larangan untuk berbuat maksiat dan dosa. Namun bukan berarti berbuat maksiat dan dosa boleh dilakukan pada bulan-bulan yang lain. Sebagaimana ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita menjaga Shalat Wustha, yang banyak ahli Tafsir memahami shalat wustha adalah Shalat Ashar. Dalam hal ini, shalat Ashar mendapat perhatian khusus untuk kita jaga.
Firman Allah : “Peliharalah segala shalat mu, dan peliharalah shalat wustha” (Q.S. al Baqarah :238) Nama Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Maka kembali pada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah memiliki tekanan khusus untuk dihindari pada bulan ini.
b. Bulan Allah
Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah n, dalam sebuah hadis. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Syaifullah dan sebagainya. Rasulullah bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim).
c. Sunnah Berpuasa
Pada bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah Yaumul ‘Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata ‘Asyarah yang berarti sepuluh. Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunah yang diajarkan Rasulullah. kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut, di antaranya:
Diriwayatkan dari Abu Qatadah a, Rasulullah bersabda, “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Ibnu Abbas a berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Ibnu Abbas menuturkan bahwa ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini.
Rasulullah pun bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa ketika Rasulullah n berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata, “Ya Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah pun bersabda, “Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan).” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. bersabda : “Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ Selain hadis-hadis yang menyebutkan tentang puasa di bulan ini, tidak ada ibadah khusus yang dianjurkan Rasulullah untuk dikerjakan di bulan Muharram ini.
Bagaimana Berpuasa pada bulan Asyura?
Ibnu Qoyyim dalam kitab Zaadul Ma’aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada- menjelaskan:
- Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11)
- Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits.
- Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja. Puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut:
1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat,maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10)
2. Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh).
Adapun puasa tanggal 9 dan 10, dinyatakan jelas dalam hadis pada akhir hidup beliau sudah merencanakan yang shahih, dimana Rasulullah untuk puasa pada tanggal 9. hanya saja beliau meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.
Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama yang lain. Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah n untuk melakukan puasa, sekalipun itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah, dan tetunya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.
d. Di antara Peristiwa di Bulan Muharram
Pada tanggal 10 Muharram 61H, terjadilah peristiwa yang memilukan dalam di sebuah tempat cucu Rasulullah tsejarah Islam, yaitu terbunuhnya Husein yang bernama Karbala.
Peristiwa ini kemudian dikenal dengan “Peristiwa Karbala”. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh pendukung Khalifah yang sedang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Mu’awiyah, meskipun sebenarnya Khalifah sendiri saat itu tidak menghendaki pembunuhan tersebut.
Peristiwa tersebut memang sangat tragis dan memilukan bagi siapa saja yang mengenang atau membaca kisahnya, dan kita tentu mencintai dan apalagi terhadap orang yang dicintai Rasulullah memuliakannya. Namun musibah apapun yang terjadi dan betapapun kita sangat mencintai keluarga Rasulullah, hal itu jangan sampai membawa kita larut dalam kesedihan dan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai bentuk duka dengan yang memukul-mukul diri, menangis apalagi sampai mencela shahabat Rasulullah yang tidak termasuk Ahli Bait (keluarga dan keturunan beliau). Yang mana hal ini biasa dilakukan suatu kelompok syi’ah yang mengaku memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap Ahli Bait (Keluarga Rasulullah), pdahal kenyataanya tidak demikian.
Semoga kita selalu diberi taufiq dan dibimbing oleh Allah l. Kejalan-Nya yang lurus serta mendapatkan keridhaan dan ampunany-Nya, amin ya rabbal ‘alamin.
Disarikan dari: Fadhlu Syahril Muharram, oleh Al-Fariq Al-Indunisiy. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. www.islamhouse.com.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
http://www.baitulmalfkam.com/index.php/kisah/118-menggali-keutamaan-bulan-muharram.html
Posted by: annisa1 on: 22 November 2009
Ummu Shalih, Seorang Nenek yang Menghafalkan Al-Qur’an di Usia 82 Tahun
Alhamdulillah, Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar [54] : 32)
Banyak orang di seluruh dunia menghafal Al-Qur’an, dan tidak aneh melihat seorang anak menghafal Al-Qur’an dan di usia yang sangat muda. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Al-Qur’an mudah untuk dihafalkan, telah menjadikanya mudah bagi Ummu Shalih yang berusia 82 tahun. Dalam wawancara bersama Ummu Shalih, ia ditanyai sejumlah pertanyaan berikut:
Pertanyana: “Alasan apa yang mendorong anda untuk menghafal Al-Qur’an setelah sekian tahun berlalu?”
Ummu Shalih: “Aku selalu berharap menghafalkan Al-Qur’an sejak aku masih muda. Ayaku selalu berdoa kepada Allah bagiku agar menjadi orang yang menghafal Al-Qura’n sebagaimana dirinya dan saudaras-saudara laki-laki yang lebih tua di dalam keluargaku yang menghafalkan Al-Qur’an. Maka aku mulai menghafal tiga bagian dan menamatkannya di usia 13 tahun. Aku menikah dan menjadi sibuk dengan urusan rumah tangga dan anak-anak. Setelah memiliki tujuh orang anak, suamiku meninggal. Anak-anakku mash kecil maka aku menghabiskan waktu untuk membesarkan dan mendidik mereka, dan setelah mereka dewasa dan menikah, aku memiliki lebih banyak waktu untuk diriku sendiri. Oleh karena itu, hal pertama yang aku lakukan adalah memusatkan pertahian pada Al-Qur’an.
Pertanyaan: Ceritakanlah kepada kami perjalanan anda bersama Al-Qur’an.”
Ummu Shalih: “Anak perempuanku yang paling kecil masuk SMA dan dia adalah anak yang paling dekat denganku dan yang paling kucintai, karena dia tinggal bersamaku setelah kakak-kakak perempuannya menikah dan sibuk dengan kehidupan mereka sendiri, dan karena dia adalah gaids pendiam, shalihah dan penuh cinta dan baik. Apalagi, dia tertarik mempeelajari Al-Qur’anul Karim, dan guru-gurunya mendorongnya. Ditambah lagi dia sangat antusias dan selalu menceritakan kepadaku banyak wanita yang terdorong oleh motivasi besar untuk menghafal Al-Qur’an, dan disinilah aku memulai.”
Pertanyaan: “Ceritakanlah bagaimana cara anda menghafal.”
Ummu Shalih: “Kami menetapkan 10 ayat (maksudnya dia dan anak perempuannya yang masuk SMA). Setiap hari setelah Ashar kami duduk bersama. Dia membaca dan aku mengulanginya tiga kali. Kemudian dia menerangkan artinya kepadaku, dan setelah beberapa saat dia mengulanginya tiga kali. Pada hari yang berikutnya, dia mengulanginya tiga kali sebelum berangkat ke sekolah. Dia juga merekam bacaan Syaikh al-Husary rahimahullah, mengulangi setiap ayat tiga kali dan begitulah aku melanjutkan mendengarkannya hampir sepanjang waktu. Kemudian pada hari berikutnya kami akan melanjutkan pada 10 ayat berikutnya jika hafalanku baik. Jika tidak, kami akan menunda menghafal ayat berikutnya sampai hari berikutnya lagi. Lebih lanjut, kami menetapkan hari Jum’at untuk meninjau kembali hafalan selama satu minggu. Dan inilah perjalanan dari awal”
Kemudian Ummu Shalih berkata: “Setelah 4,5 tahun aku telah menghafal 12 juz menurut cara yang aku jelaskan kepada anda. Kemudian anakku menikah. Ketika suaminya mengetahui kegiatan kami mengenai hafalan, dia menyewa rumah dekat denganku, dekat dengan rumahku, sehingga memungkinkan untuk melanjutkan kegiatan hafalan. Lebih lanjut, dia, semoga Allah memberikan pahala baginya, selalu mendorong kami dan kadang-kadang duduk bersama kami mendengarkan, menjelaskan, dan mengajarkan. Kemudian setelah tiga tahun perkawinannya, anakkmu mulai sibuk dengan anak-anak dan urusan rumah tangganya, dan jadwal kami pun terganggu, akan tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah. Bahkan, dia melihat hasratku untuk menghafal masih tetap ada, dia mencarikan guru khusus untuk melanjutkan kegiatan tersebut di bawah pengawasannya. Akhirnya aku menamatkan hafalan dengan pertolongan Allah, dan anakku masih berusaha menamatkan hafalannya terhadap Al-Qur’anul Adzim. Dia masih ketinggalan sedikit insya Allah.
Peertanyaan: “Motivasimu (untuk menghafal –pent.), apakah mempengaruhi wanita-wanita lain di sekelilingmu?”
Ummu Shalih: “Itu benar-benar memberikan dampak baik yang kuat. Anak-anak perempuanku dan anak-anak perempuan (dari suami terdahulu) semuanya terdorong dan berussaha untuk belajar dan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak mereka dan belajar bagi diri mereka sendiri.
Pertanyaan: “Setelah menamatkan Al-Qur’an, tidakkah anda berpikir untuk mulai menghafalkan hadits?”
Ummu Shalih: “Sekarang aku telah menghafalkan 90 hadits dan insya Allah aku akan terus melakukannya. Hafalanku tergantung pada rekaman dan siaran radio Qur’an. Di akhir setiap minggu, anak perempuanku datang dan mengecek tiga hadits fahalanku, dan aku sekarang mencoba menghafalkan lebih banyak lagi.
Pertanyaan: “Selama menghafalkan Al-Qur’an, apakah hidup anda berubah? Apakah hal itu mempengaruhi hidupmu?”
Ummu Shalih: “Ya, aku mengalami perubahan besar dan aku selalu mencoba, segala puji bagi Allah, untuk taat kepada Allah sebelum mulai menghafal. Namun demikian, setelah aku mulai tugas menghafalkan, aku mulai merasakan kepercayaan diri, kepercayaan diri yang besar dan semua kekhawatiran perlahan-lahan sirna. Aku bahkan mencapai tingkat membebaskan diriku dari semua kekhawatiran yang berlebihan akan ketakutan mengenai anak-anakku dan urusan mereka, dan semangatku bertambah. Aku memiliki tujuan mulia untuk dilaksanakan dan ini adalah nikmt yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala kepadaku, karena kita mengetahui bahwa sebagian wanita, ketika mereka beranjak tua dan tidak memiliki suami, dan anak-anak mereka menikah, mungkin dihancurkan oleh waktu dan pikiran kosong, kecemasan, dan seterrusnya. Akan tetapi, Alhamdulillah, aku tidak melaluinya dan aku menyibukkan diri dengan tugas yang besar, dan tujuan yang besar.
Peranyaan: “Tdakkah anda berpikir pada saat tertentu, untuk bergabung dengan majelis yang memusatkan perhatian untuk mengajarkan Al-Qur’an?”
Ummu Shalih: “Ya, sebagian wanita menyarankan hal ini kepadaku, akan tetapi aku adalah wanita yang terbiasa tinggal di rumah, dan aku tidak suka keluar setiap hari dan Alhamdulillah, anak perempuanku mencukupiku dari semua kesulitan dan aku merasa bahagia ketika belajar darinya. Anakku telah memberikan teladan dalam kebaikan dan ketaatan yang jarang ditemukan di masa kita ini. Dia memulia tugas dan kegiatan ini bersamaku ketika dia masih remaja, dan ini adalah usia rawan yang banyak dikeluhkan orang. Dia selalu menekan dirinya agar dia dapat meluangkan waktu untuk mengajariku, dan dia mengajariku dengan baik dan bijaksana. Suaminya adalah penolong yang baik baginya dan dia telah berusaha keras. Aku memohon kepada Allah subhanau wa ta’ala agar memberikan mereka kebahagiaan dan menjadikan anak-anak mereka anak-anak yang shalh.
Pertanyaan: “Apa yang anda katakana kepada wanita di usia anda yang ingin belajar dan menghafalkan Al-Qur’an namun merasa khawatir dan merasa tidak mampu melakukannya?”
Ummu Shalih: “Aku katakana kepadanya, tidak aka nada keputusasaan dengann tekat yang teguh, ikhlas dan benar. Mulailah dengan ikhlas, keteguhan pendirian dan tawakkal kepada Allah setiap saat. Dan ingatlah, pada usia sekarang ini anda seharusnya memiliki waktu untuk diri anda sendiri. Namun jangan gunakan waktu anda hanya untuk keluar atau tidur dan seterusnya, Sebaliknya, sibukkanlah diri anda dengan kebajikan.
Tanya: “Apa yang akan anda katakan kepada wanita yang masih muda? Apa yang akan anda nasihatkan kepadanya?”
Ummu Shalih: “Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu. Gunakanlah nikmat yang Allah berikan kepadamu dari kesehatan dan jalan dan kenyamanan hidup. Gunakanlah untuk menghafalkan Kitabullah. Inilah cahaya yang akan menghidupkan hatimu, hidupmu dan kuburmu setelah engkau mati. Dan jika engkau memiliki seorang ibu, maka berusahalah untuk mengajarinya, dan tidak ada nikmat yang lebih baik bagi seorang ibu darpada seorang anak shalih yang menolongnya untuk lebih dekat kepada Allah.”
Dipublikasikan pertama kali pada majalah Ad-Da’qah, no. 1552, 17 Rabiul Awal 1417 (1 Agustus 1996)
Transkrib dalam bahasa Inggris oleh: Ummu Maahir al-Amreekiyyah
Alih bahasa: Ummu Abdillah al-Buthoniyah.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
http://amatullah83.blogspot.com/2009/11/menghafalkan-al-quran-di-usia-82-tahun.html
Posted by: annisa1 on: 22 November 2009
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata : ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika AL-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkata Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS Al-Furqan 27-30).
FENOMENA menarik yang digambarkan ayat di atas adalah penyesalan orang-orang zalim karena mereka sudah salah memilih sahabat. Sahabat yang mereka pilih ternyata sahabat yang tidak bertanggung jawab setelah mereka dipengaruhi agar berpaling dari Al-Quran. Ayat di atas juga mengindikasikan keterkaitan yang cukup kuat antara bagaimana memilih sahabat dan penunjukan Al-Quran sebagai sahabat sejati. Dan pada ayat yang ke-30 Nabi pun mengadu kepada Allah menyangkut sikap kaumnya yang acuh tak acuh terhadap Al-Quran.
Term khalil (khaliilan) yang bermakna sahabat yang digunakan Allah SWT pada ayat tadi secara eksplisit menunjukkan bahwa manusia sangat membutuhkan seorang sahabat. Kebutuhan sahabat itu dapat kita tunjukkan pada saat ini dengan aktivitas yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan sahabat seperti meng-upload biodata ke media, chatting dan sebagainya. Ketika kita mendengar kata sahabat maka di dalam benak kita akan tergambar seseorang yang sangat akrab dan selalu hadir di tengah-tengah kita baik dalam keadaan suka maupun duka.
Sebelum mencari sahabat manusia kita sebaiknya bersahabat terlebih dulu dengan Al-Quran. Dikarenakan dalam Al-Quran kita dapat menemukan panduan hidup yang benar bagaimana memulai persahabatan yang positif dan kiat-kiat mengenali sifat sahabat yang baik. Di dalam sebuah ayat diungkapkan bahwa “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf 67).
Apabila kita jauh dari nilai-nilai Al-Quran dan tidak menjadikannya sahabat kita maka hidup kita akan mudah diperdaya oleh rayuan dan bujukan setan untuk dijadikan sahabatnya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Ilahi: “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yaitu Al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang akan menjadi temannya.” (QS Az-Zukhruf 36).
Intinya, dalam kehidupan kita hanya memiliki dua pilihan untuk dijadikan sahabat: Al-Quran atau setan. Manakala kita bersahabat dengan Al-Quran maka kita akan selamat di jalan Allah. Sebaliknya bersahabat dengan setan kita akan merugi dan jatuh ke lembah kehancuran dan kesesatan. Agar kita terhindar dari persahabatan dengan setan, Al-Quran telah memberikan tips yaitu sering-sering membaca ta’awwudz yaitu ungkapan A’udzubillahi minasy-syaithonir rajim. “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (QS An-Nahl 98).
Selain itu, alasan yang cukup kuat mengapa kita harus bersahabat dengan Al-Quran. Karena kita sebagai seorang muslim pasti sepakat bahwa Al-Quran adalah mukjizat khalidah (mukjizat abadi). Keberadaannya diyakini sebagaimana kata pepatah “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.” Ia akan senantiasa shalih fil al-zaman wa al-makan (selalu relevan di setiap waktu dan tempat).
Jadi kita sangat beruntung bila dapat bersahabat dengan Al-Quran. Hanya saja, untuk menjadikan Al-Quran sebagai sahabat karib, tentu kita harus memposisikan dan memperlakukannya seperti kita memperlakukan sahabat-sahabatnya. Yakni menjadikannya sebagai teman curhat, mendengar nasehatnya, mengikuti petuahnya dan ingin selalu dekat di sisinya, dalam hal ini dengan selalu membaca dan memahaminya.
Dengan begitu kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat. Terlebih lagi, Al-Quran sendiri memperkenalkan dirinya sebagai kitab petunjuk (hidayah) yang berfungsi mengeluarkan manusia dari kegelapan (zulumat) menuju cahaya (nur).
Lain kata, Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi umat Islam untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ternyata manfaat dari bersahabat dengan Al-Quran selain akan kita peroleh di dunia juga di akhirat nanti, karena membaca Al-Quran, meskipun belum mengerti maknanya, akan dibalas setiap hurufnya dengan sepuluh kebajikan.
http://www.sripoku.com/view/7219/Al-Quran_Sahabat_Terbaik
Posted by: annisa1 on: 22 November 2009
TEMAN TERBAIK
Kawan, ingin aku bercerita tentang teman terbaik yang pernah kumiliki. Ayah mengenalkan aku dengannya di tiga tahun usiaku. Meski belum banyak mengerti, aku masih ingat kata-katanya, “Kapanpun dan dimanapun, jadikanlah ia peganganmu, insya Allah kamu akan selamat”. Setelah saat itu, aku mulai rajin untuk mengenalnya. Kemana pergi selalu kuajak serta. Ia bukan saja teman terbaik bagi diriku, tapi juga teman terbaik bagi semua orang, begitu cerita ibu.
Ia tidak pernah meminta diajak serta, karena semestinya kita yang membutuhkan keberadaannya kemanapun kaki melangkah. Senantiasa memberi jawaban atas semua tanya, mengoleskan kesejukan untuk setiap hati yang gersang. Bagi yang gelisah dan gundah, ia akan menjadi obat mujarab yang mampu memberikan ketenangan. Ia juga menjadi pelipur lara bagi yang bersedih. Tanpa diminta, jika kita mau, ia selalu menunjukkan jalan yang benar dengan cara yang sangat arif. Ikuti jalannya jika mau selamat atau tak perlu hiraukan peringatannya asal mau dan sanggup menanggung semua resikonya. Ia tak pernah memaksa kita untuk mematuhinya, karena itu bukan sifatnya.
Tutur katanya, indah menyejukkan, menyiratkan kebesaran Maha Pujangga dibalik untaian goretan barisan hikmah padanya. Tak ada yang sehebat ia dalam bertutur, tak ada pula yang seindah ia dalam bersapa. Hingga akhirnya, setiap yang mengenalnya, senantiasa ingin membawanya serta kemanapun. Tak peduli siang, malam, terik ataupun mendung, ia kan setia menemani. Cukup hanya dengan menyelami kedalamannya, tak terasa setitik air bening mengalir dari sudut mataku. Hingga satu masa, aku begitu mencintainya. Sungguh tiada tanding Maha Pujangga pencipta teman terbaikku ini.
Sebegitu dekatnya kami berdua, sehingga melewati satu hari pun tanpanya, hati akan kering, gersang dan merinduharu. Ada kegetiran yang terasa menyayat saat tak bersamanya, bahkan pernah aku tersesat, sejenak kemudian aku teringat pesan-pesannya, hingga aku terselamatkan dari kesesatan yang menakutkan. Di waktu lain, aku berada di persimpangan jalan yang membuatku tak tahu menentukan arah melangkah, berkatnyalah aku menemukan jalan terbaik. Entah bagaimana jika ia tak bersamaku saat itu.
Kawan, maukah mendengarkan betapa kelamnya satu masaku tanpa teman terbaikku itu?
Mulanya hanya lupa tak membawanya serta ke satu tempat. Esoknya sewaktu ke tempat yang berbeda, aku tak mengajaknya serta, karena kupikir, untuk ke tempat yang satu ini, saya merasa tak pantas membawanya serta. Saat itu saya lupa pesan ayah, “jika tak bersamanya, keselamatanmu terancam”. Esok hari dan seterusnya, entah lupa entah sudah terbiasa teman terbaik itu tak pernah lagi kuajak serta. Kubiarkan ia berhari-hari bersandar di salah satu sudut kamarku. Satu minggu, bulan berlalu dan tahun pun berganti, aku semakin lupa kepadanya, padahal ia senantiasa setia menungguku dan masih di sudut kamar hingga berdebu.
Hingga satu masa, bukan sekedar lupa. Bahkan aku mulai malu untuk mengajaknya. Disaat yang sama, semakin tak sadar jika diri ini telah jauh terseret dari jalur yang semestinya. Tapi aku tidak perduli, pun ketika seorang teman menyampaikan teguran dari teman terbaikku agar aku memperbaiki langkahku. Kubilang, ia cerewet! Terlalu mencampuri urusanku.
Begitulah kawan, Anda pasti sudah tahu akibatnya. Langkahku terseok-seok, pendirianku goyah hingga akhirnya tubuhku limbung. Mata hati ini mungkin telah mati hingga tak mampu lagi membedakan hitam dan putih. Semakin dalam aku terperosok, tanganku menggapai-gapai, nafasku sesak oleh lumpur dosa. Disaat hampir sekarat itu, mataku masih menangkap sesosok kecil sarat debu, disaat kurebahkan tubuh di kamar.
Ya! Sepertinya aku pernah mengenalnya. Teman yang pernah dikenalkan ayah kepadaku dulu. Ia yang pernah untuk sekian lama setia menemaniku kemana aku pergi. Teman terbaik yang pernah kumiliki, ia masih setia menungguku di sudut kamar, dan semakin berdebu. Kuhampiri, perlahan kusentuh kembali. “Jangan ragu, kembalilah padaku. Aku masih teman terbaikmu. Ajaklah aku kemanapun pergi” kuat seolah ia berbisik kepadaku dan menarik tanganku untuk segera menyergapnya. Ffwuhhh…!!! kuhempaskan debu yang menyelimutinya dengan sekali hembusan. Nampaklah senyum indah teman terbaikku itu.
Ingin kumenangis setelah sekian lama meninggalkannya. Ternyata, ia teramat setia jika kita menghendakinya. Kini, bersamanya kembali kurajut jalinan persahabatan. Aku tak ingin lagi terperosok, tersesat, terseok-seok hingga jatuh ke jurang yang pernah dulu aku terjatuh. Jurang kesesatan. Bersamanya, hidupku lebih damai terasa. Satu pesanku untukmu kawan, kuyakin masing-masing kita memiliki teman terbaik itu. Jangan pernah meninggalkannya, walau sesaat. Percayalah.
Wallaahu ‘a’lam bishshowaab.
http://ovhi.multiply.com/journal/item/34/Teman_Terbaik
Posted by: annisa1 on: 22 November 2009
penulis Al-Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim
new Maktabah 14 – Agustus – 2003 06:20:57
Sesungguh memahami Kalamullah adl cita-cita yg paling mulia dan taqarrub yg paling agung. Amalan ini telah dilakukan shahabat tabi’in dan murid-murid mereka yg menerima dan mendengar langsung dari guru-guru mereka. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikut yg mengikuti jejak mereka hingga hari kiamat.
Tidak diragukan orang pertama yg menerangkan mengajarkan dan menafsirkan Al Qur’an adl Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Para shahabat telah menerima Al Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara bacaan dan pemahaman. Mereka mengetahui makna-makna maksud-maksud dan rahasia-rahasia krn kedekatan mereka dgn Rasulullah khusus Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin Abdullah bin Mas’ud Ibnu Abbas Ubai bin Ka’ab Zaid bin Tsabit Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Az-Zubair radhiallahu ‘anhum.
Mereka adl para shahabat yg terkenal alim di antara shahabat lainnya. Para shababat adl guru-guru bagi tabi’in yg di kemudian hari melahirkan ahli tafsir dari generasi ini di Makkah Madinah dan Irak. Dari shahabat dan tabi’in dilahirkan ahli tafsir yg mengetahui sejarah tafsir -di madrasah tafsir dgn atsar Nabi dan Shahabat- yaitu imam besar dlm ushul tafsir: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari .
Ciri khas dari madrasah tafsir dgn atsar adl menafsirkan ayat Al Qur’an dgn satu atau lbh ayat Al Qur’an lainnya. Bila tdk memungkinkan mk ditafsirkan dgn hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yg shahih. Jika tdk ditemukan hadits yg menjelaskan mk ditafsirkan dgn ucapan shahabat terutama shahabat yg telah disebutkan di atas. Jika ucapan shahabat tdk ditemukan mk dgn ucapan tabi’in seperti Mujahid Ikrimah Sa’id bin Al-Musayyib Sa’id bin Jubair ‘Atha bin Abi Rabbah dan Al-Hasan Al-Basri. Namun jika semua ada mk biasa disebut semua.
Adapun menafsirkan Al Qur’an dgn akal semata haram menurut kesepakatan ulama Ahlus Sunnah apalagi tafsir yg dilandasi ilmu filsafat -walaupun terkadang benar- termasuk dlm sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dgn akal atau tanpa ilmu mk siapkanlah tempat duduk dgn api neraka.”
Di abad ke-8 Hijriyah lahir seorang ulama ahli tafsir yg merupakan alumnus akhir madrasah tafsir dgn atsar. Dialah Isma’il bin ‘Umar bin Katsir rahimahullah salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah . Tafsir dijadikan rujukan oleh para ulama dan penuntut ilmu semenjak jaman beliau hingga sekarang.
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah -beliau juga menulis tafsir- mengatakan bahwa Tafsir Ibnu Katsir adl salah satu kitab tafsir terbaik jika tdk bisa dikatakan sebagai tafsir terbaik dari kitab-kitab tafsir yg ada. Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah menilai tafsir menakjubkan belum ada ulama yg menandinginya. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dlm buku Al-‘Ilmu menganjurkan penuntut ilmu membaca Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim atau yg lbh dikenal dgn Tafsir Ibnu Katsir.
Wallahu a’lam.
Sumber: www.asysyariah.com
http://blog.re.or.id/tafsir-ibnu-katsir-salah-satu-kitab-tafsir-al-qur-an-terbaik.htm
Posted by: annisa1 on: 22 November 2009
Oleh : Hidayatullah Hamim Effendi, Lc
Bendahara Umum Yayasan Muntada Ahlil Quran
Dalam hidup ini siapapun kita pasti ingin menjadi yang terbaik dan winner. Jauh-jauh hari ini hal memang sangat dianjurkan oleh baginda Rasulullah saw kepada kita. Bahkan dalam mengejar posisi khoiriyyah (the best) ini, Rasulullah langsung mengkaitkan dengan amalan berinteraksi dan bermuamalah dengan ayat-ayat al-Qur’an. Katanya:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR.Bukhari dan Muslim)
Sebenarnya orang baik itu banyak. Dalam segala dimensinya. Memiliki akhlak yang yang terpuji itu baik. Memiliki kelebihan rejeki dan harta, lalu menginfakkannya di jalan yang benar , itu baik. Berilmu dan mengajarkannya, baik. Menolong orang yang sedang ditimpa kesulitan, itu baik. Membantu sesama, itu baik. Dan banyak lagi perbuatan-perbuatan baik lainnya. Semuanya sangat terpuji dan diperintahkan oleh Allah. Karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita setelah Dia menciptakan kita.
Namun ada yang spesial dari Rasulullah saw tentang posisi amalan terbaik dari semua yang baik di atas. Yakni di antara perbuatan yang TERBAIK di antara semua perbuatan-perbuatan baik itu adalah BELAJAR AL-QUR’AN dan MENGAJARKANNYA. Perpaduan antara belajar dan mengajarkan inilah yang menjadi perhatian utama Rasulullah kepada kita, umatnya sekarang. Belajar al-Qur’an untuk memenuhi kebutuhan kita terhadap kewajiban berinteraksi dengan wahyu akhir zaman. Mengajarkannya kepada orang lain sebagai sebuah action menularkan petunjuk ilahi itu kepada orang lain.
Sebelum bersabda dengan hadits di atas Rasulullah saw sendiri sudah menjadi panutan utama dalam hal ini. Beliau sendiri adalah tauladan pertama yang sudah hafiz al-Qur’an terlebih dahulu. Itu pasti. Karena beliau adalah seorang nabi yang menerima wahyu pamungkas dari Allah swt. Nabi atau rasul adalah manusia terbaik di atas muka bumi. Pastinya isi wahyu itu sudah dihafal oleh beliau. Meski Allah sudah tidak lagi mengutus nabi dan rasul setelah Muhammad saw, maka umatnya lah yang diberi amanah untuk melanjutkan estafeta perjuangan ini. Yaitu melestarikan kebiasaan belajar al-Qur’an dan mengajarkannya kepada mereka yang belum pandai dan mahir.
Sifat terbaik inilah yang harus diperhatikan umat Islam jika mereka mau menjadi khoiru ummah. Malah sifat terbaik ini akan terus dibawa ketika sang pelakunya sudah kembali menghadap Allah swt. Sungguh, ahli Qur’an adalah generasi terbaik dan unggulan zaman Rasulullah saw dan zaman sekarang. Abu Bakar sendiri yang merupakan binaan Rasulullah saw begitu merasa kehilangan dengan wafatnya para huffaz binaan Rasulullah saw. Gugurnya mereka di perang Yamamah seakan membuat kering ruhiyyah dan gairah hidup mereka. Yang syahid pun tidak tanggung-tanggung, 70 orang.
Sungguh, sifat terbaik yang tidak dimiliki oleh para pengikut nabi dan rasul sebelum Rasulullah saw.
Tahukah anda bahwa kemuliaan seorang penghafal al-Qur’an akan terus Allah pelihara fid dunya wal akhiroh (di dunia dan akhirat)…
Belum berapa lama, ada kisah di salah satu televisi bahwa sebuah jasad yang sudah dikubur puluhan tahun tidak hancur dimakan cacing alias masih utuh. Usut punya usut, ternyata mayat tersebut dahulu adalah seorang pengajar al-Qur’an dan penghafalnya..Subhanalloh! Itulah cara Allah memberikan kemuliaan dan kehormatan kepada mereka. Padahal usia makamnya sudah lebih dari puluhan tahun. Harusnya khan, umumnya jika kuburan biasa yang tinggal hanya tulang-belulang saja. Namun ini berbeda dan penuh hikmah. Nampaknya Allah ingin memperlihatkan kejaiban hamba-Nya dengan al-Qur’an meski jasadnya sudah terkubur. Karena memang al-Qur’an itu sendiri juga adalah wahyu, mukjizat akhir zaman yang akan senantiasa Allah jaga dari penyimpangan, pengotoran isi, pemalsuan dan penodaan. Sungguh, orang yang menjaga al-Qur’an pasti Allah akan menjaganya dalam hidup ini dan di akhirat nanti. (bersambung…)
http://muntadaquran.net/v2/kolom/teladan/1221-menjadi-yang-terbaik-dengan-al-quran.html
Komentar Terbaru