Learn to Be A True Muslimah

Menghafalkan Al-Qur’an di Usia 82 Tahun

Posted by: annisa1 on: 22 November 2009

Ummu Shalih, Seorang Nenek yang Menghafalkan Al-Qur’an di Usia 82 Tahun

alnaadi15Alhamdulillah, Allah berfirman:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quraan untuk pelajaran, maka adakah  orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar [54] : 32)

Banyak orang di seluruh dunia menghafal Al-Qur’an, dan tidak aneh melihat seorang anak menghafal Al-Qur’an dan di usia yang sangat muda. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Al-Qur’an mudah untuk dihafalkan, telah menjadikanya mudah bagi Ummu Shalih yang berusia 82 tahun. Dalam wawancara bersama Ummu Shalih, ia ditanyai sejumlah pertanyaan berikut:

Pertanyana: “Alasan apa yang mendorong anda untuk menghafal Al-Qur’an setelah sekian tahun berlalu?”

Ummu Shalih: “Aku selalu berharap menghafalkan Al-Qur’an sejak aku masih muda. Ayaku selalu berdoa kepada Allah bagiku agar menjadi orang yang menghafal Al-Qura’n sebagaimana dirinya dan saudaras-saudara laki-laki yang lebih tua di dalam keluargaku yang menghafalkan Al-Qur’an. Maka aku mulai menghafal tiga bagian dan menamatkannya di usia 13 tahun. Aku menikah dan menjadi sibuk dengan urusan rumah tangga dan anak-anak. Setelah memiliki tujuh orang anak, suamiku meninggal. Anak-anakku mash kecil maka aku menghabiskan waktu untuk membesarkan dan mendidik mereka, dan setelah mereka dewasa dan menikah, aku memiliki lebih banyak waktu untuk diriku sendiri. Oleh karena itu, hal pertama yang aku lakukan adalah memusatkan pertahian pada Al-Qur’an.

Pertanyaan: Ceritakanlah kepada kami perjalanan anda bersama Al-Qur’an.”

Ummu Shalih: “Anak perempuanku yang paling kecil masuk SMA dan dia adalah anak yang paling dekat denganku dan yang paling kucintai, karena dia tinggal bersamaku setelah kakak-kakak perempuannya menikah dan sibuk dengan kehidupan mereka sendiri, dan karena dia adalah gaids pendiam, shalihah dan penuh cinta dan baik. Apalagi, dia tertarik mempeelajari Al-Qur’anul Karim, dan guru-gurunya mendorongnya. Ditambah lagi dia sangat antusias dan selalu menceritakan kepadaku banyak wanita yang terdorong oleh motivasi besar untuk menghafal Al-Qur’an, dan disinilah aku memulai.”

Pertanyaan: “Ceritakanlah bagaimana cara anda menghafal.”

Ummu Shalih: “Kami menetapkan 10 ayat (maksudnya dia dan anak perempuannya yang masuk SMA). Setiap hari setelah Ashar kami duduk bersama. Dia membaca dan aku mengulanginya tiga kali. Kemudian dia menerangkan artinya kepadaku, dan setelah beberapa saat dia mengulanginya tiga kali. Pada hari yang berikutnya, dia mengulanginya tiga kali sebelum berangkat ke sekolah. Dia juga merekam bacaan Syaikh al-Husary rahimahullah, mengulangi setiap ayat tiga kali dan begitulah aku melanjutkan mendengarkannya hampir sepanjang waktu. Kemudian pada hari berikutnya kami akan melanjutkan pada 10 ayat berikutnya jika hafalanku baik. Jika tidak, kami akan menunda menghafal ayat berikutnya sampai hari berikutnya lagi. Lebih lanjut, kami menetapkan hari Jum’at untuk meninjau kembali hafalan selama satu minggu. Dan inilah perjalanan dari awal”

Kemudian Ummu Shalih berkata: “Setelah 4,5 tahun aku telah menghafal 12 juz menurut cara yang aku jelaskan kepada anda. Kemudian anakku menikah. Ketika suaminya mengetahui kegiatan kami mengenai hafalan, dia menyewa rumah dekat denganku, dekat dengan rumahku, sehingga memungkinkan untuk melanjutkan kegiatan hafalan. Lebih lanjut, dia, semoga Allah memberikan pahala baginya, selalu mendorong kami dan kadang-kadang duduk bersama kami mendengarkan, menjelaskan, dan mengajarkan. Kemudian setelah tiga tahun perkawinannya, anakkmu mulai sibuk dengan anak-anak dan urusan rumah tangganya, dan jadwal kami pun terganggu, akan tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah. Bahkan, dia melihat hasratku untuk menghafal masih tetap ada, dia mencarikan guru khusus untuk melanjutkan kegiatan tersebut di bawah pengawasannya. Akhirnya aku menamatkan hafalan dengan pertolongan Allah, dan anakku masih berusaha menamatkan hafalannya terhadap Al-Qur’anul Adzim. Dia masih ketinggalan sedikit insya Allah.

Peertanyaan: “Motivasimu (untuk menghafal –pent.), apakah mempengaruhi wanita-wanita lain di sekelilingmu?”

Ummu Shalih: “Itu benar-benar memberikan dampak baik yang kuat. Anak-anak perempuanku dan anak-anak perempuan (dari suami terdahulu) semuanya terdorong dan berussaha untuk belajar dan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak mereka dan belajar bagi diri mereka sendiri.

Pertanyaan: “Setelah menamatkan Al-Qur’an, tidakkah anda berpikir untuk mulai menghafalkan hadits?”

Ummu Shalih: “Sekarang aku telah menghafalkan 90 hadits dan insya Allah aku akan terus melakukannya. Hafalanku tergantung pada rekaman dan siaran radio Qur’an. Di akhir setiap minggu, anak perempuanku datang dan mengecek tiga hadits fahalanku, dan aku sekarang mencoba menghafalkan lebih banyak lagi.

Pertanyaan: “Selama menghafalkan Al-Qur’an, apakah hidup anda berubah? Apakah hal itu mempengaruhi hidupmu?”

Ummu Shalih: “Ya, aku mengalami perubahan besar dan aku selalu mencoba, segala puji bagi Allah, untuk taat kepada Allah sebelum mulai menghafal. Namun demikian, setelah aku mulai tugas menghafalkan, aku mulai merasakan kepercayaan diri, kepercayaan diri yang besar dan semua kekhawatiran perlahan-lahan sirna. Aku bahkan mencapai tingkat membebaskan diriku dari semua kekhawatiran yang berlebihan akan ketakutan mengenai anak-anakku dan urusan mereka, dan semangatku bertambah. Aku memiliki tujuan mulia untuk dilaksanakan dan ini adalah nikmt yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala kepadaku, karena kita mengetahui bahwa sebagian wanita, ketika mereka beranjak tua dan tidak memiliki suami, dan anak-anak mereka menikah, mungkin dihancurkan oleh waktu dan pikiran kosong, kecemasan, dan seterrusnya. Akan tetapi, Alhamdulillah, aku tidak melaluinya dan aku menyibukkan diri dengan tugas yang besar, dan tujuan yang besar.

Peranyaan: “Tdakkah anda berpikir pada saat tertentu, untuk bergabung dengan majelis yang memusatkan perhatian untuk mengajarkan Al-Qur’an?”

Ummu Shalih: “Ya, sebagian wanita menyarankan hal ini kepadaku, akan tetapi aku adalah wanita yang terbiasa tinggal di rumah, dan aku tidak suka keluar setiap hari dan Alhamdulillah, anak perempuanku mencukupiku dari semua kesulitan dan aku merasa bahagia ketika belajar darinya. Anakku telah memberikan teladan dalam kebaikan dan ketaatan yang jarang ditemukan di masa kita ini. Dia memulia tugas dan kegiatan ini bersamaku ketika dia masih remaja, dan ini adalah usia rawan yang banyak dikeluhkan orang. Dia selalu menekan dirinya agar dia dapat meluangkan waktu untuk mengajariku, dan dia mengajariku dengan baik dan bijaksana. Suaminya adalah penolong yang baik baginya dan dia telah berusaha keras. Aku memohon kepada Allah subhanau wa ta’ala agar memberikan mereka kebahagiaan dan menjadikan anak-anak mereka anak-anak yang shalh.

Pertanyaan: “Apa yang anda katakana kepada wanita di usia anda yang ingin belajar dan menghafalkan Al-Qur’an namun merasa khawatir dan merasa tidak mampu melakukannya?”

Ummu Shalih: “Aku katakana kepadanya, tidak aka nada keputusasaan dengann tekat yang teguh, ikhlas dan benar. Mulailah dengan ikhlas, keteguhan pendirian dan tawakkal kepada Allah setiap saat. Dan ingatlah, pada usia sekarang ini anda seharusnya memiliki waktu untuk diri anda sendiri. Namun jangan gunakan waktu anda hanya untuk keluar atau tidur dan seterusnya, Sebaliknya, sibukkanlah diri anda dengan kebajikan.

Tanya: “Apa yang akan anda katakan kepada wanita yang masih muda? Apa yang akan anda nasihatkan kepadanya?”

Ummu Shalih: “Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu. Gunakanlah nikmat yang Allah berikan kepadamu dari kesehatan dan jalan dan kenyamanan hidup. Gunakanlah untuk menghafalkan Kitabullah. Inilah cahaya yang akan menghidupkan hatimu, hidupmu dan kuburmu setelah engkau mati. Dan jika engkau memiliki seorang ibu, maka berusahalah untuk mengajarinya, dan tidak ada nikmat yang lebih baik bagi seorang ibu darpada seorang anak shalih yang menolongnya untuk lebih dekat kepada Allah.”

Dipublikasikan pertama kali pada majalah Ad-Da’qah, no. 1552, 17 Rabiul Awal 1417 (1 Agustus 1996)
Transkrib dalam bahasa Inggris oleh: Ummu Maahir al-Amreekiyyah
Alih bahasa: Ummu Abdillah al-Buthoniyah.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

http://amatullah83.blogspot.com/2009/11/menghafalkan-al-quran-di-usia-82-tahun.html

Jadikan Al-Quran Sahabat Terbaik Kita

Posted by: annisa1 on: 22 November 2009

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata : ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika AL-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkata Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS Al-Furqan 27-30).

FENOMENA menarik yang digambarkan ayat di atas adalah penyesalan orang-orang zalim karena mereka sudah salah memilih sahabat. Sahabat yang mereka pilih ternyata sahabat yang tidak bertanggung jawab setelah mereka dipengaruhi agar berpaling dari Al-Quran. Ayat di atas juga mengindikasikan keterkaitan yang cukup kuat antara bagaimana memilih sahabat dan penunjukan Al-Quran sebagai sahabat sejati. Dan pada ayat yang ke-30 Nabi pun mengadu kepada Allah menyangkut sikap kaumnya yang acuh tak acuh terhadap Al-Quran.
Term khalil (khaliilan) yang bermakna sahabat yang digunakan Allah SWT pada ayat tadi secara eksplisit menunjukkan bahwa manusia sangat membutuhkan seorang sahabat. Kebutuhan sahabat itu dapat kita tunjukkan pada saat ini dengan aktivitas yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan sahabat seperti meng-upload biodata ke media, chatting dan sebagainya. Ketika kita mendengar kata sahabat maka di dalam benak kita akan tergambar seseorang yang sangat akrab dan selalu hadir di tengah-tengah kita baik dalam keadaan suka maupun duka.
Sebelum mencari sahabat manusia kita sebaiknya bersahabat terlebih dulu dengan Al-Quran. Dikarenakan dalam Al-Quran kita dapat menemukan panduan hidup yang benar bagaimana memulai persahabatan yang positif dan kiat-kiat mengenali sifat sahabat yang baik. Di dalam sebuah ayat diungkapkan bahwa “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf 67).
Apabila kita jauh dari nilai-nilai Al-Quran dan tidak menjadikannya sahabat kita maka hidup kita akan mudah diperdaya oleh rayuan dan bujukan setan untuk dijadikan sahabatnya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Ilahi: “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yaitu Al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang akan menjadi temannya.” (QS Az-Zukhruf 36).
Intinya, dalam kehidupan kita hanya memiliki dua pilihan untuk dijadikan sahabat: Al-Quran atau setan. Manakala kita bersahabat dengan Al-Quran maka kita akan selamat di jalan Allah. Sebaliknya bersahabat dengan setan kita akan merugi dan jatuh ke lembah kehancuran dan kesesatan. Agar kita terhindar dari persahabatan dengan setan, Al-Quran telah memberikan tips yaitu sering-sering membaca ta’awwudz yaitu ungkapan A’udzubillahi minasy-syaithonir rajim. “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (QS An-Nahl 98).
Selain itu, alasan yang cukup kuat mengapa kita harus bersahabat dengan Al-Quran. Karena kita sebagai seorang muslim pasti sepakat bahwa Al-Quran adalah mukjizat khalidah (mukjizat abadi). Keberadaannya diyakini sebagaimana kata pepatah “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.” Ia akan senantiasa shalih fil al-zaman wa al-makan (selalu relevan di setiap waktu dan tempat).

Jadi kita sangat beruntung bila dapat bersahabat dengan Al-Quran. Hanya saja, untuk menjadikan Al-Quran sebagai sahabat karib, tentu kita harus memposisikan dan memperlakukannya seperti kita memperlakukan sahabat-sahabatnya. Yakni menjadikannya sebagai teman curhat, mendengar nasehatnya, mengikuti petuahnya dan ingin selalu dekat di sisinya, dalam hal ini dengan selalu membaca dan memahaminya.
Dengan begitu kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat. Terlebih lagi, Al-Quran sendiri memperkenalkan  dirinya sebagai kitab petunjuk (hidayah) yang berfungsi mengeluarkan manusia dari kegelapan (zulumat) menuju cahaya (nur).
Lain kata, Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi umat Islam untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ternyata manfaat dari bersahabat dengan Al-Quran selain akan kita peroleh di dunia juga di akhirat nanti, karena membaca Al-Quran, meskipun belum mengerti maknanya, akan dibalas setiap hurufnya dengan sepuluh kebajikan.

http://www.sripoku.com/view/7219/Al-Quran_Sahabat_Terbaik

Cerita Bersama Teman Terbaik

Posted by: annisa1 on: 22 November 2009

TEMAN TERBAIK

 

Kawan, ingin aku bercerita tentang teman terbaik yang pernah kumiliki. Ayah mengenalkan aku dengannya di tiga tahun usiaku. Meski belum banyak mengerti, aku masih ingat kata-katanya, “Kapanpun dan dimanapun, jadikanlah ia peganganmu, insya Allah kamu akan selamat”. Setelah saat itu, aku mulai rajin untuk mengenalnya. Kemana pergi selalu kuajak serta. Ia bukan saja teman terbaik bagi diriku, tapi juga teman terbaik bagi semua orang, begitu cerita ibu.

 

Ia tidak pernah meminta diajak serta, karena semestinya kita yang membutuhkan keberadaannya kemanapun kaki melangkah. Senantiasa memberi jawaban atas semua tanya, mengoleskan kesejukan untuk setiap hati yang gersang. Bagi yang gelisah dan gundah, ia akan menjadi obat mujarab yang mampu memberikan ketenangan. Ia juga menjadi pelipur lara bagi yang bersedih. Tanpa diminta, jika kita mau, ia selalu menunjukkan jalan yang benar dengan cara yang sangat arif. Ikuti jalannya jika mau selamat atau tak perlu hiraukan peringatannya asal mau dan sanggup menanggung semua resikonya. Ia tak pernah memaksa kita untuk mematuhinya, karena itu bukan sifatnya.

 

Tutur katanya, indah menyejukkan, menyiratkan kebesaran Maha Pujangga dibalik untaian goretan barisan hikmah padanya. Tak ada yang sehebat ia dalam bertutur, tak ada pula yang seindah ia dalam bersapa. Hingga akhirnya, setiap yang mengenalnya, senantiasa ingin membawanya serta kemanapun. Tak peduli siang, malam, terik ataupun mendung, ia kan setia menemani. Cukup hanya dengan menyelami kedalamannya, tak terasa setitik air bening mengalir dari sudut mataku. Hingga satu masa, aku begitu mencintainya. Sungguh tiada tanding Maha Pujangga pencipta teman terbaikku ini.

 

Sebegitu dekatnya kami berdua, sehingga melewati satu hari pun tanpanya, hati akan kering, gersang dan merinduharu. Ada kegetiran yang terasa menyayat saat tak bersamanya, bahkan pernah aku tersesat, sejenak kemudian aku teringat pesan-pesannya, hingga aku terselamatkan dari kesesatan yang menakutkan. Di waktu lain, aku berada di persimpangan jalan yang membuatku tak tahu menentukan arah melangkah, berkatnyalah aku menemukan jalan terbaik. Entah bagaimana jika ia tak bersamaku saat itu.

 

Kawan, maukah mendengarkan betapa kelamnya satu masaku tanpa teman terbaikku itu?

 

Mulanya hanya lupa tak membawanya serta ke satu tempat. Esoknya sewaktu ke tempat yang berbeda, aku tak mengajaknya serta, karena kupikir, untuk ke tempat yang satu ini, saya merasa tak pantas membawanya serta. Saat itu saya lupa pesan ayah, “jika tak bersamanya, keselamatanmu terancam”. Esok hari dan seterusnya, entah lupa entah sudah terbiasa teman terbaik itu tak pernah lagi kuajak serta. Kubiarkan ia berhari-hari bersandar di salah satu sudut kamarku. Satu minggu, bulan berlalu dan tahun pun berganti, aku semakin lupa kepadanya, padahal ia senantiasa setia menungguku dan masih di sudut kamar hingga berdebu.

 

Hingga satu masa, bukan sekedar lupa. Bahkan aku mulai malu untuk mengajaknya. Disaat yang sama, semakin tak sadar jika diri ini telah jauh terseret dari jalur yang semestinya. Tapi aku tidak perduli, pun ketika seorang teman menyampaikan teguran dari teman terbaikku agar aku memperbaiki langkahku. Kubilang, ia cerewet! Terlalu mencampuri urusanku.

 

Begitulah kawan, Anda pasti sudah tahu akibatnya. Langkahku terseok-seok, pendirianku goyah hingga akhirnya tubuhku limbung. Mata hati ini mungkin telah mati hingga tak mampu lagi membedakan hitam dan putih. Semakin dalam aku terperosok, tanganku menggapai-gapai, nafasku sesak oleh lumpur dosa. Disaat hampir sekarat itu, mataku masih menangkap sesosok kecil sarat debu, disaat kurebahkan tubuh di kamar.

 

Ya! Sepertinya aku pernah mengenalnya. Teman yang pernah dikenalkan ayah kepadaku dulu. Ia yang pernah untuk sekian lama setia menemaniku kemana aku pergi. Teman terbaik yang pernah kumiliki, ia masih setia menungguku di sudut kamar, dan semakin berdebu. Kuhampiri, perlahan kusentuh kembali. “Jangan ragu, kembalilah padaku. Aku masih teman terbaikmu. Ajaklah aku kemanapun pergi” kuat seolah ia berbisik kepadaku dan menarik tanganku untuk segera menyergapnya. Ffwuhhh…!!! kuhempaskan debu yang menyelimutinya dengan sekali hembusan. Nampaklah senyum indah teman terbaikku itu.

 

Ingin kumenangis setelah sekian lama meninggalkannya. Ternyata, ia teramat setia jika kita menghendakinya. Kini, bersamanya kembali kurajut jalinan persahabatan. Aku tak ingin lagi terperosok, tersesat, terseok-seok hingga jatuh ke jurang yang pernah dulu aku terjatuh. Jurang kesesatan. Bersamanya, hidupku lebih damai terasa. Satu pesanku untukmu kawan, kuyakin masing-masing kita memiliki teman terbaik itu. Jangan pernah meninggalkannya, walau sesaat. Percayalah.

 

Wallaahu ‘a’lam bishshowaab.

http://ovhi.multiply.com/journal/item/34/Teman_Terbaik

Tafsir Ibnu Katsir Salah Satu Kitab Tafsir Al Qur’an Terbaik

Posted by: annisa1 on: 22 November 2009

penulis Al-Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim
new Maktabah 14 – Agustus – 2003 06:20:57

Sesungguh memahami Kalamullah adl cita-cita yg paling mulia dan taqarrub yg paling agung. Amalan ini telah dilakukan shahabat tabi’in dan murid-murid mereka yg menerima dan mendengar langsung dari guru-guru mereka. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikut yg mengikuti jejak mereka hingga hari kiamat.

Tidak diragukan orang pertama yg menerangkan mengajarkan dan menafsirkan Al Qur’an adl Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Para shahabat telah menerima Al Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara bacaan dan pemahaman. Mereka mengetahui makna-makna maksud-maksud dan rahasia-rahasia krn kedekatan mereka dgn Rasulullah khusus Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin Abdullah bin Mas’ud Ibnu Abbas Ubai bin Ka’ab Zaid bin Tsabit Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Az-Zubair radhiallahu ‘anhum.

Mereka adl para shahabat yg terkenal alim di antara shahabat lainnya. Para shababat adl guru-guru bagi tabi’in yg di kemudian hari melahirkan ahli tafsir dari generasi ini di Makkah Madinah dan Irak. Dari shahabat dan tabi’in dilahirkan ahli tafsir yg mengetahui sejarah tafsir -di madrasah tafsir dgn atsar Nabi dan Shahabat- yaitu imam besar dlm ushul tafsir: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari .

Ciri khas dari madrasah tafsir dgn atsar adl menafsirkan ayat Al Qur’an dgn satu atau lbh ayat Al Qur’an lainnya. Bila tdk memungkinkan mk ditafsirkan dgn hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yg shahih. Jika tdk ditemukan hadits yg menjelaskan mk ditafsirkan dgn ucapan shahabat terutama shahabat yg telah disebutkan di atas. Jika ucapan shahabat tdk ditemukan mk dgn ucapan tabi’in seperti Mujahid Ikrimah Sa’id bin Al-Musayyib Sa’id bin Jubair ‘Atha bin Abi Rabbah dan Al-Hasan Al-Basri. Namun jika semua ada mk biasa disebut semua.

Adapun menafsirkan Al Qur’an dgn akal semata haram menurut kesepakatan ulama Ahlus Sunnah apalagi tafsir yg dilandasi ilmu filsafat -walaupun terkadang benar- termasuk dlm sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dgn akal atau tanpa ilmu mk siapkanlah tempat duduk dgn api neraka.”

Di abad ke-8 Hijriyah lahir seorang ulama ahli tafsir yg merupakan alumnus akhir madrasah tafsir dgn atsar. Dialah Isma’il bin ‘Umar bin Katsir rahimahullah salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah . Tafsir dijadikan rujukan oleh para ulama dan penuntut ilmu semenjak jaman beliau hingga sekarang.

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah -beliau juga menulis tafsir- mengatakan bahwa Tafsir Ibnu Katsir adl salah satu kitab tafsir terbaik jika tdk bisa dikatakan sebagai tafsir terbaik dari kitab-kitab tafsir yg ada. Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah menilai tafsir menakjubkan belum ada ulama yg menandinginya. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dlm buku Al-‘Ilmu menganjurkan penuntut ilmu membaca Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim atau yg lbh dikenal dgn Tafsir Ibnu Katsir.

Wallahu a’lam.

Sumber: www.asysyariah.com

http://blog.re.or.id/tafsir-ibnu-katsir-salah-satu-kitab-tafsir-al-qur-an-terbaik.htm

Menjadi Yang Terbaik Dengan Al-Quran

Posted by: annisa1 on: 22 November 2009

Oleh : Hidayatullah Hamim Effendi, Lc

Bendahara Umum Yayasan Muntada Ahlil Quran

 

Dalam hidup ini siapapun kita pasti ingin menjadi yang terbaik dan winner. Jauh-jauh hari ini hal memang sangat dianjurkan oleh baginda Rasulullah saw kepada kita. Bahkan dalam mengejar posisi khoiriyyah (the best) ini, Rasulullah langsung mengkaitkan dengan amalan berinteraksi dan bermuamalah dengan ayat-ayat al-Qur’an. Katanya:

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR.Bukhari dan Muslim)

Sebenarnya orang baik itu banyak. Dalam segala dimensinya. Memiliki akhlak yang yang terpuji itu baik. Memiliki kelebihan rejeki dan harta, lalu menginfakkannya di jalan yang benar , itu baik. Berilmu dan mengajarkannya, baik. Menolong orang yang sedang ditimpa kesulitan, itu baik. Membantu sesama, itu baik. Dan banyak lagi perbuatan-perbuatan baik lainnya. Semuanya sangat terpuji dan diperintahkan oleh Allah. Karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita setelah Dia menciptakan kita.

Namun ada yang spesial dari Rasulullah saw tentang posisi amalan terbaik dari semua yang baik di atas. Yakni di antara perbuatan yang TERBAIK di antara semua perbuatan-perbuatan baik itu adalah BELAJAR AL-QUR’AN dan MENGAJARKANNYA. Perpaduan antara belajar dan mengajarkan inilah yang menjadi perhatian utama Rasulullah kepada kita, umatnya sekarang. Belajar al-Qur’an untuk memenuhi kebutuhan kita terhadap kewajiban berinteraksi dengan wahyu akhir zaman. Mengajarkannya kepada orang lain sebagai sebuah action menularkan petunjuk ilahi itu kepada orang lain.

Sebelum bersabda dengan hadits di atas Rasulullah saw sendiri sudah menjadi panutan utama dalam hal ini. Beliau sendiri adalah tauladan pertama yang sudah hafiz al-Qur’an terlebih dahulu. Itu pasti. Karena beliau adalah seorang nabi yang menerima wahyu pamungkas dari Allah swt. Nabi atau rasul adalah manusia terbaik di atas muka bumi. Pastinya isi wahyu itu sudah dihafal oleh beliau. Meski Allah sudah tidak lagi mengutus nabi dan rasul setelah Muhammad saw, maka umatnya lah yang diberi amanah untuk melanjutkan estafeta perjuangan ini. Yaitu melestarikan kebiasaan belajar al-Qur’an dan mengajarkannya kepada mereka yang belum pandai dan mahir.

Sifat terbaik inilah yang harus diperhatikan umat Islam jika mereka mau menjadi khoiru ummah. Malah sifat terbaik ini akan terus dibawa ketika sang pelakunya sudah kembali menghadap Allah swt. Sungguh, ahli Qur’an adalah generasi terbaik dan unggulan zaman Rasulullah saw dan zaman sekarang. Abu Bakar sendiri yang merupakan binaan Rasulullah saw begitu merasa kehilangan dengan wafatnya para huffaz binaan Rasulullah saw. Gugurnya mereka di perang Yamamah seakan membuat kering ruhiyyah dan gairah hidup mereka. Yang syahid pun tidak tanggung-tanggung, 70 orang.

Sungguh, sifat terbaik yang tidak dimiliki oleh para pengikut nabi dan rasul sebelum Rasulullah saw.
Tahukah anda bahwa kemuliaan seorang penghafal al-Qur’an akan terus Allah pelihara fid dunya wal akhiroh (di dunia dan akhirat)…

Belum berapa lama, ada kisah di salah satu televisi bahwa sebuah jasad yang sudah dikubur puluhan tahun tidak hancur dimakan cacing alias masih utuh. Usut punya usut, ternyata mayat tersebut dahulu adalah seorang pengajar al-Qur’an dan penghafalnya..Subhanalloh! Itulah cara Allah memberikan kemuliaan dan kehormatan kepada mereka. Padahal usia makamnya sudah lebih dari puluhan tahun. Harusnya khan, umumnya jika kuburan biasa yang tinggal hanya tulang-belulang saja. Namun ini berbeda dan penuh hikmah. Nampaknya Allah ingin memperlihatkan kejaiban hamba-Nya dengan al-Qur’an meski jasadnya sudah terkubur. Karena memang al-Qur’an itu sendiri juga adalah wahyu, mukjizat akhir zaman yang akan senantiasa Allah jaga dari penyimpangan, pengotoran isi, pemalsuan dan penodaan. Sungguh, orang yang menjaga al-Qur’an pasti Allah akan menjaganya dalam hidup ini dan di akhirat nanti. (bersambung…)

 

http://muntadaquran.net/v2/kolom/teladan/1221-menjadi-yang-terbaik-dengan-al-quran.html

Menjadi Yang Terbaik Dengan Al-Quran (2-selesai)

Posted by: annisa1 on: 22 November 2009

Oleh : Hidayatullah Hamim Effendi, Lc

Bendahara Umum Yayasan Muntada Ahlil Quran

Sepintas setiap kali usai melaksanakan sholat fardhu di masjid, saya heran dengan bacaan sholat sang Imam. Tidak karuan, amburadul dan kacau bacaannya al-Qur’an. Padahal bacaan al-Qur’an yang baik dan benar sesuai dengan hukum tajwid merupakan suatu keharusan. Khususnya untuk bacaan surat al-Fatihah. Karena dalam sholat. Umumnya semua surat yang dibaca. Ini seperti yang dikatakan Imam al-Jazariy. dalam matan tajwidnya: “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an tanpa tajwid yang benar, maka ia tlah berdosa. “Ups..Parah juga ternyata

Dan ngerinya lagi, ucapan itu ditujukan untuk setiap muslim yang tilawah al-Qur’annya masih kurang baik dan berada pada tingkatan amburadul (maaf, bukan bermaksud merendahkan!). Tapi itulah kenyataannya. Padahal, Rasulullah mewanti-wanti kita untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri, terutama ketika membaca al-Qur’an.

Anehnya lagi ketika banyak orang ditegur tentang bacaan al-Qur’annya yang kurang baik, eh yang bersangkutan malah mengelak dan mengeles dengan alasan “Ya, yang penting masih bisa baca, walaupun amburadul dan tidak karuan begini.” Begitu alasannya..Dan parahnya lagi, hal ini juga dialami oleh sebagian besar umat muslim. Seakan, untuk urusan ukhrowi gak perlu begitu-begitu amat!..Padahal soal bacaan sangat urgen bagi diterima atau tidaknya amal ibadah sholat kita. Belum lagi yang lain-lainnya.

Mari kita simak firman Allah:

Dan orang-orang yang telah diberikan al-Kitab (Taurat) (yakni kaum Yahudi) mereka membacanya dengan sebenar-benarnya bacaan. Dan mereka itulah orang yang mengimaninya.“(Qs al-Baqoroh: 121)

Walaupun ayat di atas khithobnya (arah tujuannya) untuk bangsa Yahudi, tapi dia bersifat umum. Termasuk di dalamnya juga kaum muslimin, pengikut Rasulullah saw yang telah diberikan al-Qur’an. Nah, ketika bacaan kita kurang baik, tidak mau belajar dan meningkatkan kualitas bacaan al-Qur’an kita, maka berarti kita masuk pada kategori manusia yang tidak mengimani al-Qur’an itu. Nauzubillah min zalik. Sedangkan, beriman kepada kitab suci al-Qur’an ini adalah bagian dari rukun iman yang 6 yang harus kita sempurnakan dalam kehidupan nyata.

Kembali ke pembahasan di atas. Berarti kalau demikian, jika bacaan sang Imam di masjid-masjid dan musholla~musholla jauh bacaan yang baik dan benar, maka ibadah sholat fardhu itupun menjadi kurang dan mendekati ketidak-sah-an. Tentu hal ini juga akan merugikan para jama’ah lainnya. Selain itu, pahala 27 derajat yang dijanjikan Rasulullah saw dalam haditsnya juga tidak akan berarti apa-apa. Padahal khan, tujuan kita sholat berjama’ah di masjid adalah untuk memperoleh keutamaan 27 derajat itu. Tapi, hanya karena bacaan al-Fatihah yang tidak becus dan tidak karuan itulah, pahala sholat jama’ah dengan segala fadhilahnya itupun nyaris hilang..

Jadi mari perbaiki bacaan al-Qur’an melalui proses pembelajaran yang kontinyu dan berkesinambungan..

Allah: “Dan Kami bacakan al-Qur’an ini dengan tartil.”(Qs al-Furqon (25) : 32)

wallahu a’lam

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

http://muntadaquran.net/v2/kolom/teladan/1222-menjadi-yang-terbaik-dengan-al-quran-2-selesai.html

Mahad Tahfidzul Quran Gratis untuk Putri?

Posted by: annisa1 on: 14 November 2009

Bismillah..

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan sms berisi pertanyaan mengenai info ma’had tahfidzul quran gratis untuk putri di daerah jawa. Sedangkan yang saya tahu ya mahad yang ada di Solo, yaitu Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq. Meski tidak gratis 100% tapi amat terjangkau.

Biayanya antara lain:

1. Uang pendaftaran : Rp15.000,00

2. Uang pendidikan : Rp. 150.000,00 (untuk 2,5 thn)

3. Uang nasyat (kegiatan) : Rp. 10.000,-

Nah, jika santri dapat menyelesaikan hafalan quran kurang dari 2 tahun, maka uang pendidikan ini akan dikembalikan.

Sekarang bagaimana dengan asramanya?

Insya Allah juga terjangkau, biayanya antara lain:

1. Uang sakan : Rp100.000,00 (dibayarkan sekali ketika masuk), uang ini digunakan untuk membeli peralatan2 di asrama, misal: rice cooker, rak sepatu, termos, dll yang nanti juga digunkan oleh santri.

2. Biaya makan per bulan : Rp. 40.000,00 – Rp. 50.000,00. Ini untuk biaya masak nasi, air, dan listrik. sedangkan lauknya beli sendiri. Tapi tidak perlu khawatir karena di dekat sakan ada warung yang muraah banget. Nasi plus sayur cuma seribu rupiah, nasinya cukup banyak n sayurnya bisa milih. Sedangkan warung-warung yang agak jauh dari sakan biasanya jualnya 1500 per bungkus / porsi (minimal). Selain itu, temen2 sakan biasanya sehabis pulang itu bawa makanan ke sakan untuk dimakan bareng2.

Untuk biaya tempatnya : gratis.

Untuk mahad tahfidzul quran yang gratis kemugkinan juga ada. ana nanya temen, ada yang gratis tapi untuk anak yatim.

Sedangkan mahad tahfidzul quran khusus putri dari AMCF (Asia Moslem Charity Foundation) yang ana tahu ya baru ada 2, satu di jakarta, dan yang satu ya yang ada di solo (Mahad Abu Bakar Ash-Shiddiq).

Alhamdulillah, mungkin ini yang baru bisa saya ceritakan. Semoga bermanfaat.

 

Salam ukhuwah dari Solo

Niken (085 647 582 141)

 

 

Takut Kaya ?

Posted by: annisa1 on: 8 November 2009

Ada suatu hal yang mengganjal di hati saya dan ingin saya ungkapkan. Sebenarnya cita-cita saya bukanlah menjadi orang kaya (secara harta), tapi kaya hati, menjadi orang yang dapat memberikan banyak manfaat ke ummat dengan izin Allah. Aamiin.

Sampai saat ini saya masih belum memahami arti pentingnya menjadi orang kaya walaupun mengetahui bahwa orang kaya pun bisa berbuat banyak amal kebajikan pula, misal shodaqoh, infak, zakat, wakaf, santunan kepada panti asuhan, fakir miskin, janda, membangun sekolah islam, masjid, rumah sakit islam, menjadi donatur lembaga islam, pondok pesantren, perpustakaan islam, memberi dana kontinu untuk media cetak dan elektronik seperti koran, majalah, buku, radio, televisi, dan masih banyak lagi.

Bahkan, ketika bekerja pun saya kadang terlupa bahwa nanti dapat imbalan berupa gaji. . :) Sikap seperti ini dianggap aneh oleh keluarga saya. Menurut saya ini tidak aneh karena saya mengetahui alur berpikir saya bagaimana, tapi bukan berarti hal ini dilupakan. Mungkin ada pendapat dari sahabat yang bisa dituliskan dalam komentar di bawah nanti mengenai urgensinya menjadi orang kaya … :) .

Menurut saya, bekerja adalah untuk taat, untuk ibadah semata-mata kepada Allah. Walaupun saya sadar, ada beberapa pemikiran saya yang masih perlu diperbaiki terus menerus. Akan tetapi, apa yang saya sampaikan ini dikarenakan ada sesuatu yang saya khawatirkan.

Biasanya orang bisa selamat dari ujian (secara umum) saat keadaan mereka tidak memiliki banyak harta. Kebanyakan manusia tidak lulus ujian ketika diberikan harta yang banyak, harta itu melenakan mereka sehingga ketika awalnya bersemangat untuk menuntut ilmu, mengajarkan dan menyebarkannya kemudian menjadi berubah haluan, lebih memilih bisnis dan harta secara berlebihan. Padahal berlebih-lebihan itu temannya syetan. Na’udzubillah.

Apalagi sebagai orang yang bercita-cita menjadi ahlu qur’an, maka tiap hari harus senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran: membaca, memahami, mantadabbburi, mempelajari tafsirnya, mempelajari asbabun nuzulnya, mengamalkannya, lalu mengajarkan dan mendakwahkannya kepada ummat. Selain itu, yang sulit pula adalah menjaga hafalan dengan banyak muraja’ah, menjaga kontinuitas tilawah dan menjaga pengamalan terhadap Al-Quran dan As-Sunnah hingga akhir hayat. Saya sadar, ini sungguh berat. Orang yang tidak mampu atau tidak mau menjalankan amanah ini setelah mendapatkannya maka akan mendapatkan dosa / siksa dari Allah jika belum bertaubat.

Karena ini berat, maka tidak akan bisa dipikul sendirian ketika nanti sudah non-single. Jadi, orang yang hidup bersamanya pun harus bersama-sama menjaga ilmu itu, saling bantu membantu dan saling tolong-menolong untuk menjaganya, dan sesungguhnya Allah-lah yang menjaganya. Intinya, seorang penghafal quran memiliki harapan bahwa pendamping hidupnya itu juga seorang yang hafal quran serta berkeinginan dan bersungguh-sungguh pula untuk menjaga bersama-sama dengannya hingga akhir hayat.

Bisa jadi, dengan menjadi orang kaya, maka kebiasaan membaca Al-Quran luntur, hafalannya mulai menghilang, akhlaknya pun sudah tidak seiring dengan Al-Quran. Na’udzubillah.

Oleh karena itu, sebaiknya seorang hamba sering-seringlah menangis kepada Allah, agar diberikan hati yang kaya, tidak rakus dengan dunia dan dapat tetap hidup sederhana, baik di kala miskin maupun di kala kaya. Selain itu juga memohon kepada-Nya agar diberikan kemampuan untuk menjaga kebersihan hati, ”menjaga” ilmu dan menjaga kontinuitas amal kebajikan……..hingga akhir hayat. Aamiin.

= = = = = = = = = = = = = = = = = =  = = = = = = = = = = = = = = = = =

Ya Allah, tiada kesenangan hamba lagi, kecuali taat tunduk patuh kepada-Mu.

Ya Allah, tiada keinginan hamba lagi, kecuali beribadah sepenuhnya….hanya kepada-Mu.

Ya Allah, hanya kepada-Mu lah tempat kembali.

Kuntum Bunga yang Terjaga (Puisi)

Posted by: annisa1 on: 8 November 2009

Oleh : Annisa Sholihah

Sekuntum bunga mawar tumbuh di rimba…
Sungguh indah mahkotanya, jarang sekali orang dapat melihatnya
Sungguh tajam durinya, belum ada yang berani menyentuhnya
Sungguh unik mahkotanya, tidak ada satu bungapun yang menyamainya

Wahai bunga mawar di rimba…
Jika sang kumbang datang dengan rayuan tari indahnya…
Janganlah engkau langsung tergoda !
Janganlah engkau mudah terpedaya !

Mawar itu bertanya….
Mengapa begitu…?
Bisa saja ia hanya ingin menatap indah mekarmu
Atau hanya ingin mencium bau wangimu

Wahai bunga mawar di rimba…
Jadilah kuntum bunga yang terjaga…
Jadilah BUNGA ISLAM yang terpelihara….

Etika para Penghafal Al Quran (1)

Posted by: annisa1 on: 31 Oktober 2009

Para penghapal Al Quran mempunyai etika-etika yang harus diperhatikannya. Dan mereka mempunyai tugas yagn harus dijalankan, sehingga mereka benar-benar menjadi “keluarga Al Quran”, seperti sabda Rasulullah SAW tentang mereka: “Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia. Beliau ditanya: siapa mereka wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Ahli Al Quran, mereka adalah keluarga Allah SWT dan orang-orang dekat-Nya “

Selalu Bersama Al Quran

Di antara etika itu adalah:selalu bersama Al Quran, sehingga Al Quran tidak hilang dari ingatannya. Yaitu dengan terus membacanya dari hapalannya, atau dengan membaca mushaf, atau juga dengan mendengarkan pembaca yang bagus, dari radio atau kaset rekaman para qari yang terkenal. Berkat ni`mat Allah SWT, di beberapa negara Islam terdapat siaran Al Quran al Karim, yang memberikan perhatian pada pembacaan Al Quran, tajwidnya serta tafsirnya.

Dari Ibnu Umar r.a.:bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Perumpamaan orang yang hapal Al Quran adalah seperti pemilik unta yang terikat, jika ia terus menjaganya maka ia dapat terus memegangnya, dan jika ia lepaskan maka ia akan segera hilang.” Hadits diriwayaktkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan Muslim menambah dalam riwayatnya: “Jika ia menjaganya, dan membacanya pada malam dan siang hari, maka ia dapat terus mengingatnya, sedangkan jika tidak, maka ia akan melupakannya”.

Makna “al mu`aqqalah”adalah: terikat dengan tambang, yaitu tambang yang dipegang karena takut terlepas. Dan pluralnya adalah `uqul.Dari Abdullah bin Mas`ud r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Amat buruk orang yang berkata: “Aku telah melupakan hapalan ayat ini dan ayat itu, namun sebenarnya ia dilupakan. Terus ulang-ulanglah hapalan Al Quran, karena ia lebih cepat pergi dari dada manusia, dari perginya unta dari ikatannya”.

Makna kata “nussia“ adalah: Allah SWT yang membuatnya lupa, sebagai hukuman terhadap kesalahan yang ia lakukan. Dari Abi Musa al Asy`ari r.a. dari Nabi Saw bersabda:“Teruslah jaga hapalan Al Quran, karena Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, ia lebih cepat lepas dari lepasnya unta dari ikatannya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dan riwayat Bukhari dengan kata “asyaddu tafashshian”.

Penghapal Al Quran harus menjadikan Al Quran sebagai temannya dalam kesendiriannya, serta penghiburnya dalam kegelisahannya, sehingga ia tidak berkurang dari hapalannya. Qasim bin Abdurrahman berkata: Aku bertanya kepada sebagian kaum sufi: tidak ada seorangpun yang menjadi teman kesepianmudi sini? Ia mengulurkan tangannya ke mushaf, dan meletakkannya di atas batu dan berkata: inilah teman kesepianku!

 

As Suyuthi berbicara tentang hukum melupakan Al Quran, ia berkata: melupakan hapalan Al Quran adalah dosa besar, seperti dikatakan oleh An Nawawi dalam kitab “Ar Raudhah” dan ulama lainnya. Dengan dalil hadits Abi Daud:“Dosa-dosa umatku diperlihatkan kepadaku, dan aku tidak dapati dosa yang lebih besar dari dosa seseorang yang diberi ni`mat hapal Al Quran atau suatu ayat, kemudian ia melupakannya”. Dan ia meriwayatkan pula hadits: “Siapa yang membaca (hapal) Al Quran namun kemudian melupakannya, maka ia akan bertemu Allah SWT pada hari kiamat dalam keadaan terserang penyakit sopak”.

Demikian pula hadits Ibnu Mas`ud dan Abi Musa sebelumnya. Sedangkan hadits Abi Daud yang pertama, diriwayatkan olehTirmizi, dan ia berkata: hadits itu gharib (atau dha`if). Dan ketika Imam Bukhari ditunjukkan hadits itu, ia tidak mengetahuinya dan melihatnya hadits yang gharib. Sedangkan hadits kedua dikomentari oleh Al Munziri: dalam sanadnya adalah Yazidbin Abi Ziyad, ia tidak dapat dijadikan hujjah, dan ia juga munqathi`.

Jika hadits-haditsyang dijadikan landasan orang yang mengatakan bahwa melupakan Al Quran adalah dosa besar, telah jelas kelemahannya, maka yang tersisa adalah celaan terhadap tindakan melupakan Al Quran itu. Karena sang penghapal itu jarang mengulangnya, namun tidak sampai kepada keharaman, apalagi menjadi dosa besar.

Namun yang paling kuat adalah, ia merupakan perkara yang makruh dengan sangat. Dan tidak pantas bagi seorang Muslim yang memiliki perbendaharaan hapalan Al Quran yang amat berharga ini menyia-nyiakannya, hingga hilang darinya.

Yang membuat kami mengatakan hal ini adalah: kami takut (ancaman dosa besar) ini membuat orang enggan menghapal Al Quran, karena ia mempunyai kemungkinan melupakan hapalannya itu, dan akibatnya ia mendapatkan dosa besar, sementara jika ia tidak menghapalnya sama sekali, ia tidak terancam mendapatkan dosa sedikitpun.

http://layananquran.com/index.php?option=com_content&task=view&id=199&Itemid=9

Arsip

Kategori