Learn to Be A True Muslimah

Takut Kaya ?

Posted by: annisa1 on: 8 November 2009

Ada suatu hal yang mengganjal di hati saya dan ingin saya ungkapkan. Sebenarnya cita-cita saya bukanlah menjadi orang kaya (secara harta), tapi kaya hati, menjadi orang yang dapat memberikan banyak manfaat ke ummat dengan izin Allah. Aamiin.

Sampai saat ini saya masih belum memahami arti pentingnya menjadi orang kaya walaupun mengetahui bahwa orang kaya pun bisa berbuat banyak amal kebajikan pula, misal shodaqoh, infak, zakat, wakaf, santunan kepada panti asuhan, fakir miskin, janda, membangun sekolah islam, masjid, rumah sakit islam, menjadi donatur lembaga islam, pondok pesantren, perpustakaan islam, memberi dana kontinu untuk media cetak dan elektronik seperti koran, majalah, buku, radio, televisi, dan masih banyak lagi.

Bahkan, ketika bekerja pun saya kadang terlupa bahwa nanti dapat imbalan berupa gaji. . :) Sikap seperti ini dianggap aneh oleh keluarga saya. Menurut saya ini tidak aneh karena saya mengetahui alur berpikir saya bagaimana, tapi bukan berarti hal ini dilupakan. Mungkin ada pendapat dari sahabat yang bisa dituliskan dalam komentar di bawah nanti mengenai urgensinya menjadi orang kaya … :) .

Menurut saya, bekerja adalah untuk taat, untuk ibadah semata-mata kepada Allah. Walaupun saya sadar, ada beberapa pemikiran saya yang masih perlu diperbaiki terus menerus. Akan tetapi, apa yang saya sampaikan ini dikarenakan ada sesuatu yang saya khawatirkan.

Biasanya orang bisa selamat dari ujian (secara umum) saat keadaan mereka tidak memiliki banyak harta. Kebanyakan manusia tidak lulus ujian ketika diberikan harta yang banyak, harta itu melenakan mereka sehingga ketika awalnya bersemangat untuk menuntut ilmu, mengajarkan dan menyebarkannya kemudian menjadi berubah haluan, lebih memilih bisnis dan harta secara berlebihan. Padahal berlebih-lebihan itu temannya syetan. Na’udzubillah.

Apalagi sebagai orang yang bercita-cita menjadi ahlu qur’an, maka tiap hari harus senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran: membaca, memahami, mantadabbburi, mempelajari tafsirnya, mempelajari asbabun nuzulnya, mengamalkannya, lalu mengajarkan dan mendakwahkannya kepada ummat. Selain itu, yang sulit pula adalah menjaga hafalan dengan banyak muraja’ah, menjaga kontinuitas tilawah dan menjaga pengamalan terhadap Al-Quran dan As-Sunnah hingga akhir hayat. Saya sadar, ini sungguh berat. Orang yang tidak mampu atau tidak mau menjalankan amanah ini setelah mendapatkannya maka akan mendapatkan dosa / siksa dari Allah jika belum bertaubat.

Karena ini berat, maka tidak akan bisa dipikul sendirian ketika nanti sudah non-single. Jadi, orang yang hidup bersamanya pun harus bersama-sama menjaga ilmu itu, saling bantu membantu dan saling tolong-menolong untuk menjaganya, dan sesungguhnya Allah-lah yang menjaganya. Intinya, seorang penghafal quran memiliki harapan bahwa pendamping hidupnya itu juga seorang yang hafal quran serta berkeinginan dan bersungguh-sungguh pula untuk menjaga bersama-sama dengannya hingga akhir hayat.

Bisa jadi, dengan menjadi orang kaya, maka kebiasaan membaca Al-Quran luntur, hafalannya mulai menghilang, akhlaknya pun sudah tidak seiring dengan Al-Quran. Na’udzubillah.

Oleh karena itu, sebaiknya seorang hamba sering-seringlah menangis kepada Allah, agar diberikan hati yang kaya, tidak rakus dengan dunia dan dapat tetap hidup sederhana, baik di kala miskin maupun di kala kaya. Selain itu juga memohon kepada-Nya agar diberikan kemampuan untuk menjaga kebersihan hati, ”menjaga” ilmu dan menjaga kontinuitas amal kebajikan……..hingga akhir hayat. Aamiin.

= = = = = = = = = = = = = = = = = =  = = = = = = = = = = = = = = = = =

Ya Allah, tiada kesenangan hamba lagi, kecuali taat tunduk patuh kepada-Mu.

Ya Allah, tiada keinginan hamba lagi, kecuali beribadah sepenuhnya….hanya kepada-Mu.

Ya Allah, hanya kepada-Mu lah tempat kembali.

Kuntum Bunga yang Terjaga (Puisi)

Posted by: annisa1 on: 8 November 2009

Oleh : Annisa Sholihah

Sekuntum bunga mawar tumbuh di rimba…
Sungguh indah mahkotanya, jarang sekali orang dapat melihatnya
Sungguh tajam durinya, belum ada yang berani menyentuhnya
Sungguh unik mahkotanya, tidak ada satu bungapun yang menyamainya

Wahai bunga mawar di rimba…
Jika sang kumbang datang dengan rayuan tari indahnya…
Janganlah engkau langsung tergoda !
Janganlah engkau mudah terpedaya !

Mawar itu bertanya….
Mengapa begitu…?
Bisa saja ia hanya ingin menatap indah mekarmu
Atau hanya ingin mencium bau wangimu

Wahai bunga mawar di rimba…
Jadilah kuntum bunga yang terjaga…
Jadilah BUNGA ISLAM yang terpelihara….

Etika para Penghafal Al Quran (1)

Posted by: annisa1 on: 31 Oktober 2009

Para penghapal Al Quran mempunyai etika-etika yang harus diperhatikannya. Dan mereka mempunyai tugas yagn harus dijalankan, sehingga mereka benar-benar menjadi “keluarga Al Quran”, seperti sabda Rasulullah SAW tentang mereka: “Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia. Beliau ditanya: siapa mereka wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Ahli Al Quran, mereka adalah keluarga Allah SWT dan orang-orang dekat-Nya “

Selalu Bersama Al Quran

Di antara etika itu adalah:selalu bersama Al Quran, sehingga Al Quran tidak hilang dari ingatannya. Yaitu dengan terus membacanya dari hapalannya, atau dengan membaca mushaf, atau juga dengan mendengarkan pembaca yang bagus, dari radio atau kaset rekaman para qari yang terkenal. Berkat ni`mat Allah SWT, di beberapa negara Islam terdapat siaran Al Quran al Karim, yang memberikan perhatian pada pembacaan Al Quran, tajwidnya serta tafsirnya.

Dari Ibnu Umar r.a.:bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Perumpamaan orang yang hapal Al Quran adalah seperti pemilik unta yang terikat, jika ia terus menjaganya maka ia dapat terus memegangnya, dan jika ia lepaskan maka ia akan segera hilang.” Hadits diriwayaktkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan Muslim menambah dalam riwayatnya: “Jika ia menjaganya, dan membacanya pada malam dan siang hari, maka ia dapat terus mengingatnya, sedangkan jika tidak, maka ia akan melupakannya”.

Makna “al mu`aqqalah”adalah: terikat dengan tambang, yaitu tambang yang dipegang karena takut terlepas. Dan pluralnya adalah `uqul.Dari Abdullah bin Mas`ud r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Amat buruk orang yang berkata: “Aku telah melupakan hapalan ayat ini dan ayat itu, namun sebenarnya ia dilupakan. Terus ulang-ulanglah hapalan Al Quran, karena ia lebih cepat pergi dari dada manusia, dari perginya unta dari ikatannya”.

Makna kata “nussia“ adalah: Allah SWT yang membuatnya lupa, sebagai hukuman terhadap kesalahan yang ia lakukan. Dari Abi Musa al Asy`ari r.a. dari Nabi Saw bersabda:“Teruslah jaga hapalan Al Quran, karena Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, ia lebih cepat lepas dari lepasnya unta dari ikatannya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dan riwayat Bukhari dengan kata “asyaddu tafashshian”.

Penghapal Al Quran harus menjadikan Al Quran sebagai temannya dalam kesendiriannya, serta penghiburnya dalam kegelisahannya, sehingga ia tidak berkurang dari hapalannya. Qasim bin Abdurrahman berkata: Aku bertanya kepada sebagian kaum sufi: tidak ada seorangpun yang menjadi teman kesepianmudi sini? Ia mengulurkan tangannya ke mushaf, dan meletakkannya di atas batu dan berkata: inilah teman kesepianku!

 

As Suyuthi berbicara tentang hukum melupakan Al Quran, ia berkata: melupakan hapalan Al Quran adalah dosa besar, seperti dikatakan oleh An Nawawi dalam kitab “Ar Raudhah” dan ulama lainnya. Dengan dalil hadits Abi Daud:“Dosa-dosa umatku diperlihatkan kepadaku, dan aku tidak dapati dosa yang lebih besar dari dosa seseorang yang diberi ni`mat hapal Al Quran atau suatu ayat, kemudian ia melupakannya”. Dan ia meriwayatkan pula hadits: “Siapa yang membaca (hapal) Al Quran namun kemudian melupakannya, maka ia akan bertemu Allah SWT pada hari kiamat dalam keadaan terserang penyakit sopak”.

Demikian pula hadits Ibnu Mas`ud dan Abi Musa sebelumnya. Sedangkan hadits Abi Daud yang pertama, diriwayatkan olehTirmizi, dan ia berkata: hadits itu gharib (atau dha`if). Dan ketika Imam Bukhari ditunjukkan hadits itu, ia tidak mengetahuinya dan melihatnya hadits yang gharib. Sedangkan hadits kedua dikomentari oleh Al Munziri: dalam sanadnya adalah Yazidbin Abi Ziyad, ia tidak dapat dijadikan hujjah, dan ia juga munqathi`.

Jika hadits-haditsyang dijadikan landasan orang yang mengatakan bahwa melupakan Al Quran adalah dosa besar, telah jelas kelemahannya, maka yang tersisa adalah celaan terhadap tindakan melupakan Al Quran itu. Karena sang penghapal itu jarang mengulangnya, namun tidak sampai kepada keharaman, apalagi menjadi dosa besar.

Namun yang paling kuat adalah, ia merupakan perkara yang makruh dengan sangat. Dan tidak pantas bagi seorang Muslim yang memiliki perbendaharaan hapalan Al Quran yang amat berharga ini menyia-nyiakannya, hingga hilang darinya.

Yang membuat kami mengatakan hal ini adalah: kami takut (ancaman dosa besar) ini membuat orang enggan menghapal Al Quran, karena ia mempunyai kemungkinan melupakan hapalannya itu, dan akibatnya ia mendapatkan dosa besar, sementara jika ia tidak menghapalnya sama sekali, ia tidak terancam mendapatkan dosa sedikitpun.

http://layananquran.com/index.php?option=com_content&task=view&id=199&Itemid=9

Etika Para Penghafal Al Qur’an (2)

Posted by: annisa1 on: 31 Oktober 2009

Berakhlak dengan Akhlak Al Quran

Orang yang menghapal Al Quran hendaklah berakhlak dengan akhlak Al Quran. Seperti Nabi Muhammad Saw. Aisyah r.a. pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, ia menjawab: “Akhlak Nabi Saw adalah Al Quran”. Penghapal Al Quran harus menjadi kaca yang padanya orang dapat melihat aqidah Al Quran, nilai-nilainya, etika-etikanya, dan akhlaknya, dan agar ia membaca Al Quran dan ayat-ayat itu sesuai dengan perilakunya, bukannya ia membaca Al Quran namun ayat-ayat Al Quran melaknatnya.

Dari Abdullah bin Amru bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca (menghapal) Al Quran, berarti ia telah memasukkan kenabian dalam dirinya, hanya saja Al Quran tidak diwahyukan langsung kepadanya. Tidak sepantasnya seorang penghapal Al Quran ikut marah bersama orang yang marah, dan ikut bodoh bersama orang yang bodoh, sementara dalam dirinya ada hapalan Al Quran “.

Makna kata “yajidu” adalah dari al wajd atau al wijdan, yang berarti: amat marah atau amat sedih. Dengan pengertian ia dikuasai oleh perasaannya, dan hal itu mempengaruhi perilakunya.

Ibnu Mas`ud r.a. berkata: penghapal Al Quran harus dikenal dengan malamnya saat manusia tidur, dan dengan siangnya saat manusia sedang tertawa, dengan diamnya saat manusia berbicara, dan dengan khusyu`nya saat manusia gelisah. Penghapal Al Quran harus tenang dan lembut, tidak keras, tidak sombong, tidak bersuara kasar atau berisik dan tidak cepat marah.

Ibnu Mas`ud r.a. seakan sedang berbicara kepada dirinya sendiri, karena ia adalah salah seorang imam penghapal Al Quran, dan ia menjadi orang yang betul-betul sesuai dengan prediket penghapal Al Quran. Ibnu Mas`ud juga mengecam orang-orang yang: Al Quran diturunkan kepada mereka agar mereka mengamalkan isinya, namun ia hanya menjadikan kegiatan mempelajari Al Quran itu sebagai amalnya! Salah seorang dari mereka dapat membaca Al Quran dari awal hingga akhirnya tanpa salah satu huruf-pun, namun ia tidak mengamalkan apa yang terdapat dalam Al Quran itu!

Seorang zahid yang terkenal; Fudhail bin `Iyadh, berkata: pembawa (penghapal) Al Quran adalah pembawa bendera Islam, maka ia tidak boleh bermain-main bersama orang-orang yang senang bermain, tidak lupa diri bersama orang yang lupa diri dan tidak bercanda bersama orang yang bercanda, sebagai bentuk penghormatan terhadap hak Al Quran.

Ia berkata: seorang penghapal Al Quran harus tidak butuh kepada orang lain, tidak kepada para khalifah, dan tidak pula kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Sebaliknya, ia harus menjadi tumpuan kebutuhan orang.

Sebagian salaf berkata: “ada seorang hamba yang saat memulai membaca satu surah Al Quran, maka malaikat akan terus berdoa baginya hingga ia selesai membacanya. Dan ada orang yang membaca satu surah Al Quran, namun malaikat terus melaknatnya hingga ia selesai membacanya”. Seseorang bertanya kepadanya: “mengapa bisa terjadi seperti itu?”. ia menjawab: “Jika ia menghalalkan apa yang dihalalkan Al Quran dan mengharamkan apa yang diharamkan Al Quran maka malaikat akan berdoa baginya, namun jika sebaliknya maka malaikat akan melaknatnya!”.

Sebagian ulama berkata: ada seseorang yang membaca Al Quran dan ia sedang melaknat dirinya sendiri, dengan tanpa sadar. Ia membaca: “ala la`natullah `ala azh zhaalimiin” (sesungguhnya laknat Allah diberikan kepada orang-orang zalim), sementara ia adalah orang yang zalim! dan membaca “ ala la`natullah ala al mukdzibiin” (sesunguhnya laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta), sementara ia termasuk golongan yang mendustakan itu!

Inilah makna perkata Anas bin Malik r.a.: Ada orang yang membaca Al Quran, dan Al Quran itu melaknatnya! Al Hasan berkata: Kalian menjadikan membaca Al Quran sebagai stasion-stasion, dan menjadikan malam sebagai unta (kendaraan), yang kalian kendarai, dan dengannya kalian melewati stasion-stasion itu. sementara orang-orang sebelum kalian jika melihat risalah-risalah dari Rabb mereka, maka mereka segera mentadabburinya pada malam hari, dan melaksanakan isinya pada siang hari!

Maisarah berkata: Yang aneh adalah Al Quran yang terdapat dalam diri orang yang senang melakukan perbuatan dosa! Keanehan itu terjadi karena Al Quran berada di satu lembah, sementara akhlak penghapal Al Quran itu dan perilakunya berada di lembah lain! Abu Sulaiman Ad Daarani berkata: Neraka Zabbaniah lebih cepat dimasuki oleh penghapal Al Quran –yang melakukan maksiat kepada Allah SWT—dibandingkan penyembah berhala, saat mereka melakukan maksiat kepada Allah SWT setelah membaca Al Quran!

Sebagian ulama berkata: Jika seorang anak Adam membaca Al Quran kemudian ia berlaku buruk, setelah itu ia kembali membaca Al Quran, Dia berkata kepada orang itu: “Apa hakmu membaca firman-Ku, sementara engkau berpaling dari-Ku?!”. Ibnu Rimah berkata: Aku menyesal telah menghapal Al Quran, karena aku mendengar bahwa orang-orang yang menghapal Al Quran akan ditanyakan dengan pertanyaan-pertanyaan sama yang diajukan kepada para Nabi pada hari kiamat!.

Tidak aneh jika para penghapal Al Quran dari kalangan sahabat adalah mereka yang berada di barisan pertama saat shalat di Masjid, yang berada di garis terdepan saat jihad, dan orang yang pertama melakukan kebaikan di tengah masyarakat. Dalam sebagian peperangan perluasan wilayah Islam, ada orang yang berteriak: wahai para penghapal surah Al Baqarah, hari ini sihir tidak telah lenyap! Seperti terjadi pada perang Yamamah yang terkenal dan dalam perang melawan kelompok murtad. Huzaifah berkata pada hari yang menegangkan itu: wahai para penghapal Al Quran, hiasilah Al Quran dengan amal perbuatan kalian. Pada hari Yamamah (peperangan melawan gerakan riddah) Salim maula Abi Huzaifah, saat ia membawa bendera pasukan Islam, ditanya oleh kaum Muhajirin: “Apakah engkau tidak takut jika kami berjalan di belakangmu?” Ia menjawab: “Sepaling jelek penghapal adalah aku, jika aku sampai berjalan di belakang kalian dalam perang ini!”.

Dalam peperangan Yamamah, saat memerangi Musailimah al Kazzab, sejumlah besar penghapal Al Quran mendapatkan mati syahid, karena mereka selalu berada di barisan terdepan. Hingga ada yang mengatakan: mereka berjumlah tujuh ratus orang. Inilah yang mendorong dilakukannya pembukuan Al Quran, karena ditakutkan para penghapal Al Quran habis dalam medan jihad.

Cara menghapal mereka membantu mereka untuk melaksanakan isi Al Quran itu. Perhatian mereka tidak hanya untuk menghapal kalimat-kalimat dalam Al Quran itu saja. Namun yang mereka perhatikan adalah memahami makna dan mengikutinya, baik dalam bagian perintah maupun larangan.

Imam Abu Amru Ad Dani menulis dalam kitabnya “Al Bayan” dengan sanadnya  dari Utsman dan Ibnu Mas`ud serta Ubay r.a.: Rasulullah SAW membacakan kepada mereka sepuluh ayat, dan mereka tidak meninggalkan ayat itu untuk menghapal sepuluh ayat selanjutnya, hingga mereka telah belajar untuk menjalankan apa yang yang terdapat dalam sepuluh ayat itu. Mereka berkata: kami mempelajari Al Quran dan beramal dengannya sekaligus.

Abdurrazzaq meriwayatkan dalam Mushannafnya dari Abdurrahman As Sulami, ia berkata: Kami, jika mempelajari sepuluh ayat Al Quran, tidak akan mempelajari sepuluh ayat selanjutnya, hingga kami mengetahui halal dan haramnya, serta perintah dan larangannya (terlebih dahulu).

Dalam kitab Muwath-tha Malik ia mengatakan: disampaikan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar mempelajari surah Al Baqarah selama delapan tahun. Hal itu terjadi karena ia mempelajarinya untuk kemudian mengamalkan kandungannya, ia memerintahkan dengan perintahnya, dan melarang dari larangan-larangannya, dan berhenti pada batas-batas yang diberikan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu Ibnu Mas`ud berkata: Kami merasa kesulitan menghapal Al Quran, namun kami mudah menjalankan isinya. Sedangkan orang setelah kami merasakan mudah menghapal kalimat-kalimat Al Quran, namun mereka kesulitan untuk menjalankan isinya.

Dari Ibnu Umar ia berkata: Orang yang mulia dari sahabat Rasulullah SAW dari generasi pertama umat ini, hanya menghapal satu surah dan sejenisnya, namun mereka diberikan rezki untuk beramal sesuai dengan Al Quran. Sementara generasi akhir dari umat ini, mereka membaca Al Quran, dari anak kecil hingga orang buta, namun mereka tidak diberikan rezki untuk mengamalkan isinya!

Mu`adz bin Jabal berkata: “Pelajarilah apa yang kalian hendaki untuk diketahui, namun Allah SWT tidak akan memberikan pahala kepada kalian hingga kalian beramal!”.

http://layananquran.com/index.php?option=com_content&task=view&id=202&Itemid=9

Etika Para Penghafal Al-Qur’an (3)

Posted by: annisa1 on: 31 Oktober 2009

Ikhlash dalam Mempelajari Al Quran

Para pengkaji dan penghapal Al Quran harus mengikhlaskan niatnya, dan mencari keridhaan Allah SWTsemata, dan semata untuk Allah SWT ia mempelajari dan mengajarkan Al Quran itu, tidak untuk bersikap ria (pamer) di hadapan manusia, juga tidak untuk mencari dunia. Imam Al Qurthubi menulis dalam pembukaan tafsirnya “ Bab Tahzir Ahli Al Quran wa al Ilmi min Ar Riya wa Ghairihi” ia berkata:

Allah SWT berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (An Nisaa: 36). Dan Allah SWT berfirman: “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”(Al Kahfi: 110)

Muslim meriwayatkandari Abi Hurairah r.a. ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang pertama kali disidangkan pada hari Kiamat ada seorang yang dinilai mati syahid. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya dibeberkan ni`mat-ni`mat Allah yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakui hal itu. kemudian Allah SWT bertanya: Apa yang engkau lakukan sebagai rasa syukur terhadap ni`mat-ni`mat itu? Ia menjawab: Aku berperang membela-Mu hingga aku mati syahid. Allah SWTmengomentari: “engkau berdusta, karena engkau berperang hanya untuk dikatakan sebagai si pemberani, dan itu sudah dikatakan orang”. Maka vonisnya kemudian diputuskan, dan ia diseret dengan muka menghadap tanah, hingga ia dilemparkan ke neraka.Kemudian seseorang yang telah mempelajari Al Quran, mengajarkannya dan membaca AlQuran. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya dibeberkan ni`mat-ni`mat Allahyang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakui hal itu. kemudian Allah SWTbertanya: Apa yang engkau lakukan sebagai rasa syukur terhadap ni`mat-ni`matitu? ia menjawab: Aku mempelajari Al Quran, dan mengajarkannya kepada manusia,dan aku membaca Al Quran demi-Mu.

Allah SWT mengomentarijawabannya itu: “Engkau berdusta, karena engkau mempelajari Al Quran agardikatakan orang sebagai orang alim, dan engkau membaca Al Quran agar manusiamengatakan: dia seorang qari. Dan itu sudah dikatakan orang. Makavonisnya kemudian diputuskan, dan ia diseret dengan mukamenghadap tanah, hingga ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya seseorang yang AllahSWT berikan keluasan harta, dan kepadanya diberikan seluruh macam kekayaan. Orang itudihadirkan, kemudian kepadanya dibeberkan ni`mat-ni`mat Allah yang telahdiberikan kepadanya, dan ia mengakui hal itu. kemudian Allah SWT bertanya: Apayang engkau lakukan sebagai rasa syukur terhadap ni`mat-ni`mat itu? Iamenjawab: Setiap aku mendapati jalan dan usaha kebaikan yang Engkau senangi agar aku nafkahkan hartaku untuknya, aku segera menginfakkan hartaku demi-Mu.Allah SWT mengomentari jawabannya itu: “Engkau berdusta, karena engkaumelakukan itu semua agar dikatakan sebagai seorang dermawan, dan itu telahdikatakan orang. Maka vonisnya kemudian diputuskan, dan ia diseretdengan muka menghadap tanah, hingga ia dilemparkan keneraka”. At Tirmizi meriwayatkan hadits ini: kemudian Rasulullah SAW menepuklututku dan bersabda: “Wahai Abu Hurairah, tiga orang itu adalah makhluk Allah SWT yang pertama yang dibakar oleh api neraka pda hari kiamat.” Ibnu Abdil Barrberkata: hadits iadalah bagi orang yang berniat dengan ilmu dan amalnya bukan karena Allah SWT.

Diriwayatkan dari NabiMuhammad Saw bahwa beliau bersabda: “Siapa yang mencari ilmu bukan karena Allah–atau ia bertujuan bukan untuk Allah— maka bersiap-siaplah ia menempati tempatnya di neraka”.

Abu Daud dan Tirmizimeriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapayang mempelajari ilmu yang seharusnya semata untuk Allah, namun ia mencarinya untuk mendapatkan dunia, maka ia tidak dapat mencium bau surga pada hari Kiamat”. Artinya: baunya. Tirmizi berkata: hadits ini hasan.

Tirmizi meriwayatkandari Abi Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Berlindunglahkalian kepada Allah SWT dari Jubb al Huzn”. Mereka bertnya: Apa itu Jubb alHuzn wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Ia adalah sebuah lembah di dalam neraka,yang neraka sendiri memohon perlindungan kepada Allah SWT darinya seratus kali setiap hari”. Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah Saw, siapa yang memasuki lembahitu? beliau menjawab: “Para pembaca (penghapal Al Quran)yang memamerkan amal amal mereka”. Ia berkata: hadits ini gharib.

Para penghapal AlQuran dan penuntut ilmu harus bertakwa kepada Allah SWT dalam dirinya, dan mengikhlaskan amalnya kepada-Nya.Sedangkan perbuatan dan niat buruk yang pernah terjadi sebelumnya, maka hendaknya ia segera bertaubat dan kembali kepada Allah SWT, untuk kemudian memulai dengan keikhlasan dalam menuntut ilmu dan beramal.

`Alqamah meriwayatkandari Abdullah bin Mas`ud ia berkata: apa yang akan kalian lakukan jika kalian mendapatkan fitnah yang membuat anak kecil menjadi segera menjadi dewasa dan membuat orang tua menjadi tua renta, dan itu dijadikan “sunnah” (tradisi) yangdiikuti oleh manusia, jika hal itu ia merubah sedikit saja hal itu, maka ada yang segera mengatakan: Apakah engkau mau merubah sunnah?! Seseorang bertanya: kapanitu terjadi wahai Aba Abdirrahman? Ia menjawab: hal itu terjadi jika para qurra (pembaca dan penghapal Al Quran) kalian banyak, namun sedikit ulama sejati kalian, para pemimpin kalian banyak, namun sedikit mereka yang jujur dan amanah, engkau mencari dunia dengan amal akhirat, dan mempelajari agama bukan untuk tujuan agama.

Sufyan bin `Uyaynah berkata: Kami mendapat berita bahwa Ibnu Abbas berkata: kalau para penghapal AlQuran mengambilnya dengan haknya dan apa yang seharusnya, niscaya mereka akan dicintai oleh Allah SWT. Namun mereka mencari dunia dengan AlQuran itu, sehingga Allah SWT marah terhadap mereka, dan merekapun menjadi hina di hadapan manusia.

Diriwayatkan dari AbuJa`far bin Ali dalam firman Allah SWT: “Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan kedalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat.” ( Asy Syu`araa: 94), ia berkata:mereka adalah kaum yang menceritakan kebenaran dan keadilan dengan lidah mereka, namun mereka justru melakukan yang sebaliknya!

http://layananquran.com/index.php?option=com_content&task=view&id=204&Itemid=9

Jangan Kau Buang Potensimu Wahai Penuntut Ilmu

Posted by: annisa1 on: 15 Oktober 2009

Oleh: Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Abdul Karim

Kita lihat di antara barisan para penuntut ilmu ada orang-orang yang dianugerahi kemampuan yang agung, yang luar biasa, yang membuat mereka pantas mendapat kemuliaan ilmu. Hanya saja cita-cita mereka yang rendah menghancurkan anugerah tersebut, menghilangkan eloknya keunggulan mereka, sehingga engkau dapati mereka merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, mereka tidak suka membaca dan menelaah, mereka sering terlalaikan dari menuntut ilmu.

Betapa cepatnya mereka melepaskan potensi ini dan menghilangkan berkah waktu-waktu mereka. Hal itu terjadi karena kufur nikmat. Tentu saja ini menyebabkan nikmat tersebut pergi, sebagaimana syukur nikmat adalah penyeru untuk penambahan nikmat tersebut.
Al-Farra’ rahimahullah berkata,

“Tidaklah aku merasa kasihan pada seseorang seperti rasa kasihanku kepada dua orang: Seorang yang menuntut ilmu, namun dia tidak mempunyai pemahaman, dan seorang yang paham tetapi tidak mencarinya. Dan aku sungguh heran dengan orang yang lapang untuk menuntut ilmu tetapi dia tidak belajar.” (Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi, 1/103)

Ibnul Jauzi rahimahullah memberi keterangan perkataan Abith Thayyib Al-Mutanabbiy:

Aku tidak melihat aib-aib manusia sebagai aib
Seperti kekurangan orang-orang yang mampu untuk sempurna

Ibnul Jauzi berkata,
“Seharusnya seorang yang berakal berhenti pada puncak yang memungkinkan baginya. Apabila tergambar bagi anak Adam tingginya langit, sungguh aku memandang bahwa keridhaanya dengan bumi termasuk kekurangan yang paling buruk.

Kalau seandainya kenabian diperoleh dengan kesungguh-sungguhan, aku melihat orang yang merasa tidak butuh untuk memperolehnya berada dalam tempat yang rendah. Jalan hidup yang indah menurut ahli hikmah adalah keluarnya jiwa kepada puncak kesempurnaanya yang memungkinkan baginya dalam berilmu dan beramal.”

Beliau juga berkata,
“Secara global, dia tidak meninggalkan keutamaan yang mungkin ia peroleh kecuali dia berusaha memperolehnya. Sesungguhnya rasa puas adalah keadaan orang-orang rendahan.

Maka jadilah seorang lelaki yang kakinya menghujam di bumi
Sedangkan cita-citanya setinggi bintang Tsurayaa

Kalau memungkinkan bagimu untuk melampaui setiap ulama dan orang-orang yang zuhud, maka lakukanlah. Mereka itu laki-laki, engkau juga laki-laki. Dan tidaklah seseorang duduk kecuali karena rendahnya dan hinanya cita-citanya.

Ketahuilah bahwa kamu berada dalam ajang perlombaan, sedangkan waktu-waktu akan habis. Maka, janganlah engkau kekal menuju kemalasan. Tidaklah luput sesuatu kecuali dengan kemalasan. Dan tidaklah dicapai sesuatu kecuali dengan kesungguhan dan tekad.” (Shaidul Khatir hal. 159-161.)

Wahai orang yang melihat pada dirinya ada tanda-tanda keunggulan dan kecerdasan, janganlah engkau mengharapkan satu pengganti dari ilmu. Janganlah engkau tersibukkan dengan selainnya selamanya. Jika engkau enggan, maka semoga Allah memberikan kemuliaan pada dirimu, dan memperbesar pahala muslimin padamu. Betapa sangat kerugianmu dan betapa besar musibahmu.

Tinggalkan darimu mengingat hawa nafsu dan para pencintanya
Bangkitlah ke tempat yang tinggi, di sana ada mutiara
Yang menghibur dengan tempat dakiannya dari setiap yang berharga
Dan dari nikmat dunia, yang hakikat jernihnya adalah keruh
Dan dari teman di sana yang melalaikan teman-teman duduknya
Dan dari taman yang diselubungi cahaya dan bunga-bunga
Bangkitlah menuju ilmu dengan kesungguhan tanpa rasa malas
Seperti bangkitnya seorang hamba kepada kebaikan dengan segera
Bersabarlah dalam memperolehnya dengan kesabaran kemuliaan baginya
Tak akan mencapainya orang yang tidak bersabar

(Qasidah Asy-Syaikh As-Sa’di, sebagaimana dalam Al-Fatawa, 647)

Dan sesungguhnya, termasuk perkara-perkara yang bermanfaat yang dapat membantu tingginya cita-cita yaitu melihat jalan hidup para salaf radhiyallahu ‘anhum. Sesungguhnya keadaan mereka adalah puncak kesempurnaan secara ilmu dan amal. Jika seorang penuntut ilmu melihatnya dan menganggap rendah diri dan sedikit ilmu, maka dia akan berusaha untuk mengejar mereka dan meniru mereka. Dan barangsiapa meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.

Ibnul Jauzi berkata,
“Demi Allah, ingatlah wajib atas kalian untuk memperhatikan jalan hidup salaf serta menelaah tulisan-tulisan mereka dan kabar-kabar mereka. Sungguh memperbanyak dalam menelaah kitab-kitab mereka adalah seperti melihat mereka.”

Beliau juga berkata,
“Hendaklah dia memperbanyak menelaah (kehidupan salaf –ed.), sungguh ia akan melihat ilmu-ilmu salaf, dan tingginya cita-cita mereka yang menajamkan pikirannya, dan menggerakkan tekadnya untuk bersungguh-sungguh.” (Shayyidul Khatir, 440)

(Sumber: Awaiqut Thalab karya Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Abdul Karim, halaman 46-48).

Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com

Cinta Al-Quran dan Cara Merealisasikannya

Posted by: annisa1 on: 15 Oktober 2009

Ramadhan adalah bulan cinta dan baca Alqur’an. Pada bulan ini terdapat sebaik – baiknya malam yaitu Lailatul qodr yang mana Alqur’an, sebaik – baiknya perkataan turun di malam ini. Malaikat Jibril sebaik – baik malaikat, memperdengarkan Alqur’an kepada sebaik – baiknya makhluq yaitu Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alahi Wasallam pada malam ini.

Utsman ibn ‘Affan radiyallahu ‘anhu mengkhatamkan Alqur’an setiap hari di bulan Ramadhan.Para ulama salaf dahulupun sangat mengagungkan bulan Ramadhan dan mengisinya dengan banyak membaca dan mentadabburi Alqur’an. Bahkan diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah dapat mengkhatamkan Alqur’an di bulan yang agung ini sebanyak enampuluh kali. Mereka adalah para manusia yang cinta Alqur’an. Hati mereka selalu melekat pada Alqur’an. Kemanapun mereka pergi dan kapanpun, Alqur’an selalu berada di hati mereka.

Marilah kita berusaha untuk cinta Alqur’an sebagaimana para pendahulu kita cinta Alqur’an. Alqur’an adalah petunjuk jalan hidup kita. Hanya dengannyalah kita bisa berbahagia di dunia dan akhirat.

Tanda – Tanda Cinta Alqur’an

Hati yang sudah cinta terhadap Alqur’an mempunyai beberapa tanda di antaranya :

  • Gembira bila bersua dengannya
  • Duduk membacanya dalam waktu yang lama tanpa bosan dan jemu.
  • Merasa rindu bila terhalang membacanya beberapa waktu dan berusaha untuk selalu dekat dengannya.
  • Selalu merujuk kepada Alqur’an dan memgambil nasihat – nasihat yang ada di dalamnya bila menemukan kesulitan hidup, baik berat ataupun ringan
  • Mentaati hukum – hukum dalam Alqur’an baik perintah ataupun larangan.

Inilah tanda – tanda terpenting dari cinta Alqur’an. Bilamana tanda – tanda ini ada, berarti cinta Alqur’an itu ada, bila tidak , berarti cinta telah pergi dan tiada. Bila sebagian tanda kurang, berarti kurang pula cinta itu sesuai kekurangan tadi.

Sudah semestinya bagi setiap muslim untuk bertanya kepada dirinya sendiri : “apakah saya sudah cinta Alqur’an?”

Pertanyaan yang sangat penting dan meresahkan hati. Jawabannya pun lebih meresahkan lagi, karena jawaban dari pertanyaan itu mengandung banyak sekali maksud dan penafsiran.

Sebelum anda menjawab pertanyaan anda sendiri tadi, alangkah baiknya anda kembali melihat tanda – tanda di atas.
Sebagian orang kalau ditanya : “Anda cinta Alqur’an ?”
Dia menjawab :” Ya, tentu saya cinta Alqur’an. Bagaimana mungkin tidak…”
Tapi apakah dia benar dengan jawabannya itu? Bagaimana mungkin dia cinta Alqur’an, sedangkan untuk duduk bersamanya selama beberapa menit saja tidak sanggup. Padahal kalau dia bersama dengan apa yang ia sukai, dia akan bersamanya berjam – jam.

Abu Ubaid rahimahullah berkata : “ Seorang hamba bisa bertanya kepada dirinya hanya dengan Alqur’an. Bila cinta Alqur’an, maka sungguh dia cinta Allah dan RasulNya”

Kalau tanda – tanda cinta Alqur’an di atas tidak ada pada kita, sungguh kita harus mengakui kelalaian dan kekurangperhatian kita terhadap Alqur’an. Setelah itu, kita berusah sekuat tenaga untuk merubahnya.

Cara Merealisasikan Cinta Alqur’an

Cara Pertama : Bertawakal dan Minta Pertolongan Kepada Allah Ta’ala

Yaitu kita minta pertolongan Allah dan berdoa kepadaNya untuk dianugerahi cinta Alqur’an. Di antaranya berdoa dengan doa agung yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda :

“Tidaklah seorang hamba apabila terkena musibah atau kesedihan, kemudian dia berdoa :

اللهم إني عبدك وابن عبدك وابن أمتك ناصيتي بيدك ماض في حكمك عدل في قضاؤك أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو علمته أحدا من خلقك أو أنزلته في كتابك أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن ربيع قلبي ونور صدري وجلاء حزني وذهاب همي إلا أذهب الله همه وحزنه وأبدله مكانه فرجا

Kecuali Allah akan menghilangkan lara dan sedihnya dan menggantinya dengan kebahagiaan”. Para Shahabat berkata : “Wahai Rasulullah sepantasnyalah kita belajar kalimat – kalimat doa ini” Rasulullah menjawab :” Benar. Sudah sepantasnya orang yang mendengar ini untuk mempelajarinya” (HR. Ahmad, Dishahihkan oleh Albani)

Hendaklah setiap hari doa ini diulang berkali – kali sambil memilih waktu – waktu yang mustajab. Bersungguh – sungguh waktu memohon, merendahkan diri, terus mengulang doa dan sangat mengharap agar doanya diijabah dan dikabulkan. Karena sebagian orang mengulang – ulang doanya hanya pada perkara duniawi yang bersifat materil saja. Adapun kalau urusan agama, doanya kering dan tak ada kesungguhan. Itupun kalau dia berdoa…
Cara Kedua : Menghadirkan Penyebab – Penyebab Cinta Alqur’an

Penyebab cinta Alqur’an yang paling utama adalah ilmu dan caranya dengan membaca. Yaitu membaca tentang keagungan Alqur’an yang disebutkan di dalam Alqur’an,as-Sunnah dan perkataan para ulama salaf tentang cinta dan pengagungan mereka terhadap Alqur’an.

Disarankan bagi setiap orang yang ingin mendapatkan cinta Alqur’an untuk membuat suatu program, dimana dia menulis beberapa teks dari Alqur’an, as-Sunnah dan perkataan ulama salaf yang menjelaskan tentang derajat dan keagungan Alqur’an. Kemudian dijadikan dua bagian, yaitu matan( naskah asli) dan syarh (Penjelas dari matan ). Matan untuk dihafal dan diulang – ulang, adapun syarh untuk dibaca dan difahami. Lalu dikorelasikan antara matan dan syarh.

Diharapkan bagi yang menerapkan program ini agar di beri oleh Allah Subhanahu Wata’ala kecintaan dan pengagungan terhadap Alqur’an. Dimana cinta Alqur’an itu adalah kunci utama untuk memahami dan mentadabburi Alqur’an.

Maka perbanyaklah membaca hal – hal tentang Alqur’an, bacalah dengan kontinyu kabar – kabar dan kisah – kisah dari ulama salaf tentang bagaimana mereka berinteraksi dengan Alqur’an.

Karena mesti kita ketahui bahwa kekurangcintaan kita pada Alqur’an penyebabnya adalah ketidaktahuan kita terhadap nilai dan ketinggian Alqur’an. Seperti anak kecil yang yang menolak diberi uang 500 ribu dan minta seribu rupiah. Begitu juga orang yang tidak tahu ketinggian Alqur’an, dia tinggalkan Alqur’an, tidak butuh padanya dan lebih memilih apa – apa yang sebenarnya lebih rendah dari Alqur’an.

Kalaulah diiklankan akan ada lomba telaah buku dan pemenangnya akan mendapatkan hadiah berpuluh – puluh juta, bagaimanakah respon dan antusiasme masyarakat? Dan bagaimana antusias mereka untuk berusaha mencari dan menelaah buku tersebut ? Padahal sesungguhnya Alqur’an adalah buku ( kitab ) dimana yang berhasil berinteraksi dengan kitab ini, dia akan mendapatkan hadiah kerajaan yang tak terbatas.

Banyak sekali orang Islam yang cintanya terhadap Alqur’an adalah cinta yang umum dan tidak mendetail. Pengetahuan mereka hanya terbatas bahwa Alqur’an turun dari Allah Ta’ala, Membacanya dalam sholat adalah ibadah dan Alqur’an dibaca untuk penyembuh orang sakit. Adapun pengetahuan secara terperinci tentang keagungan ketinggian Alqur’an mereka tidak mengetahuinya.

Hal ini kita contohkan dengan apabila kita mendengar seorang tokoh besar dalam sejarah dan kita mengaguminya, namun kita mengetahui cerita hidupnya secara umum saja tanpa mendetail. Ketika kita membaca buku setebal 600 halaman tentang kepahlawanannya, pengorbanannya, kemuliaan dan kebaikannya kepada manusia, keberhasilan yang telah diukirnya, dan kita membacanya dengan antusias huruf – perhuruf, maka sungguh pasti gambaran tentang tokoh ini semakin jelas dan pengetahuan tantangnya semakin dalam, bertambah pulalah cinta dan kekaguman kita padanya. Keterpengaruhan seperti ini adalah hal yang sudah terbukti dan tidak bisa diingkari.

Lalu kenapa kita tidak melakukannya untuk menambah kecintaan dan pengagungan kita terhadap Alqur’an? Karena kalau kita melakukannya, maka sungguh kitab yang sangat agung ini akan menambah cinta dan pengagungan kita kepada Allah ‘Azza Wajalla. Dan dengan ini kita bisa mencapai derajat dan kedudukan para wali – wali Allah yang bertaqwa,yaitu orang – orang tidak merasa takut dan tidak pula bersedih hati, orang – orang yang kalau satu di antara mereka bersumpah, Allah akan mengabulkan sumpahnya dan memberikan segala angan – angannya.

Di bulan Ramadhan yang sebaik – baik bulan ini, adalah momen yang sangat tepat untuk merealisasikan harapan kita bersama ini, yang mungkin telah hilang atau bahkan belum pernah hadir dalam hati kita. Mari terus berusaha dan janganlah kita berputus asa.
Wallahu A’lam.

( Abu Maryam, diambil dari kitab Mafatih Tadabbur Alqur’an karya Syaikh Khalid ibn Abdil Karim )

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatquran&id=122

Agar Kita Cinta Quran

Posted by: annisa1 on: 15 Oktober 2009

Mencintai al-Qur’an adalah sebuah kenikmatan, yang tidak akan bisa dirasakan oleh orang yang belum pernah mendapatkannya. Karena itu setiap muslim pasti menginginkan agar dirinya bisa mencintai al-Qur’an. Lalu bisa mengajak keluarganya agar mencintai al-Qur’an, supaya bisa merasakan kenikmatan hidup bersama al-Qur’an.

Namun persoalannya, bagaimanakah cara menumbuhkan rasa cinta terhadap al-Qur’an ini? Persoalan inilah yang dirasakan oleh kebanyakan kaum muslimin.

Persoalan cinta adalah persoalan hati. Sementara kita tidak sanggup menguasai hati kita sendiri. Hati seseorang terletak di tangan Allah. Dia membuka dan menutup hati kapan saja Dia menghendaki, dengan hikmahNya, serta ilmuNya. Firman Allah ;

dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya (al-Anfal:24)

Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, (al-Kahf:57)

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa”. (al-A’raf:163)

Dan Allah telah menjadikan sebab-sebab dan wasilah-wasilah agar hati terbuka atau tertutup. Orang yang meniti jalannya maka ia akan mendapatkan tawfiq, dan orang yang menyelisihi jalannya maka ia akan dibiarkan berada di dalam kesesatan.

Apabila hati mencintai sesuatu maka ia akan tergantung kepadanya, merindukannya, menyukainya dan memutuskan segala hubungan dengan selainnya. Jika hati telah mencintai al-Qur’an, ia akan merasakan nikmat dengan membacanya. Ia akan berusaha memadukan antara pemahaman qur’ani dengan kesadaran qur’ani. Sebaliknya, apabila pada seseorang tidak ada kecintaan, maka hati ini akan sulit menerima al-Qur’an, tunduk kepada Al-Qur’an terasa berat, dan tidak akan bisa dilakukan melainkan setelah melalui perjuangan yang berat.

Realitas menunjukkan benarnya pernyataan di atas. Sebagai contoh, seorang pelajar yang memiliki semangat, kesukaan, dan kecintaan pada suatu pelajaran, maka ia akan cepat menguasai apa yang telah diajarkannya, dia akan segera menyelesaikan tugas dan kewajibannya dalam waktu yang singkat. Sebaliknya, siswa yang tidak suka maka ia tidak akan bisa menguasai pelajaran yang sudah disampaikan kecuali setelah mengulang-ulangnya berkali-kali. Dia menghabiskan banyak waktu untuk mempelajarinya, dan tidak bisa menyelesaikan tugas dan kewajibannya dengan baik.

Tanda-tanda cinta kepada al-Qur’an
Ada beberapa hal yang menandakan adanya kecintaan kepada al-Qur’an di dalam hati, di antaranya adalah

1- sebagaimana cintanya seseorang pada sesuatu, cinta pada al-Qur’an pun ditandai dengan kesukaannya bertemu dengannya.

2- Duduk bersama dan membaca al-Qur’an dalam waktu yang panjang tanpa merasa bosan

3- Jika jauh darinya maka ia akan merindukannya, dan selalu mengharap bisa segera menjumpainya.

4- Banyak berdialog dengannya dan meyakini petunjuk dan arahannya serta kembali kepadanya ketika menghadapi berbagai problematika hidup, baik persoalan kecil maupun besar.

5- Mentaatinya, baik dalam perintah maupun larangan

Inilah tanda-tanda terpenting adanya kecintaan kepada al-Qur’an. Jika tanda-tanda itu ada pada seseorang, maka kecintaannya kepada al-Qur’an itu ada. Dan jika tidak ada tanda-tanda tersebut pada diri seseorang, maka kecintaannya kepada al-Qur’an pun tidak ada. Tetapi jika ada sebagian tanda-tanda tersebut, dan sebagian lagi tidak ada padanya, maka kecintaannya kepada al-Qur’an itu tidak sempurna. Ketidaksempurnaannya berbanding lurus dengan kurangnya sifat-sifat tersebut di dalam pribadinya.

Cara merealisasikan Cinta pada al-Qur’an

1- Bertawakkal dan memohon bantuan kepada Allah.

Oleh karena cinta itu letaknya di hati, dan hati berada di dalam genggaman Allah, maka memohon bantuan kepada Allah dan berdo’a kepadaNya agar Dia memberikan karunia cinta kepada al-Qur’an adalah media terpenting agar kita bisa mencintai al-Qur’an. Di antara do’a yang ma’tsur untuk bisa mendapatkan cinta al-Qur’an ini adalah;

عن ابن مسعود _ قال : قال رسول الله § : “ما قال عبد قط إذا أصابه هم أو حزن : اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك ناصيتي بيدك ماض في حكمك عدل في قضاؤك أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلبي ونور صدري وجلاء حزني وذهاب همي إلا أذهب الله همه وأبدله مكان حزنه فرحا قالوا يا رسول الله ينبغي لنا أن نتعلم هذه الكلمات قال أجل ينبغي لمن سمعهن أن يتعلمهن”

Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata; rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa kesusahan dan kesedihan kemudian dia berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hamba laki-lakiMu, dan anak hamba perempuanMu, ubun-ubunku di tanganMu, berlaku kepadaku hukumMu, adil atasku QadhaMu (keputusanMu), aku meminta kepadaMu dengan seluruh nama-namaMu (yaitu) yang Engkau namakan diri Engkau dengan nama tersebut, atau yang Engkau turunkan di kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada kepada salah satu hambaMu, supaya Engkau menjadikan al-Qur’an penyiram hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihanku, penghilang kecemasan dan kegelisahan, kecuali Allah akan menghilangkan kesusahannya dan menggantinya dengan kesenangan.” Para shahabat bertanya, wahai rasulullah, seharusnya kita mengetahui kalimat do’a ini? Beliau menjawab, “tentu, seharusnya orang yang telah mendengarnya mempelajarinya (HR Ahmad)

Do’a itu dibaca berulang-ulang. Setiap hari diulang tiga kali, lima kali bahkan sampai tujuh kali. Selain itu dalam mengalunkan doanya juga harus mengambil watu-waktu istijabah. Kemudian dalam berdo’a harus benar-benar meminta, merendahkan diri, penuh kehangatan, dan sangat berharap agar bisa dikabulkan.

2- Memahami Keagungan al-Qur’an
Membaca keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan tentang keagungan al-Qur’an, baik yang ada di dalam al-Qur’an sendiri, Sunnah nabi, ataupun pendapat-pendapat kaum salaf. Dengan mengetahui keagungan al-Qur’an kecintaan akan tumbuh. Sebaliknya karena ketidaktahuan akan keagungan al-Qur’an maka tidak akan tumbuh rasa cinta kepada al-Qur’an. Kita bisa mengibaratkan dengan seorang anak kecil, diberikan uang seratus rupiah logam dengan uang seratus ribu kertas, ia akan memilih seratus logam dan meninggalkan seratus ribu kertas, karena ia tidak mengetahui nilai mata uang tersebut. Demikianlah, jika kita tidak mengetahui nilai al-Qur’an, kita tidak mengetahui keagungan al-Qur’an, kita akan mudah meninggalkan al-Qur’an demi mengejar sesuatu yang lebih rendah.

Karena itu, orang-orang yang menghendaki tumbuhnya rasa cinta kepada al-Qur’an hendaklah membuat program rutin untuk membaca dan mengkaji riwayat-riwayat atau pun penjelasan-penjelasan tentang keagungan al-Qur’an. Kemudian ia juga harus mempelajari bagaimana cara mewujudkan cintanya kepad al-Qur’an itu.

Kebanyakan kaum muslimin hari ini mencintai dan menghormati al-Qur’an masih dalam bentuk global. Ia hanya sebatas meyakini bahwa kitab ini adalah kitabullah yang suci. Membacanya adalah ibadah, maka harus berwudlu terlebih dahulu. Kalau ada orang sakit, apalagi kalau sudah akan mati, maka dibacakan kepadanya untuk meringankan penderitaannya. Tetapi umat islam ini belum menghormati dan mencintainya dalam arti yang tepat.

Al-Qur’an sesungguhnya adalah kitab petunjuk hidup manusia. Bukan petunjuk hidup di akhirat, tetapi petunjuk hidup manusia di dunia ini. Tetapi al-Qur’an sebagai kitab petunjuk untuk meraih kesuksesan hidup di alam dunia ini masih kurang tersosialisasi. Karenanya membaca al-Qur’an hanya satu halaman terasa sudah berjam-jam lamanya. Sebaliknya ketika mengotak-atik rumus matematika, berjam-jam pun kuat. Demikian juga ketika membaca novel ayat-ayat cinta, laskar pelangi, supernova dan lain-lainnya, bisa khatam dalam semalam…..

= = = = =

http://abahzacky.wordpress.com/2009/02/24/agar-kita-cinta-al-quran/

Engkaukah Muslimah Sejati itu?

Posted by: annisa1 on: 6 Oktober 2009

Muslimah Sejati itu…

Calon bidadari surga Allah…

Kecantikannya…

lebih CANTIK dari MATAHARI…

Akhlaknya…

lebih HARUM dari MINYAK WANGI…

Cintanya…

lebih SEGAR dari RINTIK HUJAN…

Maka…,

jagalah ia dengan KEIMANAN dan KETAQWAAN…

* * *

Muslimah sejati…

bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona,

tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

Muslimah sejati…

bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan,

tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.

Muslimah sejati…

tidak dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya,

tetapi dilihat dari apa yang sering dibicarakan mulutnya.

Muslimah sejati…

bukan dilihat dari keahliannya berbahasa,

tetapi dilihat dari bagaimana caranya berbicara.

Muslimah sejati…

bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian,

tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

Muslimah sejati…

bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang dijalan,

tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang menyebabkan orang lain tergoda.

Muslimah sejati…

bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani,

tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

= = = = =

Engkaukah Calon Bidadari Surga itu?

Engkaukah Muslimah Sejati itu?


nilai skripsiku – cum laude

Posted by: annisa1 on: 6 Oktober 2009

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Alhamdulillah, senyum terukir di hatiku….

hari ini aku mengetahui nilai skripsiku, alhamdulillah, dapat nilai A (cum laude)… ^_^

Judul Skripsi: “Pengukuran Karakteristik Akustik Ampas Singkong dengan Metode Tabung impedansi Dua Mikrofon”


Berikut perincian nilainya:

Nilai Seminar Skripsi :

Pembimbing I : 95

Pembimbing II : 100

Rata-rata nilai seminar skripsi : 97.5

Nilai Pelaksanaan Skripsi :

Pembimbing I : 100

Pembimbing II : 95

Rata-rata nilai pelaksanaan skripsi : 97.5

Nilai Ujian :

Penguji I : 99

Penguji II : 86

Penguji III : 75

Penguji IV : 80

nilai rata-rata ujian skripsi : 85.0

- – -

Total : 730    Nilai Akhir : 92.5    Nilai : A

- – -

Total SKS : 157

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nya : 3.59

Predikat : Cum Laude (lulus dengan pujian)

* * *

Alhamdulillah, ini semata-mata karunia Allah,

alhamdulillah, ini semata-mata pemberian Allah…

= = = = =

Haadzaa min fadhli Rabbiy…,

liyabluwaniy a-asykuru am akfur…

Ya Allah, masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang banyak bersyukur kepadamu, ya Rabb…

Aamiin…

Arsip

Kategori